Bad Brother

Bad Brother
Chapter 58


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kediamannya, Maudy hanya terdiam mengelus putri kecilnya, agar Kenia tertidur, terjadi kecanggungan antara Ken dan Maudy hingga mereka tidak saling bicara saat itu.


"Maudy sayang banget sama anaknya." Gumam Ken dalam batinnya.


Sesekali Ken melirik, mencuri pandang ke arah wanita yang berada disebelahnya tersebut, ia pun merasa aneh, kenapa bisa secanggung ini, padahal sebelumnya mereka pernah sangat dekat.


"Anak lo cantik juga Ya."


Ken berusaha memecah belah keheningan tersebut, entah apa yang terjadi pada Maudy, setiap kali Ken berbicara padanya, ia selalu tersentak dengan maya yang membulat.


"I-iya makasih." jawab Maudy dengan gugup.


Keheningan itu kembali menyelimuti, Ken cukup kesal karna hanya dia yang berusaha bicara, Maudy hanya terus terdiam, tidak melemparkan pertanyaan apapun padanya, agar ada sesuatu yang bisa di bahas.


"Umurnya berapa?"


Degg...


Entah kenapa pertanyaan Ken terasa begitu menyakitkan, tidak ini tidak benar, jika Ken bertanya tentang hal lain, apa yang akan Maudy katakan? bagaimana pun Maudy belum menikah sampai saat ini, jika Ken bertanya apa alasan Maudy berpisah dengan ayah Kenia, tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya, disaat Ken sudah berstatuskan suami dari orang lain.


"Li-lima."


Maudy menelan salivanya, ia semakin gugup, dan serasa disudutkan.


"Oh jadi kita nikah di tahun yang sama."


"Nikah?"


"Iya Nikah, bedanya lo udah langsung dapet anak, dan gue belum." ucap Ken, sepertinya pria jangkung itu sudah tidak gugup lagi, berbicara secara terang-terangan pada Maudy.


"Kenapa?"


Maudy melemparakn pertanyaan pada Ken, padahal sebelumnya ia sudah mengetahui permasalan rumah tangga pria itu dari Selin.


"Gak subur." ucap Ken santai.

__ADS_1


Sulit di percaya, jika Ken tidak subur, bagaimana bisa ada Kenia dalam rahimnya saat itu, bahkan Kenia sendiri sudah berusia lima tahun, atau mungkin kesuburan Ken menurun? entahlah, Maudy juga tidak mengerti tentang dunia medis.


"Lo sendiri kenapa pisah?"


Ingin rasanya Maudy melompat keluar dari dalam mobil Ken, sesuatu yang ia takutkan terjadi, Ken benar-benar melemparkan pertanyaan tersebut pada Maudy.


"Gue-guee-STOP."


Ken langsung menginjak pedal remnya secara mendadak, begitu Maudy berteriak memintanya berhenti.


"Kenapa?"


"I-ini rumah gue." ucap Maudy dengan gugup.


Ken langsung memutar kemudinya, memarkirkan mobilnya dengan posisi yang sempurna, ia bahkan langsung mematikan mesin kendaraannya saat itu.


"Loh kenapa Ken matiin mobilnya?" Gumam Maudy dalam batinnya.


"Gue boleh mampir sebentar?"


"Ma-mampir?"


"Boleh kan?"


Kembali Ken melemparkan pertanyaan itu, untuk mendapat persetujuan dari Maudy.


"Bo-boleh."


Ken langsung memiringkan Senyumnya yang berbinar, ia bahkan langsung turun dari dalam mobil tersebut berbarengan dengan Maudy.


"Biar gue yang gendong anak lo."


Maudy membulat, apa ini? Ken meminta untuk menggendong Kenia, yang tidak lain adalah anaknya.


"Gapapa, biar gue ajah."

__ADS_1


"Udah sini, gapapa."


Ken langsung mengambil alih Kenia, ia bahkan menggendong anak itu dengan penuh kelembutan, agar Kenia tidak terbangun dari tidurnya.


Maudy masih membisu, mematung seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya, ayah dan anak saling berpelukan, bagimana jika Kenia dan Ken tau, bahwa sebenarnya mereka adalah ayah dan anak.


"Kenapa diem? buka pintunya." tegas Ken


Maudy tersentak, ia langsung sesegera mungkin membuka pintu rumahnya yang terkunci, dan membiarkan Ken masuk kedalam membawa Kenia dalam pelukannya.


"Bawa kemana?" ucap Ken


"Kamarnya ajah deh langsung."


"Dimana?"


Maudy benar-benar gugup, seketika tubuhnya bergetar perasaanya tiba-tiba tidak karuan, apa sebenarnya maksud dari semua ini? Maudy sendiri kebingungan.


Ken meletakan Kenia perlahan di atas ranjang, ia bahkan mengelus pipi gembul gadis itu dengan penuh kelembutan. Saat itu Maudy langsung keluar dari dalam kamar Kenia, ia mencoba membuatkan sesuatu, untuk ia suguhkan pada Ken.


"Ngapain?"


Ken selalu saja mengejutkan Maudy, tidak itu hanya Maudy saja yang berlebihan, setiap kali mendengar suara Ken ia langsung tersentak.


"Buatin kopi."


"Buat gue?"


Ken berjalan mendekati Maudy yang saat itu sedang menuangkan air panas pada cangkirnya.


"I-iya"


Keduanya sedang berada di dapur, entah kenapa ingatan Ken terlintas, saat dimana ia dan Maudy pernah melakukan sesuatu di dapur. Begitupun juga dengan Maudy, ia juga mengingat suatu hal, yang saat ini sedang Ken pikirkan.


"Kenapa dia jadi ngikutin gue kedapur? perasaan gue jadi gak enak" Gumam Maudy dalam batinnya.

__ADS_1


NEXT GUYS.. LIK**ENYA KOMENNYA DAN VOTENYA..


RAMAIKAN DONG KARYA BARUKU, JUDULNYA Istri Gadis Ayahku TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR VOTE DAN LIKE KALIAN, PLEASEEE CERITANYA AKU TABURIN GENRE ROMANCEE SAMA COMEDY, TAPI GAGAL KARNA ADA YANG KOMEN KATANYA BIKIN MEWEK, KAYANYA AKU GAK ADA BAKAT BUAT NGELAWAK🤪**


__ADS_2