CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 18. Kunjungan


__ADS_3

"Tapi ini permintaan bayi kita, apa kakak tega menolak keinginannya?"


"Ck! Pasti itu alasan kamu aja kan?"


"Ya udah kalau nggak percaya, biar aku nggak makan dan nggak minum susu hamilku aja!" Riana merajuk.


"Eh kok gitu! Kamu jangan kekanak-kanakan seperti itu lah Ria!" seru Beny.


"Kalau ada apa-apa sama bayi kita jangan salahin aku!"


Riana tak peduli, walau sedikit kekanak-kanakan dia ingin tetap ikut ke Bali.


"Iya, kamu boleh ikut! Tapi jangan merepotkanku!" ucap Beny sedikit kesal.


"Iya Kak Ben, aku janji nggak akan buat kakak kerepotan," Riana berbinar bahagia.


**


Di suatu siang, seperti biasa Riana pergi ke mall jalan-jalan tanpa ditemani oleh Mbak Tina, sedangkan Pak Gino memilih menunggu di Basement.


Tak sengaja ekor matanya melihat seorang laki-laki yang sangat dia sayangi sedang berada di salah satu outlet brand ternama.


Dia masuk ke dalam outlet itu dan menghampiri sang pria.


"Rey songong!" panggil Riana pada Reifan, saudara kembarnya dengan senyum ceria.


"Ria jutek!" Reifan tak kalah bahagianya.


Mereka berpelukan erat meluapkan kerinduan.


"Ada urusan apa kamu disini Rey? Sejak kapan kamu disini? Kenapa kamu nggak hubungin aku?" tanya Riana yang melonggarkan pelukannya.


"Tanyanya satu-satu atuh neng!" Reifan mengacak rambut indah saudara kembarnya.


"Ck! Kebiasaan!" Riana kesal Reifan membuat rambutnya berantakan.


"Tadinya sih aku mau nemuin kamu tanpa ngabarin dulu biar surprise gitu, makanya aku disini mau beli oleh-oleh. Belum ngasi surprise, eh malah dikagetin duluan." ucap Reifan pura-pura kecewa.


Riana hanya terkekeh.


"Rencananya aku di kota ini satu minggu Ria, Kak Risty dan aku akan membangun cabang perusahaan baru disini, karena prospeknya sangat bagus. Apalagi kota ini sangat ramai, semua orang dari berbagai daerah datang kesini."


"Waahh bagus donk Rey! Aku kan jadi bisa kerja lagi dan nggak berjauhan dari suamiku," ucap Riana berbinar bahagia.


"Yahh kami memang merencanakan ini setelah kamu menikah kemarin, kami tahu kamu nggak akan bisa jika berdiam diri aja dirumah. Aku dan kakak memiliki orang kepercayaan disini untuk memantau pembangunan cabang perusahaan kita,"


"Wahhh benarkah kalian memikirkanku? Udah berapa persen pembangunannya? Eh tapi Kak Risty nggak pernah bilang saat kami bertukar kabar ditelepon,"


"Alhamdulillah pembangunan udah 80%, udah pasti kalo kami selalu memikirkanmu, kami nggak ingin kamu diremehkan orang lain sekalipun itu suamimu maupun keluarganya!" ucap Reifan dengan tatapan menyelidik.


Sedangkan Riana tegang, saudara kembarnya itu selalu peka dengan apa yang terjadi padanya.


"Apa mereka baik denganmu?" tanya Reifan memicingkan mata.


"Udah pasti mereka baik Rey, jangan berburuk sangka seperti itu! Ayo traktir aku belanja, nanti selesai belanja kamu harus ceritain perkembangan perusahaan baru kita!"


Riana menarik tangan Rey agar mengikutinya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan belanja mereka, Riana mengajak Reifan makan siang dan mereka kembali berbincang cukup lama.


"Baiklah, pulanglah dulu! Kamu pasti capek kan? Aku juga akan kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, nanti malam aku akan berkunjung ke mansion kalian," ucap Reifan mengakhiri pertemuan mereka.


"Baiklah Rey, jaga dirimu baik-baik disini!"


"Hei aku ini laki-laki dewasa, jago beladiri, nggak ada yang berani menyentuhku. Dua pengawal bayangan juga bersamaku! Seharusnya kamu itu mengkhawatirkan dirimu sendiri, wanita hamil tapi kemana-mana sendiri. Kalau ada yang mencelakaimu gimana? Ck, suamimu itu payah sekali! Dia bener-bener nggak becus jagain istrinya! Apa kau ingin aku menghajarnya?" ujar Reifan dengan kesal.


