CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 59.Permintaan Maaf Vania


__ADS_3

"Taruh saja makanannya di meja nanti mama akan makan kalo mama udah lapar," ucap Bu Sherly masih dengan tatapan kosong menatap luar kamarnya melalui jendela.


"Hari ini aku mau keluar mah, aku mau cari pekerjaan ke teman-temanku, kali aja mereka mau bantu." ucap Vania pada mamanya.


"Hmm!"


Mendengar jawaban singkat mamanya Vania hanya menghela nafasnya. Dia tidak tahu harus dengan cara apa untuk mengembalikan kehangatan dan keceriaan mamanya seperti dulu. Walaupun mustahil jika bisa seperti dulu lagi, tapi dia akan terus berusaha, pikirnya.


Siang itu Vania mendatangi satu persatu teman sosialitanya dulu tapi banyak dari mereka yang tidak mau lagi bertemu dengannya, ada dua diantara mereka yang bersedia menemuinya tapi keduanya hanya mengejek dan meremehkannya. Mereka tidak mau peduli lagi bagaimana pun kondisinya saat ini dan kini dia sadar bahwa tidak ada yang benar-benar tulus menjadi sahabatnya selama ini.


Setelah dia benar-benar putus asa dan lelah, dia memutuskan untuk pergi ke Club milik sahabatnya semasa kuliah dulu. Dia akan melamar sebagai waiters disana untuk sementara waktu sampai dia mendapatkan pekerjaan yang pantas sesuai dengan gelar pendidikannya.


Vania masuk kedalam ruangan mewah yang ada di lantai atas di dalam Club milik temannya itu.


"Tok! Tok! Tok!"


"Boss ini Nona Vania yang ingin bertemu dengan anda," ucap salah satu anak buahnya dari dalam ruangan.


Ternyata didalam ruangan mewah itu terdapat sebuah kamar pribadi milik laki-laki itu, dan terdengar dari luar kamar seorang wanita sedang mendes*h dan meracau dari dalam kamar pribadi itu dan terdengar pula geraman dan umpatan dari bibir sang pria yang menandakan mereka akan melepas kenikmatan mereka bersamaan, hingga akhirnya er**gan panjang keduanya pun terdengar bersamaan.


Mendengar suara-suara aneh itu membuat Vania menjadi tegang dan wajahnya pun memerah karena malu, dan hal sama pun juga dirasakan oleh anak buah si pria itu.


"Sepertinya kita datang diwaktu yang tidak tepat nona," ucap si anak buah temannya dengan nada menyesal.


"Hmm!" Vania hanya tersenyum kaku.


"Ceklekk!"


Seorang laki-laki tampan nan tinggi yang telah lama dikenalnya keluar dari dalam kamar pribadinya, dia bertelanjang dada dan memakai celana jeans miliknya.


"Vania! Lo bener Vania?" tanya laki-laki itu dengan Ekspresi terkejut.


Anak buah laki-laki itu pun pamit pergi meninggalkan mereka berdua.


Sahabat Vania sangat terkejut melihat tampilan Vania yang biasa glamor dan s*ksi sekarang malah terlihat tertutup dan casual dengan sepatu sneaker putihnya bukan lagi high heels mahal yang dulu selalu dia pakai setiap harinya.


"Hai Jo! Gimana kabar lo? Nggak usah sok-sokan kaget deh liat tampilan gue, wajah gue nggak berubah jadi nggak usah sok pangling!" sahut Vania dengan ekspresi datar.


"Hahaha!"


Jonathan malah tertawa keras mendengar ucapan Vania.

__ADS_1


Sahabatnya yang cantik ini selalu saja menyebalkan pikirnya, tapi dia suka Vania yang apa adanya, angkuh dan menyebalkan.


"Habis gaya pakaian lo berubah jadi gue kaget aja, apa lo udah tobat nggak pake baju s**si lagi?" goda Jonathan.


"Tobat pala lo! Gue bangkrut sekarang, gue nggak punya apa-apa dan bokap gue juga meninggal dua minggu lalu,"


"Apa?! Serius lo?"


