
Setelah melewati ujian level 2 tersebut, kedelapan orang itu melanjutkan perjalanannya menuju kepos 2 yang menurut denah canggih itu 2km tidak terlalu jauh.
Tibalah rombongan kedua menyusul mereka dari belakang. Salah seorang berhenti, Padang pasir yang tandus menyambut mereka
Belajar dari pengalaman, kini harus bertindak waspada. Jebakan pertama kali itu memang mudah tapi siapa sangka? Kecerobohan membuat jebakan itu mengalahkannya.
"Ada yang aneh".
"Benar".
"Apanya?"
"Tidak mungkin kan? Level 2 hanya melewati padang pasir ini. Pasti ada jebakan disini, sekarang apa yang harus kita lakukan?". Tanya sang ketua, pertanyaannya dijawab hanya sebuah bungkaman. Tidak ada jawaban untuk pertanyaannya
Karena dia adalahh pemimpin didalam kelompok itu, merasa ini adalah tanggung jawabnya, maka ia memberanikan diri untuk mengambil resiko untuk melindungi para anggotanya.
Kakinya melangkah maju untuk mencari sesuatu yang aneh itu. Baru beberapa detik menginjakkan kakinya di padang tandus itu, pasir itu bereaksi sama seperti pertama kalinya saat syahwa menginjakkan kakinya disana.
"Ini.."
"Kenapa?"
"Panas"
"APA! PANAS?"
"Benar, aku tidak berbohong". Tukasnya, matanya masih menatap luas kearah padang pasir itu.
Semua masih tidak percaya dengan pemimpin mereka, demi membuktikan perkataannya satu persatu anggota regu 2 itu mencoba menginjakan kakinya disana, dan sama mereka semua mendapatkan seperti yang ketua mereka rasakan
"Bagaimana ini? Apa kita sekaligus akan gugur disini?". Tanya salah satu anggota yang terlihat putus asa
Sang ketua hanya diam, masih berpikir. Sebuah ucapan terlintas yang tadi diingatnya ketika sang penjaga menjelaskannya. Sebuah teka teki?
"Kita tidak akan gugur". Tukasnya seketika
Semua orang yang nampak putus asa kini penuh semangat menyambut ucapannya
"Dengan apa kita bisa lolos ke level selanjutnya?". Tanya salah satu anggotanya
"Kita butuh otak yang cerdik, sekarang kalian pikirkan.. Bukankah kita adalah kelompok dua? Yang artinya ada kelompok sebelumnya yang melewati ini sebelum kita sampai ditempat ini".
"Wah benar, dan itu faksi garuda emas. Aku yakin pasti mereka punya cara untuk melewati medan kedua ini".
"Ya, benar sekali. Sekarang aku yakin kita pasti bisa melewatinya".
"Iya dengan cara apa?"
"Gunakan otakmu untuk berpikir, bodoh".
"Dih"
Semuanya terdiam memutar otaknya, berpikir dengan keras, tiba tiba..
"BERLARI!"
"Hah apa? Gimana?"
__ADS_1
"Ya berlari bodoh, kau tidak lihat? Ada jejak kaki disana sorotkan sentermu kesana kesana dan kesana".
"Dan lihat tulisan ini, kurasa ini petunjuk". Tukas temannya yang menemukan secarik kertas yang bertuliskan
Berlari sekuat tenaga. Tinggalkan kertas itu, dan simpan kembali ketempat semula
Mereka membaca kertas itu, saling lempar pandang
"Aku tidak yakin, tapi bisa jadi mungkin"
"Ini sebuah petunjuk, aku yakin. Sebuah petunjuk dari pembuat jebakan ataupun faksi garuda yang menulisnya tadi".
"Mari berlari, aku duluan byee". Tukas temanya yang tadi menemukan kertas, ia menyimpan kembali kertas itu sebelum berlari
Ia menyadari bahwasanya mereka semua sedang berada digunung dan itu adalah lava buatan. Ia berlari sekencang mungkin dan akhirnya ia sampai diujung padang yang tandus itu.
Ia mencoba melambaikan tangannya dan berhasil semua kelompoknya menyusulnya bahkan yang pertama dilihatnya adalah sang pemimpin
"Ternyata semudah itu".
"Hahaha, Mudah ditipu yaa".
"Iya bener, kita juga gak sadar kalau kita didaerah pegunungan".
* * *
"Thar, gue gabut". Seru azmin sambil memainkan jarinya
"Oh?"
"Dih, gak asik lo mending gue tadi sama farhad aja". Ujarnya
"Masih mending gue. Kalau lo dengan rainan bisa bisa penyakit bucin lo kumat. Susah susah gue nyariin cewe..."
"Lo bisa diem gak? Lo tau kan kita bertiga? Lo mau mulut lo gue sumpel pake kaos kaki?"
"Coba kalau berani, gue pake air panas siram tuh muka lo yang ngeselin seantero".
"Lo kali, body shaming?"
Sebelum azmin membalas perkataan athar, kelompok syahwa pun sampai ketempat mereka. Seketika perdebatan itupun terhenti, mereka menyambut kedelapan orang tersebut.
