
Dia masih sangat trauma dengan Bu Gendhis, walau kenyataan wanita itu tak bisa apa-apa saat ini. Pikirnya tiba-tiba menjadi buruk, bisa jadi kebaikan Beny selama ini karena ingin merebut Ardy darinya.
"Tidak akan Al! Jangan khawatir! Mereka hanya ingin bertemu dengan kalian, mungkin untuk meminta maaf secara langsung." ucap Hasan yang langsung mengerti kekhawatiran wanita cantik itu.
"Ta.. tapi kalau mereka memang ingin merebut putraku bagaimana mas? Aku nggak bisa hidup tanpa putraku mas!" ucap Alfi dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu Al,"
"Tolong bilang sama mereka mas, aku akan mengembalikan semua yang mereka berikan pada kami tapi tolong jangan rebut Ardy dariku," Alfi tak bisa lagi menahan airmatanya.
"Astaga!" Hasan yang tak kuat memandang wanita cantik itu menangis sontak membawa wanita itu dalam pelukannya.
"Ssshhh! Jangan menangis Al! Aku dipihak kamu, apa kamu lupa kamu sudah memiliki sahabat saat ini? Aku janji jika mereka memang berbuat macam-macam pada kalian berdua, aku orang yang akan membantu kalian dan menjadi perisai kalian berdua walau harus bertaruh nyawa sekalipun. Walaupun aku sendiri tahu jika Beny dan Pak Chandra bukan orang yang licik seperti Bu Gendhis." ucap Hasan dengan yakin.
"Benarkah mas?" Alfi melonggarkan pelukannya dan memandang wajah pria kesayangangan itu.
Baginya pancaran mata Hasan begitu tulus dan menenangkan.
"Iya Al, kamu tenang aja! Sekarang udah ada aku," ucap Hasan sembari menghapus airmata Alfi.
Alfi terdiam sembari terus memandangi mata pria itu, "Baik mas, terimakasih. Aku percaya sama kamu," ucap Alfi tersenyum manis dan Hasan pun membalasnya dengan anggukan.
Sungguh ingin sekali Hasan mengatakan jika sangat mencintai dan melindungi wanita itu, tapi yang dia tahu Alfi telah memiliki kekasih. Dia tidak mau karena rasa sukanya membuat Alfi tak nyaman saat bersamanya.
Sedangkan Alfi semakin yakin jika Hasan hanya menganggapnya sebagai sahabat saja dan itu terdengar jelas dari ucapan pria itu. Jujur hatinya memang kecewa, tapi dia bersyukur memiliki sahabat sebaik Hasan, dan dia tidak ingin merusak hubungan baik mereka kembali, dia semakin mencintai pria itu dan hanya bisa memendam perasaannya semakin dalam lagi.
**
Setelah mereka melakukan sedikit persiapan, akhirnya mereka menuju ke bandara yang ada pulau indah itu.
Sekitar dua jam mereka melakukan perjalanan darat dengan diantar Rizal dan Keyla, dan kini mereka telah sampai di bandara.
"Aku tinggal dulu ya! Aku berharap kalian betah disini dan usahaku juga semakin maju ditangan kalian," pamit Alfi pada Rizal dan Keyla.
"Tenang saja nona, kami bisa diandalkan kok!" ucap Rizal dengan yakin.
"Jangan lupa menghubungiku ya jika ada apa-apa!" ucapnya lagi.
"Baik nona," ucap Rizal dan Keyla bersamaan.
Beberapa menit kemudian mereka pun telah sampai di dalam pesawat, raut wajah Alfi terlihat sangat tegang, banyak hal yang sedang berkecamuk di hatinya.
Ardy terlihat begitu antusias dan bahagia, dia senang akhirnya bisa bertemu dengan kakek dan neneknya.
Hasan mengenggam tangan Alfi yang terasa dingin sembari menatap mata wanita itu dengan lembut, seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.
Dan lagi-lagi genggaman tangan Hasan yang Hasan, berhasil menenangkan hatinya. Alfi membalas pandangan mata Hasan lalu mengangguk.
Setelah melakukan perjalanan udara, kini mereka telah sampai di kota tujuan saat waktu telah menunjukkan pukul 8 malam.
Hasan akan mengantarkan Alfi dan Ardy ke hotel untuk beristirahat dan akan mengantarkan mereka ke rumah sakit keesokan harinya.
