
"Mah pinggang aku sakit banget, pijitin dong." ucap Selin pada Mariane
Gadis itu memang tidak sungkan untuk meminta hal itu, dan Mariane pun tidak keberatan mengetahui hal itu sering Selin lakukan bersama Alda mama kandungnya.
"Kamu sakit sel?." ucap Papa Stive yang saat itu sedang membaca koran pagi harinya
"Gk tau pah, gak enak badan dari kemarin pusing terus."
Mariane pun mengambil sebuah minyak angin untuk memijat Selin, kedua wanita itu berjalan beriringan menuju kamar.
"Abis di pijitin mau mama anter ke dokter Sel?"
"Gak usah deh Mah, aku gapapa kok."
Namun tiba-tiba saja ia merasakan sakit pada bagian kepalanya, penglihatannya pun mulai kabur.
"Mah kepala aku sakit."
"Kamu baik-baik ajah kan Sel?"
Mariane menghampiri Selin, ia memegang bahu gadis itu dengan raut wajah cemas, Selin tidak terlihat baik saja, bibirnya memucat suhu tubuhnya sangat hangat.
Gadis itu mengerjap guna mendapatkan kesadaran, ia memegangi kepalanya yang amat terasa pusing.
"Bruakkk"
Selin menjatuhkan dirinya ambruk di lantai, Mariane pun terkejut dan langsung menjerit meminta pertolongan.
"Selin sayang?,"
Mariane menepuk wajah Selin guna menyadarkan gadis itu
"Pahhhh Selin pingsann" Teriak Mariane dengan suaranya yang keras
__ADS_1
"Pahhhhh"
Stive pun datang, ia menghampiri sang istri sang anaknya.
"Selin kenapa mah?"
"Gak tau pas mau mamah pijit, dia malah pingsan."
Papa Stive langsung mengangkat tubuh gadis itu ke atas tempat tidur, entah apa yang terjadia pada Selin, kedua orang tuanya langsung memanggil dokter untuk memeriksanya.
Mata Selin menggenang, ia tidak percaya atas apa yang terjadi padanya, di saat gadis itu sudah tidak memperdulikan Juno kakaknya, ia malah mengandung bayi dari pria tersebut, dokter yang telah memeriksa Selin bahkan memberikan beberapa obat penguat kandungan.
Sang ayah hanya terdiam, seolah tidak percaya ketika mendengar ucapan dokter jika anaknya sedang hamil, Mariane mencoba menenangkan Selin yang terus menangis, padahal tidak ada yang menyudutkan Selin saat itu, namun gadis itu menangis histeris ketika dirinya mengetahui hal tersebut.
"Sayang tenangkan dirimu, Ayahmu tidak akan menyalahkanmu, tenanglah." Ucap Mariena
Gadis itu terus memeluk mama tirinya, ia menjerit dalam pelukan Mariane, Selin bahkan memukul-mukul perutnya sendiri, seolah tidak terima atas kehamilannya tersebut.
"Enggak ini gak mungkin." Jerit histeris yang terus keluar dari mulut Selin, air mata gadis itu terus saja berderai.
"Sel-"
Stive meraih tangan sang anak, ia menyeka air mata yang membasahi wajah Selin, guna menenangkan anak gadisnya.
"Pah maaf."
"Enggak, justru papa yang seharusnya minta maaf, papa gak bisa jagain anak gadis papa."
Mata pria paruh baya itu menggenang, menatap wajah lirih Selin, ia benar-benar merasa hancur ketika hal ini harus terjadi pada anaknya.
"Sekarang kamu bilang sama papa, siapa ayah dari bayi itu?."
Selin tertunduk, ia terus menjatuhkan air matanya, gadis itu menggelengkan kepalanya seolah menolak memberi tahu sang papa.
__ADS_1
"Papa gak akan marah, papa bakalan urus semuanya."
"Enggak aku gak mau, aku mau gugurin anak ini ajah." Selin menatap lirih wajah Papa Stive dengan penuh penyesalan.
Pernyataan Selin membuat Mariane dan Stive terkejut, bagaimana tidak, di saat ornag tuanya dengan sangat lembut menerima hal ini, Selin malah mempersulit dirinya sendiri, dengan menolak bayi yang sudah ada dalam kandungannya.
"Sel kamu jangan main-main, anak kamu gak salah, jangan korbanin dia " Tegas Mariane mencoba menyadarkan gadis itu, jika tindakan yang ia inginkan adalah kesalahan.
"Mamah kamu bener, Kamu udah cukup ngelakuin kesalahan, dan sekarang kamu mau buat kesalahan baru lagi."
Batin Selin menjerit, Juno tidak mungkin menerima kehamilan gadis itu, apalagi belum lama ini Aryan baru saja meninggal, tentubitu hal yang mustahil bagi Selin untuk Juno menerima bayi dalam kandungannya.
"Aku mau besarin bayi ini, tapi aku gak mau menikah."
Gadis itu menyeka setiap air matanya, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.
Hal itu berhasil membuat kembali kedua orang tuanya terkejut, bagaimana mungkin Selin akan membesarkan bayi itu sendirian tanpa seorang ayah.
"Sel kamu bener-bener gak waras, kalo orang lain tanya siapa bayi dari anak itu gimana?" Tegas Stive, pria itu sepertinya mulai kesal, karna di saat dirinya menerima kenyataan pahit ini, Selin malah akan semakin mempermalukannya.
"Ya terus aku harus apa? Juno gak mungkin mua tanggung jawab."
Mata kedua orang itu membulat sempurna ketika mendengar nama Juno keluar dari mulut Selin.
"Juno? jangan bilang-"
"Iyaaa, Juno, Kakak tiri aku." jerit Selin dengan air mata yang kembali berlinang
Stive terdiam, ia tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada putrinya.
"Aku mohon pah, aku mohon, jangan kasih tahu hal ini sama Juno, aku udah gak mau lgi liat wajahnya, aku minta maaf karna udah bikin papa kecewa aku mohon."
Selin bersimpuh di bawah kaki sang papa, ia terus menjerit histeris memohon pada Stive agar pria itu mengiyakan keputusannya, Selin terlihat sangat menyedihkan, pantas saja selama beberapa hari ini ia tidak pernah makan, dan hanya terus mengurung diri di kamar.
__ADS_1
NEXT GUYS LIKE KOMEN DAN BANTU VOTE😍