"Gue cerai ma suami gue, anak gue yang masih bayi meninggal dan bokap gue juga meninggal, perusahaan, mansion dan mobil mewah gue semua disita. Dan sekarang gue tinggal di kontrakan kecil sama nyokap gue!" ucap Vania yang tiba-tiba sedih.


"Astaga Van! Sorry gue nggak tahu sama sekali, gue turut berduka cita atas meninggalnya bayi lo dan bokap lo!"


Jonathan memeluk Vania yang tiba-tiba meneteskan airmata. Dia benar-benar merasa kasian dengan nasib sahabatnya itu. Semejak Vania berpacaran dengan Bima, hubungan mereka memang renggang karena Bima yang posesif.


"Duduk dulu sini, lo harus cerita semua ke gue, oke!" ucap Jonathan menuntun Vania agar duduk di sofa dan Vania pun mengikutinya.


"Bentar! Itu cewek yang barusan lo t*durin, masa lo cuekin gitu aja?" Vania menghentikan langkahnya.


"Udah biarin aja! Palingan juga dia tidur, dia lagi mabok berat soalnya!"


Vania pun mengangguk lalu menceritakan semua kejadian yang menimpanya dari awal hingga sekarang dengan berderai airmata.


"Kalo menurutku sih mending lo minta maaf deh sama mantan istri Bima yang dulu! Kayaknya lo kualat udah ngerebut lakinya, apalagi lo juga terang-terangan ngerendahin dan memfitnah wanita itu berkali-kali!" ucap Jonathan menasehati.


"Nah gitu donk, gue mau lo berubah lebih baik! Lo juga harus minta maaf ke Bima dan harus jujur ke dia semuanya. Kalo sebenarnya lo udah selingkuhin dia sejak bayi lo umur dua bulan, siapa tahu saat lo udah bener-bener ngaku salah dan bakal tobat Bima mau nerima lo lagi!"


"Gue nggak mau balik sama Bima lagi! Gara-gara Bima hidup gue hancur! Bokap gue meninggal dan gue miskin sekarang!" Vania kembali menangis, "Gue benci sama Bima, seandainya dia nggak serahin video itu ke istri Carlos, mungkin ini semua nggak akan terjadi!" geram Vania.


"Lo sadar nggak! Bima ngelakuin itu karena dia bener-bener kecewa sama lo! Dia diselingkuhin dan anaknya meninggal gara-gara perbuatan lo! Harusnya lo sadar kenapa Bima balas dendam sama lo!" Jonathan mengingatkan.


"Ya tetep aja gue benci sama Bima! Dan gue belum mikir harus ngapain ke Bima, karena gue belum ketemu sama dia. Gue pingin hubungin dia tapi nomer lama dia udah nggak aktif," Vania menghela nafasnya panjang, "Boleh nggak gue jadi waiters di Club lo, sementara aja sambil nunggu gue dapet kerjaan bagus!"


"Lo jadi kasir ajalah jangan waiters! Lo itu sahabat gue, gue nggak suka kalo lo di colek-colek cowok sembarangan di Club. Mulai besok lo bisa kerja!"


"Thanks ya Jo! Lo emang sahabat terbaik gue!" seru Vania lalu memeluk Jonathan dengan binar bahagia.


Sedangkan Jonathan membalasnya dengan anggukan sembari menepuk pelan punggung sahabatnya itu.


***


Sudah dua minggu ini Vania bekerja sebagai kasir di Club milik sahabatnya itu, Jonathan melarang Vania memakai pakaian s**si agar dia tidak menjadi incaran para laki-laki hidung belang. Sudah cukup baginya melihat kehidupan kelam yang Vania alami, dia ingin merubah Vania menjadi wanita baik-baik.

__ADS_1


Vania juga sempat menemui Risty di perusahaan Risty bekerja dulu tapi mereka mengatakan jika Risty sudah lama mengundurkan diri dari perusahaan atau lebih tepatnya diusir dari perusahaan oleh suadara angkatnya sendiri dan dia pun sangat terkejut mendengar kenyataan itu.


