CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 31. Pindah Kembali


__ADS_3

Dan malam itu juga, Beny menyuruh asistennya untuk melakukan suatu hal dan setelah itu dia tidur sembari memeluk istrinya dengan tenang.


Keesokan paginya, Riana meminta ijin suaminya untuk kembali bekerja lagi.


"Aku ingin bekerja lagi sayang, boleh ya?" ucap Riana yang kini sarapan bersama sang suami.


Sedangkan Beny telah rapi dengan setelan kerjanya. Satu Minggu penuh dia tidak ke perusahaan sama sekali hanya karena ingin menjaga istrinya di rumah sakit. Sekarang dia sudah bisa kembali bekerja dan membantu pekerjaan adiknya yang tengah berada di China menggantikan posisi papanya.


"Tidak bisakah kamu berdiam diri dirumah sebentar sayang? Tunggulah beberapa bulan lagi setelah bayi kita lahir kamu bisa bekerja lagi!" protes Beny.


"Aku bosan di apartemen terus sayang, aku pengen ke kantor, walau bagaimanapun aku seorang CEO, tidak mungkin semua urusan Dimas yang menghandle."


"Baiklah kalau kamu terus memaksa, aku akan mengantarmu dan menyuruh beberapa bodyguard menemanimu kemanapun kamu berada. Ingat jangan pergi ke tempat umum tanpa aku! Arletta masih ada di luar sedang dalam pencarian polisi, aku tidak mau dia berbuat nekat padamu." ucap Beny penuh kekhawatiran.


"Kamu tenang aja sayang! Shella asistenku jago bela diri, dia pemegang sabuk hitam. Dia yang akan selalu bersamaku dan menemaniku kemanapun aku berada."


"Tapi tetap saja setiap kamu pergi ke tempat umum harus bersamaku!" pinta Beny.


"Baiklah sayang,"


Beberapa menit kemudian setelah mereka telah rapi dan menyelesaikan sarapan mereka, lalu mereka pun berangkat ke kantor dengan di jaga beberapa pengawal bayangan dari pihak Beny maupun pihak Reyhan. Bagi kedua pria itu, keselamatan Riana menjadi prioritas mereka saat ini.


***


Keesokan paginya, Riana dan Beny mengunjungi Bu Gendhis yang masih koma di rumah sakit sebelum keduanya berangkat ke perusahaan mereka masing-masing.


Riana terus mengajak ngobrol mama mertuanya dan sesekali mengusapkan tangan mama mertuanya ke perut buncitnya.


"Mami, lihatlah cucu mami sedang bergerak sangat aktif. Sepertinya dia tak sabar ingin bermain bersama mami, mami sayang bangunlah mami. Kami semua sangat menyayangi mami," ucap Riana menahan airmatanya sekuat tenaga tetapi dia tak mampu menahannya lagi dan segera berlari menuju kamar mandi untuk meluapkan tangisannya.


Dia tidak ingin menangis di depan mama mertuanya.


Hati Pak Chandra menghangat mendengar ucapan menantunya, sedangkan Beny segera masuk ke kamar mandi untuk mengejar sang istri.


Tanpa ada kata-kata Beny membawa sang istri ke dalam pelukannya dan keduanya pun menangis dalam diam.


"Terimakasih sayang! Kamu wanita paling tulus yang pernah ada dalam hidupku, aku sangat mencintaimu." ucap Beny lalu mencium seluruh wajah istrinya dengan penuh cinta.


Saat keduanya sudah bisa mengendalikan perasaan mereka, keduanya pun keluar dari kamar mandi dan memasang senyuman manis kembali.


"Tok! Tok!"


Salah satu bodyguard Pak Chandra mengetuk pintu ruangan Bu Gendhis.


"Masuk!"


"Ceklek!"


"Ada apa?" tanya Pak Chandra pada bodyguardnya.

__ADS_1


"Pak Hasan asisten Tuan muda ingin bertemu dengan Tuan muda, Tuan Besar!" ucap bodyguard itu.


"Hm, suruh dia masuk!"


"Baik Tuan Besar,"


Sedangkan Beny dan Riana hanya terdiam, dia memang yang menyuruh Hasan ke rumah sakit untuk menyusulnya.