__ADS_1
"Mas kita ini mau kemana?" tanya Alfi.
"Aku akan memesankan hotel untuk kalian," jawab Hasan yang saat ini membawa Ardy yang tengah tertidur dipangkuannya.
"Aku nggak mau tidur hotel mas, aku nggak mau hanya berdua aja sama Ardy disana. Aku takut."
"Lalu ingin menginap dimana? Apa ada saudara disini?"
"Nggak ada mas." Alfi terdiam sejenak, "Bolehkan kami tinggal di apartemen Mas Hasan semalam aja?" tanya Alfi ragu-ragu.
"Apa kamu mau? Apartemenku hanya apartemen kecil dan hanya ada satu kamar aja."
"Kami nggak papa kok jika tidur di sofa mas, kami janji nggak akan ngerepotin mas," ucap Alfi dengan cepat.
"Ah tidak Al, jangan berfikiran seperti itu. Kalian sama sekali nggak merepotkanku, aku hanya ingin kalian bisa tidur dengan nyaman di hotel, bukannya di apartemenku yang kecil."
"Tapi kami hanya merasa aman dan nyaman jika bersama Mas Hasan." jujur Alfi.
"Baiklah kita akan ke apartemen milikku." Hasan tersenyum manis.
Dia mengatakan pada anak buahnya agar membawa mereka ke apartemen miliknya.
Setelah dua puluh lima menit berkendara, akhirnya mereka sampai di apartemen milik Hasan.
Bagi Alfi apartemen itu terlihat sangat nyaman, rapi dan bersih. tidak terlalu kecil dan tidak besar juga, walaupun memang hanya ada satu kamar saja.
Hasan menidurkan Ardy di kamarnya lalu menghampiri Alfi yang sedang duduk di sofanya.
"Masuklah ke dalam kamar untuk membawa barang-barangmu dan beristirahatlah juga, pasti capek kan berada di perjalanan lama." ucap Hasan yang kini menghampiri Alfi.
"Nggak Al, aku bisa istirahat di sofa di depan televisi, aku udah terbiasa ketiduran disana. Mendengarkan suara televisi agar cepat mengantuk." ucap Hasan menceritakan sedikit kebiasaannya.
"Tapi mas.."
"Udah jangan membantah! Masuk dulu sana! Kamu bisa bebersih dan ganti baju."
"Baik mas,"
Akhirnya Alfi menuruti ucapan Hasan dan masuk ke dalam kamarnya.
Saat di masuk ke kamar itu, dia memandang satu persatu foto yang terpajang disana. Dia melihat banyak foto Hasan berbalut seragam polisi, sungguh terlihat semakin tampan dan gagah. Dia benar-benar tidak menyangka pria itu adalah seorang polisi dulunya.
"Mas, kenapa sih kamu susah banget digapai? Kalau liat begini aku jadi makin minder sama kamu mas," gumam Alfi pada dirinya sendiri.
Setelah selesai membersihkan dirinya dan memakai baju santainya, Alfi kembali ke sofa yang ada di depan televisi. Dia menghampiri Hasan yang sibuk dengan laptopnya dan terlihat sebuah rokok terjepit diantara jarinya, baru kali ini dia melihat Hasan merokok.
"Mas, aku buatkan kopi ya?" tanya Alfi dan Hasan pun menoleh ke sumber suara.
"Ah boleh kalau nggak ngrepotin kamu." Hasan tersenyum manis.
"Nggak merepotkan sama sekali mas," ucap Alfi membalas senyuman Hasan lalu pergi ke dapur.
__ADS_1
Selang beberapa menit berlalu, Alfi telah selesai membuatkan satu kopi, satu teh manis untuk mereka.
Dia duduk kembali di samping Hasan, dan diam-diam mengagumi wajah pria itu, baginya Hasan semakin terlihat maskulin saat dia menghisap rokoknya.
Hasan yang tersadar jika diperhatikan, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada wanita itu.
"Eh maaf, aku ngerokok di depan kamu. Biar aku matikan," ucap Hasan yang akan mengulurkan tangannya ke arah asbak yang ada di mejanya.
"Tunggu mas! Nggak usah dimatikan, aku suka ngeliat Mas Hasan ngerokok," ucap Alfi sedikit menekan rasa malunya.
"Hah! Jadi nggak papa aku merokok di depan kamu?" Hasan memastikan dan Alfi pun mengangguk.
