
selesai membuat roti, sri pergi mandi lagi karena akan bersiap - siap ketemu sama om - om nya itu. dia deg deg kan takut dia akan di halangi oleh om - om nya itu.
merasa cukup mandi nya, dia memilih baju yang akan dia pakai hari ini. ada rasa takut dalam dirinya ketika akan mengakhiri hubungan nya dengan om om itu. nama om om itu adalah fer
kira - kira seperti ini lah penampilan sri saat akan ketemu feri. dia tidak ketemuan di tempat biasanya mengingat dia akan berhenti dari pekerjaan itu. maka sebelum waktunya dia mengirim pesan pada feri agar menjemput nya di depan jalan dekat rumah sri.
feri pun tersenyum mengetahui siapa yang mengirim pesan itu, sambil tersenyum membaca pesan dari sri dia bergegas bersiap - siap untuk menemui pujaan hatinya. senyum nya tak pernah pudar dari bibir nya ada rasa bahagia karena baru kali ini sri yang terlebih dahulu menghubungi dirinya, biasa nya feri dahulu yang kirim pesan jika akan ketemu.
itulah penampilan feri ketika akan bertemu dengan sri. setelah menempuh jalanan yang cukup jauh dan tidak dekat juga, feri sudah sampai pada lokasi yang di kirim sri. karena belum melihat sri feri pun mengirim pesan pada sri, sambil nunggu sri feri mengamati jalanan ini agar bila dia berada dekat jalan ini dia bisa mampir ke rumah sri terlebih dahulu. feri sungguh mencintai sri dan berharap cinta nya tak bertepuk sebelah tangan lagi mengingat usia nya sudah cukup umur untuk menikah. saat membayangkan cinta nya di terima sri terdengar suara ketukan di kaca mobil nya, segera dia membuka pintu mobil itu dan membiarkan sri masuk setelah masuk feri mengajak cipika-cipiki pada sri dan sri pun sudah biasa.
" sudah lama belum nunggu nya.? " tanya sri tak enak
" belum, baru 5 menitan lah. kamu cantik juga malam ini.? " goda feri
" biasa saja, mas udah makan belum.? " sri sudah biasa memanggil feri dengan sebutan mas. mengingat ini sudah jam 7 malam biasa nya feri suka telat makan mengingat pekerjaan nya yang lumayan menyita waktu
" belum nih, kamu bawa apa.? " tanya feri
" oh ini mas, tadi iseng iseng aku buat roti. sengaja aku sisakan buat kamu mas. aku tau mas pasti belum makan kan.?" yang belum bisa jujur
" tau aja kalau aku belum makan. tapi kata kamu kita mau ke cafe . nanti aku ke buru kenyang lagi, liat perut aku semenjak aku kenal sama kamu perut aku tidak sixpack lagi. " ucap feri jujur
__ADS_1
" ya nggak apa - apa mas. berarti aku sukses buat kamu ingat makan. iya kan.? " tanya sri
" iya juga ya, ya udah kamu suapi aku sambil aku nyetir ya. ! " pinta feri
" iya mas. "
mereka pun pergi ke cafe di mana yang ada room privasi nya. mengingat feri ingin ngomong serius dengan sri dan sri pun yang akan bicara tentang hubungan nya dengan feri akan selesai.
sesampainya di cafe, feri dan sri berjalan menuju ke ruangan mereka. setelah sampai mereka memesan makanan yang ringan dan minuman saja. karena perut feri yang sudah kenyang, feri yang duduk di samping sri sambil memeluk pinggang sri dan sri pun sudah biasa seperti itu jadi dia tidak begitu risih. bahkan mereka hampir melakukan seperti suami istri tapi mengingat janji feri sama sri. jika ingin dekat dengan nya jangan sampai lupa batasan cukup yang normal normal saja.
" kamu cantik malam ini " bisik feri
" makasih, mas juga tampan " jujur sri yang melihat feri berpakaian simpel itu
" jangan kumat GR nya mas, ingat umur ya. " mengingatkan feri
" aku belum tua ya, aku juga masih singel ya. " tak mau kalah
" suruh siapa kamu masih sendiri. "
" kan calon nya kamu, gimana mau punya calon kalau calon nya ajak suka nolak aku kalau aku ajak serius. " sindir feri
sebelum membalas ucapan feri, pelayan pun datang dan menyuguhkan pesanan nya di atas meja. setelah pelayan pergi sri mulai bicara serius sama feri dengan hati - hati. " mas boleh nggak aku ngomong serius sama kamu.? " tanya sri agak takut juga
" mau ngomong apa.? kaya nya serius amat. " ucap feri
__ADS_1
" sebenernya aku mau berhenti dari tempat itu. aku mau jualan roti dan jadi buruh pabrik aja. " pinta sri
" bagus dong, aku juga nggak suka kamu ada di sana. aku akan dukung kamu apa pun keputusan kamu. pasti itu yang terbaik buat kamu juga. " setuju feri bila dia keluar dari kerjaan itu,
" selain itu juga, mmmm aku mau kita akhiri juga hubungan ini sama mas.? " pinta sri
" kenapa.? " kaget feri tak terima belum mengatakan kalau dirinya akan melamar sri dan menunggu dia siap kalau mau menikah dengan nya. belum bicara sudah di tolak duluan.
" lebih baik mas cari saja wanita yang pantas dan lebih baik dari aku. aku merasa banyak kekurangan nya dari pada aku. " ucap sri sambil menunduk
feri mengusap wajahnya kasar dan bernafas terlebih dahulu. sungguh jawaban yang tak diharapkan oleh feri sambil bicara feri mengeluarkan cincin dari saku nya.
" aku sudah menyiapkan ini dari siang, dan akan mengatakan nya malam ini. tapi ternyata harapan ku pupus sebelum aku melamar kamu, apa kurangnya aku sama kamu. ? " merasa sesak di dada nya
" mas gak kurang apa pun, tapi aku yang banyak kekurangan nya mas. " ucap sri yang menyesal telah melukai feri tapi cinta tak harus memiliki
" mas selain tanggung jawab sama kamu, mas juga sudah terlanjut sayang dan mencintai kamu. mas mohon terima mas. " mohon feri sambil menggenggam tangan sri berharap ada harapan
" mas nggak usah tanggung jawab, karena kita belum melakukan nya mas. walau ada sedikit yang mas sudah lakukan sama sri, tapi sri nggak bisa balas cinta mas apalagi menerima lamaran mas. mas terlalu baik dan sempurna di mata sri. " lirih sri
" mas akan tunggu kamu sampai kamu mau nerima mas dan mas akan berjuang untuk mu. " sambil mengecup pucuk kepala sri " sekarang kamu boleh pergi dan tinggalin mas sendiri." pinta feri sambil memalingkan wajah nya ke arah lain tak kuasa menahan tangis nya.
sebelum pergi sri memeluk feri dari samping. ada rasa tak percaya hubungan nya akan sedalam ini dengan mas feri. ada rasa sesak juga di hati nya ketika melihat sikapnya seperti itu, tak lupa dia mencium pipi feri lalu beranjak pergi dari dalam cafe itu meninggalkan feri sendiri. kini hubungan nya sudah selesai, dia terus berlari ke luar tak di sangka air matanya mengalir deras di pipinya. aneh menurutnya, ini yang dia mau tapi kenapa ada sedikit tak rela dalam dirinya meninggalkan mas feri.
__ADS_1