
"Ba..ba.. bagh.. gaimana mungkin?"
Syahwa yang mendengar tersenyum lebar
~Mangsa didepan mata. Batinnya ia teringat ucapan syahna dan Rahimahullah papanya
*Kalau kau bertemu musuh, maka gunakan 5 cara. Pertama, Buat dia ketakutan.
Kedua, Bila tidak bisa buat dia terprovokasi hingga dia menyerangmu kau hanya perlu menghindar dan mengulur waktu untuk menguras tenaganya dengan begitu dirinya tidak bisa lari lagi.
Ketiga, kurung dia ditempat yang pas misalnya ruangan yang kedap suara, yang tak terjamah.
Keempat, harus cerdik juga licik dan yang terakhir gunakan otakmu untuk berpikir*
Itu untuk musuh yang sepadan ataupun yang kuat. Lalu bagaimana dengan musuh yang masih dibawah? Yaa bermainlah dan berhati hati jangan sampai ia juga menggunakan otaknya untuk melakukan rencana licik.
Baiklah kembali ke topik..
Vio terkejut, menurutnya ia bermain ponsel hanya 10 menit, Ia melirik kearah kursi yang sudah lusuh itu mendapatkan tali yang sudah terpotong potong disana
Walaupun tadinya syahwa sangat lemas, tidak dengan sekarang dirinya sudah terbebas dari jeratan tali yang mengikatnya. Ingatlah, fisik syahwa itu kuat walau badannya seperti gadis pada umumnya
Glek
Sambil menelan ludah ia jalan mundur karena syahwa berjalan kearahnya dengan senyuman tak bisa ia tebak. Hanya 10 menit jeda rencana yang ia susun dengan rapi kini hancur berantakan dan yang terjadi sebaliknya syahwa lolos dengan mudahnya.
Ingin berteriak lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat hanya suara lirihan yang ia keluarkan. Ketakutan, tentu sorot mata syahwa berbeda, ia tidak pernah melihat tatapan itu apalagi senyuman yang membuatnya semakin takut. Percuma juga kalau hanya berteriak ia tau ruangan ini kedap suara
"Aaa.. Aap.. apa ya.. ngg...Kkkauu iiin.. Nginka..nnnn". Tanya vio tergagap sambil gugup, menyeka keringat yang membanjiri keningnya
"Tentu melakukan hal yang sama seperti kau lakukan padaku". Jawabnya santai memainkan cincinnya sambil mengubahnya ke bentuk pisau lalu kebentuk semulanya, melihat itu vio gemetar ketakutan
~Darimana ia mendapatkan pisau itu. Tunggu, dicincin itu simbol yang tidak asing inisial DJ. Batin vio memperhatikan lambang yang berinisial DJ dan disampingnya sebuah gambar pedang tanda silang melingkar, ia familiar dengan simbol itu.
"Mafia? Simbol itu seperti milik mafia. Aku tidak mengenalnya tetapi aku pernah melihat simbol itu diruangan lab..Berarti_". Gumam Vio pelan ia menatap syahwa dalam diamnya membuat syahwa terkekeh
"Kau mafia?". Tanya vio memastikan
__ADS_1
"Yap, kau benar sekali".
"Kau taukan mafia itu buronan para TNI disini bahkan seluruh TNI yang ada dinegara ini?".
Syahwa hanya menanggapi dengan senyum sarkastik. Karena inilah ia menyembunyikan identitasnya, Para mafia buronan negara. Dengan penuh percaya diri vio mengulum senyum ia merencanakan sesuatu
"Kau berani mendekatiku, akan kuberitau para petinggi tentang identitasmu sebenarnya".Tukas vio dengan tenang
"Hahah, apa kau pernah melihat seorang mafia takut dengan ancaman?". Jawaban syahwa membuat vio terhenyak. Benar, mafia tidak pernah takut dengan ancaman apalagi hanya ancaman bodohnya itu.
Krak
Sebuah ponsel berbunyi dengan suara keretakkan, syahwa sengaja menghancurkannya agar tidak ada jejaknya ia membantingnya lalu mengambil kartu sim juga memorinya.
