
📞"Sayang, maaf beberapa minggu ini aku benar-benar sibuk, banyak tugas dan beberapa kegiatan dikampus yang nggak bisa aku tinggalkan. Maafkan aku jika sering mengabaikanmu sayang!" ucap Naya dengan segala alasannya.
"Hmm.." Erlangga begitu kesal dan marah dengan sikap Naya yang seenaknya.
"Kok gitu sih jawabnya? Kamu marah ya sayang? Aku kan udah minta maaf!"
"Aku akan memaafkanmu jika besok kamu datang menyusulku kesini!" pinta Erlangga.
📞"Baiklah aku akan menyusulmu ke Australia satu minggu lagi," ucap Naya pada Erlangga.
Setelah banyak berbincang kesana kemari, akhirnya mereka mengakhiri perbincangan mereka tanpa ada ganjalan dan kekesalan lagi. Erlangga pun juga mulai luluh kembali, walaupun dia sendiri masih meragukan perasaannya.
***
Satu minggu, telah berlalu tapi Naya tak kunjung menyusulnya ke negara dimana dia bekerja saat ini. Naya hanya sekali mengirimkan pesan dan mengatakan dia membatalkan keberangkatan karena dia sedang sakit. Dia berjanji pada Erlangga setelah dia sembuh dia akan segera datang padanya.
Mengetahui jika Naya sakit, dengan tidak sabar Erlangga memesan tiket pesawat menuju ke negeri Paman Sam itu. Dia ingin segera bertemu Naya tanpa mengabari terlebih dulu, karena dia ingin memberi surprise pada tunangannya itu.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya dia sampai di apartemen tempat Naya tinggal.
"Ting tong.. Ting tong..!"
Erlangga menekan beberapa kali bel apartemen Naya. tapi sang pemilik apartemen tak segera membukakan pintunya, lalu seorang tetangga apartemen Naya menghampirinya.
"Apa anda sedang mencari Nona Naya, Tuan?" tanya si tetangga.
"Benar nyonya, apakah anda tahu kemana Naya pergi?"
"Saya dengar dua hari lalu Nona Naya pingsan di lobby dan dibawa ke rumah sakit xx, saya tidak tahu kabar selanjutnya. Coba anda cari di rumah sakit itu sepertinya kondisi belum membaik karena dia belum juga kembali kesini," ucap si tetangga dan Erlangga mengangguk sembari mengucapkan terimakasih.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Erlangga telah sampai di rumah sakit dimana Naya dirawat. Dia bertanya pada salah satu petugas rumah sakit akhirnya dia menemukan ruangan Naya dirawat.
Saat dia akan membuka pintu ruangan itu, terdengar sayup-sayup seorang dokter memberikan beberapa nasehat seputar kehamilan, dan tentu saja Erlangga begitu terkejut.
Dia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Naya sedang hamil? Jika iya, lalu siapa ayah dari bayi yang di kandung Naya? Dia ingin memastikan dan menunggu dokter yang memeriksa Naya keluar dari ruangannya.
Setelah dokter itu keluar ruangan, Erlangga menunggunya di tempat yang agak jauh dari ruangan Naya.
"Permisi dokter!" panggil Erlangga pada dokter wanita itu.
"Iya ada apa Tuan?" tanya sang dokter.
"Saya tunangan dari pasien bernama Kanaya Putri, boleh saya berbicara secara pribadi dengan anda?"
"Boleh, mari kita ke ruangan saya Tuan,"
Sang dokter mengajak Erlangga ke ruangannya, tanpa basa-basi Erlangga langsung bertanya soal keadaan Naya. Dokter mengatakan jika Naya tengah hamil dan usia kehamilannya sudah memasuki 6 minggu.
__ADS_1
Dokter juga berkata jika Naya mengalami morning sickness jadi itu yang menyebabkan dia pingsan saat terlalu lelah dan beberapa jenis makanan maupun minuman bisa juga membuatnya mual bahkan sampai muntah. Dan itu wajar bagi sebagian besar ibu hamil, walaupun tidak semua mengalami morning sickness itu. Setelah selesai mendengar semua penjelasan dokter, Erlangga berusaha meredam segala kemarahan dan kekesalannya lalu dia berjalan menuju ke ruangan Naya.
