CAUSE I LOVE YOU

CAUSE I LOVE YOU
Nine


__ADS_3

#9


#9


Ceklek..


"Hah!". Ucap syahwa dengan nada kekagetan, sementara Syahna hanya membulatkan matanya melihat mayat yang bersimbah darah dihadapan mereka berdua


"Oh, kalian sudah disini rupanya". Ujar Feras dengan tenang


"Pah apa apaan ini, kenapa membunuh mama". Kata syahwa yang sedang dikuasai amarah


"Sayang tenanglah, papa akan menjelaskannya". Tukasnya dengan tegas sambil berjalan kearah lemari entah untuk mengambil apa


Syahna memperhatikan sekitarnya dia masih menatap mayat itu dalam diamnya, memperhatikan semua isi ruangan ini, sepertinya memang benar yang dikatakan syahwa kedua orang tuanya memiliki masalah yang pelik


Feraspun kembali lagi sambil duduk disalah satu sofa memegang alat perekam? iya itu alat perekam. Syahna pun beralih dan menatap sang papa yang menatap mereka berdua, diapun berjalan dan menghampiri feras (papanya) disertai susulan sang kakak, syahwa.


"Maafkan papa, kalau mengecewakan kalian tapi papa harus melakukannya agar kalian tetap selamat, dengarkanlah rekaman itu kalian akan paham kenapa papa membunuh sialan itu, papa akan beristirahat papa lelah".kata feras sambil berdiri meninggalkan syahna dan syahwa yang masih menatap alat perekam itu


***


"Aku gak nyangka banget, mama segitunya sama kita Na". Ucap syahwa menangis sedih sekali


Syahna pun hanya diam menatap alat perekam yang ada dihadapannya, keduanya sudah mendengar semua ucapan mama dan Cakra, Dimana mereka juga melihat semua video antara kedua orang itu (Cakra dan Vivian)


"Sudahlah, aku duluan ya kak aku ada urusan sedikit". Ucap syahwa beranjak meninggalkan syahwa yang masih menangis


***


Keesokan Harinya


"Sayang, mana kakakmu Syahwa?". Tanya feras


"Dikamar, masih nangis mungkin". Ucap syahwa menghela nafas


Ya benar. Syahwa masih berada dikamarnya, malas untuk keluar mungkin lagi bad mood. Feras pun menyuruh Syahna untuk memanggil syahwa, katanya ada hal yang ingin dibicarakan.


Sedikit menghela nafas dan sebal dengan tingkah Kakaknya yang seperti Anak kecil, Tingkahnya yang mengurung diri dikamar semakin membuat Syahna gemas dengannya


"Kak, papa panggil cepat ada urusan". Panggil syahna


Sementara syahwa diam seketika, dia pun berdiri membuka pintu dan menatap Syahna kala itu juga


"Kau, tidak sedihkah, melihat mama mati? walaupun dia sudah jahat bukan berarti kita harus membalasnya jahat juga kan?". Tukasnya dengan perasaan berkecamuk


Pertanyaan yang sedikit Menohok membuat Syahna bungkam untuk bicara, beberapa saat untuk mencari alasan untuk membantah kakak nya itu diapun berkata,


"Masalah itu di kesampingkan kak, papa ingin bicara". Balasnya dengan nada dinginnya sambil menyandarkan diri di dinding, Syahna tau pasti kakaknya akan ngoceh dulu barulah nanti menurut


"Ck, aku tidak ingin, kau ini benar benar tidak punya hati, ingat dia yang ngelahirin kita jangan egois hanya karena satu kesalahan kau lupa dengan kebaikannya". Ucapnya lagi


"Kebaikan apa? ngelahirin kita saja dia gak sudi, tidak kau lihat tatapan menjijikkannya itu cih, bahkan dia ingin menggugurkan kita waktu itu, otakmu pakai lah, your crazy? kakak gak tau kan Papa yang berjuang keras mempertahankan kita kala itu". Bantah Syahna sedikit dengan nada tinggi

