CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 33. Kesempatan


__ADS_3

"Bunda liat! Tangan Oma bergerak!" seru Ardy dengan antusias.


Riana pun membelalakkan matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya, dengan cepat Riana menekan tombol untuk memanggil suster sembari merasakan kontraksi diperutnya lagi.


"Ssshhhh.. Astaghfirullah.. sakit," rintih Riana lagi.


"Bunda! Mana yang sakit bunda! Oma tolong bunda!" seru Ardy panik kembali.


Ardy yang melihat Omanya masih belum bisa merespon, sontak berlari memanggil para bodyguard.


Beberapa detik kemudian salah satu bodyguard masuk ke ruangan Bu Gendhis dan menghampiri Riana.


"Nyonya muda apa anda perlu bantuan?" tanya salah satu bodyguard dengan panik.


"Tolong hubungi suamiku dan Papi Chandra! Suruh mereka ke rumah sakit sekarang!" pinta Riana.


"Baik Nyonya! Apa perlu saya panggilkan dokter?"


"Aku sudah memanggilnya, kalian lakukan saja yang aku minta!"


"Baik Nyonya!"


Bu Gendhis mulai membuka matanya perlahan dan bersamaan dengan beberapa suster dan seorang dokter masuk.


"Nyonya muda apa sudah waktunya melahirkan? Berapa menit kontraksinya datang?" tanya dokter itu dengan raut khawatir.


"Tolong periksa dulu mamiku dulu dok, sepertinya beliau tadi menggerakkan tangannya," ucap Riana yang masih meringis menahan sakitnya.


"Baik Nyonya! Sus tolong hubungi dokter obygn dan bawa Nyonya Riana ke ruang bersalin!"


Riana dibawa beberapa suster ke ruang bersalin dan Ardy masih menunggu sang nenek yang sedang diperiksa oleh dokter.


**


Di kantor perusahaan Beny, dia tengah meeting bersama beberapa petinggi dan Staff di perusahaannya, tiba-tiba salah satu bodyguard mamanya menghubunginya dan mengatakan jika sang istri akan melahirkan.


Sontak Beny begitu panik, berlari kecil keluar ruangan seperti orang binggung.


"Boss! Meetingnya bagaimana?" tanya Hasan yang terkejut, sang Boss meninggalkan ruangan meeting begitu saja.


"Tunda dulu meetingnya! Istriku mau melahirkan!" teriak Beny yang berlari tergesa-gesa menuju parkiran.


"Baik Boss!"


Hasan menghela nafasnya, dan kembali ke ruangan meeting untuk mengumumkan jika meeting akan ditunda dan dilaksanakan di lain waktu.


Hanya dalam 10 menit saja Beny telah sampai di Rumah sakit, karena Beny menyuruh supir pribadinya untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Beny berlarian masuk ke dalam rumah sakit mencari ruangan bersalin, saat telah menemukannya, dia berlari menghampiri istrinya yang sedang meringis merasakan sakitnya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa yang harus aku lakukan? Apa sakit banget?" tanya Beny dengan panik.


"Ini normal sayang, aku sedang menikmati rasa sakit ini karena semua ibu hamil akan mengalami hal yang sama." ucap Riana tersenyum lembut.


"Anda jangan khawatir Tuan Beny, Nyonya masih kuat, anda hanya perlu memberi semangat dan doa untuk istri anda!" ucap Sang dokter tersenyum manis.


"Baik dok, terimakasih."


"Uuuhhhh.. Astaghfirullah.. " Riana merintih lagi, karena kontraksi itu datang menyerang lagi.


"Sayang apa tidak sebaiknya operasi saja? Aku nggak tega liat kamu kesakitan begini!" ucap Beny semakin panik.


"Nggak sayang, aku ingin melahirkan normal,"


"Dok, berapa lama bayi kami bisa dilahirkan?" tanya Beny yang masih panik dan tegang.


"Kurang lebih satu jam lagi Tuan, menunggu pembukaannya lengkap,"


Beny pun mengangguk, dia terus mengusap punggung istrinya berharap bisa mengurangi rasa sakit itu, karena semakin lama kontraksi itu datang semakin sering.


"Sayang, mami sepertinya sudah mulai sadar tadi. Apa tidak ingin melihat mami dulu?" tanya Riana untuk memecah ketegangan sang suami.


"Nanti aku lihat mami setelah kamu melahirkan sayang, aku nggak mau ninggalin kamu sendirian disini!"

__ADS_1


"Ada dokter dan suster yang menemaniku sayang, jangan khawatir! Yang terpenting adalah mengetahui kondisi mami sekarang, Ardy juga disana sendirian sayang kasihan dia!" ucap Riana kekeh.


