
Dalam kamar suasana hening seketika, tak lama renita buka suara juga melihat lukis masih memakai seragam sekolahnya.
" kamu baru pulang sekolah.? " tanya renita tapi di balas anggukan saja
" kenapa nggak ganti baju dulu.? " tanya renita lagi, tapi di balas dengan gelengan saja.
" ada apa.? kenapa diam saja, ada masalah di sekolah. " menegakkan duduk nya sambil memegang kedua pipinya
lukis hanya menunduk antara ragu malu emosi dan cemburu. setelah menarik nafas dalam - dalam lukis bertanya bukan menjawab.
" apa kamu marah.? " ucap lirih lukis tak mampu melihat
" marah pun percuma, karena itu sudah lewat juga. bahkan tak bisa di putar ulang. apa aku terlihat egois.? " tanya renita
" maaf. " hanya itu yang lukis ucapkan sekarang
" udah nggak usah di bahas lagi, tak perlu minta maaf juga. kadang dalam hubungan pasti ada titik jenuhnya juga, apa kamu juga mulai jenuh sama hubungan kita.? " tanya renita sambil memalingkan wajah nya tak mampu melihat lukis yang juga menatapnya. ada rasa kecewa dalam dirinya. apa wanita salah jika harus egois pikir nya.
" aku nggak bermaksud apa - apa sama dia. dia hanya bilang bahwa cobaannya berat. dan lagi ada masalah sama seseorang, entah kenapa tiba - tiba dia menyender di pundak aku dan aku -" terpotong oleh renita
" reflek memeluk sri karena kasian atau karena udah ada rasa sama dia.? jika memang di hati kamu ada sedikit nama dia maka kamu boleh ninggalin aku, dari pada kita harus saling menyakiti dan di sakiti. lebih baik jujur sama perasaan kamu saja. " sambil mengelus dada lukis
tak lama ada ketukan pintu, dan di liat ada ibu renita. " ada apa bu.? " tanya renita
__ADS_1
" itu, ada dokter yang di klinik ke sini.? " jawab ibu renita
" ngapain bu, dia ke sini.? bukan nya aku udah di bolehin pulang. dan tidak ada masalah serius.? " tanya renita ke heranan
" nggak tau ibu juga bingung, ngomong nya mau periksa kamu. " jawab ibu renita jujur
" ya udah bu suruh masuk aja. " pasrah dan tak lama dokter itu datang menghampiri renita dan lukis
" selamat sore. " ucap dokter itu dan menyerahkan bunga
" selamat sore juga dok, terima kasih bunga nya cantik dok. " senyum renita sambil menerima bunga itu. lukis yang melihat itu marah.
" ngapain dokter ke sini, bukan nya renita baik - baik saja ya.? " tanya lukis kesel
" iya, karena tadi saat pulang dari klinik saya langsung tidur, ini juga baru bangun dan mau minum obat. " ucap renita
" kalau gitu biar saya suapi saja makan nya. " hendak mengambil makanan nya tapi ke buru di cegah lukis
" nggak usah repot - repot saya yang akan menyuapi renita, sebaiknya anda pulang saja kasian pasien anda sedang mengantri yang tak tau dokter nya pergi ke mana " sindir lukis
" kalau gitu, saya minta maaf renita bener kata pemuda ini, saya masih ada pasien. lain kali saya ke sini lagi. " ucap dokter
" nggak perlu dia butuh istirahat. " usir lukis
__ADS_1
" kalau gitu permisi" pamit dokter itu
" makasih dokter atas kunjungan anda ke sini, bahkan mampir ke gubuk saya. makasih juga bunga nya dokter. " ucap renita yang merasa tak enak karena sikap lukis
"sama - sama. " jawab dokter itu
sial. batin lukis
" kenapa kamu terima bunga nya.? " tanya lukis kesel
" bagus bunga nya dan cantik. " ucap renita tak melirik lukis karena dia terpesona sama bunganya sebab renita sangat suka bunga
" aku bisa beliin kamu bunga yang lebih cantik mewah dan Mempesona. " tak terima
" kenapa kamu marah,? saat kamu pelukan sama sri aku nggak marah karena aku tau di hatimu sudah mulai goyah terhadap ku. kamu marah ketika aku di deketin cowok. tapi kamu nya sendiri kaya gitu. aneh. " jawab renita kesel
" jadi kamu balas dendam.? " tersulut emosi
" tanya kan saja sama hati kamu. lebih baik kita jaga jarak dalu. kamu boleh deketin sri agar bisa memastikan perasaan kamu terhadap ku. " usul renota
" Tapi ren-" belum selesai sudah dipotong oleh kata - kata renita
" boleh kamu pergi.! " usir renita
__ADS_1
segera berbaring di ranjang nya kembali dan memiringkan badannya sambil membelakangi lukis. lukis hanya pasrah saja atas sikap renita. karena semua ini ulah nya juga.