Tak disangka Hasan tengah membawa seorang wanita dan seorang anak kecil yang berusia sekitar 3,5 tahun.


Mata Ardy berbinar bahagia saat melihat Beny, sang paman kesayangan, dia ingin mendekat dan memeluk pria yang sangat dirindukannya itu, tapi ibunya memegang erat tangan Ardy seolah memberi kode agar Ardy tidak bergerak.


Alfi hanya merasa sangat trauma, dia takut Pak Chandra akan menolak kehadirannya dan merebut putranya. Tadinya dia tidak ingin ikut bersama Hasan tapi Hasan meyakinkan jika Beny yang akan bertanggungjawab atas dirinya dan tidak membiarkan siapapun merebut putranya.


"Siapa di?" tanya Pak Chandra mengerutkan keningnya.


Pak Chandra tampak tak asing melihat wanita itu dan anak kecil yang ada disamping wanita itu sangat mirip dengan putra pertama. Dan dia bisa menebak jika wanita yang bersama Hasan itu adalah mantan kekasih putranya. Wanita yang menjadi korban dari keegoisan istri tercintanya.


"Pi, dia Alfi yang kemarin aku ceritakan dan disampingnya itu adalah Ardy putra kandung Kak Bisma." sahut Beny.


"Benar dia cucuku Ben?" ucap Pak Chandra dengan suara bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.


Rasa bersalahnya pada sang putra sangat besar, dia berharap dengan memberikan semua kasih sayang pada cucunya bisa menebus semua perlakuan istrinya pada mereka di masa lampau.


"Ardy, cucuku! Kemarilah nak! Peluk Opa!" ucap Pak Chandra merentang tangannya.


Tanpa banyak bicara lagi, Ardy mendesak dan memeluk kakeknya dengan erat.


"Opa!"


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah sudah mempertemukan kami," Pak Chandra meneteskan airmatanya, kerinduannya akan sang putra telah terobati dengan memeluk cucunya.


Selama ini dia jarang pulang ke Indonesia karena dia masih mengingat terus sang putra, dia sama seperti Beny tidak bisa melupakan kepergian Bisma. Tapi kesedihannya dia tutupi di depan istri maupun anak-anaknya yang lain.


"Ardy cucuku sayang, Opa sangat merindukanmu nak, apa Ardy tidak merindukan Opa dan Oma?" tanya Pak Chandra saat melonggarkan pelukannya.


"Aku rindu Opa dan Oma," ucap Ardy tersenyum manis.


Anak kecil itu tidak tahu apa-apa tentang masalah orangtuanya, yang dia rasakan hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan seluruh keluarganya sama seperti teman-temannya yang lain.


"Apa kamu senang bertemu kami nak?"


"Sangat senang Opa, aku senang akhirnya aku bisa seperti Bagus yang punya Oma dan Opa. Tapi aku tidak punya papa seperti bagus, karena kata mama, papaku sudah di surga Opa." celoteh Ardy.


Bagus adalah teman seusia Ardy yang sama-sama tinggal di Bali dan satu kampung dengannya.


Hati Pak Chandra, Beny dan lainnya terasa perih seperti diiris, seharusnya anak sekecil itu bisa merasakan kasih sayang papanya tapi karena keegoisan Bu Gendhis, Ardy kehilangan sosok ayahnya.


"Jangan khawatir jagoan! Mulai sekarang Om Beny dan Tante Riana akan jadi Ayah Dan Bunda kedua buat kamu, kamu tidak akan kekurangan kasih sayang lagi ya nak!" ucap Riana mengelus pipi keponakan tampannya.

__ADS_1


Ardy berbinar bahagia dan Beny memeluk keponakannya penuh sayang.


"Sekarang panggil Om Beny dengan Ayah Beny ya dan panggil Tante Ria dengan Bunda Ria, bagaimana jagoan?" ucap Beny menatap sendu wajah sang keponakan.


"Baiklah Ayah Beny, Bunda Ria," ucap Ardy tersenyum manis.