"Astaga, aku sampai melupakan Ardy! Bentar aku telpon bodyguard papi dulu,"


Dan detik berikutnya, Beny berbincang dengan bodyguard papinya diseberang telpon.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu! Tolong kabari kalau ada apa-apa ya!" ucap Beny lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


"Bagaimana sayang?" tanya Riana.


"Alhamdulillah papi udah sampai disana, dia sedang menjaga mami dan Ardy. Dan Alhamdulillah mami juga udah sadar sayang, Alfi dan Hasan juga sedang perjalanan menuju kesini." jawab Beny.


"Alhamdulillah.. Allah mendengar doa kita sayang,"


Riana tersenyum dan Beny pun mengangguk.


**


Di ruangan Bu Gendhis dirawat, dokter memeriksa keadaan Bu Gendhis secara keseluruhan.


Bu Gendhis sudah pulih dan bisa mengingat semua yang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri.


Pak Chandra yang datang dan menghampiri bangkar istrinya dengan perasaan yang bahagia.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Pak Chandra.


"Alhamdulillah keadaan Bu Gendhis sudah membaik Tuan, luka di kepalanya sudah sembuh dan luka di kakinya juga sudah hampir sembuh. Tinggal melakukan terapi saja, agar kakinya bisa berjalan seperti sedia kala." ucap Sang Dokter.


"Terimakasih dokter,"


"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan terus pantau perkembangan Bu Gendhis setiap satu jam nya, jika tidak ada masalah serius lagi. Bu Gendhis bisa secepatnya pulang dari rumah sakit."


"Baik dok, terimakasih banyak." Pak Chandra tersenyum bahagia dan Dokter pun membalas dengan anggukan lalu pergi dari ruangan Bu Gendhis.


"Mami, Alhamdulilah kamu udah sadar mi. Papi seneng banget," Pak Chandra menghampiri istrinya dan mencium pucuk kepala sang istri penuh haru.


"Terimakasih Pi, terimakasih selalu setia mendampingi mami!" balas Bu Gendhis meneteskan airmatanya.


Dia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Pak Chandra, disaat dia tak berdaya, sudah banyak berbuat jahat sampai menjadi buronan polisi, suaminya masih setia mendampinginya.


Dia merasa wajah bocah laki-laki itu sangat mirip dengan wajah putra pertamanya sewaktu kecil.


"Papi, siapa anak laki-laki tampan itu?" tanya Bu Gendhis menunjuk pada Ardy.


"Astaga, papi sampai lupa memberitahukan ke mami. Dia cucu kita mi, anak Bisma dan Alfi,"


"Cu.. cucu kita Pi?" ucap Bu Gendhis dengan suara bergetar.


Hatinya terasa dihantam Godam tak kasat mata, terasa sangat sakit dan terasa sesak di dadanya. Sekelebat bayangan kejahatannya pada Bisma dan Alfi berputar-putar di otaknya. Dia sadar jika kejahatannya sudah tidak bisa ditolerir lagi.


Dulu dia memaksa Alfi untuk meninggalkan putranya, menyuruh Alfi untuk mengugurkan kandungannya hingga mengancam akan menghancurkan keluarga Alfi jika tidak menuruti semua keinginannya. Dia telah memisahkan seorang anak dari sang ayah, dan membuat sang putra sampai bunuh diri.


Mengingat semua itu, airmatanya semakin deras dan dia merasa tidak pantas hidup lagi. Rasanya dia ingin menyusul sang putra dan mengucapkan kata maafnya pada Bisma.


"Pi, aku telah jahat sama mereka. Aku tidak pantas hidup lagi Pi, aku malu bertemu cucu kita." Bu Gendhis terus menangis dan menyesali semua perbuatannya.


"Jangan bicara seperti itu mi! Alfi dan Riana menantu kita sudah memaafkan mami, selama ini mereka dengan setia menjaga mami, selalu mengajak bicara dan bercerita dengan mami. Mereka juga berharap mami segera sadar dari koma. Minta maaflah pada mereka mi, Allah masih memberikan mami kesempatan agar mami bisa bertaubat pada-Nya dan meminta maaf pada orang-orang yang sudah mami sakiti." nasehat Pak Chandra.


"Mami sangat menyesal Pi, mereka begitu menyayangi mami, tapi mami malah berbuat jahat sama mereka. Mami sangat malu pada mereka semua." Bu Gendhis masih terus menangis.


"Tok! Tok!"


"Masuk!" jawab Pak Chandra.


Alfi masuk dan tak sengaja pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Bu Gendhis.