Wajah wajah mereka tampak kelelahan, Hanya beberapa saja yang masih terlihat kuat. Yang paling lemah mungkin Veny dan Nadin, kedua wanita itu tidak sanggup berjalan hingga akhirnya mereka ambruk ditanah saking lelahnya
Dengan sigap mereka langsung memberikannya minuman dan makanan, nafas mereka tersengal mencoba menarik nafas dengan panjang dan menghempaskannya dengan kasar
"Aku lelah banget". Gumam nadin, sementara Veny hanya diam. Dirinya sudah selelah itu tidak mungkin ia akan berbicara walaupun hanya sekedar gumaman
Nampaknya gadis itu mulai putus asa, padahal pelatihan seperti ini tidak ada apa apanya dibanding mengangkat sekian berat ton lalu menghancurkannya dengan tangan sendiri.
Syahwa pun angkat bicara
"Bila kalian sudah tidak sanggup kalian boleh berhenti disini. Tidak ada paksaan, kalian cukup bagus dari yang lainnya, kalian hebat". Ujarnya dengan melemparkan senyuman
"Akkkh, aku memang lelah tapi aku belum putus asa kau tau? Jiwa petualanganku masih ada dan berkobar disini". Tukas nadin menepuk nepuk dadanya
Syahwa tersenyum dengan semangat gadis itu, patut diacungkan jempol
__ADS_1
"Kau memang hebat, tapi kau harus memperhitungkan level berikutnya pasti lebih sulit lagi dari tadi".
"Selama ada dirimu yang cerdas, kita semua pasti lolos. Aku juga bersyukur sekelompok denganmu walaupun tadi sedikit kesal denganmu, maafkan aku".
"Mmmh, Bukan aku saja loh, masih banyak teman teman kita yang turut membantukan?"
"Iya iya intinya aku ikut, aku kelelahan tadi karena kehausan jadi..."
"Baiklah, kau boleh ikut.. Dan kau Veny?"
"Aku aku aku"
"Kau sudah lelah sekali bukan? aku rasa kau harus istirahat pendakian tadi membuatmu sangat lelah aku tau itu, istirahatlah". Timpal sabrina
Veny hanya menganggukkan kepala membenarkan apa yang gadis itu katakan, dirinya benar benar lelah. Berlari di Padang pasir tadi membuat tenaganya keseluruhan habis, ditambah dengan perjalanan yang lumayan jauh kakinya keram dan pegal.
Dirinya tidak berniat untuk melanjutkan lagi, Dia sudah memperhitungkan segala kedepannya, sulit ia bayangkan. Sementara para pria masih ingin melanjutkan game ini
15 menit telah berlalu, mereka pun melanjutkan perjalanannya, Veny menatap mereka dari kejauhan dengan raut yang lelah itu. ia duduk di kursi yang telah disediakan oleh athar tadi. Kelompok kedua pun tiba mereka sama halnya dengan kelompok syahwa, tiba dalam penat yang berlebihan.
Syahwa dan keenam lainnya melanjutkan perjalanannya, Mereka disambut oleh sebuah gua yang tadi dijelaskan Azmin, mereka diperintahkan masuk kedalam gua itu untuk masuk ke stage selanjutnya
"Gua ini kayaknya panjang banget deh". Seru william memperhatikan
"Iya, gua ini menghubungkan dengan ruang bawah tanah". Sahut Nadin
"Gue merinding lihatnya" sambil memegang tengkuk lehernya
Mereka pun terlihat enggan memasukinya, Mereka masih terdiam ditempat. Hingga sabrina yang dahulu memasuki ruangan itu, gelap namun udara masih ada tersalur.
"Ayo guys, kalian ngapain disitu?" Seru Sabrina
"Kalau ada ular gimana?"
"Ya ampun nadin, lo gak pernah bunuh ular? seriusan lo?". Seloroh Fendi
Gadis itupun menyengir tanpa dosa
"Iya yah, kok gue ketakutan gini. Padahal gigit ularnya aja pernah". Ucapnya cengengesan
"Yaudah ayo". Ajak putra
Semuanya pun turun melalui tangga yang terbuat dari tanah itu, senter mereka menyoroti kesetiap penjuru. Guanya sangat besar dari yang mereka perkirakan. Hingga mereka sampai disebuah dinding dan tak ada lorong manapun, mereka kebingungan mau berjalan kemana
"Apa apaan ini? apa kita dijebak?"
"Tidak mungkin lah, ada sesuatu yang tersembunyi dalam gua ini pastinya".
"Semacam teka teki?"
"Ya sepertinya begitu, kita akan menghabiskan waktu mencari teka teki yang kau maksud".
Mereka pun berpencar memeriksa setiap dinding, menurut mereka mungkin saja ada tulisan didinding sebagai petunjuk untuk mencari pintu atau mungkin sebuah tuas yang akan ditarik dan akhirnya muncul ruangan lainnya?...Semuanya masih misteri
"PUZZLE?".
* * *
__ADS_1
Next...