
Last minute Dania tiba di cafe, semua pasang mata tertuju pada gadis cantik itu dengan rambut basah sepunggung yang dibiarkannya tergerai.
Tidak jarang juga ada pengunjung pria yang menikmati kecantikan Dania yang semakin terlihat saat mengenakan pakaian bebas. Terlebih dress di atas lutut yang saat ini dikenakannya.
Setelah kejadian di ruangan itu, orang suruhan Azka sudah membawa tas Dania saat pulang sekolah. Dan tidak berselang lama ada paper bag yang di antar ke ruangan Azka dan ternyata itu sebuah dress.
Dress itu sengaja di pilih Azka karena tidak mungkin Dania datang ke cafe dengan seragam sekolahnya. Namun ternyata bukan pilihan yang bagus juga dengan dress cantik tersebut, di mana Azka dapat melihat tatapan buas para karyawan cafe itu sendiri. Termasuk kedua sahabatnya yang menatap Dania tanpa berkedip.
"Cepat lah berganti pakaian, jangan sampai aku melakukannya di sini!." Bisik Azka tegas saat melewati Dania yang masih berdiri di bawah tangga.
Dania segera masuk ke dalam ruangan khusus karyawan perempuan dan langsung mengganti dress itu dengan seragam cafe.
"Sepertinya kamu tidak fokus hari ini?." Tanya Chaca yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku ingin berhenti!." Air mata Dania menetes dan langsung dihapusnya dengan kasar.
"Ya, aku harus berhenti sekarang juga!." Dania melangkah hendak keluar dari sana, tapi tangan Chaca menahannya.
Dania kembali menghapus air matanya. Dirinya tidak kuasa mendapatkan perlakuan seperti yang telah dilakukan oleh Azka.
"Kamu tidak ingin berjuang sedikit lebih keras lagi untuk hidup mu dan kedua orang tua mu?. Bukannya kamu berada di sini karena untuk mereka?. Lalu sekarang, kamu ingin menyerah tanpa kamu berjuang sampai darah penghabisan untuk kedua orang tua mu?."
Dania menundukkan kepalanya sangat Dalam, pantas saja Chaca mengingatkan hal itu padanya. Karena sebelumnya Dania pernah sharing bersama Chaca tujuan dirinya bekerja di tempat tersebut. Tapi dirinya tidak tahu kalau ternyata Azka si pemilik cafe yang telah menorehkan luka paling dalam dalam hidupnya.
"Semua keputusan ada di tangan mu, Dania. Aku hanya mengingatkan. Dan ingat masih banyak orang di luar sana yang hidupnya tidak seberuntung diri mu." Ucap Chaca sambil memeluk Dania lalu keluar dari ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian setelah Chaca meninggalkan Dania, Dania keluar dengan make tipis diwajahnya. Senyum manis itu kembali terlihat menghiasi wajah yang beberapa menit lalu sangat murung.
"Mana pesanan yang bisa aku antar, Cha?." Chaca tersenyum senang melihat Dania yang kembali semangat dan ceria.
__ADS_1
"Ini, Dania."
"Ok."
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Sesuai perintah Joanna pada Radit, mereka berdua pun temu kangen setelah beberapa waktu kemarin tidak bisa bertemu karena masalah yang mereka buat sendiri.
Tanpa malu lagi Joanna menanggalkan pakaiannya sendiri di depan Radit. Joanna ingin melampiaskan apa yang tidak didapatkan dari Azka. Azka yang sampai saat ini masih memegang teguh pendiriannya untuk tidak menyentuh dirinya sampai mereka menikah.
Persetan dengan janji-janji Azka, karena buktinya Joanna sudah mengenal sentuhan, belaian dan penyatuan itu bersama Radit.
Tanpa membuang waktu lagi, Joanna dan Radit kembali mengulang apa yang telah terjadi beberapa bulan lalu, namun kali ini keduanya melakukan itu dalam keadaan sadar.
Suara ******* keduanya memenuhi kamar hotel itu untuk yang kedua kalinya. Joanna mengeluarkan semua rasa yang telah ditahannya, membuang rasa malu begitu jauh sehingga berani bermain liar bersama Radit. Dirinya pun tidak peduli karena sudah mengkhianati Azka yang mencintai dan menerimanya dengan tulus.
