
"Astagfirullah hal'adzim!" Risty beristiqfar karena sangat terkejut sedangkan Iqbal pun tak kalah terkejutnya.
"Ohhh jadi dia selingkuhan kamu! Dia yang buat kamu ingin cerai dari aku!" ucap wanita itu menatap tajam suaminya kemudian ke arah Risty.
"Br***sek! Apalagi ini!" umpat Risty dalam hati.
"Apaan sih kamu itu datang malah marah-marah! Nuduh orang sembarangan! Dia bukan selingkuhanku! Aku juga udah bilang berkali-kali ke kamu, kalo aku ceraiin kamu bukan karena orang ketiga! Semua karena kamu dan keluargamu!" balas Iqbal yang menatap tajam istrinya juga.
Sedangkan Risty seolah tidak peduli, dia malah sibuk memainkan ponselnya.
"Alah udah ketahuan malah nyalahin aku lagi! Dasar laki-laki pengecut!" ucap Istri Iqbal yang menunjuk-nunjuk suaminya dengan jari telunjuknya, "Perhatian ibu-ibu semua, sekarang kalian tahu sendiri kan! Kalian saksinya jika suamiku ini janjian dengan pacarnya disini! Yang katanya janda muda kaya yang terkenal dari desa sebelah!" cibir istri Iqbal yang menatap Risty dari atas hingga bawah.
Dan terdengar gumaman semua orang yang ada di kedai itu yang terus mencibir Risty dan mengatainya dengan seenak mereka.
"Wahh bener! Itu kan janda muda yang kaya dari desa sebelah, dihh ternyata dia murahan banget ya, masa pacaran sama suami orang!" ucap salah satu ibu-ibu disana.
"Jadi bener ya rumornya, dia itu emang wanita nggak bener! Pantes aja suaminya ceraiin dia, mungkin aja dulu dia juga selingkuh dibelakang suaminya terus ketahuan lalu diceraiin deh!" sahut salah satu dari mereka.
"Kalo udah ketahuan nggak bener gitu! Mana ada cowok baik-baik yang mau nikahin dia! Kalo pun mau pasti cuma dijadiin istri kontrak aja!
"Dih amit-amit ya! Cantik-cantik tapi kok kayak gitu!"
Mendengar semua cibiran itu Risty mengepalkan tangannya, dia benar-benar sangat kesal luar biasa. Bisa-bisanya mereka menuduhnya yang tidak-tidak padahal mereka tidak tahu kenyataan yang terjadi. Dia ingin sekali menampar mulut mereka satu-persatu, tapi dia bukan wanita yang sebrutal itu. Dia ingin melakukan pembelaan seperti apapun juga percuma, mereka terlanjur mempercayai dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Dia ingin menangis rasanya, sekuat apapun dia menahan segala cemoohan orang tetap saja dia bisa down juga, karena dia adalah manusia yang memiliki perasaan dan memiliki batas kesabaran. dia benar-benar terpuruk dan tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membela dirinya.
Sedangkan istri Iqbal tersenyum penuh bangga karena berhasil membuat Risty semakin buruk dimata semua orang.
"Dasar janda gatel nggak tau malu!" cibirnya.
"Jaga ucapanmu! Risty bukan wanita seperti itu!" desis Iqbal pada istrinya.
"Braaaaaakkkkk!!"
Erlangga menggebrak meja dengan kencang dengan wajah merah karena kemarahannya yang luar biasa dan sontak membuat semua orang tiba-tiba terdiam.
Risty pun tak kalah kaget melihat laki-laki yang dicintainya tiba-tiba muncul dengan aura kemarahannya yang luar biasa.
"KALIAN SEMUA DENGAR!!! SUDAH AKU REKAM DALAM VIDEO UCAPAN BURUK KALIAN PADA TUNANGAN SAYA! DAN SAYA TIDAK TERIMA CALON ISTRI SAYA KALIAN HINA SEPERTI ITU! KALIAN SEMUA AKAN SAYA TUNTUT!" teriak Erlangga dengan keras.
Mendengar ucapan Erlangga semua orang mendadak bergetar ketakutan.
