
Senja telah berlalu rembulan bersinar terang menyambut waktu yang akan tergantikan dari siang menjadi malam. Festival telah dihentikan diakhir senja yang indah. Semua aktivitas tergantikan dengan istirahatnya para makhluk yang bernafas.
Esok adalah hari libur, tapi masih ada acara buat malamnya, Duduk mengelilingi api unggun sambil bermain teka teki atau bahkan tanya jawab
"Ah melelahkan". Gumam syahwa pelan sambil merebahkan tubuhnya yang lelah memanjakannya di kasur empuk itu, seharian di bangunan tua membuatnya lelah bukan main, Ia memainkan ponselnya sejenak tak lama ia terlelap
Disisi lain reyhan juga mengistirahatkan tubuhnya, dengkuran halus keluar dari mulutnya membawanya kealam mimpi yang indah.
Namun berbeda dengan rainan, walaupun ia yang banyak menguras tenaga tapi ia tidak lelah, Nampak dirinya rebahan namun matanya tidak terpejam, pikirannya sedang mengembara entah kemana.
Kejadian disiang hingga menjelang sore itu membuatnya berpikir keras, Tidak ada yang istimewa bagi syahwa dan reyhan tapi tidak dengan rainan ia merasa ada sesuatu yang mengusiknya.
Hingga lama ia berpikir namun tak dapat jawaban, ia berdiri berjalan sambil menuju balkon kamarnya dan duduk manis disana. Oh ya, Setiap ruangan yang dimiliki para penghuni markas ini memiliki balkon.
Semuanya sama rata kecuali para petinggi yang ruangannya berbeda. Walaupun demikian, kualitas ruangan para murid terjaga dan juga terjamin kebersihannya.
Rainan, pria itu membuat secangkir kopi susu untuk ia nikmati dimalam yang lumayan dingin ini.
"Secangkir kopi, setidaknya menghangatkan tubuhku sedikit karena cuaca malam ini". Ucapnya pelan sambil membawa kopi susu itu kebalkon dan menaruhnya dimeja tempat ia duduk
* * *
"Vi, tau gak?". Bisik Yuria, dirinya menginap diruangan milik Vio bersebelahan dengan ruangan syahwa yang kini terlelap dalam mimpi indahnya.
Biasa, bila kedua gadis ini sudah berkumpul pasti akan bergosip ria.
"Apaan". Tanya Vio penasaran
"Gila, Gila. Tau gak tadi tuh syahwa masuk rumah hantu".
"Trus?"
"Tau gak sama siapa dia?". Ucap yuria membuat vio semakin penasaran
"Siapa?".
"Pangeranmu, juga sama senior yang galak waktu itu negur kita karena membicarakan syahwa". Ucap yuria membuat vio terhenyak
"Gak bercanda kan?". Tanyanya penuh selidik
"Ya kali aku bercanda, serius dua rius malah". Tukasnya membuat vio mengepalkan kedua tangannya
Bugggh
"Ya ampun, apa yang kau lakukan?". Kejut Yuria karena melihat vio yang menimpuk meja dengan kepalan tangannya
__ADS_1
"Berani banget tuh cewek, Awas saja besok aku kasih penghargaan yang akan diingatnya".
"Yakin?"
"Iyalah yakin".
"Vi vi, Yakin mau bisa ngalahin tu cewek? Bukannya aku mihak dia tapi ini faktanya yang terjadi di depan mataku sendiri. Setiap kali kau berurusan sama dia, yang kalah pasti kau dan yang pasti kau selalu dipermalukan. jadi saranku mending kau tidak usah mencari masalah dengan gadis itu jadi yang malu dirinu sendiri". Cetus yuria membuat hati vio kesal
"Ya, mungkin itu dulu tapi kali ini gak akan aku lepaskan". Balas Vio
Sambil menggelengkan kepala yuria pun berkata
"Aku tidak ingin ikut". Menurutnya mengusik syahwa sama saja melakukan perbuatan yang salah dan fatal, Ia ingat perkataan syahwa saat dirinya di kelas materi dengan vio, Jangan mengusiknya apalagi sampai memprovokasi.
Dirinya juga sudah bosan dengan kerjaan yang selalu mengganggu orang, dia memilih untuk menyibukkan diri belajar dengan giat mempelajari strategi strategi karena satu bulan lagi Ujian yang sebenarnya akan dimulai, dihutan adat.
Dimana mereka akan melawan satu suku dan sekte sekte sesat juga beberapa tantangan lainnya yang sedikit berbahaya, dan syarat untuk menang tentu dengan strategi yang matang dan juga fisik yang kuat
Vio yang mendengar perkataan Yuria melototkan manik matanya tak percaya, Biasanya gadis itu menuruti keinginannya setiap apa yang ia lakukan gadis itu mendukungnya tapi kenapa kali ini? tidak!.
