
Tepat di hari pernikahan Ken, saat Selin mengatakan jika Maudy tidak membalas pesan-pesannya untuk datang ke pernikahan Ken. Sebenarnya Maudy datang, disudut lagi saat Selin, Juno, Ken dan Nesa sedang berbicara, Maudy di sudut lain justru sedang melihat apa yang mereka lakukan.
Perih rasanya melihat ayah dari bayi yang ada dalam perutnya melangsungkan pernikahan begitu saja, akan tetapi gadis itu tidak menyalahkan Ken sepenuhnya, jika saja dari awal Maudy menyadari jika hal ini akan terjadi, tentu ia tidak akan menjauh dari Ken, dan pasti akan meminta pemuda itu untuk bertanggung jawab setelah mereka melakukan hubungan badan itu bersama.
Air mata Maudy menetes, saat mendengar dan menyaksikan Ken dan Nesa mengucapkan janji suci, entah Maudy sedih karna ayah dari anaknya menikah, atau karna gadis itu sudah jatuh cinta pada Ken. semua sama saja, suatu hal yang tidak mungkin jika Maudy harus mengatakan hal yang sebenarnya, hari ini adalah hari bahagia Ken, dan Maudy tidak mungkin mengacaukannya.
Setiap harinya Maudy jalani dengan santai, ia tidak pernah keluar rumah, meskipun begitu sang Ayah selalu mensuportnya. memberi kasih sayang pada anak dan calon cucunya, bahkan mereka memutuskan untuk pindah ke kota lain, begitu orang-orang di sekitar menyadari kehamilan Maudy.
Tuan Zein membawa gadis itu ke kota A, dengan suasana baru, jika seseorang bertanya itu akan memudahkan Tuan Zein mengatakan alasan jika suami dari anaknya tersebut sudah meninggal.
Bahkan sampai Maudy melahirkan, Tuan Zein terus mendukung dan menemani putrinya tersebut, ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama Maudy, karna khawatir jika gadis itu akan mengakhiri hidupnya.
Di usia Kenia yang baru beberapa bulan, Tuan Zein memberikan beberapa jumlah uang pada Maudy, agar dirinya menggunakan uang tersebut untuk modal peluang usaha. dari sanalah karir awal Maudy, ia membuka usaha butik fashion yang cukup berhasil, bahkan setiap tahunnya butik tersebut terus berkembang, dan bercabang, beberapa di antaranya sudah berdiri di berbagai kota besar.
Tepat saat usia Kenia menginjak tiga tahun, Tuan Zein meninggal, karna serangan jantung, tentu hal itu menajadi hari terburuk untuk Maudy, disaat dirinya sudah selangkah lebih maju, sang Ayah justru pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya.
Hidupnya kini tinggal berdua, Maudy di haruskan untuk tetap bertahan, dan terus berjuang demi Kenia.
***
"Sel? kenapa Maudy nangis?" ucap Juno, yang telah kembali membawa Kelvin dan Kenia.
"Aku bakalan ceritain di rumah."
__ADS_1
Maudy menyeka air matanya dalam keadaan yang masih terisak, Kenia dengan raut wajah memelas mendekati sang Mama, gadis kecil itu memang sangat tidak bisa melihat Maudy meneteskan air mata.
"Mamy kenapa nangis?"
Mata Kenia ikut menggenang, ia memeluk Maudy dengan erat dan menangis di pelukannya.
"Mamy gapapa sayang."
"Mamy nangis, Kenia janji gak bakal nakal, Kenia sayang Mamy." ucap Kenia histeris
Betapa bangganya Selin melihat Kenia yang sangat khawatir dengan keadaan Maudy, usia sekecil itu Kenia sudah sangat mengerti tentang kesedihan sang Mama.
"Kenia jangan nangis."
"Kata Papa anak perempuan itu jangan cengeng." ucap Kelvin dengan polos.
Juno mengerutkan dahinya, sepertinya ada yang salah dengan kalimat yang Kelvin ucapkan.
"Kamu ajah tadi nangis Ke, pas di cuekin Kenia." celetuk Selin
"Papa ngajarin anak laki-laki gak boleh nangis Ke, bukan perempuan." tegas Juno
Bibir Kelvin mengerucut, ia menatap ke arah sang Papa dengan raut wajah jengkel.
__ADS_1
"Gak adil, anak perempuan boleh nangis, masa laki-laki gak boleh." celetuk Kelvin.
Juno menghela nafasnya, sengaja ia tidak menggubris ucapan sang buah hati, karna khawatir jika hal itu dilanjutkan akan membuat Kelvin kesal dan merengek, karna jika itu terjadi, akan sangat sulit untuk menenangkan dan menghentikan tangisan Kelvin.
"Kamu bujuk Kenia ke, biar nangisnya udahan." ucap Selin
Kelvin mengangguk, ia memegang tangan gadis kecil itu dengan sangat agresif.
"Ayo main, pacar aku gak boleh cengeng."
Pernyataan Kelvin sukses membuat Juno, Selin, dan Maudy terkejut, bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengerti hal seperti itu.
"Ke, kamu masih kecil, kenapa ngomongnya pacaran." tegas Selin
"Papa yang bilang, aku sama Kenia pacaran." celetuk Kelvin
Pandangan Selin teralihkan pada pemuda jangkung yang sedang berdiri di belakangnya, ia menatap Juno dengan tatapan mematikan.
"Aku bisa jelasin." ucap Juno
Raut wajah Pria jangkung itu memelas, dengan senyum yang menyeringhai, ia tentu tahu benar Selin pasti akan marah jika tahu dirinya yang sudah mengatakan jika Kenia dan Kelvin berpacaran, padahal itu terjadi tidak sengaja saat di mobil, Kelvin menyuapi gadis itu eskrim.
LIKE KOMEN VOTENYA YANG BANYAKK PLISSS😭
__ADS_1