CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 50.Bima Vs Vania


__ADS_3

"WOY!! MAU APA KAMU!"


Teriakan Risty mengangetkan suster gadungan itu, sontak dia menjatuhkan jarum suntiknya dan menoleh ke arah Risty.


Dan benar saja suster itu adalah suster gadungan karena postur tubuh suster gadungan itu terlihat seperti laki-laki, dia memakai masker untuk menutupi hidung dan mulutnya, tapi Risty tahu jika dia benar-benar seorang laki-laki.


"MENJAUH DARI MAMAKU!" teriak Risty sembari menatap tajam kearah suster gadungan itu.


Tak disangka suster gadungan itu mengeluarkan sebilah pisau dan mengarahkan pisau itu ke arah Bu Hana yang berbaring tak berdaya, lalu dengan gerakan cepat Risty berlari menubruk suster gadungan itu dan mendorongnya hingga dia menabrak meja dan sofa sampai terjatuh mereka terjatuh bersamaan.


"Br****sek! Dasar J****ng!!" umpat penjahat itu.


Risty mencoba berdiri dan penjahat itu pun berdiri juga lalu penjahat itu mengarahkan pisau yang dipegangnya ke arahnya. Sekuat tenaga Risty berkali-kali menghindar dari serangan penjahat itu. lalu dia mencoba mendorongnya lagi, tapi sialnya tenaga Risty tidak sebanding dengan kekuatan penjahat itu dan dengan gerakan cepat penjahat itu menancapkan pisaunya di punggung belakang Risty.


"Aarrrrghhhhh!!! TOLONG AKU!" teriak Risty dengan kencang sehingga fokus si penjahat pun terpecah.


Dengan menahan segala rasa sakit dipunggungnya, dengan gerakan cepat Risty meraih masker dan wig milik si penjahat yang menyamar menjadi suster gadungan itu.


Mendengar teriak risty berkali-kali sontak membuat beberapa karyawan dan pengunjung yang kebetulan lewat segera menerobos masuk dan penjahat itu pun berlari menabraki kerumunan orang-orang yang masuk itu.


"Aarrrrghhhhh! Tolong tangkap laki-laki itu! Dia ingin memb**uh mamaku!" ucap Risty dengan menahan sakitnya dan berjongkok di lantai.


Salah satu orang bergegas menghubungi semua petugas keamanan dan menyuruh memblokir semua akses jalan untuk keluar rumah sakit, tapi sialnya sang penjahat pun telah lolos dengan mudah.


"Nona, apa kau masih bisa berdiri?" ucap salah satu petugas rumah sakit itu sembari membantu Risty untuk berdiri.


"Bruuuukkkk!"


"Nona!" teriak salah satu dari mereka.


Belum juga Risty berdiri, dia sudah terjatuh pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Kemudian mereka membawa Risty ke ruang operasi untuk menjahit lukanya dan mengambil pisau yang ada di punggungnya.


Sedangkan salah satu petugas keamanan rumah sakit segera menghubungi AIPTU Vincent Arisandy untuk menyelidiki penyerangan yang terjadi pada Risty.


***


Setelah sampai di Rumah sakit Vincent benar-benar khawatir dengan keadaan wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta itu, dia mondar-mandir di depan ruang operasi untuk mengetahui keadaannya.


Setelah satu jam berlalu, kini operasi Risty telah selesai dan sang dokter yang menanganinya keluar dari ruang operasi. Sontak Vincent menghampiri dokter itu dan bertanya tentang keadaan Risty.


"Dok, bagaimana keadaan Nona Risty?" tanya Vincent nada dengan khawatir.


"Keadaan Nona Risty sudah stabil, walaupun tadi dia sudah banyak kehilangan darah tapi untungnya pisau itu tidak sampai mengenai organ vitalnya. Anda jangan khawatir, kita hanya tinggal menunggu dia siuman saja,"


"Baik dok, terimakasih banyak! Apa saya sudah bisa masuk kedalam dok?"


"Boleh Pak, silahkan!"


Vincent pun mengangguk dan dokter pun pamit untuk kembali memeriksa pasiennya yang lain.


Sebelum Vincent masuk ke ruangan Risty dirawat, seseorang perawat menghentikan langkahnya.


