
Juno membawa semangkuk mie yang akan ia hidangkan untuk selin, mie tersebut terlihat biasa saja dengan tambahan telur rebus dan irisan cabai, namun ada yg membuat selin berbinar, saus yg dituangkan dengan sengaja dalam bentuk hati, membuat gadis itu memancarkan senyumnya menatap wajah juno.
"kok cuma satu kak?!"
Selin menatap mata juno yg berbinar, perasaan keduanya semakin kuat, semakin hari mereka takut jika harus saling meninggalkan, mengakhiri hubungan terlarangnya.
"Aku gak laper, kamu makan ajh."
"Yaudah tapi suapin."
Juno terkekeh, entah kenapa sikap kekanak-kanakan gadis itu malah membuat juno makin mencintainya, pemuda itu mengambil sendok di mangkuk tersebut, ia dengan lembut menyuapi gadis itu penuh perhatian, keduanya saling meluapkan candaan, hingga suapan terakhir untuk selin.
"Makasih ya, aku bahagia."
Juno memiringkan senyumnya mendengar pernyataan selin, ia meraih bibir gadis itu dan memberi lumatan-***** kecil di bibir tersebut.
"Sel?"
Tiba tiba saja terdengar suara seseorang memanggil gadis itu, hingga keduanya tersentak kaget. dari sudut belakang selin telerihat mama alda berjalan menghampiri mereka, perasaan keduanya mulai tidak karuan, dalam batinnya, apa mama alda sudah melihat mereka berciuman, tubuh selin bergetar, ia mencoba untuk tidak memalingkan tubuhnya untuk berhadapan dengan mama alda, mengingat noda merah di area lehernya bisa dengan mudah terekspose.
"Kalian ngapain malem-malem gini? belum tidur"
Mama alda berjalan melewati meja makan, ia terlihat akan menghampiri kulkas untuk mengambil sebotol air.
"Selin minta buatin mie istan mah, katanya dia laper." ucap juno gugup
Gadis itu menelan salivanya ia hanya terdiam, karna jika dirinya mengelurkan satu patah kata saja, khawatir jika mama alda akan menghampirinya dan melihat noda merah tersebut.
"Astaga sel, kamu bikin sendiri kan bisa, manja banget sih kamu, kasian kakak kamu ngantuk."
Selin tetap terdiam, tidak berani memalingkan wajahnya, pandangannya tertuju pada wajah tampan juno, sepertinya pria itu melupakan noda merah dileher selin, setengah prustasi selin mencoba menyadarkan juno akan hal tersebut, berulang ulang ia memainkan mimik wajahnya mencoba memberi isyarat, ketika pemuda itu membalas lirikannya, tangan selin dengan sengaja menggerayangi dada dan lehernya guna menyadarkan juno.
__ADS_1
Pemuda itu langsung tersadar dan mengerti apa yg selin maksud, ia mencoba mengalihkan mama alda agar tidak menghampiri selin.
"Belum tidur ma?"
"Mama udah tidur jun, panas bngt di kamar, kayanya ac mama rusak" ucap mama alda sambil meminum segelas air di depan kulkas.
"Minta papa biat ngipasin mama dong"
Pemuda itu mencoba membuat sedikit candaan, agar mama alda tidak menyadari kegugupan keduanya.
"Bisa ajah kamu,"
"Sel,"
Mama alda menghampiri keduanya, jantung selin berdebar kencang, tentu saja ia takut jika mama alda akan melihat noda kepemilikan tersebut yang ada di lehernya, selin mulai cemas, ia memalingkan tubuhnya membelakangi mama alda.
"Kamu kenapa sama mama? masih kesel?."
"Mampus gue" Batin selin
"Sel kamu kenapa ko diemin mama?"
Juno terus memperhatikan mama alda dan selin, setetes keringat membasahi dahi pemuda itu, tentu saja ia juga cemas, jika mama alda mengetahui noda merah tersebut, selin pasti akan di marahi habis habisan oleh mama alda, dan juno tidak bisa berbuat apapun jika hal itu sudah terjadi.
"Sel liat wajah mama"
Mama alda memegang kedua bahu gadis itu, belum sempat selin memalingkan tubuhnya, tiba-tiba saja listrik padam seketika membuat ruangan tersebut menjadi gelap gulita.
"ih mama apaan si, udah ah aku mau ke kamar." tegas selin
Gadis itu meraih ponselnya, membuat penerangan dan langsung berlalu menuju kamar, tentu saja ia memanfaatkan hal tersebut, ruangan yg gelap membuat mama alda tidak sempat melihat noda merah di area sekitar dada dan lehernya.
__ADS_1
Juno menghela nafas panjangnya, hingga membuat bahu pemuda itu sedikit menyusut. di tengah kecemasan yg cukup hebat, akhirnya terjadi pemadaman listrik.
"Kenapa jam segini mati listrik sih?." Gerutu mama alda dengan kesal.
Juno menyalaka penerangan melalui ponselnya, ia bahkan segera mencari lilin dan menyalakannya saat itu.
Mama alda malah berlalu meninggalkan juno
"Kamu bawain juga sekalian buat selin ya" Tegas mama alda sambil berlalu, menyuruh juno untuk memberikan satu buah lilin pada adik tirinya tersebut.
"Ba-baik ma."
Juno melangkahkan kan kakinya menuju lantai atas, tujuannya adalah kamar selin, ia akan memberikan satu buah lilin pada gadis itu untuk penerangan di dalam kamarnya, juno menekan gagang pintu tersebut dengan perlahan, ia melirik ke kiri dan ke kanan sebelum masuk ke dalam kamar tersebut.
"Sel kamu udah tidur?"
Gadis yg sedang berbaring itu langsung terduduk ketika juno datang, masuk kedalam kamarnya membawa sebuah lilin.
"Belum kak, kamu ngapain ke sini?."
"Aku bawain kamu lilin, mama yg nyuruh aku"
Juno meletakan lilin tersebut di atas lemari riasan selin, pemuda itu lantas kembali memalingkan tubuhnya berjalan menuju keluar, namun juno menutup pintu tersebut dan menguncinya, membuat selin sedikit keheranan.
"Kok di kunci kak?"
"Aku mau nemenin kamu disini"
Juno melebarkan senyumnya, pemuda itu menatap wajah selin, dan langsung menjatuhkan dirinya tepat di atas tubuh gadis tersebut.
NEXT GUYS, LIKE KOMEN DAN BANTU VOTE SEBNYK-BNYKNYA DONG😍
__ADS_1