Bad Brother

Bad Brother
Chapter 42


__ADS_3

Selin menatap setiap tetesan hujan yang berjatuhan di balik jendela kamarnya, matanya sembab, dengan keadaan masih menggeng, seolah larut daam suasana hujan tesebut, Selin terus menjatuhkan butiran-butiran air matanya.


Juno kekasih sekaligus kakak tirinya entah kemana, selama dua hari ini Selin hanya mengurung diri di kamar, ia malu menampakan wajahnya dihadapan Mama Alda dan Papa Aryan, kedua orang tuanya tersebut juga tidak pernah mengetuk pintunya, sepertinya Mama Alda dan Papa Aryan benar-benar kecewa pada kedua anaknya.


"Kak, kamu dimana." Gumam Selin dengan air mata yang berderai, pandangannya sama sekali tidak teralihkan, ia terus memperhatikan setiap tetesan air di balik jendela kamarnya tersebut.


Memang sejak Selin dan Juno di ketahui telah menjalin hubungan oleh kedua orang tuanya, Pemuda jangkung itu seolah menghilang, entah kemana Juno pergi, meskipun Selin tidak pernah keluar kamar, ia sangat yakin jika Juno sang kakak telah pergi meninggalkan rumah.


Ponsel pemuda itu tidak bisa dihubungi, hingga membuat batin Selin menjerit penuh kehancuran, gadis itu berpikir jika Juno benar-benar sudah meninggalkannya, Juno telah pergi dan mungkin saja tidak akan pernah menemui Selin kembali, setelah apa yang sudah terjadi.


"Kamu jahat kak, kamu udah ninggalin aku."


Selin terus mengatakan hal itu pada dirinya sendiri, ia benar-benar tidak menyangka mengapa Juno tega melakukam hal itu padanya, lari dari masalah, dan membiarkan dirinya larut sendiria dengan penyesalannya.


Wajah Selin benar-benar sudah memucat, dua hari ini ia bahkan tidak mengisi perutnya, setiap kali mengingat kejadian itu ia merasa sangat ingin mengakhiri hidupnya, rasa penyesalannya benar-benar menjadi senjata untuk dirinya sendiri, waktu Selin hanya ia habiskan dengan menangis-menangis dan menangis sambil memikirkan dimana keberadaan pemuda yang sudah ambil alih dalam masalah ini.


*** ***

__ADS_1


Di tempat lain Juno terlihat melamun, dengan sebatang rokok yang ia selipkan di sela-sela jari tengahnya, mata pria itu tampak menghitam tatapannya kosong, Juno kebingungan, entah apa yang harus ia lakukan, ia benar-benar merasa tidak berguna saat itu.


Setelah Mama Alda melihatnya dengan Sekin dalam keadaan yang memalukan, Juno memang langsung pergi keluar rumah, ia bahkan langsung membeli apartemen karna tidak mungkin jika ia harus pulang kerumah lama sang Ayah.


Dua hari lamanya ia hanya mengurung diri di dalam apartemennya, entah apa yang harus pemuda itu lakukan, namun saat itu ia sedang memikirkan masalah yang telah menimpanya bersama Selin.


"Ahhhhh,"


Juno melempar botol minumannya ke arah tembok, ia benar-benar sangat merasa prustasi, kenapa hal ini harus terjadi padanya sekarang, meskipun Juno sudah memikirka sebelumnya jika hal ini pasti akan terjadi.


"Gobl*ok, Tolo*l,"


Juno benar-benar tidak berdaya, apa yang barus ia lakukan, di sisi lain ada gadis yang ia cintai, dan bahkan sudah sangat sering ia tiduri, dan di sisi lainnya ada Papa Aryan dan Mama Alda, jujur jika Juno harus memilih ia sangat ingin memilih keduanya, menjalin hubungan baik bersama Selin dan kedua orang tuanya, meskipun itu tidak mungkin.


Juno meraih ponselnya, ia kembali mengaktipkan ponsel tersebut yang sudah ia matikan selama 2 hari lamanya.


Beberapa pesan langsung masuk, tentu saja ratusan pesan yang Selin kirimkan padanya, namun Juno terlihat kibingungan, apa ia harus membalas pesan tersebut atau mengabaikannya.

__ADS_1


"Gue harus bilang sama Selin."


Pemuda itu langsung mengirim pesan pada sang adik, ia melirik ke arah jam yang saat itu sudah menunjukan pukul 9 malam.


Juno : Maafin aku, 15 menit lagi aku tunggu kamu di luar, jangan lupa bawa semua barang-barang kamu.


Selin yang mendapat pesan dari Juno pun langsung kegirangan.


Selin : Kamu kemana ajah kak, setengah mati aku mikirin kamu!!!


ia menyeka setiap tetes air matanya, dan langsung mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.


Juno : Gak ada waktu buat bahas di ponsel, buruan aku nunggu kamu di depan.


Dengan cepat Selin mengemas semua pakiannya, ia membuka gagang pintu dengan perlahan, suasana di luar kamar gelap, lampu tidak menyala memudahkan Selin untuk keluar rumah saat itu.


Jantungnya tidak karuan ketika kaki Selin berjalan menuruni tangga dengan membawa kopersnya, suasana di sana benar-benar sepi, sepertinya semua orang sudah terlelap, Selin menarik kopernya berlari ke arah luar dengan rasa takutnya yang luar biasa.

__ADS_1


Ia berhasil keluar dari rumah tersebut menuju gerbang, sudah sangat jelas terlihat Juno yang menghentikan mobilnya di depan gerbang, Selin mempercepat langkahnya agar segera bisa melihat wajah kekasihnya tersebut.


NEXT GUYSS, LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA😭


__ADS_2