__ADS_1
"Ma.. maafkan kami Tuan! Tolong ampuni mulut kami yang busuk ini!" ucap salah satu ibu-ibu yang mengatai Risty tadi.
"Iya Tuan, maafkan kami! Kamu janji tidak akan mengulangi ucapan buruk kami pada Risty, mohon ampuni kami!" sahut salah satu yang lain.
"Hei Tuan Bule! Jangan asal nuntut kami ya! Kami ini bicara sesuai kenyataan yang ada di depan kami, emangnya kami takut dengan ancamanmu! Harusnya saya yang nuntut tunangan kamu karena udah ketahuan berzina sama suami saya!" ucap Istri Iqbal tak mau kalah.
Sedangkan terlihat Reifan berjalan dari arah belakang menghampiri keributan di meja kakaknya. Dan Risty seolah mendapatkan lagi segala kekuatannya saat melihat kemarahan Erlangga.
"Plaaakkkkk!"
"Aarrrrghhhhh!! Br***sek"
Risty menampar istri Iqbal dengan kencang dan istri Iqbal pun mengaduh kesakitan.
Saat akan membalas tamparan Risty, dengan cepat Risty menangkap tangan istri Iqbal dan melempar tangannya dengan kencang.
"APA!!!" teriak Risty dan melototi wanita itu.
"Hei br****sek! Jangan nuduh kakakku berzina dengan suamimu! Dari dia bangun tidur sampai sekarang kakakku hanya bersamaku! Tanyakan saja pada suamimu yang b**dab itu kenapa dia tiba-tiba muncul disini! Baru ditinggal ke belakang sebentar si anj*** malah datang mendekat!" ucap Reifan tak kalah emosi.
Mendengar umpatan Reifan sontak membuat Iqbal menjadi Emosi dan melayangkan pukulan pada Reifan.
"Dasar Bocah teng..!"
"Braaakkkk!!!"
Iqbal jatuh tersungkur menabrak kursi kedai itu, hingga semua berantakan.
"Aarrrrghhhhh! Br****sek!"
"AKU PERINGATKAN KAU! JANGAN SEKALI-KALI MENYENTUH TUNANGANKU MAUPUN KELUARGANYA!" teriak Erlangga pada Iqbal dengan kencang.
"DAN KALIAN SEMUA YANG SUDAH MENGHINA RISTY, TUNANGAN SAYA! SAYA AKAN MENCABUT TUNTUTAN SAYA JIKA RISTY MEMAAFKAN KALIAN!"
"Ayo kita pergi sayang!" ucap Erlangga dengan lembut dan menggenggam tangan Risty dengan erat.
Tapi sebelum Erlangga pergi, dia mengeluarkan lembaran uang seratus ribu berjumlah sepuluh lembar dan memberikannya pada pemilik kedai bakso itu.
"Maafkan kami Pak sudah membuat keributan disini! Ahh ini untuk mengganti semua kerusakan yang kami timbulkan di kedai anda, permisi!" Erlangga mengangguk dan pemilik kedai berbinar bahagia menerima uang itu.
"Terimakasih banyak Tuan Bule! Sering-sering deh kayak gini! Biar ane bisa cepet umroh lagi!" ucap pemilik kedai dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Hussttt! Mana boleh pak bahagia diatas kesusahan orang! Uangnya nggak berkah pak, kalo di bawa ke tanah suci, malu sama Gusti Allah!" ucap istri pemilik kedai memperingatkan.
"Ck! Kan cuma bercanda buk! Ini itu uang kaget buat kita! Emangnya daritadi aku nggak jantungan terus apa! Denger mereka semua gebrak-gebrak meja, pake tonjok-tonjokan pula! Mau aku pisah takut aku ikutan bonyok nanti!" keluh pemilik kedai dan istrinya hanya menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Erlangga sudah berjalan keluar dengan tangan yang terus menggenggam tangan kekasih hatinya. Dan Reifan pun mengikuti mereka dari belakang.
Saat mereka sampai di parkiran mobil, Erlangga mengatakan agar Rey pulang duluan sedangkan dia akan naik satu mobil dengan Risty. Dan Rey hanya mengangguk mengikuti kemauan mereka.
