
"Enggak mau, aku mau main sama Kenia, aku gak mau sekolah." jerit Kelvin.
Putra satu-satunya dari Selin dan Juno itu terus saja merengek, sudah dua jam lamanya, Kelvin bahkan belum menghentikan tangisannya. Ini sudah biasa terjadi, sampai kapapun Kelvin tidak akan menghentikan tangisannya, jika keinginan dari anak tersenut belum Selin dan Juno penuhi.
Bahkan Selin sang Mama, kali ini sampai kewalahan, segala upaya sudah ia lakukan. Namun Kelvin malah semakin memperkeras volume tangisannya, bahkan ia sampai berguling di lantai, entah apa yang Selin inginkan saat masa kehamilannya.
"Iya oke, kita kerumah Kenia sekarang, tapi kamu harus janji sama Mamy."
Selin mengalah, akhirnya ia mengiyakan keinginan sang anak, dengan mengajukan syarat. Seketika tangisan Kelvin terhenti, ia langsung mengerucutkan bibirnya dengan mata yang berbinar.
"Kita ketemu Kenia, tapi kamu harus mau sekolah."
Pemuda cilik itu menganggukan kepalanya, menatap Selin, ia benar-benar sangat menggemaskan, sampai Selin saja tidak berani berucap kasar pada Kelvin, mungkin itu alasan dari kenakanal Kelvin. ia mempunyai orang tua yang terlalu baik, dan bahkan selalu memanjakannya. Segala keinginan Kelvin Selin dan Juno penuhi, tanpa terkecuali.
Juno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan Kelvin terlihat membawa beberapa banyak mainan, yang Kelvin sendiri katakan, itu untuk ia persembahkan pada Kenia, teman baru Kelvin yang paling cantik menurutnya.
"Aku bingung, anak kamu genitnya kebangetan, tiap hari yang di omongin Kenia mulu."
Dengan pandangan lurus kedepan, Juno terkekeh, jagoan kecilnya memang sangat menggemaskan, tingkah lucu dan meggelikannya sukses membuat Juno terbahak.
"Aku rasa kita bakalan jadi besan sama Maudy." Celetuk Juno
"Anak kamu masih kecil, udah main jodoh-jodohin ajah."
"Kita gak pernah tau jodoh Kelvin siapa, itu mungkin ajah kan, contohnya kita."
Selin mengalihkan pandangannya menatap Juno dengan tajam.
"Kita kenapa?"
Juno membalas tatapan Selin, pria jangkung itu tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
"Gapapa." ucap Juno.
Juno tidak menjelaskan ucapannya barusan, karna tidak ingin mengungkit masa lalu, khawatir jika sang istri akan teringat apa yanh pernah keduanya lalui.
Meskipun pernikahannya sudah berjalan 5 tahun, yang memang usia pernikahannya dengan sang anak tidak berbeda jauh. Selin sering kali mengingat masa lalu pahitnya tersebut, yang sudah membuat Mama dan Papa Aryan meninggalkannya dengan Juno, untuk selama-lamanya.
Cukup lama Selin dan Juno mencari alamat abru Maudy, akhirnya mobil terhenti di depan rumah dengan alamat yang tertulis, di sebuah secarik kertas yang pernah Maudy berikan pada Selin.
Wanita itu memang sudah tidak tinggal di rumah lamanya, entah apa alasan Maudy, Selin pun tidak tahu, bawasannya ia saja baru bertemu Maudy beberapa hari yang lalu.
Keluarga kecil itupun keluar turun dari dalam mobil, dengan mainan yang begitu banyak Kelvin mengekor di belakang sang Ayah, dengan senyum yang berbinar.
"Semangat banget kamu boy, mau ketemu pacar ya." celetuk Juno.
"Mamy, pacar itu apa?"
Selin menatap Juno dengan garang, ia memang tidak suka jika Juno mengatakan sesuatu hal yang membuat Kelvin banyak bertanya, terlebih pertanyaan yang Kelvin lemparkan masih belum pantas untuk Sekin jelaskan pada sang buah hati.
"Kamu kebiasaan." tegas Selin sambil berlalu.
Perlahan Selin mengetuk pintu rumah besar milik Maudy, ia bahkan menekan bel rumah tersebut berulang-ulang.
"Kok gak ada yang jawab ya, benerkan ini alamatnya?"
"Iya sayang, ini sesuai sama alamat yang di tulis kok." ucap Juno
Akhirnya pintu tersebut di buka oleh Kenia.
"Cari siapa?" ucap Kenia dengan polos.
Selin tersenyum tipis, ia menyentuh pipi gembul gadis itu dan berkata, "Mamy kamu ada?"
__ADS_1
"Ada, silahkan masuk." ucap Kenia.
Maudy memang sangat pintar mengajari Kenia, gadis itu bahkan bersikap dengan baik pada Juno dan juga Selin. Akan tetapi Kenia terlihat acuh pada Kelvin, gadis kecil itu bahkan tidak menyapa Kelvin yang sudah datang membawa sebongkah mainan.
Kenia berlalu begitu saja bersama Selin, sedangkan Kelvin mengerucutkan, menerima perlakuan apatis dari Kenia.
"Sabar ya boy, Papy juga gitu pas deketin Mamy kamu, butuh perjuangan." ucap Juno melebarkan senyumnya.
Pria jangkung itu mencoba menghibur sang buah hati, agar Kelvin tidak menyerah meskupin Kenia tidak memperdulikannya.
"Mamy, ada tante Selin sama Om Juno." Kenia berteriak memanggil sang Mama, yang memang saat itu Maudy sedang sibuk membersihkan kolam renang pribadinya.
"Ehh, kok lo gak bilang mau dateng."
Maudy menghampiri Selin dan memeluknya
"Sama siapa? sendiri?"
"Gue sama Juno sama Kelvin, kayanya dia masih di depan." ucap Selin.
"Oke duduk-duduk, lo mau minum apa?"
Terdengar suara tangisan dan rengekan yang cukup lantang, siapa lagi jika bukan Kelvin, hal itu sampai membuat Selin terkejut dan langsung kembali berlari menemui Juno dam sang buah hati.
"Kenapa nangis?" ucap Maudy
"Di cuekin Kenia." celetuk Juno, pria itu bahkan terus terbahak kegelian, sambil mencoba menenangkan Kelvin.
"Astaga, Kenia Kelvinnya jangan di cuekin dong." ucap Maudy.
Kenia memandang Kelvin dengan raut wajah polosnya, ia sendiri kebingungan dengan sikap pemuda cilik itu yang menurutnya sangat aneh.
__ADS_1
LIKE DULU GUYS, JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE, KECEPATAN UP TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN.