
"ARDY!" seru Hasan dan Alfi bersamaan ketika melihat Ardy yang terjatuh ke dalam kolam renang.
"Byuurrrr!"
Dengan sigap Hasan menceburkan dirinya ke kolam renang setinggi 1,25 meter untuk menyelamatkan Ardy.
"Ya Allah nak, maafkan mama tidak memperhatikanmu." ucap Alfi yang panik.
Setelah berhasil mendapatkan bocah itu, Alfi segera menghampiri putranya dan memberikan menepuk-nepuk punggung putranya agar semua air bisa keluar.
"Uhukk! Uhukk!"
"Anakku sayang, kasihan sekali kamu nak. Maafkan mama sudah mengabaikanmu sayang ," ucap Alfi penuh penyesalan.
"Tenang Alfi, sebaiknya kita masuk ke dalam dan cepat ganti bajunya, biar Ardy nggak masuk angin." ucap Hasan.
Alfi pun mengangguk dan Hasan segera membawa Ardy ke kamarnya untuk mengganti semua bajunya yang basah.
**
Setelah sampai kamar, Alfi menyelimuti tubuh polos putranya karena dia baru menyadari jika baju mereka masih tertinggal di kontrakan.
"Kenapa nggak dipakein baju langsung?" tanya Hasan.
"Bajunya ketinggalan di kontrakan lama kami Mas," ucap Alfi tersenyum masam.
"Baju Ardy ada kok di lemari itu Al,"
"Hah? Maksudnya apa mas?"
"Kamu buka aja lemari itu!" ucap Hasan sembari menunjuk lemari anak yang masih baru dan berwarna biru dengan gambar superman di permukaan lemari itu.
Saat Alfi membuka lemari itu, alangkah terkejutnya dia melihat baju anak laki-laki seukuran Ardy berjejer dan bertumpuk rapi di dalam lemari itu dengan label yang masih menempel disana.
"MasyaAllah, ini semua baju untuk Ardy mas?" tanya Alfi dengan mata berkaca-kaca.
Dia tidak menyangka Hasan dan Beny menyiapkan segala keperluannya dan sang putra dengan se-detail itu. Dia bahkan sudah lama tidak membelikan putranya itu pakaian, tapi kini lemari itu penuh dengan pakaian bagus dan mahal.
"Untuk keperluan mandi, minyak kayu putih, bedak dan keperluan Ardy yang lain ada di laci meja ini. Oia kalau Baju kamu, make up, tas, sepatu dan lain-lain juga ada di kamarmu." ucap Hasan menunjukkan laci yang ada di sebelah ranjang Ardy.
Alfi hanya bisa terdiam tak bisa berkata-kata, kelopak matanya pun semakin memanas seolah airmatanya mendesak ingin segera keluar. Dia sangat bahagia sekaligus terharu.
"Ini sebabnya aku sampai kesini udah mau sore, karena aku harus belanja untuk semua keperluan kali.."
Belum Hasan meneruskan ucapannya, tiba-tiba Alfi memeluknya dan menangis di dada bidang pria itu.
Hasan terdiam membiarkan Alfi menangis untuk meluapkan segala yang dirasakannya. Dia tahu sekuat-kuatnya seorang wanita, ada kalanya mereka juga membutuhkan sebuah pelukan dan juga seseorang yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya.
Saat tangis Alfi telah reda, dia menyadari jika saat ini yang dipeluknya adalah seorang laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya.
"Ah maaf mas, aku lancang peluk-peluk Mas Hasan dan bikin kemeja mas jadi basah." ucap Alfi merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa Al, mulai sekarang anggap aku sahabat kamu ya! Apapun yang kamu ingin ceritakan dan kamu rasakan, aku siap mendengarkan kapanpun." ucap Hasan tersenyum manis.
"Iya mas, makasih banyak ya mas, makasih banyak atas semuanya." ucap Alfi menundukkan wajahnya yang merona karena malu.
Hasan pun mengangguk.
"Duh cantiknya kamu Al, wajah malu kamu bikin kamu makin imut." puji Hasan dalam hati.
"Eh cepet pakein baju buat Ardy, nanti masuk angin dia," suruh Hasan.
"Astaga! Aku sampai lupa mas," Alfi menepuk dahinya.
__ADS_1
Saat melihat ke arah ranjang putranya, ternyata Ardy sudah tertidur dengan pulas.
"Lah.. cepet banget jagoanku tidur!"
