
Dania melirik jam yang menggantung di bawah anak tangga ketika dirinya baru kembali dari dapur, saat ini sudah pukul 11 malam saat Dania melihat Inara duduk di ruang keluarga seorang diri. Inara hanya duduk termenung menatap sebuah bingkai foto yang tidak dapat terlihat oleh Dania.
Ada perasaan ingin menemani tapi dirinya takut di bilang sok perhatian apa pun itu. Jadi Dania memutuskan untuk kembali naik ke kamarnya.
"Dania..." Langkah Dania terhenti di tengah-tengah anak tangga ketika mendengar Inara memanggilnya.
"Iya, Ibu Inara."
"Kemari lah!."
Dania segera menghampiri wanita yang masih terlihat sangat cantik itu. Kemudian duduk di samping Inara kala wanita itu memberikan tempat disebelahnya.
"Aku dan Rusli menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Aku dan Rusli sama-sama sudah memiliki kekasih. Tapi, kami tetap menjalankan pernikahan ini.
"Akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengan kekasih ku pada saat aku tahu kalau aku sedang mengandung. Mengandung anak dari hasil pernikahan yang tidak pernah kami inginkan. Tapi, aku tidak membuangnya karena dia hadir bukan karena kesalahan. Aku yang menyerahkan diri ku pada Rusli karena aku sudah jatuh cinta padanya.
"Azka pun lahir dan tumbuh semakin besar, tapi sayangnya Rusli masih menjalin hubungan bersama kekasihnya. Jiwa ku yang sakit dan masih belum stabil, telah menyakiti hati Azka dengan menelantarkannya, tidak sepenuhnya menyayangi dan menerima kehadirannya.
"Tidak tahu pastinya kapan, tapi aku baru tahu kalau Rusli telah putus bersama kekasihnya yang pertama tapi dia sudah dekat dengan wanita lain. Dan mungkin gadis muda tadi yang diperkenalkannya pada kami.
"Mungkin karena merasa kekurangan kasih sayang dari kami, Azka begitu mati-matian mencintai Joanna. Sebab wanita itu datang di saat Azka menginginkan cinta, perhatian dan kasih sayang yang tercurah padanya. Azka mendapatkan semuanya itu dari Joanna.
"Makanya lebih baik perpisahan itu terjadi pada kami dari pada kita sama-sama terikat tapi tidak bahagia." Panjang lebar Inara menceritakan garis besarnya saja, perjalanan rumah tangga mereka sebagai kedua orang tua Azka.
"Tapi, bukannya Ibu Inara masih mencintai Pak Rusli?."
Inara tersenyum lalu bangkit dan langsung menurunkan bingkai foto pernikahan dirinya dan Rusli.
"Tidak ada gunanya mempertahankan sesuatu yang sudah tidak bisa bersama kita lagi dan seperti yang kita lihat mereka memang saling mencintai."
Dania dan Inara saling pandang dan melempar senyum tipis. "Saya di sekolah memiliki tiga sahabat baik, salah satunya Medina."
Inara mengangguk lemah lalu menarik nafas panjang. "Iya, memang sangat perlu kita memiliki sahabat baik. Aku pun dulu pernah memilikinya, tapi sekarang kami sudah terpisah. Sahabat ku sudah orang lebih dulu pulang pada yang Maha Kuasa."
__ADS_1
"Maaf, Ibu Inara."
"Tidak apa-apa, kenapa kamu harus minta maaf?. Kamu kan tidak tahu apa-apa."
Obrolan hangat itu menjadi hening ketika Inara meminta Dania untuk kembali beristirahat. Sementara dirinya masih ingin duduk sendiri di ruangan keluarga.
Medina mendatangi toko bunga Dania setelah Dania membalas pesannya, mereka bertemu di saat jam istirahat Dania di taman kota yang tidak jauh dari toko bunga. Sedangkan Medina tidak sekolah karena memang sedang libur.