"Hei dasar pria songong nggak ketulungan! Kau kira saudaramu ini putri kerajaan kemana-mana harus dikawal! Atau pengusaha kaya raya yang biasa memiliki banyak rival! Ingat kita cuma orang biasa Rey, apa untungnya orang lain mencelakai kita? Lagi pula aku keluar dengan penampilan ala anak kuliahan bukan bergaya sosialita kayak biasanya!"


"Kau tau aku hanya mengkhawatirkanmu Ria! Aku nggak akan biarin siapapun nyelakai kamu! Jadi setelah kamu masuk ke perusahaan baru kita, aku akan kirimkan satu bodyguard wanita yang akan menjagamu,"


"Iya Rey, suka-suka kamu ajalah! Yuklah kita pergi, berdebat seharian denganmu membuatku laper lagi!"


Reifan tak pernah berubah, sejak dulu selalu posesif padanya, melebihi semua orang yang ada dihidupnya.


Riana menarik tangan Reifan dan berjalan menuju parkiran, Riana mengenalkan Reifan pada Pak Gino agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karena walau bagaimanapun, Riana wanita bersuami, dia tidak ingin orang lain berfikir buruk dan mengira dirinya sengaja ke mall untuk menemui seorang laki-laki.


Dan setelahnya, Riana pamit kembali ke mansion suaminya pada Reifan.


Saat berada di mobil, Riana menghubungi suaminya dan mengatakan perihal kedatangan Reifan. Dia berpesan pada Beny agar tidak pulang larut malam, karena Rey ingin berkunjung ke mansion mereka.


Beny pun menyanggupi permintaan istrinya, karena sendiri dia juga rindu bercanda dengan teman konyolnya itu. Dia masih mengingat, dua kali mereka berdua berjoged heboh di panggung dengan tak tahu malu dan bergaya konyol hanya untuk memeriahkan acara pernikahan saudara mereka.


***


Malam pun tiba, hari ini Beny pulang sebelum pukul 6 petang. Dia membersihkan tubuhnya dan bersiap makan malam bersama keluarganya.


Dan seperti biasa, saat suaminya ada di rumah, Riana akan memasakkan makanan kesukaan sang suami dengan tangannya sendiri.


Di meja makan, kini mereka bertiga telah berkumpul untuk makan malam. Riana mengambilkan makanan untuk suami dan sang ibu mertua yang selalu menampilkan senyum palsunya.


"Sama-sama kak," ucap Riana tersenyum sangat manis.


Dia bahagia, akhirnya bisa makan malam bersama suaminya lagi.


Kemudian dia menyerah piring kedua kepada ibu mertuanya.


"Terimakasih sayang," ucap Bu Gendhis dengan senyuman palsunya.


"Sama-sama mami,"


Dan ketiganya pun makan tanpa ada banyak pembicaraan, Bu Gendhis terlalu malas bicara dengan sang menantu, dan Beny terlalu sibuk dengan ponselnya, hingga Riana hanya bisa menahan rasa kecewanya karena sang suami selalu mengabaikannya.


Selang beberapa menit setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, Riana dan Beny duduk di sofa yang berada di ruang tengah mansionnya, tentu saja untuk menunggu kedatangan Reifan.


"Apa Kak Ben mau aku buatkan kopi?" tanya Riana.


"Iya, boleh!"


Riana masuk ke dalam dapur dan membuatkan kopi favorit sang suami, dan tiba-tiba terdengar suara seorang yang dia kenalnya sedang berbincang dengan sang suami.


"Wah, Rey udah datang sepertinya, aku buatkan kopi aja deh sekalian." gumam Riana yang masih berada di dapur.


"Nona, biar kami saja yang buatkan kopi untuk tamu. Kami tidak mau anda kelelahan dan sakit lagi," ucap Mbak Tina, ART yang sering menemaninya saat di luar.


"Nggak papa Mbak Tina, buat gini doank, nggak akan bikin kelelahan! Udah mbak duduk aja, udah selesai kan kerjaannya?"

__ADS_1


"Sudah Nona,"


Setelah selesai membuatkan kopi untuk dua pria kesayangannya, Riana datang menghampiri mereka berdua.