Saat Erlangga membuka pintu ruangan Naya, alangkah terkejutnya Naya melihat Erlangga yang tiba-tiba datang menjenguknya.
"Sa.. sayang kamu disini?" tanya Naya dengan gugup.
"Apa kamu senang aku datang menjengukmu?" ucap Erlangga berpura-pura manis dan menyerahkan bunga serta parsel buah kepada Naya.
"Ah iya! Su.. sudah pasti aku senang kamu datang," ucap Naya dengan perasaan begitu takut.
"Hallo Nyonya! Kenalkan aku Erlangga tunangan dari Naya, terimakasih sudah menjaga Naya di rumah sakit!" ucap Erlangga dengan tulus pada seorang wanita paruh baya yang telah menjaga Naya.
"Hallo juga Tuan! Saya Maria, saya adalah orang yang biasa membersihkan apartemen Nona Naya setiap dua hari sekali. Anda tidak perlu berterimakasih karena sudah tugas saya menjaga nona disini," ucap wanita bernama Maria itu.
"Baiklah Maria, saya tetap harus mengucapkan terimakasih padamu. Oh iya maaf, bisakah saya berbicara empat mata sebentar dengan Naya?"
"Ohh tentu saja Tuan! Kalau begitu saya permisi ke kantin dulu!"
"Baik, silahkan Bu Maria!"
Maria mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian Maria, Erlangga mendekati ranjang Naya dirawat.
"Bagaimana keadaanmu? tanya Erlangga.
Dia merasa sangat bersalah dengan yang terjadi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saat Erlangga tahu keadaan yang sebenarnya, dia sudah merelakan jika Erlangga meninggalkannya. Dia merasa sangat buruk dan tidak pantas untuk laki-laki sebaik Erlangga.
"Hmm! Siapa ayah dari bayi itu?" tanya Erlangga tanpa basa-basi.
"Degg!"
Jantung Naya serasa berhenti berdetak, tubuhnya mendadak dingin tapi keringat di dahi dan tangannya keluar begitu saja.
"Gi.. gimana bisa kamu tahu aku sedang hamil?" ucap Naya dengan rasa takut luar biasa.
"Aku bukan laki-laki bodoh Nay! Jadi ceritakan aja semuanya dan aku akan mendengarnya!" ucap Erlangga dengan datar.
"Apakah kamu akan meninggalkanku setelah tahu semuanya?" Naya memastikan.
"Itu sudah pasti! Karena udah jelas jika keluargaku nggak akan bisa menerima kamu dan bayi yang entah bapaknya siapa itu,"
"Tapi aku diper**** Lang! Bukannya aku yang sengaja melakukan semua ini! Tolong jangan tinggalin aku! Aku sangat mencintaimu!"
Akhirnya Naya mengaku dan menangis, dia benar-benar takut kehilangan Erlangga. Orang yang sangat dia cintai dan dia baru menyadari sebesar itu cintanya pada Erlangga.
"Tidak ada asap jika tidak ada api! Kalau kamu diam di apartemen dan jadi gadis yang penurut pasti semua juga nggak bakal terjadi."
__ADS_1
"Apa maksudmu Lang?"
"Emangnya aku nggak tahu kamu sering ke club malam dan mabuk-mabukan bersama teman-temanmu kampus! Kamu sering mengabaikanku karena kebiasaannya barumu! Dan inilah akibatnya, semua karena ulahmu sendiri!" ucap Erlangga dengan nada tegas.
"Kamu tahu darimana aku sering mabuk dan pergi ke Club?"
"Apa kamu lupa siapa mantan tunanganmu ini! Kamu itu bukan siapa-siapa jadi mudah buatku mencari tahu soal kamu!"
"Tapi Lang! Tolong beri aku kesempatan! Aku janji akan mencintaimu sepenuh hati dan pulang ke Indonesia bersamamu. Kita akan menikah secepatnya seperti kemauanmu!" Naya memohon.
