
#29
Mentari kini telah nampak di ufuk menyinari bumi yang tadinya disinari cahaya rembulan dan kawan kawannya (Bintang maksudnya). Syahwa terbangun dari tidurnya sesuai dengan alarm yang telah ia setel dijam tertentu.
Pagi ini dia bersiap melakukan rutinitas biasa, Jogging. Memakai celana training dengan dipadukan baju olahraga senada tak lupa ia memakai eraphone dan mengikat rambut panjangnya, cantik memang.
"Paginya cerah yah". Ucap seseorang menyapa syahwa yang tengah beristirahat sambil menikmati sejuknya alam ketika dipagi hari
"Eh senior?". Sahut syahwa terkejut
"Panggil saja kak Rainan syahwa". Tegurnya sambil tersenyum manis
"Eh iya sen eh kak Rainan". Ucapnya dengan gugup
Pria itupun menanggapinya dengan mengangguk. Lalu menatap mata syahwa dengan dalam. Sebenarnya..
"Ada apa? Kenapa melihatku begitu". Tukas syahwa menyadarkan pria itu yang sedang melamunkan sesuatu
Sesuatu yang pelik, tapi ia tak bisa memendamnya lama lama.
"Boleh aku bicara sebentar?". Tanya Rainan
"Bicara saja, disini juga gak ada siapa siapa". Tutur syahwa
Benar. Memang disana tidak ada siapa siapa bahkan terbilangnya hanya mereka berdua. Saat syahwa keluar dari asramanya rainan berniat untuk mengikutinya hingga sampai ditempat ini. Tempat dimana syahwa mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.
"Aku_"
"Rai! Ya ampun, gue cariin dari tadi nyatanya lo nyasar kesini". Celoteh Azmin dengan kesal sementara rainan juga kesal, karena menganggap bahwasanya azmin mengganggu waktunya.
Terlihat dari tatapan pria itu tak suka, bukan tak suka tapi tatapan kesal dan menatap nyalang kearah azmin membuat azmin bingung. Pria itu menatap rainan tak lupa ia langsung menyadari ada seorang gadis yang terhalang oleh badan besar rainan.
Tak terlalu jelas tapi bisa dipastikan, gadis itu mungkin saja melakukan sesuatu pada Rainan sahabatnya atau mereka membicarakan perihal yang penting.
"Kayaknya gue datang diwaktu yang tidak tepat". Ucapnya sambil menyengir tak jelas
"Nah lo taukan?". Papar pria itu dengan kesal
"Iya, tapi gue datang bawa berita penting juga, lo dipanggil sama Jenderal marzuki". Ucapnya dengan nada serius
Rainan pun memgangguk dan segera pergi tak lupa azmin menyusul tanpa menghiraukan gadis yang sedari tadi diam saja dan menatap kesal kepada mereka berdua.
"Tertunda". Tukasnya
* * *
__ADS_1
Saat ini semua murid mengkaji materi seperti biasanya. Semua fokus tak terkecuali syahwa. Dipimpin oleh Athar dan Farhad sesuai jadwal yang ditentukan oleh mereka. Dikelas lain pun diisi oleh Rainan dan Azmin serta beberapa lainnya.
"Baik, cukup materi hari ini sampai jumpa disore nanti". Ucap Athar dengan ketus disambut senyuman ramah oleh Farhad sesaat sebelum mereka beranjak dari kelas materi.
"Wa, kantin yukk!". Ajak Venny
~Sejak kapan nih wanita menjadi orang yang ramah. Batin syahwa heran
Tak menanggapi ucapan gadis dihadapannya, tetapi memilih pergi sendiri dan mengisyaratkan kepada gadis itu untuk tidak mengikutinya
Syahwa memutuskan untuk kembali ke asramanya. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi sebelumnya
"Kak Rey?". Gumamnya pelan melihat Reyhan yang sepertinya sedang galau
Sesuatu disana berdetak sangat cepat saat melihat paras tampan itu
~Apa apaan ini. Batinnya,
Syahwa menyadari rasa itu, tapi ia tepis jauh jauh. Baginya bukan saatnya ia memikirkan hal itu ada hal penting yang ia prioritaskan. Tapi melihat pria itu sepertinya tidak baik baik saja membuat hatinya ikut teriris
~Argh, Sejak kapan.
Iapun mencoba mengabaikan pria tampan itu tetapi hatinya mengatakan untuk menyapa pria itu. Lama ia gamang ditempatnya berdiri, gadis itupun mengikuti kata hatinya menyapa pria yang sedang termenung.