"Permisi Pak, ini tas Nona Risty yang tertinggal di ruangan ibunya tadi," ucap perawat itu lalu memberikan tas Risty kepada Vincent.

__ADS_1


"Terimakasih sus!"


"Sama-sama Pak," balas suster itu mengangguk tersenyum.


Saat membuka pintu ruangan Risty dirawat, ada rasa iba dihati Vincent melihat Risty yang terbaring lemah.


Dia mendekati bangkar Risty, dan memperhatikan wajah cantiknya yang pucat itu, baginya kecantikan itu sama sekali tidak berkurang walaupun dia sedang berbaring sakit dan memejamkan matanya.


"Bangunlah Ris, kamu harus kuat demi mama kamu! Aku akan berusaha keras membantumu menemukan orang yang sudah mencelakaimu dan keluargamu," gumam Vincent lirih.


Lalu sebuah dering ponselnya memecah lamunannya, dan ternyata dering ponsel itu berasal dari tas Risty. Sontak Vincent mengambil ponsel itu dari tas Risty dan melihat nama seseorang yang di kenalnya berada dilayar ponsel itu.


"Iya, Hallo!"


Vincent menjawab telpon dari ponsel Risty, karena siapapun yang berhubungan dengan Risty harus tahu keadaan Risty saat ini.


"Ini siapa?" ucap Erlangga yang menahan rasa kesalnya.


Dia benar-benar terkejut saat mendengar suara laki-laki menjawab telpon darinya di ponsel Risty.


"Saya AIPTU Vincent, maaf jika saya lancang menjawab telpon dari anda. Saya ingin mengabari jika Nona Risty sedang dirawat di rumah sakit saat ini dan belum sadarkan diri." ucap Vincent.


"Apa! Risty tidak sadar? Apa yang terjadi padanya Pak Vincent?" seru Erlangga dengan panik.


"Nona Risty telah ditusuk pisau oleh seseorang,"


"Degg!!"


Ucapan Vincent seolah membuat jantung Erlangga berhenti berdetak sesaat.


"Ada seseorang yang ingin mencoba membunuh Bu Hana, tapi Nona Risty melindunginya hingga dia yang terkena tusukan pisau itu,"


"Apa! Lalu siapa pelakunya Pak Vincent? Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Erlangga dengan tak sabar.


"Pelakunya belum tertangkap Tuan Erlangga, saya dan tim akan terus mencari pelakunya sampai ketemu."


"Baik Pak Vincent, saya akan secepatnya datang ke rumah sakit. Terimakasih banyak atas informasinya, tolong kabari saya jika ada apa!"


"Baik Tuan Erlangga, anda jangan khawatir!" jawab Vincent lalu mengakhiri percakapan mereka.


Saat itu juga Erlangga menelpon anak buah papanya agar segera mengirimkan jet pribadinya untuk menjemputnya di Australia.


***


Malam itu di sebuah club malam, Bima memperhatikan seorang wanita yang masih berstatus istrinya dari kejauhan, sedang berciuman dan berdansa dengan laki-laki tampan yang berumur lebih matang darinya.


Terlihat wanita itu begitu menikmati sentuhan sang pria dan membalas sentuhan sang pria dengan mesra pula. Keduanya sama-sama dalam pengaruh minuman keras dan bergoyang menikmati alunan musik dari salah satu DJ ternama di Club itu.


Melihat semua itu, Hati Bima semakin panas dan darahnya pun mendidih, dia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sebagai tanda dia sedang menahan seluruh kemarahannya yang sudah memuncak.


Dia benar-benar jijik dan tak berhenti mengumpat, melihat pemandangan yang tak jauh dari tempatnya duduk itu.


"Dasar wanita j*****g, wanita mu******n, kamu pantas m**ti br****sek!" umpat Bima lirih lalu meneguk Vodka yang berada ditangannya dengan sekali tegukan.

__ADS_1


Sedangkan teman Bima yang berada disampingnya memperingatkan agar Bima tidak terlalu mabuk, karena tujuannya kesini bukan untuk mabuk tapi untuk menguntit seseorang.


