CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 19. Dinner


__ADS_3

Selama satu minggu ini, Reifan mengajak Riana memantau perkembangan pembangunan cabang baru perusahaan mereka, menjemputnya jam 9 pagi dan mengantarkannya pulang sore hari.


Terkadang jika tidak ada meeting dengan manager proyek dan timnya, Reifan mengajak Riana beristirahat ke hotel tempatnya menginap hanya untuk sekedar mabar game atau membiarkan wanita hamil itu tidur siang dengan tenang. Tiap hari mereka berdua bertelpon ria bersama Bu Aminah, Bu Hana dan Risty untuk mengobati rasa rindu mereka.


Kedekatan persaudaraan mereka, membuat Reifan merindukan moment kebersamaan mereka selama ini. Reifan kesepian di kota asalnya karena Bu Aminah telah tinggal di Ibukota menemani Bu Hana dan kedua wanita paruh baya itu, lebih sering menghabiskan waktu liburan berdua.


"Rey.." panggil Riana saat dia terbangun dari tidur siangnya.


"Hmm!" jawab Rey tanpa mengalihkan pandangan dari gamenya.


"Aku laper Rey!" keluh Riana.


"Iya, biar aku pesenin makanan di restoran hotel ini."


"Aku nggak mau makanan disini Rey!" tolak Riana.


"Lalu ingin makan apa bumil?" Reifan memandang wajah Riana.


"Aku pengennya burger dengan double cheese, kenyang goreng, salad sayur, ayam spicy dan es krim punya mekdi!" pinta Riana.


"Ck, pantas suamimu mengeluh! Ya udah aku pesenin lewat grepfud aja ya!"


"Eh nggak! Aku nggak mau, aku maunya kamu sendiri yang berangkat! Permintaan calon ponakanmu nih!"


"Ya ampun, bumil ini sebenarnya istri siapa sih kenapa jadi aku yang ikutan repot!" keluh Reifan.


"Berangkat nggak!"


"Iya, iya aku berangkat, suka banget ngerepotin orang!" gerutu Reifan tapi selama ini dia memang tidak pernah menolak permintaan saudaranya.


Setelah satu minggu memantau pembangunan cabang perusahaan mereka, kini keduanya bisa bernafas lega karena pembangunan sudah mencapai 90% dan rencananya perusahaan akan dibuka dan diresmikan saat Riana pulang dari Pulau Bali bulan depan.


Reifan kembali mengunjunginya mansion Beny di pagi hari untuk pamit kembali ke kota asalnya kepada Riana, suami dan ibu mertua Riana.


***


Hari ini, Riana dan Beny telah bersiap berangkat ke Bali bersama Hasan sang asisten dan Arletta sang sekretaris.


Riana terus menempel pada suaminya dan mengandeng lengan suaminya, sedangkan Beny hanya membiarkan apapun yang dilakukan sang istri.


Pesta yang akan mereka datangi masih besok malam, jadi mereka memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai setelah mereka menaruh barang-barang mereka ke hotel tempat mereka menginap.


Selama di pantai, Riana terus mengenggam jemari suaminya sembari berceloteh memuji keindahan pantai yang ada dihadapannya itu. Dia berlompat kecil dengan riangnya, angin kencang yang menerpa rambut panjangnya membuat wajahnya semakin cantik dan imut.


Beny akui istrinya itu sangat cantik, jika mereka adalah pasangan normal pada umumnya, mungkin saat itu dia akan memeluk dan menciumi pipi istrinya yang semakin menggembul itu.


Sedangkan Hasan dan Arletta memilih duduk di cafe yang berada di dekat pantai, untuk ngopi dan menikmati pemandangan pantai.


"Boss kita dan istrinya sangat serasi ya Letta, lihat saja yang satu tampan yang satu sangat cantik," gumam Hasan sembari menghisap rokoknya.


"Kata siapa serasi! Aku yang lebih pantas mendampingi Kak Beny," ucap Arletta kesal.


"Jangan macam-macam kamu! Kamu hanya sekretaris, tidak pantas kamu berniat merebut Boss kamu dari istrinya! Aku bisa bertindak lebih tegas padamu jika kamu berani merusak hubungan mereka," Hasan memperingatkan.


Dia tahu jika Arletta memang sengaja mendekati Bossnya dan dia tidak menyukai gadis tak tahu malu itu, walaupun dia tahu Arletta bukan gadis dari kalangan biasa, tapi baginya Arletta tak ada bedanya wanita j***ng yang suka merebut suami orang.