__ADS_1


"Ya aku tau, tapi tidak begini juga kali, dasar pengecut!". Kilah syahwa lagi tak kalah tinggi nada bicaranya


Syahna yang dikatakan pengecut pun marah besar, dia tidak suka diberikan plat seperti ini, dia orang yang menjunjung tinggi kebenaran bukan pengkhianatan dan syahwa pun tau kalau Syahna tidaklah seperti yang diucapkan nya tadi, Tapi amarah yang menguasainya harus melontarkan yang tidak seharusnya diucapkannya


"Hahaha, pengecut? Tidak sadar dirikah? I hate you". Marahnya dengan kian membara


"Syahna! sudah cukup! pergilah aku tidak ingin melihatmu, jangan pernah muncul dihadapanku". Kilahnya juga dengan amarah yang sudah mencapai ambang batasnya


"Hah? that's right! aku akan pergi kalau begitu". Ucap Syahwa dengan nada dingin menuju kamarnya membereskan baju bajunya, sepertinya memang benar syahna akan pergi.


Satu hal yang mereka lupa, Antara api dan air mereka lupa atau memang tidak ingin memegangnya lagi?


Syahna, dia bukan syahna yang dikenal dengan pendiriannya, dia berubah menjadi orang yang berbeda, sungguh sepertinya kali ini dia yang kekanakkan.


"Loh Na, mau kemana? Pake bawa koper segala". Tanya feras yang heran dengan syahna


"Aku mau kuliah diluar negeri pah, pindahkan syahna yah?". Ucap Syahna, Feras seketika itu juga langsung kaget


"Hah? Ada apa dengan mu sayang hmm? Kenapa mendadak gini? ". Tanyanya lagi dengan nada terkejut


"Cuma mau nenangin diri kok pah bisa kan? Lagian kalau disini syahna bosan". Ucap syahna


"Sebenarnya yang ingin papa bicarakan yah tentang masalah itu, tapi kok kamu bisa tau".


Syahna pun hanya diam, mana mungkin dia akan cerita sementara dirinya ingin pergi bukan tau masalah papanya tapi karena syahwa, iyakan?


"Aku gak tau kok pah, tapi ini keinginan syahna, jadi bolehkan". Ucapnya dengan nada serius


"Hmm, tentu boleh kan memang ini yang papa mau, kamu nanti disana urus perusahaan papa sekaligus lanjutin kuliahnya nanti pasha bersamamu". Tukas feras dengan senang


~Pasha, hahaha kali ini aku bebas yes. Pikirnya dengan senang


"Okey pah, terus Pasha nya mana?". Tanya syahna, sesaat belum menjawab, pasha sudah muncul dihadapan mereka dengan wajah yang berseri seri menatap kedua orang dihadapannya


"Halo tuan besar, putri muda". Sapa Pasha dengan senyum manis


Feras pun menganggukkan kepala nya tanda dia membalas sapaannya, sementara syahna hanya diam memperhatikan penampilan pasha yang perfect menurutnya


~Damn! Jangan hati ku belum siap untuk yang namanya apa itu tinta ? Eh bukan cinta maksudnya, masa aku suka sama anak buah papa, please jangan ada cerita Anak mafia jatuh cinta dengan anak buahnya sendiri, no no aku tidak ingin. Pikirnya sambil mengusir pikiran pikiran negatif yang berkumpul di otaknya


Akhirnya selama berbincang bincang, syahna dan pasha pun pamit dengan Papa feras.


***


"Putri muda, kenapa melihatku seperti itu apakah di wajah saya ada sesuatu". Tanya pasha, pasalnya dari tadi dia merasa diperhatikan oleh syahna yang menatapnya diam diam


"Ck, apa yang kau pikirkan sudah sana kerjakan tugasmu menyetir, keselamatan ku lebih penting". Jawab syahna sedingin mungkin, kesannya malah membuatnya berbicara gugup karena tepergok oleh pasha.