"Alfi,"


"Nyonya,"


Alfi mengangguk lalu menunduk tak berani memandang wajah Bu Gendhis, tidak bisa dipungkiri jika dia masih merasakan sedikit rasa trauma saat bertemu ibu dari kekasihnya itu.


"Mama!" teriak Ardy memeluk penuh kerinduan pada sang mama.

__ADS_1


"Iya sayang mama disini," Alfi menggendong putranya dan menciumi seluruh wajah putra kesayangannya itu.


"Kemarilah kalian berdua!" pinta Pak Chandra.


Alfi mengangguk dan berjalan menghampiri Pak Chandra dan Bu Gendhis.


"Hallo cucu Oma, siapa namamu anak tampan?" ucap Bu Gendhis menahan airmatanya dan tersenyum lembut ke arah Ardy.


"Namaku Ardyansah Beny Atmaja Oma, putra Papa Bisma dan Mama Alfi." Ardy mencium tangan sang Oma.


"MasyaAllah pintarnya cucu Oma, terimakasih ya sayang sudah menjaga Oma. Kalau Oma sudah sembuh nanti, Oma janji akan ajak Ardy tamasya ke semua tempat yang Ardy mau." Bu Gendhis mengelus lembut kepala cucunya.


"Benarkah Oma?" Ardy berbinar bahagia.


"Tentu sayang,"


"Sekarang, Ardy main dulu ya sama Om Hasan. Nanti biar Om Hasan belikan Ardy banyak mainan di toko yang kemarin kita datangi bersama." ucap Pak Chandra.


"Baik Opa, terimakasih."


"Cupp!"


Ardy mencium pipi kakeknya dan turun dari gendongan sang mama.


"Oma tidak dicium sayang?" goda Bu Gendhis.


"Ah maaf Ardy lupa,"


"Cupp! Ardy pergi dulu Oma!"


"Iya sayang, hati-hati!"


Ardy mengangguk begitu antusias lalu berlari keluar ruangan mencari keberadaan Hasan.


Setelah kepergian Ardy, Bu Gendhis meminta maaf pada Alfi dengan tulus, dia mengatakan pada Alfi jika menyesali semua yang telah dia perbuat. Keduanya berbicara dari hati ke hati, saling mengungkapkan segala ganjalan yang ada di hati mereka, saling memaafkan dan melupakan masa lalu. Bahkan Bu Gendhis ingin mengangkat Alfi sebagai putri angkatnya, dia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya.


Alfi pun menyambut keinginan Bu Gendhis dengan bahagia, bahagia mendapatkan seorang sosok Ibu lagi, karena dia sendiri sudah tidak memiliki ibu lagi karena ibunya meninggal karena sakit satu tahun yang lalu. Tinggal ayah dan adik-adiknya saja yang berada di kampung.


***


Di ruangan bersalin, setelah menunggu hampir satu jam, sembari merasakan kontraksi yang semakin lama semakin kuat, tiba-tiba Riana merasa ingin mengeluarkan sesuatu dari inti tubuhnya.


"Dok.. Sa.. saya sepertinya ingin melahirkan!" teriak Riana terbata-bata.


"Dok tolong istri saya!" Beny berteriak panik.


"Tenang Tuan! Nyonya Riana jangan mengejan dulu, biar saya periksa pembukaan berapa."


Setelah memeriksa dan ternyata pembukaan telah lengkap, akhirnya Riana pun mulai mengejan. Beny memposisikan dirinya di belakang istrinya untuk menahan punggung istrinya dan terus memberi semangat.


"Ayo nyonya dorong yang kuat!" ucap Dokter memberi arahan.


Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya bayi Riana dan Beny telah lahir ke dunia.


"Oeeekk.. Oeeekk,"


"Welcome baby boy!" seru sang dokter dengan binar bahagia.


"Selamat Tuan Beny dan Nyonya Riana, putra tampan anda telah lahir ke dunia!" ucap Sang Dokter tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Riana dan Beny bersamaan.


Keduanya pun sama-sama menitikan airmata.


"Terimakasih sudah berjuang melahirkan putra kita sayang," ucap Beny mengecup dahi istrinya berkali-kali dan Riana pun mengangguk tersenyum.


Setelah Ibu dan bayinya telah selesai di bersihkan, dokter membawa bayi laki-laki itu untuk diadzani sang ayah dan minum asi dari ibunya.


"Tok! Tok!"


Seseorang dari luar mengetuk pintu ruangan Riana dirawat.


"Ceklek!"

__ADS_1


Pak Chandra datang dengan mendorong sang istri di kursi roda.


"Mami!" gumam Beny dan Riana yang terkejut.


__ADS_2