
"Terus kamu maunya kemana Sel? udah 2 jam kita muterin kota."
Juno kembali menekuk wajahnya, bagaimana tidak entah apa yang diinginkan Mama Alda ketika kehamilannya mengandung Selin, gadis itu benar-benar sangat bertingkah kekanak-kanakan, plin plan bahkan selalu menguji kesabaran Juno sang kakak.
"Yakan udah aku bilang, aku gak mau pulang kerumah terserah kamu mau bawa aku kemana." tegas gadis itu sambil memainkan ponselnya.
Juno menghirup udara begitu panjang guna menenangkan dirinya, menjalin hubungan bersama Selin memanglah tidak mudah itu sebabnya Juno berpikir sedikit lebih tenang, mengingat apa yang sudah pernah ia lakukan bersama gadis itu, tidak mungkin jika dirinya harus meninggikan ego karnah hal-hal kecil seperti ini.
Saat itu Selin terlihat tidak perduli ketika Juno kembali mengemudikan mobilnya yang sudah lama terhenti, ia tetap mengurus cacing-cacing dalam ponselnya dengan amat serius.
Tidak ada candaan dan obrolan kecil dari mulut keduanya hingga mobil itu terhenti di sebuah rumah besar, dan Selin pun tidak mengetahui kemana Juno telah membawanya.
"Kenapa kesini kak?"
"Lah kan tadi kamu bilang gak mau pulang."
Gadis itu menyeringhai, ia melebarkan senyumnya pada sang kakak dengan sangat menggemaskan, keduanya pun turun dari mobil tersebut, Selin yang tidak tahu dirinya di bawa kemana hanya mengikuti langkah pemuda itu dengan santai masuk kedalam rumah besar tersebut.
"Ini rumah siapa kak?"
"Rumah Papa sebelum ketemu sama Mama."
Selin masuk kedalam rumah tersebut mengikuti langkah Juno, disana terdapat wanita paruh baya yang sedang membersihkan lemari besar di ruangan tersebut.
"Kamu belum pernah kesini?"
__ADS_1
"Papa pernah ngajak aku sih, cuma aku nolak."
Juno menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa, sesekali matanya mengerjap dengan wajah yang mendongak, sedangkan Selin masih memanjakan matanya mengabsen setiap sudut ruangan tersebut dengan teliti.
Wanita paruh baya yang tidak lain adalah pelayan di rumah tersebut menghampiri Juno dan juga Selin untuk menyapa dan menanyakan apa yang mereka butuhkan.
"Sore A Juno."
Bi Marni adalah pembantu yang sudah mengabdi selama 10 tahun pada keluarga Papa Aryan, ia menanggil Nama Juno dengan sebutan Aa karna wanita tersebut adalah ART asal bandung.
Setelah ibu kandung Juno meninggal, pemuda itu banyak menghabiskan waktu kecilnya bersama Bi Marni, hingga ia mengharuskan untuk tinggal di luar negri bersama keluarga sang Mama untuk memenuhi Studynya.
"Neng Selin ya?" Wanita itu menyapa Selin guna menjalin keakraban, tentu saja ia tahu siapa Selin, karna setiap Mama Alda dan Papa Aryan datang keduanya selalu menceritakan tingkah Selin dan memaparkan diri gadis itu pada Bi Marni.
"Kok Bibi tau bi?" ucap Juno
"Buatin minum buat Selin ya Bi." seru Juno yang saat itu masih menetralkan rasa lelahnya.
Bi Marni pun berlalu, Selin masih saja terdiam menatap sang kaka yang sangat terlihat kelelahan, gadis itu memiringkan senyumnya dengan bangga, karna terlihat jelas perasaan tulus Juno padanya, dari mulai pria itu selalu mengalah dan menuruti semua keinginannya.
Juno yang saat itu menyadari hal tersebut langsung mendekatkan dirinya pada Selin, karna sejujurnya Juno memang tidak bisa menganggurkan gadisnya.
"Aku ganteng ya?" Juno melebarkan senyumnya sambil mendekati sang adik.
"Idih."
__ADS_1
"Terus kenapa kamu liatin aku terus?"
"Aku kangen sama kamu." Selin melingkarkan tangannya di atas bahu Juno, ia terus memandang mata indah pemuda itu dengan penuh kekaguman.
"Malam ini kita gak usah pulang ya Sel, kita di sini ajah."
Tidak ada penolakan yang kekuar dari mulut gadis itu, Selin langsung mengiyakan ucapan sang kaka dengan menganggukan kepalanya, senyum yang berbinar itu terus terpancar, menandakan kebahagian yang Selin dan Juno rasakan sekarang.
Juno merengkuh bibir sang adik dengan lembut, Astaga, Selin dan Juni selalu mengakhiri percakapannya dengan hal tersebut, bahkan mereka sampai tidak bisa membedakan antara cinta dan nafsunya, keduanya saling ******* dan menggigit, hingga hawa panas yang sering kali terjadi pada saat melakukan hal tersebut pun datang.
Selin dan Juno larut dalam gairah, keduanya tidak sadar dari sudut lain sudah ada Bi Marni yang menyaksikan hal itu dengan sangat terkejut, matanya membulat, terlihat jelas Juno dan Selin sedang berciuman dengan panasnya, hal ini tidak biasa jika seorang kakak dan adiknya harus berciuman dengan begitu bergairah, ketika Bi Marni menyaksikan Juno sedang menenggelakam wajahnya di dua gundukan sintal milik sang adik, ia bahkan menggigit dan menjulurkan lidahnya di bagian tersebut, lengungan yang khas dari mukut selin pun terdengar jelas di daun telinga Bi Marni.
Bagaimana tidak, Selin dan Juno adalah sepasang kakak beradik, meskipun tidak ada ikatan darah, di otaknya terlintas beberapa pertayaan. kenapa mereka melakukan hal tersebut? apa kedua orang tua mereka sudah mengetahui hal ini?, Bi Marni sampai menutar kembali langkahnya karna tidak berani mengganggu apa yang sedang di lakukan oleh tuan mudanya tersebut.
Hingga terdengar suara jatuhan barang dari dapur, sontak hal itu langsung membuat Juno dan Selin menghentikan aksinya. Juno menggeser tubuhnya untuk sedikit menjauh dari sang adik, sedangkan Selin langsung kembali merapikan gaun mini dressnya yang sudah melorot, meperlihatkan dua asetnya secara gamblang.
"Aku mau pipis kak."
Juno terkekeh dalam otaknya, pasti Selin sudah sangat terang*sang dan Juno malah menghentikannya.
"Gak tahan ya Sel?" Pemuda itu menyeringhai menatap sang adik.
"Ih apaan si, beneran aku udah kebelet dari tadi." Tegas selin mengerucutkan bibirnya.
Keduanya pun beranjak ke lantai atas menuju kamar Juno.
__ADS_1
NEXT GUYS LIKE KOMEN DAN VOTEEE😭 NGAMBEK NIH AKU NIH😭