
#4
"Bagaimana? Gimana kondisi istri saya?". Tukas feras khawatir
"Tu..tu..tua..nn, Nyonya be..sar_"
"Bicara yang benar! Jangan membuatku emosi". Ucap feras Dengan nada tingginya
Mendengar sang papa berbicara seperti orang teriak Syahna dan syahwa pun terkejut dan dengan sigap segera berlari kekamar papanya
"SIAP! NYONYA TELAH MATI TERTEMBAK!".Ceplos Rio tanpa sadar, dengan perlahan dia pun menyadari ucapannya dan segera bergetar hebat ditempatnya
"APA! TIDAK MUNGKIN!".Jerit syahna dan syahwa histeris mendengar Suara dari ponsel milik feras, sementara feras terjatuh Shock dengan keadaan yang menimpanya sekarang, dia terdiam tak mampu berbicara sekarang, istri yang begitu sangat dicintainya mati ditangan musuh, pandangannya seketika kabur dan gelap.
"Pah, bangun pah". Jerit syahwa menangis pilu
***
Selagi menunggu dokter memeriksa sang papa tercinta Kedua gadis kembar itu sedari tadi bolak balik didepan ruangan menunggu kabar entah dari sang dokter maupun sang anak buah papa.
Ceklek
Melihat pintu terbuka syahwa segera berlari kecil ke arah dokter sambil menangis
"Dok, gimana keadaan papa saya?". Ujar syahwa terhenyak masih mengeluarkan air matanya sementara syahna tertunduk dan diam saja yang artinya dia menangis tapi menangis dalam diamnya, dia bukan tipe orang yang cengeng dan manja seperti syahwa, untuk menangis pun dia harus menyembunyikannya dari semua orang. katanya menangis didepan umum terlalu menyebalkan untuknya, menangis didepan umum layaknya mempermalukan diri sendiri itu hanya diperuntukkan bagi seorang anak kecil yang menginginkan permen.
Walaupun dia menangis dalam diamnya tapi tanpa sadar air matanya jatuh lolos mengenai wajah cantiknya yang sekarang menjadi tatapan sendu dari sang pemilik wajah.
"Tuan feras mengalami shock berat, beliau dalam keadaan koma, butuh waktu untuk pulih kembali dan itu hanya memiliki peluang menipis kita hanya bisa berharap kepada yang menakdirkan agar diberi keajaiban, Detak jantung sangat lemah bagi pasien, harap jika ingin mejenguk mohon untuk satu persatu orang saja karena jika kelebihan bisa mengganggu perkembangan pasien atau tidak perlu masuk jika memang ingin pasien cepat pulih kembali". Ucap sang dokter dengan hormat seraya pergi meninggalkan kedua gadis kembar yang tengah meratapi takdir dari sang maha kuasa
***
"Ya Bagaimana apa sudah ditemukan?". Tukas syahna dengan nada beratnya
__ADS_1
"Ya, Jenazahnya sudah kami temukan putri kami akan segera mengantarkannya kerumah besar". Jawab Rio dengan memelas
"Ok". Sarkasnya dengan bergetar lalu mematikan sambungan telfonnya
Sejenak merenung dan memperhatikan kegiatan sang kakak yang ternyata sedang melamun, berpikir untuk memberi tau namun melihat kondisi sang kakak membuatnya meringis kasihan. Sebegitu jeleknya kah wajahnya sekarang sehingga mandipun belum dilakukannya, dia pun menghampiri syahwa.
