CAUSE I LOVE YOU

CAUSE I LOVE YOU
Thirty


__ADS_3

#30


Esok harinya, seperti yang diinginkannya. Dia tidak melihat pria itu dimanapun, bahkan sempat ia merutuki kebodohannya, jadi sekarang kayak linglung kan.


Tidak melihatnya di hari ini membuatnya tak fokus, padahal yang ia tau hari ini kelas materi dibawakan Reyhan dan bagas. Tapi yang hadir hanya Rainan dan azmin menggantikan kedua pria itu.


"Mungkin ada urusan penting". Ucapnya pelan


Daritadi ia berusaha untuk fokus namun tetap tidak bisa. Ia gelisah sendiri bahkan rautnya berubah ubah. Kelas materi pun usai, semua bubar tak terkecuali syahwa, ia benar benar frustasi.


Syahwa berniat beranjak pergi namun sebelumnya rainan mencegahnya


"Ada apa?". Tanya syahwa cepat


"Kau terlihat buru buru, apakah ada hal yang medesak? Kau gelisah". Tutur Rainan


"Akh.. Akuu. Aku tidak apa apa. Apakah ada yang ingin kak Rainan bicarakan?". Tanya syahwa saat sadar dirinya terlalu berlebihan


~Ini pertama kalinya aku seperti ini pada kak Rey, lebih mendominasi daripada membunuh lawan dengan mencongkel kedua matanya dan mencincang cincang badannya. Batin syahwa


"Soal kemarin". Tukasnya


Degh!


~Aku kurang nyaman, apakah ia akan menyatakan cinta? Seperti kak rey kemarin? Bila benar, aku... Harus jawab apa"


"Bicara saja kak". Tutur syahwa


"Boleh kita membicarakannya ditempat sepi? Ini penting". Tanya Rainan serius sambil melirik kearah para junior yang menatap kearah mereka, syahwa pun ikut melirik dan akhirnya ia menuruti kemauan Rainan


* * *


"Hah, aku sih baper banget. Orang dia cuma nanya tuh cewek. Jadi malukan". Celoteh syahwa dengan lirih merutuki kebodohannya yang mudah baper.


>>Sebelummya<<


"Baik dimana?".


"Ikuti aku". Jawab Rainan memimpin jalan, keruangan yang sepi. Ruangan itu perpustakaan selain perpustakaan kedap suara, ketenangan dengan damai pasti selalu ada. Namanya juga perpustakaan.


Rainan memilih bangku yang paling sudut, ada beberapa murid lainnya yang membaca buku diruangan itu. Semua sibuk dengan benda yang dipegangnya.

__ADS_1


"Jadi apa yang ingin kak Rainan tanyakan?". Tanyanya serius, kini kedua insan itu sama sama dalam mode serius


"Zisea Klau". Jawabnya menatap manik mata milik syahwa dengan tajam dan penuh selidik


~Zisea? Gadis itu! Apakah dia belum bisa move on dari gadis pendiam itu? Oh aku tau dia pasti....


Syahwa pun menatap balik manik mata Rainan, berpura pura tidak tau sambil memasang wajah bingungnya.


"Aku merasa kau mengetahui dirinya, jelaskan padaku". Cetusnya


"Mengetahui? Yang benar saja". Ucap syahwa dengan bingung


Pria itupun menghela nafas, menatap wajah syahwa dengan sendu membuat hati syahwa merasa tidak nyaman, bagaimanapun kalau ia katakan yang sebenarnya pasti pria itu melakukan sesuatu untuknya mengingat kalau pria itu menyukai gadis pendiam itu. Dia tidak siap bila ada seseorang yang membongkar rahasianya dia juga tau kenapa harus merahasiakan identitasnya.


"Apa kak Rai masih menyukainya?". Tanya syahwa memastikan


Pria itu tersenyum


"Tidak".


~Tidak? apakah dia ingin menjebakku?. Batinnya beradu, yang satu suudzon yang satunya lagi Husnudzon, jadi mana yang benar?


"Aku tidak bohong, aku tidak menyukainya lagi". Ucapnya jujur


"Tentu"


"Bukannya dulu... "


"Terobsesi, aku hanya obsesi sama dia karena sifatnya sebagai wanita yang misterius. Aku mengira hanya satu wanita seperti dia didunia ini. Namun nyatanya tidak".Ungkapnya


"Obsesi ya? Berarti kak Rai melihat wanita seperti dirinya juga". Cetus syahwa yang ditanggapi anggukkan oleh Rainan


Lama berpikir


"Siapa gadis itu?". Tanya syahwa, tapi pertanyaannya tidak dibalas oleh Rainan hanya sebuah senyuman penuh arti yang dia lontarkan


~Berarti dia tidak ingin aku mengetahuinya, Hmmm. Batin syahwa, dia tau arti senyuman itu. Cukup hanya Rainan yang tau, seperti itu artinya yang syahwa pahami.


Baiklah syahwa tidak mengapa, itupun tidak penting baginya. Dan juga, ia tidak perlu tau privasi seseorang bila orang itu tidak ingin memberitahu. Mungkin kalau musuh akan dicari sampai akarnya, tapi Rainan bukan musuhnya lagian dia tidak ada hubungannya dengan gadis yang dikatakan pria itu.


