
#32
"Aaaaaaaaakkkkkkhhhhh". Pekik Rai saat sesuatu mengejutkannya
"Ada apa?". Tanya syahwa terkejut
"Ada tangan dipundakku".Tukasnya tak berani menoleh hanya menatap syahwa yang menatapnya juga, dirinya gemetar bukan main
Syahwa pun menghampiri pria yang sedang ketakutan itu, dia mencari sesuatu yang dikatakan pria itu. Hanya sebuah...
"Buahahahaha". Tawa gadis itu langsung memecah memenuhi ruangan, dirinya tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, sedangkan pria yang ditertawai tersenyum kecut menatap benda yang dipegang oleh syahwa
"Hanya ranting kak Rai".Ucap syahwa masih ada sisa sisa tawa disana sambil menunjukkan ranting yang dipegangnya
Pria itu sadar tak sadar menghela nafas lega. Tak lama ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara syahwa pun sudah menguasai diri.
"Kak Rai maafkan aku, aku kelepasan". Tukas syahwa bersalah
"Ahh tidak papa aku yang terlalu berlebihan". Balas Rainan
"Tapi aku_"
"No problem itu refleks gak sengaja kan, lagian ngapain harus marah, Apa ada yang membuatku marah? Gak ada kan sudahlah santai saja". Tukasnya lagi
Karena syahwa tidak ingin berbicara lebih lama lagi, maka iapun memilih diam saja dan meneruskan perjalanan yang sempat tertunda.
Syahwa meneliti setiap ruangan, dia menyadari kalau rumah hantu ini seperti labirin, menjebak dan perlu di waspadai. Iapun berhati hati berjalan sambil memegang denah yang sempat ia ambil ditempat kasir saat ia dan rainan membeli tiket.
Denah yang ia ambil berupa sebuah alat canggih yang dirancang khusus, seperti kompas tapi kompas itu hanya menunjukkan sebuah arah mata angin. Beda dengan alat canggih itu ia dibuat khusus untuk mengetahui dimana letak keberadaan seseorang. Seperti peta namun bukan peta.
Syahwa juga menyadari dimarkas sebesar ini ada bangunan tua seperti ini, Ia seperti pernah melihatnya. Saat Gheanly dan dua sahabat itu menyeretnya ke toilet kumuh ia sempat melirik kebangunan itu.
Bangunan itu memang sengaja tidak diwarnai dengan cat karena setiap festival tahun akan selalu ada namanya rumah hantu, bangunan ini digunakan untuk festival.
__ADS_1
Ya, setiap tahun akan diadakan festival menghibur para junior, senior bahkan para petinggi dan orang orang luar markas.
Terkesan angker padahal nyatanya tidak, terawat ia. Tapi, sedikit menentang jiwa yang ingin masuk menjelajahinya. Sama seperti syahwa, Awalnya ia tidak ingin tapi saat meneliti bangunan tua itu jiwa ingin taunya pun bangkit, seleranya benar benar mengerikan.
Saat ini syahwa dibuat benar benar dibuat pusing, dia tidak tau harus melewati pintu yang mana, pasalnya ada tiga perempatan disana yang satu kekiri yang satu kekanan dan yang satunya lurus. Denah yang dimilikinya menunjukkan bahwa dirinya dan rainan berada dijalan yang lumayan sulit.
Mau kekiri, takut keliru. Kekanan juga takut tersesat dan lurus siapa tau jalan buntu atau sama sekali menjadi lorong tak berujung. Memutuskan berpencar bukan hal yang bagus juga karena pria yang dibelakangnya penakut, jadi ia harus bagaimana?.
~Ya Allah tolong aku...aku harus bagaimana?. Batinnya berteriak histeris tak lama ia menyadari sesuatu...
Kemana rainan? pria itu tadi bersamanya. Namun sekarang dia sendiri tidak ada siapa siapa selain dirinya dan alat canggih yang ia pakai dipergelangan tangan juga cincin yang selalu setia melekat dijari manisnya. Ia pun semakin bingung
"KAK RAINAN!". Teriaknya dengan keras, tidak ada yang menyahut
Syahwa mencoba mencari disekitarnya tapi tidak ada, kosong. Iapun frustasi
Apakah Rai saat ini kembali? Meninggalkan dirinya sendiri dalam keadaan bingung?. Ah itu tidak mungkin ia tau pria itu sangat penakut tidak mungkin mencetuskan ide untuk kembali apalagi ia tidak meminta izin dulu kepada syahwa dan membuatnya khawatir.
