
Stela berlari dari sisi Juno, ketika melihat sang Ayah sudah datang bersama Mariane, gadis itu langsung memeluk tubuh Mariane dan mengatakan segalanya.
"Mama, orang itu Juno yang udah buat kak Selin nangis." Ucap Stela dengan wajah polosnya
Tentu saja Stive sang ayah tahu benar, siapa sebenarnya pria di hadapannya tersebut, Juno terlihat santai menghadapi kedua orang yang baru saja datang tersebut.
"Jadi kau Juno."
"Bruakkkk"
Stive dengan begitu jengkel langsung memukul wajah Juno, bagaimana tidak, sudah cukup pria itu membuat hidup anaknya berantakan sampai Selin kehilangan semangat hidupnya, dan sekarang, baru saja gadis itu bangkit dari keterpurukannya, ia malah datang dan langsung membuat Selin masuk rumah sakit.
Seolah menerima kesalahannya, Juno saat itu hanya pasrah, menerima pukulan daro Stive, ia terlihat tidak melawan meskipun saat itu Mariane mencoba menghentikannya.
"Dasar pemuda kurang ajar, beraninya kau membuat putriku menderita."
"Bruak"
Pukulan demi pukulan Stive daratkan pada Juno, Mariane mencoba menenangkannya, dengan beberapa orang di sana, menjauhkankan Stive dari Juno saat itu.
"Cukup pah hentikan." jerit Mariane
Napas Stive masih tersenggal, ia benar-benar sednag di rundung emosi saat itu, tatapannya pada Juno sangatlah mengerikan, hingga dokter keluar dari ruangan tempat dimana Selin di tangani.
"Siapa suami dari pasien?."
Juno langsung beranjak dengan penuh percaya diri.
"Aku ayah dari bayinya." Tegas Juno
"Ibu dan bayinya selamat, bayinya laki-laki, ia terlahir prematur, kondisi sang ibu sangatlah lemah, kau boleh menemuinya sekarang." Tegas dokter.
Tidak butuh lama, Juno langsung berlari masuk kedalam ruangan mengabaikan Stive yang saat itu masih terlihat kesal padanya.
"Tunggu dokter-"
__ADS_1
"Sudahlah pah, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya, bagamana pun keputusannya ada di tangan Selin."
Selin terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang masih ia kenakan, mata indahnya masih terpejam, sementara itu di sampingnya ada bayi mungil yang masih memerah berada dalam tabung.
Dengan mata yang menggenang, Juno menggenggam tangan Selin, mengharap gadis itu tersadar, agar ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya yang ia inginkan, sesaat Juno memang larut dalam keegoisan, namun pria itu benar-benar tidak bermaksud untuk meninggalkan Selin.
"Sel, aku disini, aku gak pernah ada niatan buat ninggalin kamu."
Juno mencium punggung telapak tangan Selin, wajahnya memancarkan ekspresi kecemasan saat itu, Stive dan Mariane pun melihat dari balik kaca pintu ruangan tersebut.
"Pah." Ucap Selin lirih dengan mata yang masih terpejam.
Gadis itu sedang mengumpulkan kesadarannya, ia mengatakan hal tersebut karna merasakan tangan seseorang sedang menggenggam kuat tangannya, yang Selin pikir itu adalah tangan sang papa.
"Sel, ini aku Sel."
Selin mengerjap, ia benar-benar sedang mengumpulkan kesadarannya, ia berpikir ini adalah ilusi, Juno tidak mungkin di hadapannya.
"Kamu?"
"Iya Sel, ini aku." Ucap Juno dengan mata yang menggenang penuh harapan.
"Sel aku minta maaf Sel, aku mohon dengerin penjelasan aku dulu."
Selin mencoba tetap tenang, meskipun matanya sudah menggenang.
"Pah, Mah." Teriak Selin
Stive dan Mariane pun langsung masuk kedalam.
"Pah, kenapa papah gak usir dia? aku udah gak mau liat wajahnya, tolong usir dia pah."
Mariane mencoba menenangkan gadis itu, ia mencoba mendekati Selin.
"Enggak Sel, sekeras apapun aku gak akan pergi." tegas Juno
__ADS_1
"Pah buruan usir dia." tegas Selin meninggikan suaranya
Namun Stive saat itu hanya terdiam, matanya melirik ke arah Juno yang terlihat tulus pada Selin.
"Sel aku mohon, demi anak kita Sel."
"Dia bukan anak kamu." tegas Selin dengan meninggikan suaranya, air mata gadis itu mulai berjatuhan.
"Pah Usir dia."
Juno bersimpuh di bawah kaki Stive, ia benar-benar tulus, pemuda itu sedang berusaha mendapatkan kembali cinta dari Selin.
"Om maafin saya om, saya salah, saya memang penyebab dari segalanya, biarkan saya menebus semua kesalahan saya Om, saya mohon jangan usir saya."
Stive masih terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke arah Mariane.
"Bangun." ucap Stive dingin
"Om saya mohon, saya sayang sama Selin, tolong jangan usir saya."
Stive memengang bahu pemuda itu, mencoba membangunkannya, ia sama sekali sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, terlihat jelas dimatanya, sudah tidak ada kemarahan yang terpancar.
"Sel jawab pertanyaan papa, apa kamu mau buat anak itu besar tanpa seorang ayah?"
Mariane mencoba menyeka air mata yang berjatuhan di wajah Selin, tentu Selin terkejut mendengar pernyataan sang papa.
"Aku bisa besarin anak aku tanpa dia."
"Jadi kamu mengakui, jika bayi itu adalah anak Juno?" ucap Stive memiringkan senyumnya
"Pah aku mohon." ucap Selin lirih
"Papa tau kamu masih mencintai Juno, kamu harus ngalahin ego kamu, demi anak kalian, dia juga butuh figur seorang ayah Sel."
Mendengar hal tersebut tentu Juno mengerti, jika ia sudah mendapatkan jalan untuk menebus kesalahannya dari ayahnya Selin.
__ADS_1
"Om saya mau nikahin Selin." Tegas Juno, pemuda itu dengan santai mengatakannya, ia pikir memang hal ini harus ia katakan.
NEXT GUYS LIKE KOMEN DAN BANTU VOTE😍