
"Kamu gak boleh nyerah gitu aja dong, sudah sampai disini tinggal dua tantangan lagi, kamu pasti bisa". Seru Sabrina menyemangati wanita yang diliputi keraguan itu
Dengan seribu do'a yang dipanjatkan dalam hati, Ia pun tenang dan melangkahkan kakinya ketempat luas itu. Dirinya mencoba untuk konsentrasi, game pun dimulai
Badannya mulai mengikuti instingnya, berbalik, melompat, berguling, menunduk, posisi terbang, sampai menangkis dan lainnya ia pun lakukan. Semua teman temannya menyemangatinya, Al hasil iapun semakin antusias
Keraguan yang tadi meliputinya tergantikan dengan semangat yang berkobar. Semakin lama malam semakin larut, Namun tidak ada yang berniat tidur sebelum tantangan selesai
Akhirnya waktu 15 menitpun habis, Nadine menyelesaikannya dengan baik. Semua bertepuk tangan untuknya, ia semakin semangat untuk stage selanjutnya
Kedelapan orang itupun melanjutkan kembali perjalanannya
"Aku tidak ingin ceroboh lagi, Karena meninggalkan petunjuk kelompok ini hampir saja didiskualifikasi karena petunjuk itu. Cukup hanya itu terakhir kalinya. Membuatku kesal". Gumam syahwa pelan
~Sekarang aku ngerti tidak semua kebaikan itu berdampak baik, huuftt. Batin syahwa
* * *
"Kita tidak menemukan apapun brother". Seru anggota kelompok dua yang terlihat sudah menyerah
Ketua yang melihat keputus asaan para anggotanya hanya diam membeku. Saat ini mereka benar benar buntu, pikiran mereka kalut petunjuk tidak ada sama sekali. Sepertinya distage ini membutuhkan otak yang cerdik
Sementara dibelakang sana kelompok lain mulai menyusul mereka, tidak ada cara lain mereka pun bersembunyi ditempat lain, ditempat yang syahwa dan teman temannya bersembunyi. Ruangan yang gelap dan tersembunyi
Dalam ruangan itu mereka mendengar cakap cakap yang dilontarkan oleh rombongan ketiga
"Ruangan apa ini?".
"Sepertinya ini akan menguras otak kalian". Tukas sang ketua, jumlah mereka tersisa 6 orang yang artinya beberapa dari mereka telah gugur dimedan sebelumnya
"Oh apakah kita akan memecahkan misteri? Atau mencari tuas? Atau mungkin sebuah puzzle? Sepertinya memang begitu".
"Bagaimana kau tau?". Timpal yang lain
"Ya, aku hanya pernah lihat di film film dan novel. Mungkin saja benar bukan?".
"Mungkin saja benar, tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?". Tutur sang ketua sambil melemparkan senyuman tipis
Keenam orang itu mencari yang dikatakan temannya tadi. Mungkin tuas, atau puzzle semuanya membutuhkan penelitian yang cermat dan mata yang jeli.
Sementara disisi kelompok dua mereka tercengang dengan ucapan orang diluar itu, bisa bisanya pikiran mereka tidak sampai kesana. Sekarang mereka hanya perlu waktu untuk melakukan ijtihadnya
__ADS_1
Salah satu dari kelompok ketiga itu berjalan mendekati ruangan yang dimana pintu puzzle ada disana. Dialah si mata jeli, sejak tadi dia memperhatikan ruangan itu, walau disusupi kegelapan matanya yang tajam itu mampu menangkap objek manapun yang tersembunyi
Matanya selalu menyipit kearah sana, pintu puzzle yang berbalut tembok palsu selalu menarik perhatiannya. Hingga tiba disana ia menemukan pintu puzzle itu, ia tersenyum penuh kemenangan apa yang dilihatnya pastilah sesuatu yang benar.
* * *
William dan kelompoknya melanjutkan kembali perjalanannya setelah istirahat 15 menit di pos ke 3. Masih didalam gua itu mereka belum menemukan tanda tanda jalan keluar
"Oh, apakah kita tersesat?". Celoteh Yuria pasalnya daritadi mereka berjalan tidak menemukan apapun
Pemandangan pertama kali yang menyambut mereka masih berada disana, disetiap jalanan yang mereka lalui. Hal itu sudah terbiasa, mereka mempelajarinya dan membuat diri mereka terbiasa dengan kerangka kerangka yang mengelilingi mereka disamping kiri kanan
"Kenapa banyak sekali kerangka manusia disini?". Lanjut yuria melihat kerangka yang tak ada habis habisnya
Hal itu menjadi tanda tanya sendiri dibenak mereka masing masing. Kerangka yang sebegitu banyaknya untuk apa? menambah kesan angker? tidak mungkin.
