
Keesokan paginya, Riana telah cantik memakai kebaya putihnya dengan memakai hiasan ala pengantin Sunda, karena dia sendiri memang berdarah Jawa-Sunda. Hiasan itu terasa pas di wajahnya yang imut sehingga membuatnya semakin cantik dan tak bosan untuk dipandang.
Setelah semua persiapan sudah selesai, saat jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, pengantin pria dan keluarga pun telah datang. Hati kedua mempelai pengantin itu pun berdebar kencang luar biasa.
Pak Prabu, Erlangga dan keluarga mereka menyambut kedatangan pengantin pria beserta rombongan dengan senyuman bahagianya. Pak Prabu memeluk Pak Chandra dan Bu Gendhis sekilas, begitu juga Bu Helena.
Erlangga pun juga memeluk Beny, menepuk bahunya sekilas dan membisikkan sesuatu.
"Jangan grogi lu! Inget itu nama Riana sama almarhum bapaknya, jangan sampai salah sebut nama wanita lain, bisa bahaya nanti!" goda Erlangga terkekeh pelan.
Beny merasa dejavu mendengar godaan Erlangga, dia juga pernah menggoda sepupunya itu dan kini dia pun merasakan bagaimana gugupnya saat akan mengucapkan ijab qobul di depan banyak orang.
"Anjr**, balas dendam kamu bang!" ucap Beny dengan sedikit gelisah sedangkan Erlangga semakin terkekeh.
"Syukurin kamu, grogi kan?! Awas jangan kencing dicelana!" bisik Pakde Prabu menggoda keponakannya dan ikut terkekeh.
"Anak karo bapake podo wae!" ucap Beny dengan bahasa jawanya selanjutnya ketiganya malah terkekeh bersama.
*("Anak dan bapaknya sama saja!")
"Ssttt! Reuninya nanti aja! Itu Pak penghulu udah nunggu daritadi!" Bu Helena memperingatkan, dan ketiganya bergegas menghampiri Pak penghulu yang sedang duduk ditempat yang sudah disediakan.
Pak penghulu kini berhadapan dengan Beni, tangan keduanya pun bertautan di atas meja putih. Reifan sebagai wali, Pak Prabu dan beberapa saksi lain pun telah siap.
Hanya dalam satu tarikan nafas, Beny mengucapkan janji sucinya dengan lancar dihadapan Allah, para malaikat dan semua orang yang ada disana.
Semua lega dan bahagia, terutama kedua pengantin baru.
Riana keluar dari kamar pengantinnya digandeng oleh Risty dan Bu Aminah, Semua mata tertuju pada sang pengantin wanita itu dan memujinya kecantikannya dalam hati, Riana menundukkan wajah cantiknya saat dia telah sampai di depan suami sahnya
Sedangkan hati Beny berdebar kencang sekaligus bahagia, dan senyumnya mengembang saat Riana mengambil tangannya dan mencium tangannya dengan khusyuk. Gadis cantik yang sering dia godanya dulu, kini menjelma menjadi bidadari yang berstatus istrinya, dia pun membalas dengan mencium dahi sang istri.
Selama pesta berlangsung tidak ada sepatah katapun dari keduanya, Beny kembali bersikap datar dan dingin pada sang istri saat tak diperhatikan keluarganya, dan Riana pun tidak berani berbicara walau untuk sekedar berbasa-basi.
Hingga malam pun menjelang, saat acara telah selesai, Riana kini bersama dalam satu ruangan bersama Beny, di kamar pengantin mereka.
Beny masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, sedangkan Riana mulai melepaskan semua hiasan yang ada di tubuhnya. Walau hanya duduk seharian tapi tubuhnya luar biasa capek dan lelah. Dia mengambil dress satin tipis berwarna navy sebagian pakaian tidurnya, ini memang bukan malam pertama bagi mereka, tapi Riana berharap malam ini dia menjadi istri
yang baik untuk pasangan halalnya.
Setelah Beny menyelesaikan mandinya, dia keluar dengan memakai handuk yang melingkar dipinggangnya yang memperlihatkan tubuh atletisnya sehingga Riana harus mengalihkan pandangannya ke arah lain karena wajahnya merona kemerahan.
