Bad Brother

Bad Brother
Chapter 68


__ADS_3

"Hah! Serius? Nesa dateng?" pekik Selin seraya terkejut.


Maudy menghembuskan nafasnya perlahan, ia mengangguk dengan raut wajah memelas.


"Lo udah kasih tau Ken, kan? kalo Kenia itu anaknya."


Bruakkk...


Selin dan Maudy tersentak, ia langsung memalingkan wajahnya menatap kesumber suara.


"Nesa? Lo disini?" Tanya Selin dengan mata membulat.


Tidak kalah terkejut dari keduanya, Nesa bahkan sampai menjatuhkan minumanya saat tidak sengaja mendengar apa yang Maudy dan Selin bicarakan. Seketika tubuhnya bergetar, dengan mulut menganga, matanya menggenang dengan ekspresi tidak percaya.


"Jadi... Kenia... enggak itu gak mungkin." Nesa berlalu begitu saja dari hadapan Selin dan juga Maudy.


"Nes... tungguu..." pekik Maudy yang mencoba menghentikannya.


"Ehhh gak usah di kejar, biarin ajah dia tau, biar dia bilang sama Ken." tegas Selin.


Entah kenapa, hal ini malah membuat Maudy tidak karuan. ia khawatir jika Nesa salah paham dan pada akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Ken.


"Lo gak waras, Sel? gimana kalo dia ngadu sama Ken? gimana kalo mereka pisah? orang-orang bakalan berpikir, kalo asumsi mereka selama ini bener. Gue yang udah ancurin rumah tangganya." tegas Maudy.


Selin terdiam, ia menggigit bibirnya sendiri dan berpikir keras.


"Ahah... hahahah, jadi lo sekarang sadar?" Selin terkekeh, ia bahkan sampai membuat Maudy kebingungan.


"Lo... Lo nyalahin gue juga?" ucap Maudy dengan suara terendah menatap Selin tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Jelass. dari awal lo udah salah, lo liat Kenia," Selin menunjuk pada gadis kecil yang sedang bermain dengan jagoannya. "Mau sampe kapan lo nyembunyiin hal ini? lo egois! lo korbanin masa depan anak lo demi nutupin kesalahan lo sama Ken, dan harga dirilo."


Maudy terkekeh, entah kenapa keduanya terus saja saling berteriak, dan berselisih pendapat.


"Ahaha.. Kesalahan? Harga diri?" Maudy menajamkan tatapannya kearah Selin dengan ruat wajah jengkel, "lo liat diri lo sendiri, lo juga pernah ngelakuin kesalahan karna udah jatuh cinta sama kakak tiri lo. bahkan korbanya orang tua lo sendiri, sampe nyokap lo meninggal."


Plakkkkk...


Selin melayangkan tamparan yang cukup keras kearah Maudy, seolah tidak terima karna gadis tersebut sudah mengungkit perihal masa lalunya.


"Lo denger! gue emang pernah ngelakuin kesalahan. tapi seenggaknya gue gak egois karna gue mikirin masa depan anak gue." tegas Selin dengan suara memekik.


Maudy terdiam, keduanya hanya saling menatap satu sama lain dengan penuh amarah.


"Kelvin, ayo pulang." ucap Selin langsung menarik sang buah hati yang sedang menyaksikan pertengkaran tersebut bersama Kenia.


"Sel... tunggu Sel... gue gak bermaksud..." Maudy mencoba menghentikannya, ia bahkan meraih tangan Selin dengan air mata yang menggenang.


"Gue tau, sedangkan Ken bilang dia gak subur, apa yang harus gue lakuin? dia gak akan percaya. percuma!" Maudy menjerit histeris, ia bersimpuh tidak berdaya dengan keadaan yang sangat menyedihkan dihadapan Selin.


"Itu masalahnya. seenggaknya kalo lo bilang kita bisa tau apa reaksinya, kalo dia minta bukti tinggal tes DNA, bisa ajah diagnosa dokter soal Ken gak subur tuh salah." tegas Selin, ia meraih tubuh Maudy dan memeluknya mencoba memberikan ketenangan.


Tentu Maudy mengerti apa maksud dari Selin sang sahabat, akan tetapi ia belun siap menerima gunjingan dan cemoohan dari orang-orang. perihal dirinya yang telah menggoda Ken dan mencoba merebutnya dari Nesa. disisi lain ada Kenia buah hatinya yang sudah sangat membutuhkan identitas jelas untuk menata masa depannya. Seolah disulitkan dengan pilihan yang sangat menyudutkannya.


Maudy bahkan sampai setengah depresi memikirkan masalah tersebut. Siang dan malam Maudy sampai tidak bisa terlelap, karna terus memikirkan hal tersebut.


Tidak kalah dari Maudy. Nesa bahkan terlihat murung, beberapa hari ia tidak makan dan terlihat gelisah. sampai Ken sendiri kebingungan dibuatnya.


"Kamu kenapa?" Ken meraih tangan sang istri, mencoba memeriksakan kondisinya yang tidak terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Nesa menatap Ken dengan intens, air matanya mengalir saat ia menyentuh wajah sang suami. "Kamu gak bakalan ninggalin aku kan?" ucap Nesa dengan suara bergetar.


Ken mengerutkan dahinya, ia berpikir apa Nesa masih memikirkan kejadian dimana dirinya telah memergoki Ken dirumah Maudy.


"Kamu masih bahas hal ini. kamu udah janji sama aku gak bakal bahas soal ini lagi." tegas Ken.


Tubuh Nesa bergetar, bayang-bayang Maudy dan Kenia terus saja menghantuinya.


"Aku... aku takut... aku-"


"Denger, aku udah bilang aku gak bakal ninggalin kamu!"


"Meskipun aku gak bisa kasih kamu anak?"


Ken mendengus kesal menatap Nesa.


"Aku pergi." tegas Ken sambil berlalu, ia memang cukup kesal, karna Nesa selalu saja mempermasalahkan hal ini. meskipun Ken sudah menegaskan jika dirinya menerima kekurangan istrinya tersebut.


"Ken tunggu, aku takut... aku cuma-" Nesa meraih dan meneluk Ken, mencoba menghentikannya. "Aku gak mau tinggal satu kota sama Maudy."


Ken terkekeh, menurut Ken ucapan Nesa membuktikan jika dirinya benar-benar masih mempermasalahkan kejadian beberapa waktu lalu tersebut. "Apa kita harus pindah?" Tanya Ken.


Nesa hanya mengangguk dengan air mata yang menggenang.


"Buang ajah pikiran negatif kamu, aku gak punya hubungan sama dia." tegas Ken.


"Jadi itu artinya kamu nolak? kamu gak mau?"


"Buat apa kita pindah kalo kamu masih terus ngungkit hal ini. apa bedanya!" Ken meninggikan suaranya menatap Nesa tajam.

__ADS_1


MOHON MAAF, AKU NGURUSIN NOVELKU YG MAU DIBUKUKAN😘 DIMOHON PENGERTIANNYA. KASIH LOVE VOTE LIKE DAN KOMENNYA YANG BANYAK, KADANG ANTUSIASME KALIAN YANG BIKIN AKU SEMANGAT


__ADS_2