Selagi syahwa sibuk dengan ponselnya, Vio berlari menghindari syahwa, ia memegang handle pintu dia membukanya sekuat tenaga namun sayangnya terkunci. Kedua gadis itu terkurung didalam ruangan yang kedap itu
Tatapan wajahnya berubah memucat, Ia sangat takut kali ini. Ia mengingat perkataan yuria kini ia menyadarinya. Seharusnya ia mengikuti apa yang yuria katakan, pikirnya
"Karena kebodohanku, aku mengusik seseorang yang bahkan tidak pernah mengusikku. Ah aku rasa ini akhir dari segalanya". Gumamnya pelan
"Yah kau benar, karena kau sudah tau identitasku maka tak kubiarkan kau lari dari ku lagi, gadis ceroboh waktunya MATI". Cetus syahwa senyuman devil terbit dari bibirnya
"Hmmm". Syahwa mengambil tubuh vio lalu mendudukkannya disana, vio hanya bisa pasrah
Plak
Plak
Plak
Bughh
"Tadi kau melakukan itu padaku bukan?". Ia menyeringai, Beberapa tamparan mengenai pipinya yang mulus, juga bogem yang dilancarkan syahwa
"Aku janji tidak akan membocorkan identitasmu". Ia masih berbicara
"Heh, kau pikir aku percaya? Jika aku memaafkan mu hari ini bisa saja kau tidak tahan dengan mulutmu yang suka bergosip itu dan akhirnya identitasku terbongkar". Ucapnya dengan sinis
__ADS_1
Vio hanya bisa menggelengkan kepala, ia sudah pasrah dengan apa yang akan syahwa lakukan
"Baiklah, pertama kita buat apa ya dagingmu, Wah dagingmu mulus sekali rasanya bagaimana? apakah selezat buah delima? Pasti lezat sekali". Ucapan itu membuat vio bergidik ngeri
~Apa yang akan dia lakukan. Kenapa ucapannya seperti...
"Aaaaaakkkkkh".
"Sakit? Ah masa sih coba kuulangi"
"Aaaaakkkhh, aaa.. saa..kkit". Rintihnya, Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya
"Hanya goresan kecil kau merintih? Aku tidak pernah melihat musuh sepertimu. Mudah menangis".
~Dia psikopat berdarah dingin, tak kenal ampun dengan musuhnya, aku....
"Ooh, bagaimana kalau setelah ini aku memotong motongmu dengan menjadi daging daging kecil, Aaah pasti menyenangkan bola matamu sangat cantik aku akan membuatnya menjadi lebih menarik. Memasak dagingmu lalu memberikan kepada orang tuamu. Pasti mereka sangat bahagia bukan? memakan daging anaknya sendiri".
"Sebelum Membunuhku perlu aku beritahu, Alasan diriku Membunuhku tentu banyak. Walaupun kau sudah meminta maaf. Kau tau, aku sudah muak dengan kerjaanmu itu sebagai perundung. Kau menyiksa teman temanmu yang tidak bersalah, kau juga pernah berkhianat padaku yah waktu itu masih aku maafkan..
Kau selalu saja menggangguku padahal kau tau aku tidak suka diusik, aku pernah bilang padamu kerjakan urusanmu dan jangan pernah menggangguku. Kau memasuki kandang yang salah. Kau pikir aku tidak tau persengkokolanmu dengan geng Bodoh yang sudah mati itu? Dasar Bodoh".
"MATILAH".
Ia melakukan apa yang dia mau, menguliti gadis itu dengan perlahan, Singkat saja ia ingin musuhnya mengalami kematian dengan cara perlahan lahan. Lalu mencongkel satu matanya. Darah perlahan lahan membanjiri ruangan itu.
Syahwa membunuh menggunakan Kaos tangan dan juga mantel agar setelah ia melakukannya ia menghilangkan jejaknya setelah membunuh dengan begitu ia selamat.
"Ah membosankan". Keluhnya, pasalnya suara vio sudah tidak merintih lagi. Iapun segera membereskan semuanya lalu menelfon Glenn meminta agar mengirimkan seseorang untuk datang kebangunan tua itu secara sembunyi sembunyi.
"Seperti biasa lakukan semuanya". Ucapnya melalui sambungan telfon tak lupa ia meminta agar dibelikan baju yang sama ia pakai hari ini, walau tidak bercak darah namun ada sidik jari milik vio disana
Syahwa tau semuanya, Glenn dan beberapa anak buahnya ditugaskan untuk menjaganya dikota ini. Jadi, ketika dia sedang melakukan sesuatu dan butuh bantuan cukup meminta bantuan kepada anak buah papanya
Selesai menutup panggilan , syahwa terdiam ditempatnya meneliti mayat yang ia bunuh. Ia merasa puas sekarang. Sambil menunggu Glenn dan lainnya ia memainkan ponselnya
"Nona muda pasti membunuh lagi". Ucap fani, Glenn menanggapi ucapannya dengan anggukkan seperti yang ia duga
__ADS_1
* * *
NEXT....