
#33
"Uppss maaf, aku lupa mulutmu dilakban bentar aku bukain dulu ya". Ucap orang itu berjalan kearahnya
Rainan menatap wajah sosok itu dengan tajam, apa maunya? pikirnya.
"Hiii jangan menatapku seperti itu, menyebalkan sekali!". Ucapnya sambil berdecak kesal
"Kau!"
Usai membuka lakban yang menempel di mulut pria itu ia pun berjalan ketempatnya kembali
"Apa yang kau inginkan?". Tanya Rainan dengan kesal, dia mengenal baik sosok dihadapannya yang menatapnya dengan santai
"Apa yang ku inginkan? Haha, tentu itu rahasia kak Rai. Mana mungkin kuberitahu nanti kau membocorkannya aku ketahuan deh. Nanti gak seru!". Tukasnya
"Cih, kau selalu saja begitu". Cetusnya seraya berpaling membuang muka membuat orang itu mengulum senyum penuh arti
~Cih, apa apaan senyum itu. Batinnya berkata saat manik matanya menangkap senyuman yang membuatnya selalu tidak bisa menebak
"Kau masih takut dengan phobia mu kan, aku tau itu. Tapi, kenapa kau bisa masuk dibangunan tua ini?
"Oh iya, tadi aku sempat melihatmu masuk bersama seorang gadis,tidak kusangka kau cukup mampu bertahan bersama gadis itu ditempat ini. Kau... "
"Tidak". Jawab Rainan cepat
"Hahaha, sudah kuduga. Berhenti menyela, matamu tidak bisa membohongiku".
"Ya ya ya ya, tapi bisakah kau melepaskan ku dulu? kau membuatku sulit bergerak".Tukas Rainan kesal
"Oke bentar". Jawabnya
* * *
Disisi lain syahwa masih mencari rainan yang sedang mengobrol santai dengan sosok yang dikenalnya hingga melupakan gadisnya. Dirinya lelah berjalan berjam jam, kakinya keram keringat membasahi tubuhnya. Memilih untuk beristirahat sejenak.
"Kak Rai kau dimana?". Gumamnya pelan, ia menyeka keringat yang membasahi dahinya
Nampak ia menyadari sesuatu
"Ish, kenapa gak daritadi sih!". Kesalnya
Iapun meraih ponselnya. Saking panik dan khawatir dirinya lupa dengan alat canggih itu. Bahkan merutuki kebodohannya karena tidak bisa berpikir jernih saat itu.
~Kak Rai, kau dimana?
~Apa kau kembali tanpa pamit dariku? kenapa tidak mengatakannya padaku?
~Aku lelah, khawatir bisakah jawab pesanku?
~Sekali saja, aku tidak tau kau dimana bahkan jalan pulang aku tidak tau
~Sepertinya aku tersesat
__ADS_1
Pesan itu masuk di ponsel milik Rainan, namun sayangnya ponselnya dalam mode silent jadi tidak mendengar apapun ketika kotak pesan atau panggilan masuk. Beberapa kali syahwa mencoba menelfon tapi sayangnya tidak ada jawaban walaupun menunjukkan ponsel itu sedang aktif
Walaupun tidak ada jawaban ia tetap memaksakan terus menerus untuk menelfon mungkin saja pria itu sedang melakukan sesuatu hingga tersibukkan
atau jangan jangan..
"Apa mungkin ponselnya jatuh? Aarrrrgggh mengapa dia semenyebalkan begini sih". Celotehnya pelan dengan kesal ia benar benar frustasi saat ini
Tak lama ia mulai putus asa, puluhan kali ia memanggil nomor pria itu tetapi tetap sama, tidak diangkat. sebuah tangan terulur dihadapannya, membuat matanya mau tak mau menatap wajah sosok yang sedang mengulurkan tangannya itu
Deggh!
Diaaa....
* * *
"Udah berapa lama kau disini". Tanya Rainan
"Gak perlu tau"
"Ck, menyebalkan". Ketusnya kesal
"Aku datang di hari kemarin". Jawabnya
"Ee-eh?". Sarkasnya kaget
~Tadi ditanya tidak menjawab, lah aku tidak ingin tau dia menjawab apa apaan.
Sosok itu tersenyum lebar ia nampak memikirkan sesuatu, hanya dia yang tau, dirinya punya sesuatu yang menarik. Suatu saat nanti ia akan menunjukkannya kepada pria dihadapannya. Ia mengulum senyum lagi
"Kau tidak sakitkan?". Tanya Rainan
"Tentu tidak kau lihat aku sehat bugar begini".
"Ah kau kenapa senyum senyum terus? Apakah ada yang lucu? atau kau..."
"Bodoh, aku normal mana ada aku gak waras cih". Cetus sosok itu dengan kesal
Rainan menanggapi ucapannya hanya dengan tatapan malas. Dirinya malas berdebat dengan sosok yang menyebalkan itu. Karena bosan, ia mencoba mencari sesuatu yang menarik hingga ia teringat sesuatu...