"Kak_". ucap syahna pelan sambil menepuk bahu kakaknya
syahwa hanya menoleh
"jenazah Mama......sudah ditemukan". Tukasnya
"Na, kakak gak sekuat kamu, kakak gak bisa dengan kondisi seperti ini, papa sakit dan mama tiada aku rasa hidupku hampa Ruanganku kosong tiada lagi yang mengisi hari hariku, tujuan hidupku tidak ada dan hilang, kakak gak sanggup lihat mama terbaring kaku disana kuatkan aku". ucapnya bergetar
"Kak..., bukan hanya kakak yang kehilangan tapi aku juga, sakit kak, sakiiit sekali bahkan aku rasanya gak ingin hidup lagi tapi otakku masih bisa berjalan dengan waras, ini semua sudah diatur sama yang diatas tugas kita hanya bisa menerima, sabar kak kita sama sama menghadapi ini gak ada gunanya untuk ditangisi, kita masih punya papa kita harus kuat dan menyemangati papa agar cepat pulih dan , ingat! kita masih punya rencana yang belum dimainkan". Ujar syahna mengeluarkan air matanya
syahwa pun menghapus air matanya, dia mengangguk mengerti
Belum selesai berucap syahna mendapat pesan dari Rio
~Putri muda, jenazah nyonya besar sudah sampai dikediaman rumah besar. Isi pesan tersebut
"Sudah ada dirumah".kata syahna Sendu
Syahwa pun mengangguk dan berdiri seraya berjalan keruang dimana feras di rawat
"Pah, Syahwa sama syahna pergi dulu yah mau ketemu mama, sehat ya pah, aku merindukanmu". Ucapnya sedih mengeluarkan air mata kemudian menghapusnya kembali
"Ayo Na". Ucapnya
syahna pun mengangguk lalu keluar bersama menuju ke kediamannya
***
__ADS_1
"Dimana mama?" tanya syahna
Mereka sudah sampai ternyata syahwa masih ragu untuk memasuki halaman rumahnya
"Didalam putri muda". Ucap Rio tertunduk melihat wajah Putri mudanya yang pura pura tegar padahal terlihat kalau dia tanpa sadar mengeluarkan air mata
"Kak, ayo". Sarkasnya
Akhirnya diapun memberanikan diri untuk masuk, beberapa kali meyakinkan diri bahwa semuanya baik baik saja beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya tetap saja dia grogi. Dia pun berusaha tersenyum tapi melihat senyuman itu semua yang ada dirumah semakin sedih dan menatap sendu kearah sikembar. keduanya pun sudah berhadapan dengan jenazah mama tercinta, melihat itu Rio menyuruh semua yang berada didalam runah segera keluar sikembar butuh waktu untuk saat ini. melihat semua orang sudah tidak ada keduanya saling pandang dan akhirnya menangis pilu.
"MAMA!". Teriak keduanya menangis histeris
"Maafin syahwa mah, yang gak bisa menyelamatkan mama". Ucap syahwa tersedu sedu
"Maafin Na Mah, akibat kecerobohanku mama gak bisa kupikirkan terlebih dahulu_". Tukasnya menangis pilu dengan tatapan sendu
Mereka berdua menangis tanpa bicara sekarang masing masing dengan pikirannya. dan akhirnya syahna pun sadar tidak baik jenazah dibiarkan berlama lama apalagi meninggalnya dua hari yang lalu dan jenazah harus segera dimakamkan, Diapun segera keluar dan meminta Rio agar sang mama harus dimakamkan, Rio pun sudah mengatakan bahwa pemakaman sudah siap itu berarti sang mama sudah siap dikebumikan
Manusia diciptakan dari tanah dikembalikan pula dengan tanah begitu pikiran syahwa dan akhirnya ikhlas tanpa ikhlas ini harus dilakukan
***
Kini tidak ada lagi Air mata yang keluar dari mata milik sikembar, Susah payah untuk mengikhlaskan dan akhirnya pun tetap gak bisa dan hanya bisa pasrah, mereka hanya menatap batu nisan yang bertuliskan nama Viviani Sarasvti dan akhirnya mereka kembali kerumah sejenak untuk membersihkan diri dan kembali kerumah sakit bayangkara sekedar melihat perkembangan Papa feras.
"Pah, Mama udah pergi...Syahwa berharap papa nggak ninggalin aku lagi yah, aku butuh papa..". Gumamnya pelan, Susah payah dia menahan agar air matanya tak keluar tapi memang bandel keluar pun jadinya, dia tak menghiraukan lagi air matanya dia sudah capek dan tak semangat, sementara syahna diam saja menatao kearah kakaknya sambil sesekali memainkan ponselnya, ternyata dia sedang merencanakan sesuatu
~Siap! semua sudah dilakukan, anda bisa masuk tanpa harus lewat seleksi. Isi pesan seorang mata mata Syahna
Diapun menutup ponselnya dan menyimpannya kembali, dia melirik kearah jam tangannya, sudah saatnya untuk pulang.
>>Bersambung...
Note : Sad end, kalau gak mau kesel dan kecewa nggak usah baca yah :')
__ADS_1