Justru rumah hantu mereka yang berada dimarkas bagai labirin dan berkelok kelok itu lebih menyeramkan dibanding kerangka ini. Bagaimana bisa? Rumah hantu dimarkas mereka benar benar menyeramkan
Bayangin aja seperti di game slendrina lebih tepatnya begitu. Banyak lorong dan disetiap lorong mereka disambut dengan hantu, genangan darah bahkan kerangka.
Teman mereka yang ditugaskan menjadi manusia makan manusia dimake up sedemikian agar terlihat seperti benaran. Hal itu tidak cukup, masih ada beberapa ruangan yang menyiapkan beberapa ruang penyiksaan dan menambah kesan horor
"Kenapa lo selalu sewot kalau gue lagi bicara? Iri lo sama gue?
"Dih gue iri sama lo? Mimpi lo? Mending gue ngiri sama sabrina daripada lo". Cibir Nadine merendahkan
"Selain aku suka perselisihan aku juga menyukai pertengkaran, sepertinya perjalanan kita akan diwarnai dengan perdebatan mereka. Aku suka keributan". Sambung Fendi dengan tertawa dibalik wajah tampannya
"Gila lo ya?" seru Yuria
"Kamu sepertinya menjalani kehidupanmu dengan nikmat ya.." Kata putra
"Dia memang menikmati kehidupannya. Begitu nikmat sampai ingin kubunuh". Timpal sabrina dengan nada mengejek
"Sungguh, menonton pertengkaran sangatlah menyenangkan kau tau?". Sambung Fendi lagi
"Pulanglah, dan berbicaralah dengan tembok". Tutur William
"Apa hubungannya?". Tanya Nadine
"Orang yang cerewet seperti kalian itu bagus berhadapan dengan tembok. Kalau sekali bicara bakalan terdiam, percaya? Gue pastiin lo... Orang gila, orang gila, orang gila". Tutur William sambil menepuk nepuk tangannya mengejek semua temannya yang banyak bicara itu, dan akhirnya ia tertawa
__ADS_1
"Sungguh, itu tidak lucu". Papar Putra
"Pulanglah, tidak ada obat kebodohan disini". Sambung sabrina mengalihkan pandangannya
Syahwa sedari tadi menyaksikan hanya diam saja, tidak ada hal lucu yang dia lihat. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Melihat perdebatan yang tidak ada habis habisnya, ia pun menengahi
"Guys, tidak ada waktu untuk berdebat. Kalian harus berpikir dengan jernih, mari lanjutkan perjalanan. Kalian mau bertemu dengan kelompok lain? terus didiskualifikasi?".
Mereka pun tersadar dan akhirnya melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda. Sabrina menginjak sesuatu dan memancarkan sesuatu yang berbahaya
~Sinar -X?. Batin syahwa bertanya tanya
"Apa itu?". Pekik Nadine
"Apakah ini stage 4?". Tanya William
"Sinar apaan itu". Ujar Putra
"What the hell?". Cetus Yuria
Mereka semua terkejut dengan munculnya sinar tersebut. Tidak ada yang mengerti tentang sinar yang merembes itu
"Itu sinar -X, kalian harus berhati hati. Jangan sampai terkena dengan sinarnya". Ucap Sabrina, Dirinya paham dengan sinar yang memancar itu
"Lah emang kenapa?"
"Sinar -X itu adalah sebuah laser yang mampu menghanguskan kulit kalian menjadi gosong. Bukan hanya itu, Laser ini biasa digunakan untuk melakukan operasi pada orang orang yang membutuhkannya.
Selain itu, Alat ini canggih ini mampu memotong motong badanmu dengan cara yang rapi. Oleh karenanya kalian harus waspada jangan sampai terkena cahayanya.
Aku tidak tau mengapa para penjaga menaruh jebakan berbahaya seperti ini, ini sama saja mau merenggut nyawa kita dengan paksa". Tukas syahwa panjang lebar
~Baru kali ini aku berbicara dengan panjang lebar, huuffft.
"Arrrggghhh"
Semua langsung berlari kesumber suara, mereka menemukan sebuah kulit yang terkelupas
* * *
Nextt...
__ADS_1