Ia juga tak mau peduli tentang siapapun kecuali sesuatu yang mengusiknya, maka ia tanggapi dengan caranya sendiri.

__ADS_1


"Bila ku beritahu apakah kak Rai bisa berjanji padaku?".


"Apakah ini penting?". Tanya Rai melihat raut syahwa yang serius, gadis itupun mengangguk


"Baiklah aku berjanji". Ungkapnya dengan mengulurkan jari kelingkingnya pada syahwa


Gadis itu entah sosok lamanya mungkin kembali, ia tersenyum tulus melihat tangan Rai yang terulur. Rai yang melihat terdiam dalam kejutnya. Baru pertama kali ka melihat gadis itu tersenyum menawan sangat tulus tanpa dibuat buat, sesaat ia terlena dengan gadis dihadapannya.


Sedangkan syahwa, bahagianya ia karena jari kelingking itu mengingatkannya pada sesuatu, padahal ia pernah melakukan pada Vio dan kedua sahabatnya tapi saat itu ia biasa biasa saja. Jari itu mengingatkannya pada sesuatu, Sahabat kecilnya.


Ia menatap kelingking itu lama iapun menyambutnya dengan menautkan keduanya, tanda mereka berjanji.


"Baiklah karena aku sudah mempercayakan rahasia ini pada kak Rai maka aku akan memberitahukannya". Ucap syahwa, Akhirnya Raipun tersadar dari lamunannya karena suara syahwa


"Zisea Klau Wira sanjaya, nama lengkapnya dia dua bersaudara".


"Tunggu, dua? yang kutau dia anak tunggal". Tukas pria itu dengan heran menatap wajah syahwa


"Tentu yang orang orang tau ia hanya anak tunggal padahal sebenarnya ia memiliki saudara lainnya, dan orang itu sangat dikenal disini".


"Beberapa minggu yang lalu ia diberi hukuman dengan dipenjara seumur hidup, itu yang Kutau. Dia Elin. Elina sari wira sanjaya. Di kehidupan keluarganya ia dibenci dan dicampakkan, bahkan disiksa bila tidak menurut seperti budak, tidak dianggap sebagai anak. Kehidupannya beda jauh dengan Zisea Klau. Kalau Elin sebagai orang asing maka Sea kebalikannya".


"Akibat sering diabaikannya dirinya, elin menjadi seperti ini menjadi lebih berandal kecil dan sedikit brutal. Dia merasa hidupnya dirumah tidak dibutuhkan, Jadi setiap liburan gadis itu memilih untuk tetap disini daripada kembali kerumahnya, menurutnya dirumah sama saja neraka baginya".


"Sea dan Elin sedikit berbeda. Sea mengidap suatu kebiasaan buruk suka membunuh tanpa sebab, Sedangkan elin agak sama tapi jika ia membunuh dalam keadaan normal ia memiliki sebab sedangkan saat ia sudah sampai dipundaknya batasnya ia tidak pilih pilih lagi, Nafsu membunuh sea lebih dari elin karena itulah Sea membencinya, bahkan dari kecil mereka memang tidak akur".


Penjelasan panjang lebar itu membuat Rai tak henti hentinya terkejut, Selesai syahwa bercerita pria itu nampak tak puas membuat syahwa menghela nafas panjang


"Aku anak mafia, Anak dari Papa Rahimahullah Ferasatya Wijaya Djiningrat. Dan tentu hal ini aku tau dari salah satu anak buah Rahimahullah papa". Ucapnya membuat Rai tak kalah terkejutnya


"Mafia?". Ucapnya dengan tatapan menyelidik


"Ssstt, kau sudah berjanjikan untuk merahasiakannya". Gumam syahwa pelan, ia takut identitasnya terbongkar.


Selama ini ia tidak berani menampakkan identitasnya kepada siapapun kecuali dengan musuh musuh yang sudah akan sekarat seperti saat ia membunuh cakra yang saat itu ia meyayatnya perlahan taklupa ia congkel kedua mata pria itu lalu mencincang cincangnya menjadi daging daging kecil, kepalanya ia gantung dipenjara besi, ia memberitahukan identitasnya kepada pria itu karena tau musuhnya tidak akan bisa kabur lagi.


"Iya aku berjanji, aku hanya ingat sesuatu. Ferasatya djiningrat kenapa ada wijayanya?". Tanya Rainan heran karena yang ia tau yang ada Ferasatya djiningrat wijaya itu keluarga lain kenapa bisa digabung? Membuatnya bingung


"Karena Wijaya djiningrat itu nama kakekku, Dua kubu itu terpisah saat salah satu anak kakekku tidak suka dengan papaku. Dan sekarang pria itu sudah tiada dua kubu itupun bersatu kembali. Tapi, papaku... sudah meninggal dunia juga". Tutur syahwa dengan lirih matanya sendu memupuk air bening dikedua pelupuk matanya, ia pun menangis


* * *

__ADS_1


>NEXT?


__ADS_2