"Jangan terlalu banyak minum! Ingatlah tujuan kita kesini!" ucap teman Bima memperingatkan.


"Hmm!" jawab Bima singkat.


Dia menunggu hampir dua jam di Club itu, saat wanita itu dan si pria pergi meninggalkan Club. Bima mengikuti mereka dari belakang, beberapa teman Bima juga telah standby di parkiran club untuk membantu Bima mengikuti sang wanita.


Dan benar saja kedua pasangan kekasih itu menuju sebuah apartemen mewah yang terletak tak jauh dari club malam tadi.


Dan setelah pasangan itu masuk ke dalam salah satu di apartemen mewah itu, Bima dan teman-temannya mendatangi petugas keamanan disana dan mengatakan jika istrinya berada didalam bersama selingkuhannya. Dia mengajak dua petugas keamanan untuk mendatangi apartemen tempat Vania dan selingkuhannya tinggal.


"Ting tong! Ting tong!"


Petugas keamanan itu menekan bel pintu apartemen Vania dan kekasihnya.


Selang beberapa menit berlalu, seorang laki-laki yang memakai boxer dan bertelanjang dada membukakan pintunya.


"Ada apa pak!" tanya sang laki-laki mengernyit heran karena banyak orang yang tiba-tiba mendatangi apartemen miliknya.


"Pegang laki-laki itu Pak!" ucap Bima pada petugas keamanan dan menatap tajam ke arah selingkuhan Vania.


"Hei! Ada apa ini!" teriak laki-laki itu dengan perasaan takut.


"Ikuti aku masuk! Kita akan cari wanita j****ng itu!" ucap Bima pada salah satu temannya.


Kemudian Bima masuk kedalam apartemen itu bersama satu temannya yang membawa kamera disaku jaketnya.


Saat dia mulai membuka salah satu pintu kamar disitu, terdengar suara wanita yang sangat dikenalnya memanggil nama sang kekasih dengan panggilan sayangnya.


"Ceklek!"


"Carlos sayang! Lama banget sih kamu, emangnya siapa yang datang sayang!" keluh Vania yang terlihat menutupi tubuh polosnya dengan selimut lalu berbalik menatap ke arah pintu.


"Aku yang datang! Suami tercintamu!" ucap Bima tersenyum licik dan menatap jijik ke arah Vania.


"Bi.. Bima! Ka.. kamu tahu aku disini?" tanya Vania dengan rasa kaget yang luar biasa.


"Apa kamu lupa siapa aku! Menemukan orang sepertimu adalah hal mudah bagiku! Meskipun kamu sembunyi diujung dunia sekalipun! Dasar wanita j*****g"


"Aku udah nggak peduli kamu mau mengataiku seperti apa! Yang penting sekarang aku udah bebas dari laki-laki miskin sepertimu! Dan kamu lihat kan aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, kekasihku adalah seorang milyarder!" ucap Vania dengan sombongnya.


"Cihhh! Dasar wanita nggak tau malu! Bahkan p***cur aja lebih terhormat daripada kamu! Mereka bekerja keras demi menghidupi anak-anak mereka, tapi kamu malah memb***h putrimu sendiri pelan-pelan demi kesenanganmu!"


"Aahh iya aku lupa menanyakan Selena putriku! Gimana kabar putri kesayanganmu yang penyakitan itu!"


"Diam kau br****sek! Dasar ibu b***dab!Selena udah tenang di surga bersama Sang Pemiliknya! Jadi jangan pernah sebut nama Selena lagi dengan bibir kotormu itu!" Bima mengumpat dengan mata memerah karena kemarahannya.


"Apa Selena meninggal!" seru Vania yang terkejut.


"Maafkan mama Selena! Maaf mama nggak ada disamping kamu disaat terakhirmu!"


Sontak Vania menangis tersedu-sedu dan menyesali semua yang pernah dia lakukan pada putrinya, airmatanya jatuh tak terbendung. Dia baru menyadari jika dia sangat mencintai putrinya dan merasa sangat bersalah pada bayi kecil itu.

__ADS_1


"Jangan sok drama kamu Van! Kamu senang kan sekarang, tujuanmu memb***h Selena sudah tercapai! Cihhh! Dasar wanita iblis!"


__ADS_2