Bad Brother

Bad Brother
Chapter 62


__ADS_3

LIKE DULU..


Setelah menyadari masa datang bukannya sudah terlambat, akhirnya Maudy memutuskan untuk segera memeriksa hal tersebut, Maudy berpikir jika pun benar ia hamil, hal itu bisa ia ketahui lebih awal, tanpa menunggu lama, dan jika kehamilannya tidak diterima Ken, itu bisa dengan mudah ia gugurkan.


"Mudah-mudahan gak hamil." ucap Maudy


Gadis itu menyipitkan sebelah matanya, mengintip hasil tes kahamilan yang baru ia gunakan. raut wajahnya menjadi datar saat alat tes kehamilan tersebut menunjukan dua garis tanda jika Maudy benar-benar sedang mengandung.


"Oh, gue hamil." ucapnya datar.


Tidak ada raut wajah cemas yang terlihat dari wajah Maudy, bahkan bisa di bilang, ia adalah gadis tersantai saat mengetahui hasil kehamilan meskipun statusnya belum menikah.


"Gue bilang sama Ken jangan ya?"


Maudy menggigit kuku lentiknya, ia dilema takut jika Ken tidak menerima bayi ini, dan justru Ken menyuruh gadis itu untuk menggugurkan kehamilannya.


"Gue kasih tau sekarang ajah deh, kalo pun dia nyuruh gue gugurin anak ini dia harus bantuin gue." gumam Maudy dengan santai


Gadis itu meraih ponselnya, untuk memberitahukan hal ini pada Ken, belum sempat ia menemukan kontak pemuda tersebut, Selin malah lebih dulu memberikan sebuah pesan, beserta gambar yang entah apa isinya.


"Apaan ni?" gumam Maudy


Selin : Nih titipan dari Ken


Serasa tertimpa balok, raut wajah gadis itu berubah, ia terlihat memancarkan aura dingin diselingi rasa terkejut, akibat melihat sebuah foto yang Selin kirimkan adalah, foto undangan pernikahan yang Ken titipkan untuk Maudy.

__ADS_1


"Enggak, ini gak mungkin."


Mata gadis itu menggenang, ia langsung melempar ponselnya sendiri dan menangis, menjerit saat mengetahui jika Ken akan menikah dengan orang lain.


"Gak mungkin, ini gak mungkin."


Jeritan histeris Maudy sampai membuat sang Papa datang menghampirinya, betapa terkekutnya Tuan Zein saat melihat sang putri sudah menjatuhkan tubuhnya tidak berdaya, dengan hasil tes kehamilan di sebelahnya.


"Maudy?"


Gadis itu masih menjerit prustasi, sedangkan Tuan Zein langsung meraih alat tes kehamilan di sebelah Maudy dan melihatnya, raut wajahnya datar, ia memandang putrinya dengan lirih, meskipun hal ini lebih pantas di pertanyakan oleh Mama dari Maudy, akan tetapi kematian sang Mama yang begitu cepat membuat Tuan Zein harus memerankan figur ayah dan ibu sekaligus untuk Maudy.


"Maudy, jawab Papa, siapa yang udah ngelakuin hal ini?" ucap Tuan Zein dengan suara terendah.


Tidak ada tanda-tanda kemarahan dari raut wajah Tuan Zein, mungkin pria paruh baya itu cukup tahu diri, karna waktunya yang sangat sedikit untuk Maudy dan lebih memilih pekerjaan dari pada anak gadisnya tersebut.


"Maafin aku Pa, aku salah, aku minta maaf." jerit Maudy histeris.


Siapa yang tidak kecewa? Tuan Zein tentu sangat kecewa, tapi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Maudy, karna memang tidak ada yang menjaga gadis itu. selama ini hanya Tuan Zein saja yang membesarkan Maudy seorang diri, tidak di dampingi oleh sosok sang istri.


Tuan Zein memegang bahu Maudy, terasa sangat jelas tubuh putri kesayanganya tersebut bergetar ketakutan.


"Jawab Papa, siapa yang udah buat kamu kaya gini?" ucap Tuan Zein.


Maudy hanya terus menangis dan menggelengkan kepalanya, tentu hal itu membuat Tuan Zein heran.

__ADS_1


"Papa tidak marah, dia harus tanggung jawab sayang." ucap Tuan Zein penuh kelembutan.


Maudy menatap lirih wajah sang Ayah, air matanya terus mengalir, ia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya pada Tuan Zein, jika Ken ayah dari bayinya akan menikah dengan orang lain.


"Maafin aku Pa."


Hanya itu kalimat yang terus Maudy lemparkan, karna sudah sangat membuat sang Papa kecewa.


"Siapa pemuda itu?"


"Itu gak mungkin, dia gak mungkin mau tanggung jawab."


Tuan Zein masih bersikap dengan sangat lembut, ia menyeka air mata sang buah hati dan terus menenagkan Maudy.


"Dia pacar kamu?"


Maudy menggelengkan kepalanya, ia tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya.


"Dia calon suami orang lain."


Pernyataan Maudy sukses membuat Tuan Zein kembali terkejut. Maudy memeluk sang Papa, ia menangis histeris di pelukan Tuan Zein.


"Aku gak mau ngerusak pernikahan dia, aku gak butuh dia buat besarin anak aku, aku mohon maafin aku Pa."


Tuan Zein terdiam, ia sendiri kebingungan dengan cara pikir anaknya tersebut, apa yang akan orang lain katakan jika semua orang tahu akan kehamilan Maudy tersebut, terlebih Maudy menolak untuk memberi tahukan hal ini pada Ken, siapa yang akan jadi ayah untuk bayinya tersebut?

__ADS_1


NEXT, LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONGGGG YANG BANYAKKK🤧


__ADS_2