
"Putra mu, Nyonya. Yang lebih dulu menodai adik ku tanpa rasa belas kasih. Bahkan dengan sengaja dia melakukannya di depan kami, dia sudah merencanakan semuanya."
"Wanita murahan itu memang pantas mendapatkannya, karena sudah menghancurkan rencana pernikahan Joanna!."
Radit tertawa keras, melupakan segala kesakitannya. "Kalau begitu, memang sudah seharusnya putra mu mati ditanganku!."
Plak...Plak...
Eva mendaratakan tangannya pada wajah Radit, namun Radit sudah kebas dan tidak merasakan sakit lagi. Kalau pun dirinya mati tidak masalah, asalkan Adnan sudah mati ditangannya.
Sebelum Eva pergi, terlebih dulu dia menyiramkan air cuka pada sekujur tubuh Radit yang sudah terluka. Hingga Radit sedikit meringis dengan kedua tangan yang diikat ketiang.
"Kau harus mati perlahan, gara-gara kau juga putri ku masuk penjara dan belum bebas sampai sekarang."
Radit tersenyum kecut. "Putri mu sangat pantas berada di sana. Sebab..."
Bugh Bugh
Belum juga Radit menyelesaikan ucapannya, kayu berukuran cukup besar sudah mendarat menghantam tubuh dan kepalanya. Setelahnya baru Eva pergi dari sana. Meninggalkan banyak anak buah untuk menjaga Radit yang sepertinya tidak sadarkan diri.
Azka menemui Rusli yang baru sampai, menitipkan sebentar Dania pada Inara dan Barata.
Rusli langsung memberitahu kalau Radit masih ada di Semarang. Dan Rusli sudah mengerahkan semua orang bayarannya untuk membebaskan Radit malam ini. Kalau gagal, dengan sangat terpaksa kebebasan Radit akan ditukar dengan kebebasan Joanna. Sebab itu sudah rencana Eva dan Darwin.
"Dania dan Rania jangan sampai tahu kalau Radit disekap oleh Eva dan Darwin." Pinta Rusli.
"Iya, Pa. Aku juga tidak ingin kalau mereka jadi mengkhawatirkan Radit, apalagi Dania yang baru melahirkan."
Rusli mengangguk lalu keduanya masuk dan ikut bergabung dengan yang lain.
.....
__ADS_1
Satu Minggu sudah berlalu, Dania dan bayinya sudah kembali ke rumah mertuanya. Hanya saja Radit yang sampai saat ini belum ada kembali, padahal Joanna sudah bebas dua hari yang lalu.
Kenapa Rusli dan Barata begitu bodoh mempermudah Eva dan Darwin dengan cepat melepaskan Joanna tanpa mereka tahu kondisi Radit lebih jauh lagi?. Sekarang mereka sedang kalang kabut mencari keberadaan Radit setelah diketahui kalau Eva, Joanna dan Darwin pergi keluar negeri dan telah menjual semua asetnya yang ada di Indonesia.
"Kita kecolongan, sangat kecolongan." Rusli mengusap wajahnya kasar sambil berdiri menatap gedung pencakar langit lain yang lebih tinggi dari gedung perkantorannya.
"Kita harus bisa menemukan Radit, baik dalam keadaan hidup atau pun mati." Balas Barata.
"Bagaimana kita akan menjelaskannya pada Dania dan Rania mengenai Radit yang tidak tahu keadaannya sekarang. Apa masih hidup atau sudah mati?." Timpal Azka.
Azka cukup merasa bersalah karena kematian Adnan bukan hanya kesalahan dari Radit. Tapi ada andil dirinya, bahkan bisa dibilang lebih besar dirinya.
"Orang-orang kita tidak bisa melacak keberadaan Radit. Apa kita akan minta bantuan pada polisi?." Tanya Rusli.
Barata menggeleng dan mendapatkan bokongnya pada kursi.
"Kita lihat lagi dalam satu minggu ini, kalau memang tidak ada yang bisa menemukannya, baru lah kita akan meminta bantuan polisi."
Sesampainya di rumah, Inara dan Rania langsung berangkat setelah mereka berpamitan pada Azka dan Dania serta Inara mencium pipi Zayyid.