Setelah Beny masuk ke dalam walk in closet, Riana buru-buru masuk ke kamar mandi dengan jantung yang berdebar tak karuan. Saat tak sengaja dia menatap wajah dan tubuh Beny, tiba-tiba terlintas dipikirannya bayangan malam panas yang pernah mereka lalui bersama.
"Ceklek!"
Riana keluar dari kamar mandinya dengan baju satin tipis yang membalut tubuh putihnya, tapi Beny tak melirik maupun tak bergeming dari sofa besar tempatnya duduk saat ini.
__ADS_1
Sebenarnya Beny sempat melihat pemandangan indah itu, tapi buru-buru dia mengalihkan pandangannya pada laptop kesayangannya lagi. Dia masih terluka dengan segala penolakan Riana padanya waktu lalu, jadi mati-matian dia menahan h*sratnya yang tiba-tiba muncul.
Riana duduk di pinggiran ranjangnya, dia tidak tahu harus berkata apa untuk mengawali perbincangan mereka. Tapi karena dia sudah berjanji akan belajar mencintai suaminya dan menjadi istri yang baik, dia menekan egonya dan mencoba mencairkan tembok salju yang berada ditengah-tengah mereka.
"Kak Ben," panggil Riana.
"Hmm," jawab Beny.
"Makasih udah bersedia menikah denganku,"
"Hmm, udah kewajibanku bertanggungjawab pada calon bayiku," ucap Beny dingin dan datar.
"Apa hanya karena bayi ini aja Kak Ben mau menikah denganku?" tanya Riana ragu-ragu.
"Sudah pasti itu alasan utamanya, tapi sebelum kamu hamil aku juga sudah mengajakmu menikah sebagai bentuk tanggungjawabku padamu tapi kau menolakku,"
"Maaf, kalau penolakanku kemarin menyakiti kakak,"
"Sudah lupakan, sudah berkali-kali juga kamu meminta maaf. Sekarang tidurlah, pasti kamu lelah dan aku akan tidur di sofa ini saja." ucap Beny tanpa memandang wajah istrinya sama sekali.
"Iya Kak,"
Terlihat Riana mulai berbaring di ranjangnya dan menyelimuti tubuhnya yang hanya memakai pakaian tipis, dia kecewa dimalam pengantinnya suaminya masih bersikap dingin padanya. Hatinya begitu sakit melihat penolakan suaminya, tak terasa airmatanya pun mengalir begitu saja dipipinya, hingga akhirnya dia pun tertidur karena merasakan lelah badan, hati dan pikirannya.
***
Pagi itu Riana tersenyum ceria, dia tidak memuntahkan sarapannya, karena aroma tubuh Beny berada di dekatnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum terus daritadi?" tanya Beny penasaran.
Dia mengemudikan mobil Riana dan mengantarkan istrinya menuju perusahaan sang kakak ipar.
"Aku senang hari ini aku nggak harus sarapan sampai dua kali," ucap Riana bahagia.
"Hah! Maksudnya apa? Apa kamu ingin sarapan lagi?" tanya Beny.
"Bukan mau sarapan lagi kak, selama kehamilanku ini aku mual dan selalu memuntahkan sarapanku tiap pagi, jadi biasanya aku harus sarapan lagi agar tubuhku nggak lemas." jelas Riana.
"Oh gitu," jawab Beny datar.
Riana kesal kenapa tidak ada perhatian sama sekali dari suaminya itu.
Sedangkan Beny harus menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan kata-kata khawatirnya pada sang istri, padahal sebenarnya dia khawatir melihat bagaimana perjuangan Riana yang mengandung buah hatinya.
Risty cerita padanya jika Riana sensitif dengan bau-bau menyengat, dia bisa seharian muntah jika mencium bau bawang atau rempah-rempah dapur yang lain. Tubuhnya juga gampang lelah kalau terlalu banyak pekerjaan dan pikiran, itu sebabnya Risty memaksa agar Riana resign sementara dari perusahaannya.