Salah satu pegawai disana juga mengatakan jika papa angkat Risty sudah meninggal dan Bu Hana mereka juga tidak tahu keberadaannya. Vania benar-benar merasa semakin kasihan melihat kehidupan Risty yang sama kelamnya seperti yang dia alami, kini dia yakin akan benar-benar meminta maaf pada wanita yang telah dia sakiti itu. Hingga akhirnya dia mendapatkan nomor ponsel Risty dari salah satu karyawan disana, lalu dia segera menghubungi Risty.


Awalnya Risty kaget saat tahu dia yang menghubungi, tapi dia bersikeras meminta bertemu dengan Risty dan mereka pun janjian untuk bertemu di Cafe langganan Risty.


Pada hari dimana mereka janjian bertemu telah tiba, Vania meminta maaf dengan tulus pada Risty. Dia sampai menangis dan berlutut di hadapan Risty, menyesali segala yang telah dia perbuat dulu. Tapi dengan cepat Risty mencegah agar Vania tidak mempermalukan dirinya sendiri, hingga akhirnya Risty dengan lapang dada memaafkan Vania dan hati Vania pun begitu sangat lega saat permintaan maafnya telah diterima oleh Risty.


Tidak ada obrolan panjang saat pertemuan keduanya, Risty tidak bertanya dan Vania pun tidak ingin menceritakan semua kesedihannya pada Risty. Baginya, maaf Risty sudah cukup untuk membuatnya bersemangat membuka lembaran kehidupan baru yang lebih baik.


"Van!"


Seseorang memanggilnya sembari menepuk bahunya sekilas.


"Hah!"


Vania terkejut dan menoleh ke sumber suara.


"Itu didepan kamu! Ada yang mau bayar! Jangan benggong mulu!" ucap salah satu temannya.


"Astaga! Iya maaf,"


Setelah Vania melayani pembayaran salah satu pengunjung di Club itu, tak sengaja ekor mata Vania menangkap sosok laki-laki yang selama ini dicarinya.


Laki-laki itu terlihat minum bersama teman-temannya dengan bercanda dan tertawa bersama. Beberapa wanita cantik nan s**si pun mengelilingi laki-laki itu dan teman-temannya. Vania meminta salah satu temannya untuk menggantikannya dan dia berjalan mendekati laki-laki tanpa terlihat.


Saat tubuhnya semakin dekat dengan si pria, dia mendengar obrolan si pria yang sedang mabuk berat itu dengan teman-temannya.


"Apa lo udah puas? Kehidupan mantan istri lo lebih parah dari lo dulu! Bokapnya mati dan hidupnya melarat," ucap salah satu temannya.


"Hahaha! Gue puas! Biar dia tahu gimana rasanya kehilangan! Gimana rasanya dicampakkan, dihianati, nggak punya apa-apa! Dasar wanita mu***han! Wanita j****ng! Bahkan jika dia mati pun gue nggak peduli!" ucap Bima yang tertawa dengan penuh kemenangan.


Mendengar ucapan Bima, Vania begitu emosi. Dia benar-benar sangat marah dengan mantan suaminya itu, bagaimana bisa laki-laki ini tidak memilik hati sama sekali setelah perbuatan buruk yang dia lakukan hingga menyebabkan papanya meninggal dan hidupnya hancur, dia tidak menyesal sama sekali, merasa seperti telah memenangkan sebuah pertarungan.


Hingga dua jam berikutnya, Vania telah berada di parkiran menunggu Bima yang keluar bersama seorang wanita yang telah dibawanya dari Club.


Terlihat Bima begitu mesra memeluk wanita itu dan sesekali menc*** bibir wanita berpakaian mini itu. Hati Vania begitu panas dan terbakar cemburu, walau apapun yang sudah dilakukan Bima padanya, tetap saja hati dan cintanya hanya untuk Bima seorang walau dulu dia pernah mengkhianati pria kesayangannya itu hanya karena harta.


Saat Bima dan wanita itu berjalan ke arah mobil Bima, Vania menghadang Bima dan sang wanita.


"BIMA!" seru Vania dan Bima pun melotot terkejut.

__ADS_1


"Vania! Apa yang kau lakukan disini! PERGI DARI HADAPANKU!" teriak Bima dengan lantang.


__ADS_2