Dania dan Medina saling diam untuk sementara waktu sampai Dania yang membuka obrolan.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan pada ku, Medina?."
"Aku tidak tahu kalau dia adalah suami dari calon ibu mertua mu, Dania. Aku benar-benar tidak tahu!."
Dania mengangguk lalu kembali berbicara.
"Kita memang sahabat baik, tapi untuk hal pribadi seperti ini kita memang tidak pernah terbuka satu sama lain. Hingga aku merasakan sendiri kalau kalian mendiamkan ku karena aku tidak memberitahukan masalah ku bersama Kak Azka."
"Bukan begitu, Dania!."
"Aku akan mundur kalau kamu memintanya."
"Kenapa harus aku yang meminta?. Ibu Inara saja tidak mempermasalahkan hubungan kamu dan Pak Rusli, kenapa aku harus keberatan?."
"Aku tahu pasti kamu kecewa pada ku, Dania. Aku sangat tahu itu. Demi persahabatan kita aku akan meninggalkan dia."
"Apa aku bisa percaya dengan apa yang kamu katakan, Medina?."
Meski Dania merasa kasihan pada Medina tapi dia juga lebih kasihan pada seorang istri yang harus kehilangan seorang suami.
Medina mengangguk cepat, mungkin kalau pria yang sekarang dicintainya tidak ada hubungannya dengan Dania. Medina akan bersikap cuek dan tetap melanjutkan hubungan itu. Tapi, Dania sudah lebih dari sekedar sahabat baik baginya. Jadi dia akan berusaha untuk melepaskan diri dari cintanya Rusli.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Dania kembali ke toko bunga. Yang di mana Dania langsung di minta naik ke lantai 2, padahal dirinya baru saja akan merangkai bunga.
__ADS_1
Dania sudah ada di lantai 2 di ruangan Ibu Meisa karena pintunya terbuka lebar tapi anehnya tidak ada Ibu Meisa di sana. "Siapa yang memanggil ku sini?." Gumam Dania sambil melangkah keluar dari ruangan Ibu Meisa.
Sebelum langkah Dania sampai di pintu, dari arah luar ada seorang pria tampan mendorong tubuh Dania hingga Dania kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kak Azka!." Pekik Dania kaget sambil mendengar suara pintu yang dikunci.
"Hem, ini aku!."
"Kenapa pintunya harus di kunci segala?."
"Supaya tidak ada yang mengganggu kita." Azka mendaratkan kecupan singkat pada bibir Dania.
"Kak!." Protes Dania.
Keduanya duduk berdampingan di sofa.
"Dania..." Azka menatapnya begitu lekat hingga suara detak jantung Dania terdengar oleh Azka karena ruangan itu sangat sepi.
"Apa Kak?." Dania memalingkan wajahnya karena tidak sanggup bersitatap lama dengan mata Azka.
"Ayo, kita menikah?. Setelah perpisahan mereka, Mama akan pindah ke Kanada. Saudara Mama banyak yang tinggal di sana. Dan kemungkinan aku akan ikut kalau kamu tidak mau menikah dengan ku."
Seketika Dania menatap wajah pria tampan yang ada dihadapannya, omong kosong macam apa yang baru didengarnya barusan?. Jelas-jelas dirinya tidak bisa menikah dengan Azka karena sudah ada Almeer yang lebih baik.
"Pergi lah Kak!. Aku memang tidak bisa menikah dengan mu. Temani lah Ibu Inara di sana dan buat lah Ibu Inara bahagia dan bangga." Akhirnya kata-kata seperti itu yang terucap dari bibir Dania.
Mungkin itu akan lebih baik jika Azka pergi bersama Ibu Inara.
"Kalau begitu, percepatlah pernikahan mu dan Almeer. Aku ingin menjadi saksi dipernikahan kalian."
"Mana bisa begitu Kak?." Elak Dania sambil menjauh dari Azka.
"Aku kira saat kita melakukannya lagi kemarin, kamu memiliki perasaan pada ku."
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku melakukan itu karena menginginkannya."