"SYAHWA! Sial, mengapa aku melupakannya? bagaimana aku bisa seceroboh ini". Kesalnya yang hendak berdiri
"Mau kemana?". Tanya sosok itu, sebenarnya ia tau apa yang diucapkan oleh rainan, bahkan suaranya tidak pelan apalagi saat menyebut nama syahwa, tapi ia berpura pura tidak tau saja.
"Tentu mencari gadisku". Ucapnya sambil melangkah keluar ruangan
"Kau yakin?". Tanya sosok itu sambil berkacak pinggang menarik turunkan alisnya
"Yakin".Jawabnya
"Kau ingat phobiamu bukan? kau yakin sendirian kesana? Lagipula kau tidak memiliki denah itu bahkan kau pertama kalinya masuk kebangunan tua ini hanya karena menghibur gadis bodoh itu". Tukasnya membuat Rainan menatapnya nyalang
"Sialan, kau yang bodoh jangan katakan apapun tentang gadisku atau lidahmu kupotong potong menjadi sepuluh bagian lalu ku bagikan kepada anjing peliharaan markas ini".Ucapnya dengan marah
__ADS_1
"Dasar bodoh, Kau pikir aku takut dengan ancaman sialanmu itu. Aku juga bisa melakukan hal yang sama atau bahkan aku lakukan yang lebih sadis lagi. Mau aku potong potong juniormu agar kau tak punya keturunan saat menikah? Hah!". Ucapnya senyuman jahat tercipta dikedua bibirnya
Mendengar itu, Rainan gelagapan ia segera menutupi area terlarangnya, takut sosok itu benar benar melakukannya, pasalnya tadi ia hanya menggertak tapi ucapannya sepenuhnya benar ia memang tidak menyukai seseorang yang menjelek jelekkan gadis kecilnya, tak akan ia biarkan meskipun itu teman temannya.
"akhh, berdebat denganmu tidak ada menangnya. Aku pergi dulu byee". Ucapnya sambil melambaikan tangannya
"Dasar Bodoh, Bagaimana kalau yang kau cari justru meninggalkanmu dan yang kau dapat kuntilanak yang sedang melahirkan. Kau mau dijadikan suami olehnya?".Teriaknua keras membuat Rainan menghentikan langkahnya
Mendengar kata kuntilanak dirinya merinding. Iapun berbalik arah kembali lagi keruangan itu dimana sosok itu masih berdiri menatapnya dengan senyuman mengejek
"Emang ada kuntilanak yang mau suaminya manusia? ". Tanyanya penuh selidik
"Yah, bisa saja sih coba aja kalau mau".Jawabnya
"Aissh, tapi bagaimana dengan syahwa". tanyanya lagi, pikirannya kalut, mau mencari syahwa takut tidak mencari membuatnya khawatir
"Kau pikir aku mau membantumu, cih tidak akan".Ucapnya membuat Rainan hanya pasrah
~Kalau tidak dilawan yah sampai kapan mau maju, Ayo semangat Rainan cari gadismu jangan sampai ia mengkhawatirkan dirimu atau sebaliknya kau yang mengkhawatirkannya.
~Baiklah, Aku akan mencoba. Bismillah
"Aku akan tetap mencarinya kalau kau tidak mau ikut. Soal phobiaku aku tidak masalah dari awal aku pertama masuk kesini kan untuk melawannya, Lagipun kalau ketakutan itu tidak dilawan nanti semakin memburuk jadi baiknya aku akan berlatih, sampai aku benar benar terbiasa". ucapnya Meninggalkan sosok yang memperingatkannya tentang bangunan yang seperti labirin ini tapi tak dihiraukannya
"Dasar sama sama bodoh, cocok sebagai sepasang kekasih". Cetusnya dengan sinis
* * *
Lama Rainan berjalan tidak ada sesuatu apapun mengganggunya. Ia teringat sesuatu, Ya mengecek ponselnya mungkin saja syahwa tadi menelfonnya atau mengirim pesan. Benar saja yang dipikirkannya ada beberapa pesan masuk dan puluhan panggilan masuk ke ponselnya yang tidak ia jawab karena di silent
"Sial". Umpatnya
Bagaimana tidak kesal, pasti saat ini gadis itu mencarinya dan sekarang tersesat dikarenakan dirinya. Dan tadi ia dengan sampainya menikmati dikirimnya ia diruangan itu sampai sampai ia bertemu sosok itu melupakan gadisnya. Apa....
"Sebenarnya tujuan dia menculikku untuk apa? kok aku bisa terlewatkan masalah ini. Benar benar ceroboh". Ucapnya dengan kesal
Iapun menelfon syahwa, dan tak lama menyambung diponsel gadis itu. Sementara syahwa yang tengah duduk diruangan bersama seseorang merasakan getaran ponselnya segera meraihnya dan segera membaca nama pemanggil
Kak Hero memanggil....
"Ah syukurlah, dia menelfonku".
"Siapa?". Tanyanya
"Kak Hero". Ucapnya tanpa sadar menyebut nama sahabat kecilnya
"Hero?". Ulangnya
Syahwa tak menanggapinya melainkan mengangkat telfon itu
"KAK RAINAN!".Teriak syahwa dengan keras
* * *
__ADS_1
NEXT..?