~Shit! Aku ketahuan, menyebalkan. Gumamnya sambil menggigit bibirnya karena kesal


Pasha melihat perubahan dari raut wajah milik Syahna, diapun memilih diam dan tak berkata apapun. canggung itu yang dirasakan dalam mobil padahal biasanya pasha tidak seperti ini, dia anak yang humoris dan konyol, tetapi ketika bekerja sangat profesional.


***

__ADS_1


"Syahwa?". Panggil feras, Syahwa mendengarnya hanya saja dia malas untuk berdiri dan membuka pintu


Sampai ketiga kali terus menerus panggilan ditujukan untuknya, membuatnya harus berdiri dengan tatapan malas, meskipun sekarang dirinya sudah membaik tapi keadaannya sekarang malah membuatnya bad mood dan bermalas malasan.


"Ada apa pah?". Tanya syahwa menguap lalu menutup kedua mulutnya


"Papa mau bicara sayang". Jawab feras dengan nada yang serius membuat syahwa pun mengangguk dan meminta izin untuk mandi sebentar, feras pun menyanggupinya.


Setelah Mandi syahwa pun turun kelantai bawah mencari sang papa dan tentunya syahna, tadi dia tidak tau kalau ucapannya menyakiti syahna dan menyebabkan syahna pergi tanpa pamit darinya, semarah itukah?


"Ketemu". Gumamnya pelan melihat sang papa yang sepertinya menunggunya, diapun berjalan dengan senyuman manis nan manjanya itu


"Pah, syahna mana yah?". Tanya Syahwa, sementara feras pun menatap heran syahwa


"Loh, sayang syahna kan udah pergi tadi". Jawab feras dengan nada bingung, syahwa pun terlonjak kaget


"Lah, kemana pah tumben pergi?". Tanyanya lagi


"Luar negeri". Jawab feras yang membuat Syahwa tersentak lagi, dia pikir syahna hanya keluar jalan jalan begitu keliling kompleks misalnya, tapi jawaban dari sang papa membuatnya tersentak dan mengingat kejadian debat antara dia dengan syahna, Dia pun hanya menganggap masalah yang tadi siang hanyalah main main saja dan dia tidak mengapa, tapi hal ini dianggap serius oleh Syahna


~Semarah itukah? Aku kan gak sengaja, keluarnya juga karena aku gak ke kontrol. Gumamnya dalam hati


"Negara mana pah?". Tanya syahwa lagi


"Paris sayang, emang kamu gak tau yah?". Tukas feras heran, syahwa pun mengangguk tanda kalau dia mengiyakan apa yang ditanyakan sang papa


Sesaat sebelum bertanya dengan sang anak, syahwa pun menjawab duluan


"Tadi aku tidur, mungkin dia tidak enak kalau mengganggu ku, nanti akan kutanyakan saja padanya". Ujar Syahwa, dia tidak mau masalahnya diketahui oleh Papanya nanti malah semakin gak nyaman


"Oh yah, papa mau bicarain apa?". Tanya Syahwa mengalihkan topik pembicaraan, soalnya dia ingin menghindari pertanyaan milik papa dia tidak akan sanggup menjawab nanti.


"Cita cita syahwa?


"Tentara dong". Jawabnya dengan senyum merekah


"Wah, jadi Syahwa maukan papa pindahin di kelas tentara tapi dikota lain".


"Seriously dad? Gak masalah aku mau kok asal gak beda negara aja, hehe". Balasnya sangat antusias yang dibalas anggukkan oleh feras


"Kalau begitu Syahwa naik keatas duluan yah, mau bawelin adik syahwa". Sarkas syahwa


"Iya, good night dear".


"Too my hero". Balasnya dengan menyium pipi milik sang papa dan beranjak pergi


~Semarah itukah syahna?. Pikirnya lagi


Syahwa pun mengecek ponsel miliknya, tidak ada chat masuk ataupun panggilan masuk, sedikit menyesal karena berkata demikian tapi kesal juga karena sifat syahna yang terlalu menganggap sesuatu dengan keseriusan.


>>Bersambung..


Salam author🐣

__ADS_1


kak Awa🐾


__ADS_2