__ADS_1


"Cihh! Asisten rendahan sepertimu berani-beraninya mengancamku! Awas aja kalau kau mencoba menghalangiku, kau sendiri akan berhadapan dengan Bu Gendhis!" Arletta balik memperingatinya.


"Apa Bu Gendhis?" Hasan melotot tak percaya.


"Asal kau tahu, Bu Gendhis nggak suka dengan Riana dan dia menginginkan aku yang menjadi istri putranya! Jadi jangan coba-coba kau mencampuri urusanku!"


Hasan hanya terdiam karena terkejut dengan ucapan Arletta, dia tidak menyangka jika selama ini Bu Gendhis sendiri yang ingin memisahkan putra dan menantunya.


Riana dan Beny masih berjalan menyusuri pantai, merasakan angin kencang yang menerpa tubuh mereka, Riana melepas genggamannya dan berlari kecil mengejar ombak dan membiarkan dinginnya air membasahi kakinya.


"Ria, jangan lari-lari! Nanti kamu jatuh, kenapa sih kamu selalu kekanak-kanakan!" seru Beny dengan khawatir.


Dia segera melangkah kakinya dengan cepat untuk menggenggam jemari istrinya lagi.


Dan benar saja ombak setinggi tubuh Beny tiba-tiba menerpa tubuh mereka dan dengan sigap Beny menarik tangan Riana dan mendekap tubuh sang istri dalam pelukannya.


"Byuuurrr!"


Ombak itu menerpa tubuh Beny dari belakang sehingga membasahi seluruh tubuhnya, sedangkan Riana pun juga ikut basah.


Pandangan mata keduanya bertemu sejenak, Riana sangat menyukai Beny yang basah dan berantakan itu, baginya apapun yang dilakukan prianya selalu membuatnya semakin tampan.


Sedangkan Beny ingin sekali menc**mi b**ir dan seluruh tubuh istrinya yang basah dan membawanya ke ranjang mereka. Melihat Riana yang cantik dengan dress putihnya yang basah membuat hasratnya mendadak muncul, semakin lama dia semakin merasa kesulitan mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh sang istri.


"Pak Ben,"


Arletta datang di antara mereka dan membuat keduanya melepaskan pandangan mata mereka.


"Ada apa Letta?" tanya Beny.


"Baiklah katakan padanya kita akan datang kesana,"


"Baik Pak Ben,"


Akhirnya sore hari setelah puas berada di pantai, semua kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka akan bersiap-siap menghadiri undangan dinner Tuan Christian yang merupakan relasi bisnis Beny yang tinggal di Bali.


Malam pun tiba, mereka menuju lokasi yang telah Christian kirimkan, hanya butuh 20 menit saja mereka sampai di tempat tujuan.


Resort milik Christian sangat besar dan mewah, banyak penjaga berpakaian hitam mengelilingi resortnya, asisten dan para pelayan terlihat berjejer menyambut kedatangan mereka.


Christian berjalan dari dalam resortnya dan menyambut kedatangan Beny bersama yang lain, dengan senyum terbaiknya.


Christian adalah pebisnis sukses keturunan Indo-Eropa berusia 32 tahun, ibunya seorang wanita asli Bali dan menikah dengan seorang pebisnis asal Eropa yang sangat terobsesi dengan Pulau Bali. Wajahnya tampan dan mempesona, mata biru, rahang tegas dan bulu halus didagunya membuat semua wanita betah untuk memandangnya.


Bahkan Arletta yang memandang wajah sempurna didepannya itu seolah seperti lupa akan keberadaan Beny, dia memandang laki-laki itu tanpa berkedip. Sedangkan Riana malah biasa saja dan seolah sedang mengingat sesuatu.


"Selamat datang Tuan Beny, saya sangat senang anda menyempatkan waktu untuk memenuhi undangan dinner saya," ucap Christian.


"Terimakasih atas sambutan anda Tuan Christian, saya juga merasa senang bisa bertemu kembali dengan anda," Beny membalas senyuman Christian.


Tak sengaja ekor matanya memandang wajah cantik Riana yang berada di belakang Beny.


"Nona Riana Adhytama kan ini?" tanya Chris.


"Selamat malam Tuan Chris, bagaimana kabar anda?" ucap Riana menjabat tangan Christian.

__ADS_1


"Astaga, saya tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan anda disini! Puji Tuhan saya baik Nona," ucap Christian berbinar bahagia.


