
"Jangan, kalo mau tidur pindah sana, nanti mama liat kamu disini bahaya"
"Mmm bentar doang sayang, aku mau kamu nemenin aku tidur"
Untuk yang kesekian kalinya, ucapan Juno kembali membuat senyum Selin berbinar, ia bahkan melupakan rasa sakit di perutnya karna kehadiran Juno benar-benar obat bagi segala nyeri yang ia rasakan.
"Yaudah terserah kamu,"
"Tapi pintu udah di kunci kan?"
Juno memiringkan tubuhnya, ia menopang kepalanya sambil menatap sang gadis dengan penuh kekaguman, Juno selalu saja bisa membuat Selin salah tingkah.
"Kamu apaan si ngeliatin aku kaya gitu."
Dengan dahi yang mengerut, gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dari sang kakak.
"Aku kangen banget Sel sama kamu."
Juno kembali bermanja, ia bahkan menind*ih tubuh sang adik dan menempelkan wajahnya tepat di atas perut Selin, senyum Selin berbinar, ia membelai rambut hitam kecoklatan milik Juno dengan jari-jari lentiknya, tentu hal kecil seperti ini memang selalu membuat Selin nyaman jika berada di dekat pemuda tersebut.
Juno mengecup perut Selin dengan mesra, ia bahkan mengelus perut itu dengan lembut, pemandangan seperti ini biasa di temukan saat pengantin muda sedang merayakan kehamilan pertama.
"Kak kamu apaan si? aku ini lagi sakit perut bukannya hamil muda."
Selin menepuk pelipisnya, ia bahkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Juno yang menggelikan.
"Masih sakit Sel?"
"Udah enggak kan ada kamu."
Gadis itu memiringkan senyumnya, ai bahkan terus membelai sang kakak guna mengurangi rasa lelah pada pria tersebut.
"Aku sayang kamu sel, sayang banget pokonya."
Juno memalingkan tubuhnya menatap wajah Selin dengan keadaan yang masih tertidur di atas pahanya, keduanya larut saling menenggelamkan diri masing-masing dalam tatapan tersebut.
Detak jantung keduanya mulai tidak beraturan, Selin menundukan kepalanya, untuk meraih bibir pemuda jangkung tersebut dan memberikan kecupan kecil padanya, namun Juno saat itu dengan senang hati menerimanya, ia bahkan menekan tengkuk leher Selin agar gadis itu tidak melepaskan ciumannya.
"Selinn?,"
"Tok.. tok.. tok.."
Keduanya saling mengerjap, terkejut melepaskan diri, ketika ada suara seseorang mengetuk dan memanggil nama Selin.
__ADS_1
"Kak itu pasti mamah."
Wajah gadis itu memucat di rundung kecemasan, suara ketukan dari luar terus saja terdengar.
"Buruan kamu sembunyi."
"Iya tapi dimana?" tegas Juno
Selin berpikir sejenak, lirikannya terhenti ketika melihat pintu kamar mandi, spontan gadis itu langsung mendorong tubuh sang kakak untuk bersembunyi di dalam kamar mandi.
"Sell??" Teriak mama Alda dari luar
"Iya mah"
Gadis itu menarik napasnya dengan panjang, ia bahkan sedikit merapikan dirinya, bibir yg sedikit memerah akibat gigitan Juno ia tambah dengan polesan liptin agar warnanya menjadi merata.
Selin menarik gagang pintu tersebut, terlihat mama Alda sudah berdiri di hadapannya dengan lipatan tangan yg cukup garang.
"Ke-kenpaa ma?"
"Ngapain ajah Sel? buka pintu kok lama banget."
Selin menelan salivanya, ia sedikit takut menatap wajah sang mama, dan berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat untuk membodohi Mama Alda.
Tentu saja ia berbohong, sepertinya wanita paruh baya itu percaya, Mama Alda bahkan meraih wajah Selin yg terlihat memucat dan berkeringat.
"Kamu ko keringetan Sel, wajah kamu pucet banget."
"Efek sakit perut mah, aku baik-baik ajah kok."
Mama Alda memiringkan senyumnya, ia sengaja datang untuk menyuruh kedua anaknya makan bersama-sama.
"Yaudah buruan, papah laper, udah nunggu di bawah."
Selin hanya menganggukan kepalanya dengan santai, dalam batinnya ia hanya ingin mama Alda segera berlalu agar Juno bisa secepatnya kembali ke kamarnya.
"Kamu liat kakak kamu gak? mama cariin dia gak ada di kamar."
Detak jantung Selin berdebar, perasaannya kembali tidak karuan, bahkan ketika mama Alda melirik ke dalam kamae Selin.
"Aku gak tau mah!"
Namun wanita itu masuk kedalam kamar Selin, ia bahkan menemukan sebuah dasi yg tergeletak di lantai, tentu saja Mama Alda mengenal itu milik siapa, mata Selin membulay ketika Mama Alda meraih dasi tersebut.
__ADS_1
"Ini punya Juno kan?"
"Hah? I-iya mah itu punya kak Juno."
Selin melebarkan senyumnya dengan gugup, ia kebingungan mencari alasan saat itu.
"Kamu bilang gak tau Juno kemana."
"Ya emang aku gak tau, tadi dia kesini, nanyain kondisi aku, trus pas aku bilang mau ganti, dia langsung keluar" tegas Selin dengan sedikit gugup
Namun sepertinya mama Alda percaya, ia keluar dari kamar tersebut membawa dasi yg ia temukan di lantai kamar Selin, akhirnya gadis itu bernapas lwga menyusutkan bahunya yg menegang, ia kembali menutup pintu kamar tersebit dengan sesegera mungkin.
"Kamu udah Jago boong ya sekarang" Ucap Juno.
Pria itu memeluk Selin dari belakang, ia bahkan melingkarkan tangannya di perut rata milik Selin dengan santainya.
"Kamu tau gak sih, aku hampir jantungan tau gak, dasi kamu tuh, sekarang di bawa mama!"
Juno terkekeh, gadisnya benar-benar sangat menggemaskan, ia bahkan menempelkan wajahnya di tengkuk leher Selin, menghirup aroma tubuh gadis itu, dan sesekali menciumnya.
"Ahhhhmmmm, lepas."
Selin mendorong tubuh Juno, ia bahkan menyuruh pemuda itu untuk segera pergi kembali ke kamarnya.
"Buruan sana nanti mama dateng lagi." tegas selin dengan dahi yg mengerut.
Pemuda itu tetap saja menggodanya, ia bahkan kembali mensekati sang adik dengan senyum yg liar.
"Cium dulu baru aku balik ke kamar."
"Kakkkkk"
Selin menajamkan tatapannya pada pemuda itu hingga membuatnya terkekeh, dan langsung berlalu meninggalkan kamar tersebut.
"Dia udah gak waras" Celetuk Selin menggelengkan kepalanya.
"Hustt.. Hust..,"
"Aku sayang kamu."
Juno kembali menampakan wajahnya membuka sedikit pintu itu hanya untuk mengatakan hal tersebut pada Selin, ia benar-benar sangat bisa membuat gadis itu salah tingkah tidak karuan. keduanya semakin hari semakin takut jika harus mengakhiri hubungan terlarang tersebut, bahkan mereka ingin memiliki satu sama lain.
NEXT GUYS, LIKE KOMEN DAN BANTU VOTE YG BNYK😂
__ADS_1