"Hei jutek! Ini aku bawain martabak kesukaanmu!"


Reifan menyerahkan kantong berisi beberapa martabak telur dan manis dari outlet ternama.


"Wahh banyak banget! Mana bisa aku ngabisin semuanya!"


"Ya kamu bagi-bagilah sama para pekerja di mansion ini! Masa mau dimakan semua, bisa kolesterol dan diabetes kamu nanti!"


"Dih jelek bener doanya! Makasih ya Rey songong kesayanganku!" ucap Riana mencium pipi Rey dengan gemas.


"Hmm!"


Beny mengenalkan Rey pada Bu Gendhis, tapi seperti biasanya Bu Gendhis berpura-pura ramah pada Rey.


"Selamat malam tante, kenalkan saya Reifan saudara kembar Riana. Ini sedikit oleh-oleh sederhana buat tante," ucap Rey dan menyerahkan paperbag ekslusif bertuliskan merk terkenal pada Bu Gendhis.


"Selamat malam juga Nak Reifan, Wah terimakasih banyak lho oleh-olehnya nak Rey." Bu Gendhis berbinar bahagia dan Rey mengangguk tersenyum, "Oh jadi kalian saudara kembar ya! Tapi wajah kalian nggak identik ya," ujar Bu Gendhis.


"Ya begitulah tante, kalau saya memang berwajah kalem seperti malaikat dan Riana berwajah jutek seperti.."


"Seperti setan maksudmu!"


Riana melipat tangannya kesal dan semua orang terkekeh melihat wajah cemberut Riana yang terlihat lucu.


"Jangan bilang seperti itu Nak Rey, gadis cantik ini adalah menantu kesayangan tante, jangan meledeknya nanti tante marah lho!" Bu Gendhis memperingatkan.


"Widih.. Akting ibu mertua kesayanganku natural banget sih, udah berasa masuk ke dalam drama seri ikan terbang," cibir Riana dalam hati.


"Hehehe, maaf tante. Orang dia sendiri yang meledek dirinya,"


"Ya udah kalian terusin temu kangennya, tante mau permisi ke kamar dulu ya!" pamit Bu Gendhis.


"Baik mi,"


"Baik tante,"


***


Kini mereka bertiga berada di gazebo yang ada di halaman Mansion Beny.


Beny dan Rey terlihat sangat akrab seperti sahabat lama yang baru bertemu setelah lama berpisah. Tawa keduanya lepas dan Beny menjadi sangat ekspresif dan candaan konyolnya muncul kembali saat bersama Rey.


Riana memperhatikan setiap detail wajah suaminya, dia sangat merindukan Beny yang saat ini ada didepan matanya. Beny yang selalu ceria dan hangat kepada siapapun, tapi kenapa saat bersamanya Beny seperti menjadi orang lain. Apakah sedalam itu rasa sakit karena penolakan darinya tempo hari, hingga membuat sikap Beny sedingin es padanya, itu yang Riana terus pikirkan.


"Sayang maafkan aku! Aku akan berusaha menyembuhkan luka di hatimu, sampai aku bisa mendapatkan perhatian dan senyuman hangat milikmu!" gumam Riana dalam hati.


"Oia Ben, seminggu ini kan aku disini untuk urusan bisnis, boleh donk aku bawa Riana menemaniku. Aku rasa aku butuh penasehat yang judes kayak setan biar aku nggak lengah dan ceroboh," ucap Reifan sembari tertawa sumbang.


"Rey, balik sana kamu ke hotel! Bosen aku liat muka songongmu!" ucap Riana kesal, sedangkan kedua laki-laki didepannya malah tertawa keras.


"Baiklah bawa saja istriku bersamamu, tapi jangan mengeluh jika dia menghabiskan uangmu." Beny terkekeh.


"Terus aja kalian meledekku! Udah aku tidur aja, bayiku tiba-tiba alergi ngeliat wajah menyebalkan kalian!" Riana berpura-pura kesal dan pergi meninggalkan suami dan saudara kembarnya.

__ADS_1


Dia hanya tidak ingin melihat wajah tampan suaminya yang terus tersenyum, senyuman tampan itu membuat debaran jantungnya berdetak lebih cepat, dan seolah menghipnotisnya agar dia 'menyerang' pria yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. Itu sebabnya dia memilih kembali kedalam dan tidur di kamar untuk menetralkan perasaannya.


__ADS_2