"Sepertinya Kak Azka sedang banyak pekerjaan?." Dania bangkit dan langsung memijat pundak Azka.
Azka memegang tangan lembut Dania dan mengecupnya. "Terima kasih sayang. Banyak pekerjaan sih tidak, tapi ada hal lain yang sedang aku pikirkan."
"Apa yang mengganggu pikiran Kak Azka?."
Dania mendaratkan bokongnya pada kedua paha Azka atas permintaan suaminya itu.
"Untuk sementara waktu, Zayyid akan dibawa oleh Mama, Papa dan kakek ke Kanada. Sementara kita di sini akan melanjutkan pendidikan kita. Apa kita bisa berjauhan dengan mereka untuk waktu satu tahun ke depan?."
Dania mengalungkan tangannya pada lewat Azka karena pria itu meletakkan kepalanya di ceruk leher Dania.
__ADS_1
"Kenapa harus tinggal di Kanada?." Bisik Dania sambil menyembunyikan air matanya. Baru beberapa hari menjadi seorang ibu dirinya sudah harus berpisah dari bayinya.
Kalau perlu dirinya tidak perlu melanjutkan sekolah lagi, dirinya cukup diam berdiri di dalam rumah saja dan melakukan semuanya dari rumah.
Dirinya bisa mencoba berjualan apa pun secara online tanpa harus menampakkan batang hidungnya di depan khalayak ramai. Meski tahu itu bukan sebuah solusi yang tepat. Perjalanan mereka masih panjang, belum lagi menghadapi anaknya sekolah dan berinteraksi bersama orang tua yang lain.
Azka tahu jika istrinya tengah menahan tangis, tapi Azka ingin menghadapi dunia bersama istrinya. Memastikan semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada apa pun yang menganggu kehidupannya kelak karena video yang sudah berhasil ditarik dari peredaran.
"Ada banyak hal yang harus kita hadapi sayang. Kita tidak bisa selamanya bergerak di dalam rumah. Kamu perlu bertemu dengan banyak orang di luar sana, supaya kita tahu juga apa yang akan terjadi pada diri kita saat berada di luar." Jelas Azka memberikan pengertian pada Dania.
"Setelah satu tahun, apa pun yang terjadi pada kita berdua. Kita tetap akan berkumpul dengan anak kita. Mama dan Papa akan selalu memberikan akses pada kita untuk tetap bisa berkomunikasi dengan bayi kita." Lanjut Azka sambil membelai rambut panjang Dania.
Dania memeluk Azka dengan begitu sangat erat. Dirinya takut jika tidak menghadapi masalah ini dan akan seperti apa jadinya nanti?.
Adnan memang telah mati tapi masih memberinya masalah yang sangat rumit.
"Kapan mereka akan ke Kanada?." Dania mengusap ingusnya yang masih keluar padahal laju air matanya sudah terhenti.
Azka memegang kedua sisi wajah Dania, menatapnya penuh cinta dan merasa iba karena kesedihannya.
"Setelah kamu mengizinkan mereka pergi, maka mereka akan membawa Zayyid."
Air mata itu melaju lagi dengan sangat deras tanpa bisa dihentikan. "Bagaimana kalau aku menjadi gila karena tidak bisa mengatasi masalah terbesar dalam hidup kita?."
"Tidak, sayang. Jangan pernah sekalipun berpikir untuk menyerah. Ada aku dan anak kita. Kita akan tetap melangkah bersama di jalan yang berbeda."
Dania mengangguk sambil berusaha tersenyum walau pada akhirnya Azka ikut menangis di dalam pelukan hangat Dania.
Mereka saling menguatkan untuk satu sama lain. Jalan hidup mereka sangat berbeda dari kebanyakan orang, yang tidak bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan saat mereka memiliki seorang bayi.
Setelah menyepakati dan memutuskan bersama, malam ini Dania dan Azka harus berpisah dengan Zayyid untuk sementara waktu saja. Dan semoga saja setelah satu tahun, kehidupan mereka bisa lepas dari rasa takut akan efek dari vidoe tersebut.
__ADS_1