"Kecapekan main kali mas," ucap Alfi sembari memakaikan baju untuk putranya.
"Eh ini jangan lupa minyak kayu putihnya, biar badannya hangat." Hasan menyodorkan kayu putih kepada Alfi.
"Makasih mas,"
"Hmm!" Hasan mengangguk, "Eh bentar aku ke depan dulu ya, aku mau liat mereka udah selesai apa belum naruh barang-barangnya,"
"Iya mas,"
Hasan pun berjalan keluar kamar menghampiri para pekerja yang sedang mengatur tata letak perlengkapan rumah baru Alfi.
Alfi terlihat mendial nomor Beny di ponselnya.
📞"Assalamualaikum Kak Ben.." sapa Alfi dari seberang telpon.
"Wa'alaikumsalam Al.. Apa ada kendala?" tanya Beny.
"Alhamdulillah nggak ada kak, semuanya sempurna berkat kakak dan Mas Hasan."
"Hm! Baguslah! Apa kamu nyaman tinggal di rumah baru kamu?"
"Insyaallah aku nyaman kak, terimakasih banyak atas semuanya kak, apa semua ini nggak berlebihan? Rumah dan semua barang-barangnya begitu mewah buat aku, aku nggak pantes nerimanya."
"Nggak pantes gimana? Itu semua uang milik Kak Bisma, Ardy dan kamu berhak mendapatkan hasil jerih payah kakakku selama ini. Itu belum seberapa Al! Nanti akan ada mobil, motor dan mini market buat usaha baru kamu. Aku usahakan pembangunan minimarket selesai dalam dua minggu, biar kamu nggak capek-capek kerja di toko orang lain. Untuk sementara, dua minggu ini kamu fokus aja nyenengin Ardy ya! Belikan apapun yang dia mau, nanti Hasan akan ngasi kamu ATM dan disitu ada uang 1 M, kamu pergunakan dengan baik untuk keperluan kamu dan Ardy sehari-hari." ucap Beny berbicara seolah pada adiknya sendiri.
"MasyaAllah.. berapa uang satu M itu? Dulu aku kerja di minimarket aja paling banyak pegang uang 100 jutaan, ini malah satu M. Ya Allah mimpi apa aku ini, sampai dapat rejeki segini banyaknya." ucap Alfi dalam hati dengan terheran-heran.
"Hallo Al! Apa kamu masih disana?" panggil Beny.
"Udah nggak usah dipikirin lagi, yang terpenting kamu merawat keponakan tersayangku dengan baik."
"Pasti itu kak! Eh kakak tahu darimana kalau aku kerja di toko orang lain?" tanya Alfi penasaran.
"Hasan yang bilang, sebelum aku menemui kamu, dia ngasi informasi tentangmu secara detail padaku. Dia tuh hari ini bikin kesel, susah banget dihubungi. Tau-tau lagi sibuk belanjain keperluan kamu dan Ardy, padahal aku nyuruhnya kalian belanja sama-sama aja biar cepet. Tapi dia kekeh pingin belanjain keperluan kamu sendiri, karena dia tahu kamu pasti nolak kalau dibelikan barang-barang mahal, jadi aku maklumin aja kalo dia nggak nerima telpon dariku."
"Astaga Mas Hasan! Kenapa segitu perhatiannya!" ucap Alfi baru menyadari.
"Yah, itulah yang aku suka darinya walaupun dia kadang-kadang nyeselin tapi dia orang yang sangat perhatian. Eh aku tutup dulu ya, aku mau anter istriku keluar," ucap Beny yang akan mengakhiri perbincangan mereka.
"Iya kak, salam buat Riana ya!"
"Oke! Assalamualaikum.."
📞"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." ucap Alfi lalu menutup sambungan teleponnya.
Alfi tiba-tiba memikirkan Hasan,
"Duh Mas Hasan nih suami idaman banget sih. Seperhatian itu sama aku dan Ardy, coba dia kayak gitu ke orang lain pasti deh langsung jatuh cinta. Tapi kalo sih aku udah mundur duluan karena nggak mungkin orang setampan dan sebaik Mas Hasan bisa suka sama aku." gumam Alfi lirih.
"Eh Alfi! Ngomong apa sih kamu! Bukan waktunya ngomongin cinta, inget masa depan Ardy lebih penting. Kamu kan udah janji pantang nikah sebelum ketemu seseorang yang tulus sayang sama Ardy, lagian kamu kan nggak tahu status Mas Hasan, bisa jadi dia udah punya istri!" ucap Alfi mengingatkan dirinya sendiri sembari memukul kepalanya pelan.
