Bad Brother

Bad Brother
Chapter 44


__ADS_3

Beruntungnya tidak banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Stive, yang tidak lain adalah ayah kandung Selin, bahkan Mariane ibu tiri dari gadis itupun sangat baik, Mariane dan Selin meskipun keduaanya jarang bertemu, tetapi keakrabannya sudah terjalin melalui ponsel, mereka sering bertukar kabar dan pikiran melalui ponsel.


Tentu saja Selin tidak akan menceritakam masalahnya pada Stive, karna jika hal itu ia lakukan, Selin khawatir sang Papa juga akan menyalahkannya.


Gadis itu sangat murung, ia hanya terus mengurung dirinya dirinya di dalam kamar, sesekali air matanya menetes, setiap kali Selin mengingat masalahnya.


"Sel makan yu." Ucap Mama Mariane.


Wanita yang 15 tahun lebih tua dari Selin itu sangat baik pada sang anak tiri, pernikahannya dengan stive baru berjalan beberapa hari, ia membawa 1 orang putri yang kini usianya baru saja menginjak 5 tahun.


"Kak, Selin makan Yu." ucap Stela yang tidak lain adalah anak dari Mariane.


Keduanya menghampiri Selin, sangat terlihat jelas beban di wajah gadis itu, namun setiap Mariane dan sang Papa bertanya, Selin hnaya menjawab tidak ada masalah, dan ia baik-baik saja.


"Sel, cerita dong sama Mama." Ucap Mariane dengan nada suara terendah


Namun gadis itu hanya memiringkan senyumnya dan kembali menatap ke arah luar jendela.


"Sel kali ini kamu harus makan sebelum ke pemakanam." Ucap Stive yang tiba-tiba saja datang


Selin mengerutkan dahinya, menatap wajah sang Papa dengan sedikit keheranan.


"Siapa yang meninggal?." ucap Mariane yang saat itu juga keheran.

__ADS_1


"Aryan, Papa tiri Selin,"


Spontan mata gadis itu membulat sempurna, matanya langsung menggenang seolah tidak percaya mendengar kabar kematian ayah tirinya.


"Enggk Papa pasti bohong, itu gak bener kan pah."


"Sel, Aryan terkena serangan jantung, nyawanya tidak tertolong."


"Enggak itu gak mungkin."


Air mata Selin mulai berjatuhan, ia benar-benar tidak menyangka hal ini bisa begitu cepatnya terjadi pada Aryan, papa tiri yang sangat baik pada Selin, yang sudah Selin anggap sebagai Papa kandungnya sendiri.


Selin beserta Papa dan Mama tirinya menghampiri sebuah Nisan, terlihat seorang pemuda tampan yang sedang menatap Nisan itu sambil berusaha tetap tegar, Aryan meniggal, semenjak ia mengetahui apa yang Juno dan Selin lakukan, kondisinya menjadi sangat buruk, pria itu mengalami serangan jantung secara mendadak, tidak ada Mama Alda di sana, entah kemana perginya wanita paruh baya itu, saat itu Juno terkejut, ketika melihat Selin berdiri dihadapannya memandang Nisan Papanya.


"Selin?"


"Pah, pemakamannya udah selesai, aku mau pulang sekarang." ucap Selin pada sang Papa.


Gadis itu terlihat sedang mengabaikan Juno di hadapannya, setelah beberapa waktu tidak bertemu, Juno sama sekali tidak mencoba mencari Selin, ia hanya beberapa kali mengirim pesan, yang isinya hanyalah ungkapan-ungkapan maaf yang tidak berguna menurut Selin.


"Sel tunggu Aku, Sel."


Juno mencoba mengikuti langkah sang adik, ia terlihat memaksa Selin dan bahkan menarik tangannya.

__ADS_1


"Lepasin aku."


Selin menepis tangan Juno, seolah sudah sangat merasa jiji jika pria itu menyentuhnya, gadis itu memasuki mobil sang Papa, ia terus saja mengabaikan Juno yang saat itu terlihat sedang mengejarnya.


"Sel tunggu Sel, dengerin penjelasan aku dulu Sel." Tegas Juno dengan raut wajah memelas.


Namun Selin tidak menanggapinya, ia malah mengalihkan wajahnya seolah tidak ingin menatap wajah sang kakak.


"Ayo pah jalan." Tegas Selin pada Stive.


Mobil itu pun melaju meskipun saat itu Juno terus mengetuk pintunya, pemuda itu masih berusaha agar Selin mau mendengarkannya.


Mariane sang mama tiri dari Selin merasa ada kejanggalan pada putrinya tersebut, terlihat jelas sedari tadi ia memperhatikan Selin terus menerus, dan Stive pun juga merasakan hal serupa.


"Dia siapa Sel?"


"Anak papa Aryan " Tegas Selin senada dingin.


"Kamu ada masalah apa sebenernya Sel? Mama kamu kok gak ada di sana?" timpal Mariane


Mata gadis itu mulai menggenang, setiap kali mengingat kebaikan Papa tirinya yang sekarang sudah tiada, rasa penyesalan itu semakin kuat, terlebih Juno sendiri sudah mencampakannya.


"Gak ada kok mah."

__ADS_1


Selin memancarkan senyum palsunya, padahal dalam batinnya ia sangat ingin menjerit, ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karna kebodohannya menyebabkan Papa Aryan meninggal.


NEXT GUYS LIKE KOMEN DANBANTU VOTE😍😍


__ADS_2