"Bener-bener nggak tahu malu! Setelah kamu menolak ajakanku menikah kemarin sekarang kamu yang memintanya karena kamu terlanjur hamil dengan pria lain dan menjadikanku bapak bayi itu, Hah! Kamu anggap pria macam apa aku ini? Aku bukan pelarianmu!" Erlangga begitu emosi.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku kan Lang? Kamu nggak akan bisa melupakanku jika kamu bersikeras meninggalkanku!" teriak Naya dengan frustasi.
"Hah? Percaya diri sekali kamu! Baiklah, jaga dirimu baik-baik! Aku minta maaf jika selama jadi kekasihmu aku begitu membosankan dan nggak berarti buat kamu sampai kamu sering mengabaikanku. Aku doakan kamu selalu bahagia, terimakasih untuk semuanya! Pertunangan ini aku batalkan dan jelaskan sendiri pada keluargamu, aku pergi! " pamit Erlangga.
Sedangkan Naya menangis meraung-raung saat Erlangga telah memutuskan pertunangan mereka.
*Flashback Off
"Apa kakak masih bersedih saat ini? tanya Risty.
Udah lama sekali kejadian itu, aku udah lupain semuanya," Erlangga berdiri dan mulai menyalakan rokoknya lalu menghisapnya perlahan sembari menikmati suasana pantai yang begitu sejuk.
"Apa semudah itu melupakan seseorang bagi kakak?"
"Nggak juga! Mungkin karena seseorang aku bisa melupakan mantan tunanganku!" jawab Erlangga datar.
"Apa wanita itu pacar kakak?" Risty benar-benar penasaran.
"Ck! Kamu bawel banget ya! Nggak semua urusan pribadiku kamu harus tau!" ucap Erlangga berpura-pura kesal tanpa memandang lawan bicaranya.
Padahal dia tidak ingin menjawab pertanyaan Risty karena wanita yang dia maksud adalah Risty sendiri.
"Tinggalkan wanita itu jika benar wanita itu kekasih kakak!" ucap Risty yang tiba-tiba memeluk Erlangga dari belakang.
Sedangkan Erlangga sangat terkejut dengan ucapan dan tindakan Risty, dia tidak menyangka adik iparnya senekat itu memeluknya. Dulu jika Risty memeluknya sebelum Risty menjadi adik iparnya mungkin Erlangga sangat senang, tapi melihat sikap agresif Risty yang seperti ini dia menjadi sedikit illfeel.
"A.. Apa maksudmu bicara seperti itu! Lepaskan aku! Kamu adik iparku jangan bertindak diluar batasmu!" ucap Erlangga yang salah tingkah dan melepaskan pelukan Risty dari punggungnya.
Mendengar ucapan Erlangga, ingin sekali Risty mengatakan jika mereka berdua bukan ipar sekarang. Tapi lidahnya begitu keluh mengucapkan semua itu. Dia ingin Erlangga tahu dengan sendirinya.
"Jangan menghilang lagi untuk yang ketiga kalinya! Aku ingin kakak bersamaku! Aku lelah selalu menunggumu," ucap Risty yang memberanikan diri.
"Hah? Apa kamu sadar dengan ucapan kamu?" tanya Erlangga yang memandang wajah cantik Risty dan Ristypun mengangguk dengan cepat, "Jangan pernah menungguku lagi! Kamu menunggu orang yang salah! Jadi lupain aja aku!" ucap Erlangga datar walaupun hatinya sebenarnya begitu bahagia mendengar Risty selalu menunggunya.
Mendengar penolakan Erlangga, Risty jadi berfikir jika Erlangga memang mencintai wanita lain bukan dirinya. Dia benar-benar kecewa dengan penolakan Erlangga, dia sudah membuang rasa malunya untuk mengatakan perasaannya tapi Erlangga tak menginginkannya lagi.
__ADS_1
"Aku minta maaf jika ucapanku buat kakak nggak nyaman!" ucap Risty merasa malu dan tidak enak.