Hampir satu jam Joanna dan Radit memadu nafsu sampai suara erangan panjang terdengar dari mulut keduanya. Menandakan percintaan mereka baru mencapai kenikmatan bersama.
"Kau memang sangat luar biasa, Radit. Aku sangat puas." Joanna kembali naik ke atas tubuh Radit dan menggoyangkan tubuhnya untuk memancing gairah Radit.
Setelah cafe tutup, tanpa menunggu lama lagi, ojek online yang di pesan Dania sudah datang. Almeer yang kembali akan mengantar Dania harus gigit jari melihat Dania sudah di bawa pergi oleh Abang ojek.
"Kau telat, Almeer." Ledek Shaka sambil memegang dada Almeer.
"Masa harus kalah saing sama Abang ojek." Celetuk Almeer masih menatap Dania yang semakin menjauh dari posisinya saat ini.
"Kau cari lah wanita yang memang pantas untuk kau dapatkan." Timpal Azka menepuk pundak Almeer.
Almeer dan Shaka menatap Azka yang memainkan ponselnya karena membalas pesan Joanna yang mengatakan langsung pulang setelah bertemu dengan teman-temannya. Dan Azka hanya mengatakan iya.
"Kau tidak sedang dekat dengan wanita lain kan?." Tanya Almeer menyelidik.
__ADS_1
"Memang terlihat seperti itu?." Tanya balik Azka sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Aku dan Shaka tidak tahu, tapi kalau di lihat dari tingkah laku kau yang sangat mencurigakan, ada indikasi kearah sana."
Azka tertawa lepas sambil melepaskan rokok yang baru dibakarnya.
"Aku hanya main-main." Akunya Azka dengan jujur, sampai Almeer dan Shaka menatap Azka tidak percaya.
Azka yang mereka kenal sangat setia dan bukan tipe pemain wanita, tapi sekarang dengan sadar mengakuinya sedang bermain-main. Pertanyaan yang sama pun meluncur dari kedua sahabatnya.
"Siapa wanita itu?."
Karena Almeer dan Shaka sangat penasaran terhadap sosok wanita itu, yang mampu menggoyahkan keteguhan seorang Azka terhadap Joanna. Dan ini suatu hal yang harus dirayakan karena Azka sudah mau mengakuinya.
"Kalian tidak perlu tahu dia siapa?. Karena mainan tidak akan bertahan lama dan sebentar lagi akan aku buang kalau sudah bosan." Azka tidak ingin siapa pun mengetahui tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Dania. Sebab tidak akan selamanya Azka meniduri Dania, dirinya akan berhenti setelah menikahi Joanna.
.....
Dua Minggu sudah Dania bertahan dengan pekerjaan sebagai pelayan cafe milik Azka. Hari Minggu hari libur sekolah bagi Dania sebagai seorang pelajar, tapi tidak libur sebagai seorang pekerja. Justru dirinya harus masuk pagi.
Papa Hamzah yang menemani perjalanan Dania pagi ini dengan menaiki angkutan umum. Sebab Papa Hamzah ingin tahu tempat kerja putri bungsunya.
Setelah sampai di tempat yang dituju, Papa Hamzah kembali pulang setelah memastikan Dania masuk ke dalam cafe itu. Dania meminta Papa Hamzah untuk masuk karena masih pagi dan hanya ada Chaca, namun Papa Hamzah menolaknya dengan alasan tidak ingin mengganggu pekerjaan putri cantiknya.
Sementara di rumah besar Azka Narendra, semua penghuni rumah besar itu sudah duduk manis di meja makan. Mereka sudah bersiap untuk memulai sarapan pagi ini.
Namun tiba-tiba saja indra penciuman Azka sepertinya mengalami masalah, karena hidungnya menjadi sangat sensitif terhadap bau-bauan.
Perutnya bergejolak dengan sangat hebat setelah mencium berbagai macam bau yang ada di area meja makan. Padahal belum ada makanan yang di sentuh oleh Azka. Tapi entah kenapa ada sebuah dorongan untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya yang masih kosong.
__ADS_1
"Uweekkk...uweekkk..."