
Kehidupan Selin benar-benar hancur, setelah beberapa lama Aryan meninggal, Alda di temukan meninggal dengan kondisi yang sangat mengenaskan, wanita paruh baya itu mengalami depresi berat, akibat dirinya yang terus mengurung diri, Alda memutuskan untuk mengakhiri sendiri hidupnya, bahkan jasadnya di temukan sudah mengeluarkan bau busuk saat itu, polisi menduga tubuh wanita itu sudah tidak bernyawa selama 12 hari lamanya, hal itu di ketahui tetangganya, karna rumah di sampingnya terlihat tidak berpenghuni, namun pintu gerbang rumah tersebut selali terbuka.
Akhirnya kemanan komplek tersebut memeriksa kondisi rumah yang terlihat kosong tersebut, kemanan itu bahkan membuka pintu utama yang tidak terkunci, keadan di dalam sangatlah berantakan, membuat keaman tersebut semakin penasaran, ia mengecek setiap ruangan rumah yang terlihat kosong tersebut, pada saat kemanan itu membuka pintu kamar utama, mulai tercium bau busuk yang sangat menyengat, dan yang mengejutkan adalah, Alda terlihat sudah tidak bernyawa dengan bekas luka sayatan di tangannya.
Selin benar-benar terpukul, ia sangat menyesal karna perbuatannya tersebut menyebabkan orang-orang yang ia sayangi meninggal, tubuh Selin benar-benar tidak terawat, ia terlihat sangat kurus, meskipun perutnya susah mulai membuncit, kesehariannya hanya mengurung diri dikamar sambil dihantui rasa penyesalan.
"Sel, kamu makan ya,"
Mata indah mama tiri dari gadis itu menggenang, ia benar-benar tidak tega melihat kondisi anaknya yang sangat menyedihkan, Stive sang papa pun tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menyaksikan putri malangnya larut dalam rasa penyesalannya tersebut, Selin bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri begitu mendengar berita kematian sang mama, Dokter yang sering memeriksa keadaan Selin dan kandungannya secara rutin bahkan sampai harus menyuntikan obat penenang pada gadis itu.
"Sel kalo kamu kaya gini terus, kasian calom bayi kamu Sel."
Tetesan demi tetesan air mata itu berjatuhan, mengalir di wajah cantik Selin, gadis itu terlihat sudah sangat kehilangan semangat hidup, hanya ini yang ia lakukan setelah menghancurkan keluarganya sendiri.
"Sel,"
Papa gadis itu memegangi kedua bahu anaknya, ie mamandang mata indah gadis itu, tatapan Selin kosong, kondisinya benar-benar sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Kalo kamu gak mau dengerin papa, jangan salahin papa, kalo papa bakalan seret Juno kehadapan kamu."
Selin menangis, ia menggelengkan kepalanya, rasanya tidak ada tenaga untuk berbicara, Selin hanya memberikan isyarat tersebut pada sang papa.
"Kalo kamu terus nyiksa diri kamu kaya gini, papa gak segan-segan bawa Juno kehadapan kamu sekarang."
Pria paruh baya itu meninggikan suaranya, ia benar-benar sudah sangat prustasi menghadapi anaknya yang sangat meras kepala.
"Kamu dengerin mama sekarang, kalo kamu makan, jaga kandungan kamu dengan baik, papa gak bakalan maksa kamu terus." ucap Mariane
"Kamu makan ya Sel ya, demi anak kamu, demi papa."
Akhirnya Selin luluh, demi sang papa yang sudah sangat baik padanya, ia menuruti ucapan Mariane yang amat lembut, Mariane memancarkan senyum yang berbinar, ia menyuapi gadis itu dengan penuh kelembutan.
Stive pun cukup merasa tenang melihat Selin yang akhirnya mau mengisi perutnya, Mariane bahkan membuatkan susu khusus ibu hamil untuk gadis itu, dan adik kecil Selin yang tidak lain anak dari Mariane datang dengan sangat menggemaskan membawa bauh-buahan segar untuknya.
Hari demi hari Selin lewati, ia terlihat sudah menerima kenyataan, meskipun dengan keadaan perut yang semakin membesar gadis itu tidak malu untuk keluar rumah, bahkan jika tetangga bertanya dimana suami dari gadis itu, ia hanya memiringkan senyumnya, begitupun dengan Mariane, ia terlihat sangat menyayangi Selin, ia bahkan akan langsung bertindak jika seseorang menghujat gadis itu, Stive juga terlihat tetap tenang, ia akan menuruti semua apa yang Selin katakan, mengingat perceraian yang dulu terjadi dengan Alda, itu adalah kesalahannya.
__ADS_1
Selin sudah kembali merawat dirinya, ia bahkan masih sangat terlihat cantik dan sexy dengan keadaan perut yang semakin membesar tersebut, senyumnya sudah kembali terpancar, ia terlihat sangat bahagia meskipun sedang menjalani masa kehamilan tanpa seorang yang ia cintai di sampingnya, Selin menjaga baik kandungannya, ia tidak ingin kembali menyulitkan ayahnya, menurut Selin sudah cukup duka yang terus menyelimutinya itu hadir, kini gadis itu benar-benar sudah melupakan masa lalunya, tujuannya sekarang adalah kesehatan dirinya dan sang jabang bayi.
"Gimana Sel? ada perkembangan?." Mariane mengelus perut buncit Selin dengan senyum yang berbinar
"Bayinya nendang-nendang mah."
Stela berlari menghampiri sang kakak.
"Aku mau liat dedek bayi mah."
Selin dan Marine tertawa kegelian, melihat aksi stela yang menggemaskan.
"Aku mau cium perut kak Selin."
Gadis kecil itu menyandarkan kepanya di atas perut Selin, ia terlihat sangat menantikan kehadiran bayi tersebut agar Stela memiliki teman bermain.
NEXT GUYS LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA ATUHHHHðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1