Bad Brother

Bad Brother
Chapter 64


__ADS_3

2 Chapter, jangan lupa likenya...


Maudy berpikir keras, Ucapan Selin sang sahabat memang ada benarnya. Ia tidak mungkin terus-terusan menyembunyikan hal ini. Disisi lain ada Kenia, buah hati yang membutuhkan identitas yang jelas untuk masa depannya.


“Mamy.”


Kenia meraih wajah sang Mama dengan tangan kecilnya.


“Tidurlah sayang, ini sudah malam.”


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan bibir yang mengerucut, matanya menggenang saat melihat kegelisahan diwajah Maudy yang terlihat jelas.


“Aku sayang Mamy.”


Kenia memeluk Maudy, gadis yang terbaring disisi Maudy tersebut bahkan mengeluarkan air matanya. Tanpa terkecuali wanita yang lebih dewasa dari Kenia tersebut, Maudy menyadari jika tindakannya yang telah menyembunyikan hal ini terlalu egois, tapi disisi lain ayah dari sang buah hati juga sudah memiliki istri. Bahkan pernikahan mereka sudah berjalan selama bertahun-tahun, tidak mungkin Maudy datang begitu saja dan mengatakan jika Kenia adalah anak dari Ken. Tentu hal itu akan menjadi pengaruh besar untuk rumah tangga yang sedang Ken dan Nesa jalani.


Hujan deras diluar sedang terjadi, Maudy berhasil menidurkan buah hatinya saat itu, ia melangkah menuju jendela untuk menutup tirai. Tidak lupa wanita yang masih terlihat sangat cantic itu menutupi tubuh kecil sang anak dengan selimut tebal, mengecup pucuk kepala Kenia dan mematikan lampu kamar.


Maudy keluar dari kamar Kenia, ia melangkah menuju lantai dasar untuk mrngambil segelas air.


Tok… tok… tok…


Dahi wanita itu mengerut, ia melirik kearloji yang melingkar di pergelangan tangannya, begitu mendengar suara ketukan di jam tengah malam.


“Siapa yang dating malem-malem gini.” Gumam Maudy kesal sambil berlalu menuju pintu utama. Perlahan Maudy membuka pintu tersebut.


“Ken? Ngapain ujan-ujan gini dateng?” pekik Maudy


“Gue cuma mampir sebentar, sekalian lewat. Bolehkan?”


Maudy menelan salivanya, ia mengangguk dengan wajah datar lalu mempersilahkan Ken untuk masuk.


“Kenia udah tidur?” Tanya Ken.


“Udah, baru ajah.”

__ADS_1


Ken terduduk, Mudy masih terlihat datar dan gugup, bagaimana tidak? Beberapa saat yang lalu ia sedang memikirkan ayah dari Kenia tersebut. Dan sekarang pria jangkung itu sudah berada di hadapannya.


“Lo gak seneng gue dateng?”


Maudy tersentak dengan mata yang membulat.


“Bu-bukan gitu, lo tau sendiri gue gak ada suami, takutnya orang mikir yang enggak-enggak. Nanti Nesa makin cemburu.”


Ken terkekeh, memang disisi lain ucapan Maudy ada benarnya juga, akan tetapi pria itu benar-benar merasa tidak nyaman dan tidak betah dirumah, sebab Nesa yang selalu membesar-besarkan atas masalah dalam rumah tangganya.


“Santai ajah, dia gak tau.”


“Gila ajah lo, kalo dia tau gue bisa di cap pelakor.” Pekik Maudy sambil terduduk di sampin Ken.


“Pelakor? Kita kan gak ada hubungan, kenapa Nesa bilang lo pelakor?” celetuk Ken.


Muady menghela nafasnya dengan kasar, memang seorang pria tidak pernah akan mengerti, mereka selalu saja menyepelekan masalah.


“Gue masih penasaran.”


“Lo sekarang lebih anggun, lembut, dan gue heran siapa cowok yang udah ninggalin lo sama Kenia demi cewe lain.”


Deg…


Pernyataan Ken sukses membuat jantung Maudy tidak karuan, wajahnya memucat. Tentu saja ia takut jika Ken akan terus menyudutkannya dengan pertanyaan-pertanyan yang sulit ia jawab.


“Bahas gue mulu, lo ajah deh. Gue tau lo kesini pasti sengaja, lagi berantem sama Nesa kan.” Celetuk Maudy.


“Kok lo tau?”


“Iya, gue ngerasa Cuma pelarian doing. Mentang-mentang gue gak ada suami, lo manfaatin gue buat jadi temen bergadang lo, setelah Juno di kunciin terus sama Selin.”


Ken tersenyum menyeringhai, memang ucapan Maudy kali ini 99% ada benarnya.


“Gak gitu juga sih.” Ken mendekatkan tubuhnya pada Maudy, ia bahkan menyentuh bahu gadis itu dan mengelusnya.

__ADS_1


“Apaan si Ken geli.” Pekik Maudy.


Pria jangkung itu terus menatap wajah Maudy, sedikit ada kekaguman dalam hatinya saat jarak diantara Ken dan Maudy sangatlah dekat.


“Gue tidur disini boleh?”


“Hah? Tidur? Gila lo, kalo Nesa tau gimana?” pekik Maudy


“Salah dia sendiri.” Celetuk Ken


“Salah dia? Emang dia kenapa?”


Ken menghembuskan nafasnya perlahan, ia melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya perlahan dan sedikit merilexan dirinya. Tentu jika Ken mengatakan segalanya pada Maudy bukan lah pilihan yang benar. Sebab seharusnya Ken membicarakan masalahnya bersama Nesa secara baik-baik, bukan malah mengadu pada wanita lain.


“Entah, gue cape. Boleh kan gue tidur disini?”


“Yaudah deh, tapi untuk kali ini ajah, gak ada lain kali.” Tegas Maudy.


Ken memancarkan senyumnya yang berbinar, ia membuka jas, dan kancing kemejanya satu persatu.


“Pinjem kamar mandi boleh?”


Maudy tidak langsung menjawab, karna kamar Mandy dilantai dasar sedang rusak. Dalam rumah sederhana yang terlihat mewah tersebut memang hanya memiliki beberapa kamar mandi saja.


“Ta-tapi airnya gak keluar, Cuma di kamar mandi atas doang.” Ucap Maudy gugup.


“Yaudah gak masalah. Dimana?”


“Di… dikamar gue.”


Ken memiringkan senyumnya, pantas saja Maudy terlihattidak ingin meminjamkan kamar mandinya pada Ken.


“Gue gak macem-macem, Cuma numpang mandi doang.” Celetuk Ken.


Dengan wajah datar gadis itu mengangguk, dan melangkan menuju kamarnya bersama Ken yang mengekor dibelakangnya.

__ADS_1


Next...


__ADS_2