
Perlahan Nesa membuka pintu utamanya, saat daun telingannya mendengar suara ketukan pintu.
"Maudy?" Mata Nesa membulat sempurna saat mendapati gadis yang selalu ia takuti akan mengancam rumah tangganya.
"Ca... cari siapa?" tanya Nesa terbata.
Maudy tersenyum tipis, entah apa yang ada ditangannya, gadis itu membawa selmbaran kertas dan menjawab. "Cari lo,"
Nesa menelan salivanya, ia terus menatap intens mata gadis itu.
"Kasih surat cerai ini sama, Ken." titah Maudy yang berhasil membuat Nesa terkejut.
"Ce... Cerai? maksud lo..."
Maudy meraih bahu Nesa dan mengelusnya perlahan, "Sebelumnya gue minta maaf karna gue terpaksa setuju saat Ken maksa gue. tapi asal lo tau, gua lakuin itu karna ini semua demi Kenia. gue udah ngurus identitas jelas Kenia, sekarang dia udah bisa sekolah seperti anak lainnya."
Nesa masih saja mematung, seluruh tubuhnya melemah saat mendengar pernyataan Maudy jika Ken sang suami telah memaksanya.
__ADS_1
"Gue bener-bener minta maaf," Maudy meraih tangan Nesa dan memberikan selembaran kertas tersebut. "Ken harus cepet tanda tangan surat ini, lo tenang ajah. Kenia tetep anak Ken, sesekali Ken sama lo boleh nemuin dia kok, gue gak bakal larang kalian." ucap Maudy kemudian berlalu begitu saja.
Hanya itu yang dapat Maudy lakukan, meskipun dirinya telah memiliki perasaan terhadap Ken. ia cukup tahu diri karna dirinya hanyalah orang ketiga, Kenia mendapatkan identitas yang jelas itu semua sudah lebih dari cukup baginya.
Gadis itu menghembuskan nafas panjang, kemudian berkata, "Mudah-mudahan ini pilihan yang terbaik." gumamnya.
Sementara itu Nesa tidak bisa menahan air matanya, betapa kecewanya ia terhadap Ken karna telah memaksa Maudy untuk menikah dengannya. istri manapun tidak akan bisa menerima hal tersebut, hal yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi.
"Nes... siapa yang dateng? kenapa kamu nangis?" tanya Ken menuruni tangga menghampirinya.
"Ahhhhh..." Nesa melempar pas bunga kearah Ken dna hampir mengenai kepalanya ia menjerit histeris.
"Pembohong! kamu baj*ingan Ken, kamu bohongin aku!" pekik Nesa lirih.
"Apa maksud kamu, Nes?"
Nesa melayangkan sebuah kertas kearah Ken, ia benar-benar sudah tidak bisa mengontol dirinya yang begitu tersakiti.
__ADS_1
"Ini..." Ken terlihat terkejut dan kikuk, ia tidak bisa berkata apapun saat membaca lembaran surat perceraian tersebut.
"Aku... aku minta maaf." ucap Ken ringan.
"Maaf? hanya maaf? apa maaf kamu cukup buat sembuhin sakit hati aku?" Tubuh Nesa melemah, ia benar-benar tidak berdaya, "Kamu jahat, Ken. kamu baji*ngan!"
***
"Lo yakin sama keputusan lo?" tanya Selin.
"Tentu! yang penting Kenia punya ayah yang jelas." sahut Maudy santai kemudian menyeruput secangkir kopi yang Selin buatkan.
"Lo gak punya perasaan sama, Ken?"
Maudy menghela nafasnya, tentu saja gadis itu akan mengatakan segalanya pada Selin. "Ada sih, ya tapi mau gimana lagi? gue cuma orang ketiga! terlalu banyak berharap malah nyakitin diri gue sendiri." celetuk Maudy.
Selin cukup salut akan keputusan temannya tersebut, ia mengelus bahu Maudy dan kemudian memberinya pujian. "Lo hebat! gue yakin lo pasti bakalan dapetin yang terbaik, yang sayang sama Kenia. meskipun itu bukan, Ken."
__ADS_1
Maudy menangguk, senyum iklasnya terpancar. sepertinya ia sudah merelakan segalanya meskipun hal tersebut tidaklah mudah.
LIKE KOMEN DAN VOTENYA YANG BANYAKK...