Dengan tatapan sinis vio berkata
"Yasudah, kau mau ikut tidak ikut aku tetap melakukannya". Sambil berjalan meninggalkan Yuria menuju dapur
"Aku terlalu lelah mengikutimu, aku juga lelah dengan perbuatan dosaku, yah baiknya aku akan mencoba memperbaiki diri". Tuturnya pelan sambil keluar meninggalkan kamar bio menuju keruangannya, Bahkan ia sempat melirik pintu syahwa yang ia duga pemilik kamar itu sudah tertidur, dilihat dari lampunya yang sudah meredup alias sudah dimatikan.
"Aku Bodoh, kenapa aku memberitahukannya? Dasar Yuria". Celotehnya dengan kesal
* * *
>>Keesokan harinya<<
Bugghh bugghh bugghh sreeet
"Arrgggh".
"Haha, rasakan". Sergah Vio
"Sialan!". Umpat syahwa, ia baru bangun tidur dan bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, Di saat ia keluar ia ditahan oleh vio dengan beberapa kekuatan besar
>>Sebelumnya<<
"Kemana yuria? apakah dia tidak jadi menginap?". Sarkas vio melihat Yuria tidak ada diruangannya bahkan ia mencarinya tidak ada
~Yu, kau Dimana?
__ADS_1
~Sudah kembali keruanganku, aku tidak jadi menginap maaf vi. Aku mau tidur dulu, lelah banget seharian ini. Byee.
"Ck, dasar menyebalkan".
Diapun berpikir untuk rencananya besok, Ia juga mengingat kata kata yuria yang membuatnya berpikir dan akhirnya ia punya ide
* * *
"Kau lihat itu, tangkap dia dan bawah dibangunan tua itu". Tukas vio menyuruh dua sosok berbadan kekar untuk menyeret paksa syahwa dia tidak mau gadis itu yang menurut
Pria itupun segera melaksanakan tugasnya, sementara Vio bersembunyi di semak semak. Ia puas dengan apa yang dikerjakan oleh dua orang itu, melihat syahwa yang terikat dengan erat dikayu lusuh juga dirinya yang tadi memiliki penampilan menarik malah terbalik, Acak acakkan.
Vio menyuruh kedua sosok itu untuk menunggu diluar, jika ada orang yang masuk segera memberitahunya, ia ingin menyiksa syahwa terlebih dahulu sekalian membunuhnya kalau ia bisa
Ia menghajar habis habisan gadis itu, sampai gadis itu terkulai badannya lemas, Namun dalam hatinya ia sangat marah bahkan ingin mencincang cincang badan vio lalu merebusnya bagusnya lagi kalau ia mengirim daging itu kerumah keluarganya sebagai hadiah yang terbaik karena berani mengusik dirinya
>>Selesai<<
Vio masih menghajar syahwa bahkan ia tak segan segan menampar wajah gadis itu, Wajah gadis itu dipenuhi lebam bekas tonjokkan vio, tiba tiba ia tersenyum penuh arti
"Bagaimana kalau aku memotretmu? Pasti sangat menyenangkan baiklah aku akan melakukannya, jangan lupa tersenyum". Ucap Vio Memegang ponselnya mengarahkan kamera kewajah syahwa
Berkali kali ia kesal karena syahwa mengabaikan dirinya, ia pun menampar wajah syahwa lagi, Syahwa mengikuti instruksi dari gadis itu bukan senyum manis tapi senyuman sinis
"Nah begitu dong aku menyukainya, hahaha".
Cekrek, Cekrek, cekrekk
Sudah banyak foto selfie yang ia ambil ia rasa cukup, Ia memberikan sejenak dirinya jeda untuk menyiksa, Ia ingin melihat hasil jepretannya, dia tertawa terbahak bahak melihat syahwa yang didirinya seperti gembel
Melihat Vio yang sepertinya memberi jeda, tak ingin kehilangan waktu itu dengan segera ia memotong tali yang merekat di seluruh badannya, untunglah ia memakai cincin itu. Dia memotong tali itu menggunakan cincin pisaunya, dan tak lama ia pun terbebas
"Cih, kau lihat saja apa yang akan aku lakukan untukmu, sialan!". Gumam syahwa pelan berdecih sambil memaki dalam hati, ia melihat vio yang masih asyik dengan pisaunya ia melirik kearah pintu, untuk menjangkaunya tidak terlalu jauh dia melihat ruangan ini ia meneliti dan benar, ruangan ini kedap suara otomatis suara sekeras apapun tidak akan terdengar sampai keluar, kemarin ia memasukinya saat mencari Rainan
Iapun berjalan mengendap endap sambil meraih sebuah kunci yang menggantung dipintu
"Dasar ceroboh". Ucap syahwa menggelengkan kepala tapi terbit senyum devil di kedua bibirnya, ia meraih kunci itu lalu menyimpannya dengan aman
"Haha, aku rasa sudah cukup main mainnya baiklah gadis Bodoh kau_"
Degh
"Aku rasa ini hari terakhirmu diruangan ini Viola handayani". Cetus syahwa
* * *
__ADS_1
NEXT...