
"Mama sakit!"
Selin menjerit menahan sakit di bagian perutnya, gadis itu terus saja menangis sejak pagi tadi, bahkan ia sampai tidak ingin pergi ke kantor karna moodnya yg sedang naik turun itu mengharuskan ia agar tetap bermalas-malasan di rumah.
"Astaga Sel, kenapa harus teriak-teriak sih?! kamu udah gede, cuma dateng bulan ajah udah kaya abg."
Mama Alda saat itu sedang memijat-mijat anak gadis kesayangannya, suara rung-rungan selin ditambah dengan volume televisi yang cukup keras membuat telinga wanita paruh baya itu berdentum tidak karuan.
"ini tuh beda ma, ini sakit banget, beda dari biasanya." rengek Selin dengan bibir yg mengerucut.
"Halah, kebiasaan kamu tuh Manja banget tau gak?, umur kamu tuh udah 21 tahun Sel, ilangin dong sipat kekanak-kanakan kamu."
Sore itu papa Aryan dan juga Juno telah kembali dari kantor, keduanya melihat Selin dengan mata yg menggenang terbaring di soffa, sambil memeluk mama Alda.
Dua pria itu ikut duduk bersama di hadapan televisi, Selin terdiam dengan bibir yang mengerucut, lirikannya sesekali teralihkan kepada pemuda berahang tegas yang tidak lain adalah kekasihnya tersebut.
"Selin kenapa ma? Abis nangis?."
"Cuma pms doang, kebiasaan anak ini emang manja, dari pagi gak mau jauh sama mama, mama sampe belum masak nemenin, mijitin dia doang" tegas mama Alda.
Selin kembali menekuk wajahnya, bibirnya kembali mengerucut.
"ih mama orang emang sakit beneran, udah aku bilang rasanya beda, gak kaya biasanya" tegas Selin.
Mama Alda hanya menghela napasnya dengan kasar, ia tidak menggubris ucapan Selin dan hanya memainkan mimik wajahnya saja, seolah meledek anak gadisnya.
"Ahhhh buruan pijitin lagi" rengek Selin dengan posisi tidur di paha sang mama.
Mama Alda malah menurunkan kepala gadis itu dari pahanya, mau bagaimana lagi, orang kantor sudah berada di rumah, dan Mama Alda belum menyiapkan hidangan apapun, akhirnya ia meninggalkan Selin meskipun gadis itu terus saja merengek.
"Ma, mama" teriak Selin tidak mengurangi rengekannya sedikitpun.
__ADS_1
Kedua pria yg menyaksikannya hal tersebut hanya tertawa kegelian melihat tingkah kekanak-kanakan Selin, gadis itu mengerutkan dahinya, ia beranjak dari soffa tersebut dan berlalu menuju kamar.
"Loh sel, mau kemana?" Ucap papa Aryan.
Namun gadis itu seolah sudah merasa jengkel, meninggalkan ruangat tersebut menuju kamarnya.
"Ngambek dia pah?"
Pemuda itu bertanya pada sang papah, dengan keadaan yg masih tertawa kegelian.
"Dia emang gitu Jun, kalo moodnya bagus nanti juga ngomong lagi" teriak mama Alda yang mendengar ucapan Juno.
Juno pun beranjak dari duduknya, ia melonggarkan dasi yg melingkar di kerahnya, pemuda itu berjalan menuju lantai atas ke kamarnya.
Di depan pintu kamar Selin, Juno menghentikan langkahnya, ia mencoba mengetuk pintu kamar gadis itu untuk melihat keadaan sang kekasih, meskipun di depan kedua orang tuanya mereka terlihat biasa, namun di belakang itu mereka selalu mencari kesempatan, kamar yg bersebelahan bahkan mempermudah Juno dan Selin untuk saling bertemu, setiap malam Juno selalu menghabiskan waktu di kamar selin, begitupun sebaliknya, ketika jam akan menunjukan waktu pagi keduanya akan kembali ke kamar masing-masing agar tidak ada yg melihat, jika Selin dan Juno sering tidur bersama.
Juno menekan pintu kamar Selin dengan perlahan, terlihat gadis itu sedang terbaring memainkan ponselnya sambil terus meringis.
Juno masuk mendekati gadis itu.
"Mmm?"
Mood Selin yang berantakan membuatnya sedikit tida bergairah, meskipun hanya sekedar bicara.
"Masih sakit perutnya?"
"Mmm!"
Pandangan Selin masih saja pokus pada layar ponsel, wajahnya ditekuk mengabaikan sang kakak.
"Mana sini aku liat" ucap Juno sambil menggoda gadis itu.
__ADS_1
Selin langsung mengalihkan pandangannya menuju Juno, yg saat itu sudah terduduk di sampingnya, tatapan Selin sangat sinis pada pemuda itu, dalam batin Juno jika pepatah mengatakan, wanita akan berubah menjadi singa saat datang bulan, Juno akan mengiyakan hal tersebut, gadisnya terlihat sangat garang meskipun ia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Liat apaan?" tegas Selin dengan garang
"Itu."
Juno menarik hidung Selin dengan sangat gemas.
"Kamu mau liat apaan? orang sakitnya di dalem, mana ada orang dateng bulan perutnya berdarah-darah, dasar mesum!"
Juno terkekeh ia semakin kegelian menanggapi tingkah kekanak-kanakan gadisnya, pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di samping Selin sambil meregangkan otot-ototnya.
"Mmmmm, aku yang mesum kamu yang keenakan."
Juno melebarkan senyumnya, tangan jahilnya mengelus-ngelus perut sang adik.
"Siapa bilang? gak tuh, gak enak!"
"Kamu gemesin tau gak kalo lagi marah-marah kaya gini."
Ucapan Juno berhasil membuat gadis itu luluh, selin mencoba menahan tawanya dengan memalingkan wajahnya.
"Apaan si kamu gak jelas!" ucap Selin dengan ketus, namun bibirnya mencoba tersenyum meskipun ia bersusah payah menahannya.
"Aku lelah banget Sel, aku tidur bentar ya" ucap juno dengan suara terendah, meskipun tangannya tidak teralihkan mengelus-ngelus perut rata Selin guna meringankan rasa sakitnya.
"Jangan, kalo mau tidur pindah sana, nanti mama liat kamu disini bahaya"
"Mmm bentar doang sayang, aku mau kamu nemenin aku tidur"
Untuk yang kesekian kalinya, ucapan Juno kembali membuat senyum Selin berbinar, ia bahkan melupakan rasa sakit di perutnya karna kehadiran Juno benar-benar obat bagi segala nyeri yang ia rasakan.
__ADS_1
NEXT GUYS, LIKE KOMEN DAN BANTU VOTE SEBANYAK BANYAKNYA😍