Beberapa menit kemudian, Hasan masuk ke dalam kamar Ardy lagi.
"Ceklek!"
"Gimana Al? Barang-barang kamu yang di kontrakan kamu diapain? Apa mau di buang aja?" tanya Hasan.
"Jangan mas, sayang kan kalau di buang! Lebih baik dihibahkan pada tetangga yang mau aja, itu kan masih ada lemari plastik yang masih bagus, kompor, dipan dan lain-lain."
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu aja Al, besok aja ya kamu balik kesana lagi, ini juga udah petang para pekerja juga udah pada pergi."
"Iya Mas,"
"Oh iya apa Mas Hasan langsung balik ke hotel malam ini?"
"Kayaknya nggak deh Al, aku udah capek banget hari ini, takut nggak fokus nyetir. Aku nginep aja di rumah Pak Made. Tadi orangnya nawarin soalnya,"
"Maaf ya mas, gara-gara aku Mas Hasan jadi kerepotan begini!" ucap Alfi merasa tak enak.
"Nggak ada kerepotan Al, udah jangan dibahas lagi. Oia aku pesenin makan ya buat makan malam kita!" ucap Hasan.
"Biar aku masak aja Mas, kayaknya aku tadi lihat Mas juga bawa bahan makanan ya?" tanya Alfi memastikan.
"Iya aku sekalian bawain tadi, biar kamu nggak repot-repot ke supermarket."
"Kalo aku sih biasa ke pasar mas, bukan supermarket!" Alfi tersenyum lucu.
"Ah iya maaf, aku tuh kebiasaan belanja sendiri untuk keperluan dapur tiap bulannya ke supermarket. Masak sendiri itu selain bikin sehat badan juga sehat di kantong,"
"Masak sendiri? Mas Hasan bisa masak?" tanya Alfi tak menyangka.
"Hm, sebisanya aja. Kalo nggak bisa tinggal buka YouTube." Hasan nyengir kuda.
"Memangnya nggak ada istri yang masakin?" tanya Alfi asal tapi juga penasaran.
"Hahaha!"
Hasan malah tertawa dan membuat Alfi mengernyitkan dahinya.
"Maunya sih gitu Al, tapi sayangnya sama Allah belum dikasih istri."
"Eh maaf mas, bukan maksud berlagak kayak ibu-ibu julid yang tanya 'kapan mau nikah?" tapi aku tadi spontan aja ngomong soal istri," Alfi merasa tak enak.
"Hahaha, kamu emang ibu-ibu tapi nggak julid kok Al! Gak apa-apa santai aja, aku aja kalo pulang kampung dikira temen-temenku udah punya istri di kota, padahal yah masih sendiri aja ini." ucap Hasan santai.
Alfi mengangguk sekaligus lega dalam hatinya, setidaknya ada sedikit kesempatan berdekatan dengan Hasan walau hanya sebatas sahabat saja.
"Eh kok jadi ngomongin aku sih! Kuy lah masak! Dah laper nih!" ajak Hasan.
"Eh iya, bentar ya mas aku ke dapur dulu."
Alfi berjalan ke arah dapur dan Hasan pun mengikutinya.
"Eh mau kemana mas?" Alfi menghentikan langkahnya saat tahu jika Hasan mengikutinya.
"Mau bantuin masak,"
"Nggak usah! Mas duduk aja dengan tenang disini!" ucap Alfi yang memposisikan Hasan untuk duduk di kursi makan di dapur itu.
"Okelah! Kapan lagi ya kan dimasakin cewek cantik!" ucap Hasan berlagak konyol dan Alfi pun tertawa lucu.
Saat Alfi membuka lemari es dan lemari gantung di dapur itu, alangkah terkejutnya dia melihat bahan makanan yang memenuhi semua ruang di dalamnya.
"Astaghfirullah.. mas!" seru Alfi.
"Eh kenapa!"
Hasan yang tadinya fokus dengan ponselnya reflek berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Alfi karena mengira terjadi sesuatu buruk pada Alfi.
Sedangkan Alfi pun juga berjalan maju seolah ingin meminta penjelasan dengan apa yang dilihatnya barusan, sehingga tabrakan antara keduanya pun tak terhindarkan.
"Braaakk!"
__ADS_1