"Apakah kalian saling mengenal?" tanya Beny penasaran.


"Benar Tuan Beny, kami sudah mengenal lama. Perusahaan logistik milik Adhytama group bekerjasama dengan perusahaan saya, Nona Riana sebagai wakil CEO saat kami bertemu." jelas Christian.


Entah tatapan Christian yang tak biasa pada Riana membuat dada Beny terasa panas, dia merasa cemburu melihat istri dan relasi bisnisnya begitu akrab.


"Tapi sekarang istri saya sudah tidak menjabat sebagai wakil CEO lagi Tuan Chris,"


"Apa istri?" tanya Chris yang terkejut dan Beny dan Riana pun kompak mengangguk.


Ada rasa kecewa dihati Christian saat mendengar Riana telah menikah, Dia sempat menaruh hati pada wanita cantik itu tapi dia terlalu gengsi untuk mengatakan perasaan sukanya, dan sekarang dia menyesal Riana telah dimiliki oleh orang lain.


"Ah maaf aku sampai lupa, mari silahkan duduk dulu!" ajak Christian dan semua pun mengangguk mengikutinya.


Dan kini mereka duduk berhadapan di sofa besar milik Christian.


"Oia Tuan Chris perkenalkan ini Hasan asisten saya dan Arletta Sekretaris saya," ucap Beny memperkenalkan duanya.


Kemudian mereka saling berkenalan dan mulai akrab berbicara. Sesekali Christian melayangkan pandangan mendamba pada Riana, tanpa disadari Riana atau yang lainnya, tapi Beny tahu jelas jika Christian memiliki perasaan lebih pada istrinya.


"Sejak kapan anda menikah Tuan Beny? Kenapa anda tidak mengundang saya?" tanya Christian penasaran.


"Kami menikah baru sekitar 3 bulanan dan kami belum sempat membuat resepsi pernikahan karena istri saya sedang hamil," jawab Beny.


"Wah selamat Tuan Beny, Nona Riana.. Semoga bayi kalian selalu sehat dan diberkati oleh Tuhan," ucap Christian dengan tulus.


"Amin.. Ya Robbala'laminn.." jawab keduanya bersamaan.


"Terimakasih banyak atas doa anda Tuan Chris," ucap Beny dan Christian pun mengangguk.


Setelah berbincang sejenak, mereka makan malam bersama di meja besar dan mewah milik Christian. Segala menu western hingga makanan khas Indonesia pun juga ada disana, dan semuanya pun menikmati makanan mereka dengan hati bahagia.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, akhirnya Beny pamit kepada Christian untuk kembali ke Hotel karena dia kasihan melihat Riana yang terlihat mengantuk dan tak berhenti menguap.


Saat telah tiba di Hotel, Riana merebahkan tubuhnya begitu saja di ranjang tanpa berganti baju terlebih dulu.


"Ria, apa kamu nggak ganti baju atau ke kamar mandi dulu?" tanya Beny.


"Hmm!"


Riana hanya menggelengkan kepalanya dan di menit berikutnya dia sudah tertidur dengan pulas. Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa membuatnya enggan beranjak dari ranjangnya.


Beny kasian melihat istrinya yang mengantuk dan kelelahan, dia tidak mencoba membangunkan Riana kembali. Dia memilih untuk mengganti baju istrinya dengan tangannya sendiri.


Tubuh Riana yang dulunya tinggi langsing sekarang lebih berisi, dadanya terlihat semakin besar dan menggembul keatas, hingga membuat Beny harus susah payah menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya.


Setelah meloloskan baju istrinya, kini wanitanya hanya mengenakan d**laman


saja, lagi-lagi dia harus menelan salivanya dengan kasar karena sesuatu yang berada dibawah sana sudah ingin segera dituntaskan. Dengan cepat dia memakaikan baju tidur ke tubuh istrinya dan menutupi badannya agar dia tidak 'menyerang' sang istri saat itu juga.


"Ah s14l!" Beny mengumpat lalu berjalan cepat ke kamar mandi untuk bersolo karir.


Rasa itu rasa nikmat yang pernah dia rasakan bersama sang istri dan bayangan malam panas 5 bulan lalu terus menari-nari diotaknya, dia selalu mendambakan untuk menyentuh wanitanya lagi, tapi dia terlalu gengsi untuk memulainya. Dia takut istrinya menolaknya lagi, entah sampai kapan dia bisa untuk tak menyentuh tubuh yang selalu dia rindukan itu.

__ADS_1


__ADS_2