"Kenapa suka ngeliat aku ngerokok? Bukannya kebanyakan wanita nggak suka pria perokok ya?" tanya Hasan penasaran.
"Nggak tau sih kenapa, cuma suka aja ngeliat pria merokok. Hmm.. Keliatan lebih maskulin aja. Aku suka." ucap Alfi mengigit bibirnya untuk meredakan kegugupannya.
"Jadi semua laki-laki yang merokok kamu suka?" tanya Hasan dengan wajah datar padahal hatinya begitu gusar.
"Eh bukan, bukan begitu maksudku mas. Aduh gimana ya, cuma beberapa orang tertentu aja suka tapi cuma suka ngeliatnya aja buka suka yang sebenarnya." jawab Alfi yang binggung memilih kata-kata.
Sebenarnya dia ingin mengatakan yang suka dilihatnya hanyalah Hasan, tapi tidak mungkin dia mengatakan itu terang-terangan.
"Oh!" hanya kata itu yang muncul dari bibir Hasan.
Lalu dia melanjutkan mengesap kopinya, begitu enak dan terasa pas dilidahnya.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu? Tapi jika Mas Hasan nggak berkenan jangan dijawab," ucap Alfi.
"Hm, oke!"
"Apa Mas Hasan dulu seorang anggota?"
"Iya, terakhir aku menjabat di usia 27 tahun, lalu aku mengundurkan diri."
"Apa ada alasan tertentu yang membuat mas harus mengundurkan diri?" tanya Alfi layaknya seperti seorang reporter berita.
"Iya, sudah pasti ada alasan kuat kenapa aku mengundurkan diri. Padahal menjadi anggota adalah cita-citaku sejak kecil dan orangtuaku berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-citaku dengan semua yang mereka punya." ucap Hasan tanpa ekspresi.
"Kalau aku boleh tahu, apa penyebabnya mas?" tanya Alfi lagi.
Hasan terdiam menimbang-nimbang ingin menceritakan atau tidak pada wanita yang berstatus sahabatnya itu. Sebenarnya dia tidak ingin membuka luka lamanya, kesedihannya selama ini telah dia simpan untuk dirinya sendiri. Tapi entah kenapa dia merasa menemukan seseorang yang tepat untuk tempatnya berbagi kesedihan.
"Kalau Mas Hasan tidak nyaman bercerita padaku, aku tidak apa-apa. Kita ganti topik pembicaraan lain aja," ucap Alfi dengan lembut.
"Nggak Al aku akan jawab," sahut Hasan dengan cepat.
Alfi mengangguk dan Hasan menghela nafasnya panjang.
"Sekitar 6 tahun yang lalu, kedua orangtuaku dan adik perempuanku yang saat itu berusia 20 tahun meninggal karena kecelakaan mobil," ucap Hasan mengawali ceritanya.
Alfi terkejut mendengar potongan cerita Hasan, tapi dia berusaha mengendalikan rasa keterkejutannya.
__ADS_1
"Saat itu, temanku sesama anggota yang mengurusi kecelakaan orangtuaku. Dia mengatakan jika ada sebuah mobil hitam yang berkecepatan tinggi menabrak mobil yang dikendarai keluargaku, tapi penabraknya telah lari dan tidak bertanggungjawab. Tapi saat ditelusuri ternyata si penabrak adalah putra seorang pejabat ternama dan orang yang sangat berpengaruh di daerah asalku. Orangtuanya menyembunyikan laki-laki itu dari kejaran kami dan menyuap beberapa orang agar mengatakan pada publik jika kematian keluargaku murni karena kecelakaan. Atasanku pun tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menyuruhku untuk mengikhlaskan kepergian keluargaku." Hasan menghela nafasnya kembali dan Alfi mengusap lembut punggung tangan pria itu seolah ikut merasakan segala kesedihannya.
"Waktu itu aku sangat marah, aku tidak terima dengan ketidakadilan yang menimpaku, aku mengamuk dan mengobrak-abrik kantor atasanku. Atasanku pun marah dengan kekacauan yang aku buat, dia menskors-ku sampai aku bisa berlapang dada menerima semuanya. Dan hari itu juga aku mengajukan pengunduran diriku. Aku ingin mencari sendiri pria yang sudah membuatku kehilangan keluargaku dan menghukumnya dengan tanganku sendiri." ucap Hasan yang menerawang jauh.