"KAK RAINAN". Teriaknya, lagi? Masih tidak ada yang meyahut. Karena merasa tidak membuahkan hasil maka ia pun berinisiatif untuk mencari pria itu berbekal dengan cincin saktinya juga denah yang menyelimuti lengannya dengan erat.
Ia pun berbalik arah menelusuri satu persatu lorong yang bercabang cabang itu. Memastikan tidak terlewat pintu satupun. Lama ia mencari tapi hasilnya tetaplah nihil.
"Aku terlalu bodoh, saking asiknya lupa dengan dirinya. Bahkan aku tidak menyadari kepergiannnya. Apakah ia diculik? mana mungkin. Ish, dasar ceroboh". Gerutunya kesal masih berjalan sesuai petunjuk didenahnya berharap ia tidak tersesat. Pasalnya denah itu tidak menunjukkan dimana pintu keluarnya.
Yang ia dengar tadi hanya dua pintu. Bagaimana ia yakin akan keluar sementara jalan itu bercabang cabang tiada hentinya bahkan membuatnya frustasi ditambah hilangnya Rainan membuatnya semakin frustasi
Ia merutuki kebodohannya karena hilangnya Rai disebabkan oleh dirinya. Ia mengakui bahwa tadi ia sibuk memperhatikan ruangan yang ia lewati tidak sengaja ia mengabaikan laki laki itu dibelakangnya dan sekarang menghilang tanpa jejak apapun
Ia berpikir tidak mungkin lelaki itu meninggalkan dirinya disini lagipula pria itu juga penakut. Jadi, kemungkinan ia diculik, tapi bukankah ia seorang lelaki? tenaganya lebih dari tenaga perempuan.
Tapi tidak mungkin juga, bisa saja orang yang memukulnya orang yang cerdik. Misalnya, ia sengaja menaruh obat bius disapu tangan lalu membekap lelaki itu seperti di film film dan ia pernah mengalaminya sendiri.
Iapun melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena ia beristirahat sejenak untuk menghilangkan kelelahan yang menerpa
__ADS_1
"Capek juga jalan jauh jauh, mana lagi gak ada petunjuk apapun, kak Rai kau dimana...". Gumamnya pelan ia memeriksa setiap pintu yang ia lewati, pikirannya gamang, iapun berusaha tenang dan akhirnya ia berhasil.
* * *
Sementara disisi lain tidak jauh dari jangkauan syahwa, Rainan memang diculik entah tujuan apa. Orang yang memukulnya memang seperti yang syahwa pikirkan karena tidak mungkin ia melawan karena tidak ingin ketahuan jadi hanya cara itu untuk yang ia lakukan untuk menaklukkan lawan.
~Dimana ini?. Batin Rainan ia sudah tersadar dari pingsannya
~Akhh, kepala ku pusing. Ia ingin sekali memegang kepalanya namun tidak bisa karena tangan dan kakinya terikat disebuah kursi
~Pssst, sial!. Umpatnya kesal saat menyadari dirinya terikat dengan erat
"Hmmphh Hmmppph". Ingin berteriak pun mulutnya dilakban
~Sial!. Umpatnya lagi
Ia menyadari dirinya terikat disebuah ruangan yang lumayan luas, kursi tempat ia duduk di letakkan ditengah tengah ruangan itu bersama cahaya yang selalu menyorotinya.
Mencari benda yang tajam tidak ia dapatkan, ruangan itu benar benar bersih mengkilat tidak sesuatu apapun disana, kosong total. Hanya manusia yang terikat dikursi mengisi ruangan itu bersama sorotan cahaya lampu.
"Hay". Sapa seseorang
"Hmmphh hmmpph". Ingin berucap tapi sayangnya mulut tertempel lakban, ia mencari orang yang menyapanya. Berani sekali menyentuhnya, pikirnya
"Ayolah berbicara yang benar aku tidak mengerti bahasamu". Ucap Orang itu membuat Rainan seketika menoleh kebelakang tempat orang itu berdiri.
Betapa terkejutnya ia saat mengetahui orang yang menculiknya mengakibatkan dirinya terikat diruangan yang bahkan tidak ia ketahui. Memang sudah beberapa tahun ia tinggal disini namun tidak pernah ada niat untuk memasuki bangunan tua ini, tidak berminat sama sekali.
Barulah saat ia bertemu dengan teman masa kecilnya ia memberanikan diri, Walau ia tau akan phobianya terhadap hal hal yang horor.
* * *
Next...
__ADS_1