"Kak Rey!".
"Kak Rey!".
Sebab pria yang tadi ia panggil tak menyahut, barulah saat ia berteriak agak keras pria itu tersadar dari lamunannya menatap wajah cantik syahwa yang khawatir.
"Ada apa?". Tanya Reyhan
"Kak Rey yang kenapa? Daritadi melamun aku lihat". Ucapnya dengan khawatir membuat Reyhan tersentak mendengarnya tak lama ia pun tersenyum
"Udah datang daritadi?". Tanya Reyhan sengaja tidak menjawab pertanyaan syahwa
"Kak Rey aku nanya minta jawaban bukan nanya balik". Ucap syahwa dengan kesal
Pria itupun terkekeh pelan
"Kamu aneh tau!". Tukas pria itu menatapnya lembut
"Hah? Aneh Gimana?"
"Ya aneh, kemarin kemarin jutek banget sama aku, tapi sekarang beda banget. Apa ada yang salah atau aku yang terlalu berlebihan menanggapi sikapmu padaku untuk yang pertama kalinya tatapanmu_"
__ADS_1
"Ah itu, aku cuma_"
"Kau tidak menyukaiku yah". Ucap pria itu dengan lirih
~Aku menyukaimu kak, tapi...
Gadis itu menunduk
"Maaf kak, bukan saatnya aku mengenal itu semua. Ada hal yang penting dari itu yang tidak bisa kujelaskan kepadamu". Ucap gadis itu
"Aku mengerti, tidak apa apa aku lega yang penting kau sudah tau isi hatiku". Ucap pria itu.
"Aku_"
"Sudah tidak perlu merasa bersalah, kamu tidak salah, hatiku dan hatimu juga tidak salah. Aku hanya tunggu beberapa waktu agar pulih kembali dan melup_"
"Jangan katakan apapun, aku tidak ingin mendengarnya. Please, setelah itu tunggulah beberapa tahun saja".
~Entahlah, aku merasa egois. Hatiku tidak rela bila ia memutuskan untuk menutup hati, sungguh sakit rasanya.
Usai berucap seperti itu, Syahwa dengan mata mengembun segera berlari meninggalkan Reyhan yang melongo menatapnya
~Apa dia juga menyukaiku?. Tanya Reyhan dalam hatinya kemudian mengulum senyum manis
* * *
Malam pun tiba sosok mentari kini tergantikan dengan rembulan yang bersinar terang. Sesosok gadis tengah berdiri dibalkon kamarnya.
"Huuft, bisa bisanya aku bertingkah seperti itu. Haaa aku malu bener. Kuharap besok tidak bertemu dengannya". Gumam gadis itu sambil menutupi kedua wajahnya yang memerah
Iapun memutuskan untuk tidur tapi sebelumnya ia ingin membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah itu, ia berdiri dihadapan cermin menatap wajahnya, Tak lama wajahnya memanas kembali mengingat kejadian sore hari itu bersama Reyhan.
"Huaaa, akuu bener bener gila.. Wajahku wajahku". Celotehnya sambil memegang wajahnya yang kini semakin merah bak Kepiting rebus, Pffft haha
* * *
Praaaaaannnnkkk
"Syahwa Khairunnisa Wijaya djiningrat, tunggu saat itu aku benar benar membuatmu hancur lebur". Ucap sosok misterius yang emosi saat sesuatu ditangannya, tidak rela ia bila syahwa hidup dengan tenang
"Aku tidak akan membiarkan tawa menyebalkanmu itu menggema lagi, akan kubuat kau menangis perlahan, kini menderita ditanganku barulah saat itu kau akan merasakan bagaimana sakitnya seperti yang kurasakan sekarang". Cetusnya
"Tertawalah sepuasmu, tapi ketika saat itu tiba kau tidak akan bisa tertawa lagi, yang ada hanya air mata penderitaan". Selorohnya sambil menatap foto syahwa yang digenggamnya dengan perasaan marah yang membuncah
Bagaimana dia tidak marah? Ada satu hal lagi yang kini semakin membuatnya marah. Kemarin secarik kertas istimewa, kalau sekarang sesuatu yang istimewa itu diberikan lagi padanya. Emangnya dia siapa? tentu musuh yang akan membuat cerita ini sad Ending :)
__ADS_1
* * *
Bersambung..