***
Kini Erlangga telah berada satu mobil dengan Risty, Risty terdiam sembari memandang jalanan dari kaca samping. Dia begitu lega saat ini berada disamping orang yang selalu dia tunggu kedatangannya itu, ingin sekali dia menangis dan memeluk pria pujaannya untuk meluapkan segala kegelisahan hatinya, tapi dia masih malu untuk mengawalinya. Dia hanya takut Erlangga tak suka melihatnya sebagai wanita yang lemah dan cengeng.
Erlangga pun masih terdiam, dia berusaha meredam segala kemarahannya, dia berfikir jika saat itu dia tidak ada disitu siapa yang akan membela kekasihnya yang malang itu. Risty menjadi bulan-bulanan tetangganya karena statusnya saat ini dan dia tahu setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang selama satu minggu ini menjaga Risty tanpa terlihat olehnya. Ingin rasanya dia segera meresmikan hubungan pernikahan mereka, tapi dia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu. Masih banyak hal yang harus mereka selesai terlebih dulu.
Setelah menemukan jalanan yang sepi, Erlangga menepikan mobilnya dan Risty hanya mengernyit heran.
"Sayang, apa kamu sudah lebih baik?" tanya Erlangga yang menangkup tangan Risty kemudian mencium tangannya bertubi-tubi.
Sontak Risty menoleh dan tak bisa menahan airmatanya lagi. Dia melepaskan genggaman Erlangga dan memeluk pria yang dicintainya itu dengan erat.
"Menangislah sayang! Menangislah sepuasnya agar hatimu kembali tenang! Aku nggak peduli semua ucapan orang, yang aku tahu aku sangat mencintaimu. Aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu melindungimu dari semua orang yang membencimu atau ingin mencelakakanmu! Terlalu sakit hatiku melihat kamu dihina dan direndahkan oleh mereka, Maaf jika aku belum bisa benar-benar menjagamu!" ucap Erlangga dengan lembut.
Mendengar ucapan manis Erlangga, membuat Risty menjadi tenang kembali. Dia mengusap seluruh airmatanya, melepaskan pelukan eratnya pada pujaaan hati dan tersenyum manis lagi padanya.
"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri sayang! Aku nggak papa kok, aku sangat bersyukur memiliki Abang! Terimakasih banyak sudah mencintaiku sampai seperti ini, terimakasih selalu ada untukku, menemaniku dan menjagaku." ucap Risty dengan tulus sembari membelai pipi Erlangga.
Erlangga yang mendapat sentuhan lembut dari tangan Risty, sontak menciumi tangan Risty yang ada di pipinya. Semakin lama dia mendekatkan wajahnya ke wajah Risty, perlahan tapi pasti. Dan tiba-tiba bibir keduanya pun saling menempel. Dia ******* lembut bibir Risty dengan perlahan, menikmati rasa yang selalu membuatnya ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan semakin panas, tangan kirinya memegang tengkuk leher Risty dan tangan kanannya mulai membelai punggung Risty dengan lembut.
Tapi tiba-tiba ciuman mereka terhenti karena suara ponsel Risty yang berbunyi dan kedua menjadi salah tingkah.
Risty membuang muka ke arah kaca jendela dengan perasaan gugupnya. Dia bahkan tidak menyadari jika ponselnya masih berdering, karena terlalu fokus dengan pria tampan di hadapannya ini.
"Sayang, angkat dulu telponnya! Kali aja penting!" ucapan Erlangga seolah mengembalikannya ke dunia nyata.
"Ahh iya Bang! Kok aku sampai lupa!" Risty tersenyum malu.
Dia melihat layar ponselnya dan ternyata ibunya yang telah menelponnya. Ibunya sangat khawatir dengan keadaan Risty, saat Reifan datang ke rumah dan menceritakan semuanya. Tapi Risty segera mengatakan pada ibunya jika dia baik-baik saja dan akan segera pulang bersama Erlangga.
***
__ADS_1
Di sebuah cafe mewah tempat berkumpulnya para wanita sosialita, Caroline mendatangi seorang wanita muda yang dia ketahui adalah kekasih gelap mendiang suaminya.
"Hei kamu! Kamu kan yang namanya Vania!" tanya Caroline menunjuk Vania dengan gaya angkuhnya.