Dulu dia diremehkan anak-anak yang lain karena tidak memiliki keluarga, tapi kini dia sangat senang berada ditengah-tengah orang yang sangat menyayanginya.


"Alfi duduklah aku ingin bicara padamu! Hasan tolong ajak Ardy keluar ke kantin sebentar!" pinta Pak Chandra.


"Baik Tuan Besar!"


Dengan mudahnya Hasan membawa Ardy keluar, dan terlihat bocah laki-laki itu sangat nyaman bersama Hasan.


"Alfi, sebelumnya aku minta maaf atas semua kelakuan istriku padamu. Maaf karena dia telah merenggut semua kebahagiaanmu dan kebahagiaan cucuku. Aku mohon bersedialah tinggal bersama kami agar kami bisa menebus semua kesalahan kami!" ucap Pak Chandra lalu tiba-tiba dia berlutut di hadapan Alfi.


Beny, Riana dan Alfi pun terkejut melihat Pak Chandra yang tiba-tiba berlutut di hadapan Alfi, Beny bangga pada papanya. Papanya bahkan tak malu meminta maaf dan berlutut pada mantan kekasih kakaknya itu.


"Tu.. tuan.. Jangan seperti ini! Anda tidak pantas berlutut dihadapan wanita miskin seperti saya," ucap Alfi yang ikut duduk di bawah.


"Tidak nak, kami orang tua selalu mementingkan keegoisan kami tanpa memikirkan kebahagiaan kalian, tapi kini kamu sadar di dunia ini tidak ada yang penting selain sebuah kebersamaan. Aku mohon ijinkan kami membahagiakan kamu dan cucu kami, anggap kamu sebagai orangtuamu juga," ucap Pak Chandra dengan tatapan sendu.


Sedangkan Alfi mulai meneteskan airmatanya, dia tidak menyangka pria bersahaja ini rela berlutut untuk membuatnya dan sang putra bahagia, dia sangat terharu dan bersyukur dalam hati. Setelah segala kesusahan yang bertahun-tahun dia alami, sekarang semua orang menghujaninya dan putranya dengan kasih sayang yang berlimpah. Lalu untuk apa dia menolaknya lagi? Begitu pikirnya.


"Baik Tuan, kami akan tinggal bersama kalian disini. Agar Ardy juga lebih dekat dengan kalian semua, aku mohon anda berdiri,"


Pak Chandra berdiri dan Alfi pun berdiri, Pak Chandra memeluk Alfi layaknya seperti anak perempuannya sendiri.


"Mulai saat ini, panggil aku papi juga ya! Sampai kapanpun kami adalah keluargamu," ucap Pak Chandra memandang teduh wajah Alfi.


"Baik Pi, terimakasih banyak." Alfi tersenyum manis dan Pak Chandra pun mengangguk.


Sedangkan Beny dan Riana merasa sangat lega, dia berharap kelak mamanya juga menerima keduanya dengan bahagia sama seperti sang papa.


"Alfi, kamu akan pulang ke mansion papi bersama Ardy setelah kamu selesai menjenguk mami, nanti Hasan yang akan mengantarkanmu. Kami akan berangkat bekerja dulu, nanti sore kami akan mengunjungi kalian di mansion," ucap Beny pada Alfi.


"Baik Kak Ben, terimakasih." ucap Alfi dan Beny mengangguk.


"Kenapa kalian tidak pulang saja ke Mansion?" tanya Pak Chandra pada Beny.


Beny melirik ke arah istrinya dan Riana malah tersenyum lembut.


"Aku hanya ingin istriku merasa nyaman aja Pi, aku rasa istriku lebih nyaman berada di apartemenku," ucap Beny ragu-ragu.


Pak Chandra membalasnya dengan anggukan tanda dia mengerti, dia bisa menebak jika Beny takut Riana trauma tinggal di mansionnya.


"Aku tidak keberatan kita pindah ke Mansion lagi sayang, aku senang ada teman ngobrol dan pasti lebih menyenangkan jika bercanda bersama Ardy," ucap Riana dan membuat Beny sedikit terkejut.


"Apa kamu serius sayang?" tanya Beny berbinar bahagia.

__ADS_1


__ADS_2