"Lalu kenapa hari ini kamu nggak mengeluarkan sarapan pagimu?" tanya Beny penasaran.
__ADS_1
"Hmm.. Karena.." Riana ragu dan malu untuk menjawab.
"Karena apa?"
"Karena aroma tubuh kakak yang berada di sekitarku jadi aku merasa tidak terlalu mual, sepertinya bayi kita suka aroma tubuh ayahnya," ucap Riana dengan wajah memerahnya lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
Riana sangat malu mengatakan kebenaran itu secara gamblang, dia takut suaminya akan mengira ini hanya akal-akalannya saja agar bisa dekat dengan suaminya, padahal kenyataannya memang inilah yang terjadi.
Sedangkan Beny merasa bahagia luar biasa mendengar ucapan sang istri, walaupun nada bicara Riana biasa saja tapi terdengar sedikit manja ditelinganya dan dia suka. Dia juga sangat gemas melihat wajah merona Riana yang membuatnya semakin cantik.
"Oh jadi bayi kita aja yang suka aromaku bukan kamu?" goda Beny tapi masih dengan mode datarnya.
"Hmm.. bu.. bukan aku tapi bayi kita ini," Riana menjadi salah tingkah sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Oke, nanti tiap aku berangkat kerja aku kasi baju yang sudah aku pakai, jadi saat kamu mual kamu nggak harus mencariku,"
"Iya kak, makasih sarannya,"
"Hmm,"
Akhirnya keduanya pun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
**
Hari kedua di mansion Bu Hana, pengantin baru itu masih saja tidur sendiri-sendiri. Beny memang selalu menanyakan keperluan yang dibutuhkan Riana, tapi dia enggan dekat dengan istrinya.
Lagi-lagi Riana pun kecewa kembali, hubungannya dengan Beny masih saja jauh, seolah ada tembok besar diantara mereka. Dia sampai mengaca di kamar mandi, apa sejak dia hamil wajahnya tidak cantik lagi? Atau tubuhnya yang sedikit kurus tidak membuat suaminya tergoda? Dia hilang rasa percaya diri, dia menangis lagi. Hubungan pernikahan macam apa ini sebenarnya? begitu pikirnya.
Keesokan paginya, Beny meminta ijin pada Bu Hana dan Bu Aminah untuk membawa pulang istrinya ke kota tempatnya tinggal karena pekerjaan Beny juga disana dan kedua wanita paruh baya itu pun mengijikan dengan senang hati.
Pesawat mereka berangkat sore hari, dan semua keluarga akan mengantarkan kepergian pengantin baru itu ke bandara.
Sore itu mereka pun berkumpul di bandara.
Riana memeluk Ibu, mama dan kakak tercintanya.
"Jadilah istri yang baik sayang! Kamu harus sopan dan patuh pada ayah dan ibu mertua, ibu selalu doakan untuk kebahagiaan kalian," ucap Bu Aminah.
"Amin Ya Robbala'laminn.. terimakasih ibu, mama, kakak! Aku pasti akan kangen sama kalian, aku sangat menyayangi kalian," ucap Riana yang menangis memeluk mereka bergantian.
Dia sangat sedih, ini kali pertamanya dia harus hidup jauh dari orang-orang yang dia sayangi. Jika dia bisa memilih, dia ingin tinggal di Ibukota bersama keluarganya. Apalagi Bu Aminah sekarang akan tinggal bersama Bu Hana seterusnya, dia membayangkan pasti sangat nyaman bersama kedua wanita yang dia sayangi itu.
Bu Aminah dan Bu Hana berpesan pada Beny juga, agar selalu membahagiakan dan menjaga putri kesayangan mereka dan Beny pun menyanggupi permintaan mereka.
Setelah acara perpisahan itu selesai, kini keduanya telah berada di pesawat yang mereka tumpangi.
Saat seseorang pramugari mendatangi pasangan suami istri itu untuk menawari minuman, sontak Riana tiba-tiba muntah karena mencium bau yang tidak nyaman dihidungnya.
__ADS_1
"Hei, kamu kenapa?" tanya Beny dengan nada khawatir.