
Selama beberapa bulan menghilang Juno disibukan dengan mengurus perusahaan, bukannya ia tidak ingin mencari Selin, namun saat itu Selin benar-benar memblokir semua aksesnya, dari mulai nomor ponsel sampai alamat Juno selalu berusaha untuk mencarinya, tetapi hasilnya nihil, pemuda itu bahkan mencari tahu dimana keberadaan Maudy, untuk menanyakan dimana kediaman Ayah kandungnya Selin. Namun Maudy juga menghilang entah kemana.
Setengah prustasi Juno mencari, ia benar-benar merasa bersalah, Juno tidak bermaksud untuk meninggalkannya, terbukti selama Selin pergi ia tidak pernah mencari wanita lain, atau bermain wanita seperti yang sering ia lakukan bersama Ken.
Juno sampai bersumpah, ia lebih memilih untuk tidak menikah seumur hidup, jika ia dengan Selin tidak bisa bersama.
Raut wajah Juno di rundung kecemasan, ia sama sekali tidka berhenti melangkah kesana-kemari.
Stela tak henti-hentinya memperhatikan wajah tampan pria yang di hadapannya, gadis kecil itu memang sedikit genit, ia menarik-narik kemeja yang Juno kenakan dengan sangat menggemaskan.
"Kaka ini Siapa?"
Juno mengalihkan pandangannya menatap mata gadis kecil itu, ia bersimpuh mencoba tetap tenang di hadapan Stela.
"Aku?, siapa namamu?"
"Aku Stela, adik kak Selin," Ucap Gadis kecil itu dengan tatapan polosnya.
Juno memiringkan senyumnya sambil mencubit pipi gembul gadis kecil itu.
"Kakak, bisakah kakak mengantar Stela pulang?."
"Kakak akan mengantar Stela pulang, setelah kak Selin baik-baik saja,"
"Sekarang Stela duduk dengan tenang."
Gadis itu tidak menunjukan eksprsi apapun, ia kembali duduk dengan sangat manis sambil membawa tas Selin dan Juga ponselnya.
Stela memanikan sebuah permainan di ponsel milik Selin, kedekatannya dengan Selin bahkan sudah sejauh itu, Selin bahkan memberikan password ponselnya pada Stela, agar gadis kecil itu bisa sepuasnya memaninkan ponsel milik Selin.
Dengan begitu telitinya Stela memainkan cacing di dalam ponsel tersebut, permainan yang sangat Selin sukai, meskipun sedikit menggelikan.
Raut wajah Stela mulai bosan, ia menarik kembali kemeja yang Juno kenakan.
"Kakak bisakah kakak membantu aku untuk mencari nomor papa."
Stela menyerahkan ponsel tersebut pada Juno dengan raut wajah yang memelas.
__ADS_1
"Bukannya ini ponsel Selin?"
"Iya ini ponsel kak Selin,aku belum bisa membaca, tolong aku yah."
Juno menganggukan kepalanya, ia segera meraih ponsel tersebut daei tangan kecil Stela.
"Kakak gak tau passwordnya."
"Aku tau kak." ucap Stela melebarkan senyumnya
"Sebutkan."
"090295."
Juno mengerutkan dahinya, ia sangat mengenal kode-kode itu, itu adalah tanggal lahirnya sendiri, dan ternyata Selin masih memakai tanggal tersebut untuk password ponselnya.
Juno sangat yakin, yakin jika Selin masih mencintainya, meskipun keadaan gadis itu sekarang sangatlah membencinya, tapi jauh di lubuk hati Selin, ia masih sangat mencintai Juno.
Juno mencari nomor ponsel di Stive disana, yang bernamakan Papa, ia mencoba menghubungi nomor tersebut dan memberikan ponsel itu kembali pada Stela.
"Hallo papa?"
"Papa Stela di rumah sakit bersama kak Selin dan kakak ganteng, papa jemput Stela yah."
Stive dan Mariane tentu sangat terkejut mendnegar kabar itu dari Stela, bagaimana tidak, usia kehamilan Selin sudah menginjak bulan ke 7.
Juno menghela napasnya dengan kasar, di dalam otaknya ia benar-benar menyimpah begitu banyak pertanyaan, apalagi keadaan Selin dengan perut yang membuncit, membuat ia berpikir, apa Selin sudah menikah.
Juno mengangkat tubuh kecil Stela, ia mencoba mengakrabkan dirinya pada gadis itu.
"Stela, apa Stela bisa menjawab pertanyaan kakak?"
Gadis kecil itu menganggukan kepalanya dengan begitu polos, membuat Juno yakin jika Stela tidak akan berbohong menjawab pertanyaannya.
"Apa kak Selin sudah menikah?"
"Menikah itu apa?" Ucap Stela dengan kepolosannya, mata gadis memang menunjukan jika ia tidak mengerti hal tersebut
__ADS_1
"Emmm begini, kak Selin hamil, dan siapa ayah dari bayinya?."
"Papa Stive ayah Stela."
"Bukan-bukan, bukan Ayah Stela, tapi Ayah bayi dalam perut kak Selin."
"Papa Stive." tegas Stela dengan amat yakin
Juno mulai prustsai, ia benar-benar kebingungan, bagaimana caranya ia mendapatkan jawaban yang masuk akal dari Stela.
"Oke begini, Setiap malam kak Selin tidur dengan siapa?"
"Dengan Stela."
"Hanya dengan Stela?" ucap Juno, ia mencoba mencecar gadis kecil itu, agar mendapat jawaban yang cukup meyakinkan.
"Kadang Mama juga ikut tidur, buat nemenin kak Selin sama Stela."
"Di rumah Stela ada siapa aja?"
"Hanya papa, mama, Stela, dan Kak Selin."
Hal itu cukup membuat Juno yakin, jika Selin belum menikah, dan gadis itu sedang mengandung bayinya.
"Kakak siapa?" ucap Stela dengan polos, gadis itu memang belum mendapat jawaban dari mulut Juno.
"Nama kakak Juno."
Stela mengerutkan dahinya, ia mendorong Juno saat itu dengan bibir yang mengerucut, Juno bahkan sampai kebingungan, kenapa gadis itu melakukannya.
"Kakak yang sudah buat kak Selin menangis!"
Juno semakin kebingungan, ia mendekati gadis kecil itu mencoba menenangkannya.
"Stela apa maksud Stela?"
"Kak Selin sering nangis, berteriak pada papa, jika Juno sudah menghancurkan hidupnya, dan itu pasti kamu, kak Selin pernah teriak sambil nangis, kalo yang udah bikin dia hamil itu Juno, itu pasti kamu, kamu yang udah bikin kak Selin hamil, sampe kak Selin gak pernah mau makan."
__ADS_1
Mendengar itu Juno cukup tercengang, ternyata sangat mudah, hanya dengan menyebutkan namanya saja, Juno langsung mendapatkan semua jawaban dari segala pertanyaannya.
NEXT LIKE KOMEN DAN VOTE, GAPAPA AKU GAK JADI NGAMBEK, AKU GAK EGOIS KOK, AKU MIKIRIN PEMBACA SETIA AKUšDEMI KALIANš