CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 8. Sakit


__ADS_3

Selang tak berapa lama, mereka telah sampai disebuah restoran mewah yang menyediakan beberapa ruangan privat bagi para pengunjungnya.


Kini keduanya duduk berhadapan, lalu pelayan masuk kedalam ruangan mereka dan mencatat pesanan mereka.


"Jadi benar, karena ada laki-laki lain dhatimu hingga kamu menolak lamaranku?" tanya Beny tanpa basa-basi lagi setelah pelayan restoran meninggalkan mereka berdua.


Riana kembali tegang dan merasa tidak nyaman.


"Maaf kak.. Aku memang menyukai orang lain, aku.." ucapan Riana terhenti.


"Tinggalkan laki-laki itu! Menikahlah denganku, aku udah merusak harga dirimu, udah sepatutnya aku bertanggungjawab," potong Beny.


Riana terdiam lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kak Ben tahu jika hubungan pernikahan itu tidak bisa dipaksakan! Aku tidak mencintai kakak dan sebaliknya juga kakak tidak mencintaiku, lalu rumah tangga macam apa yang kita bangun jika tidak ada rasa cinta? Yang ada kita akan terus terlibat perdebatan dan masalah,"


Riana menunduk lalu memejamkan matanya, sedangkan Beny mengepalkan tangannya, susah payah dia menahan emosinya.


"Aku minta maaf aku nggak bisa menerima lamaran Kak Ben, dan soal malam itu, lupakan saja apa yang pernah terjadi diantara kita. Malam itu kita hanya khilaf dan dalam keadaan setengah sadar, jadi Kak Ben jangan merasa bersalah padaku, karena aku sendiri juga salah."


Hati Beny semakin memanas mendengar penolakan Riana lagi, semua angan dan rencananya membawa wanita yang dicintainya telah pupus. Hatinya hancur, dia semakin membenci wanita dan cinta, baginya semua adalah omong kosong.


"Baiklah, aku akan melupakanmu dan melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Semoga kelak kamu tidak menyesal dengan keputusanmu, aku pergi!" ucap Beny yang akan beranjak pergi dari restoran itu.


Saat ini Beny perlu mendinginkan hati dan kepalanya.


Entah untuk alasan apa, kata-kata Beny tiba-tiba membuat nyeri hati Riana.


"Kak maafkan aku,"


"Hmm! No problem!" jawabnya singkat.


"Lalu makanannya? Mari kita makan dulu kak!" tawar Riana.


"Kamu saja yang makan! Aku sudah tidak lapar!" ucap Beny dan berlalu pergi.


***


Satu minggu setelah, penolakan Riana. Beny berusaha menyembuhkan hatinya sendiri dari patah hati, mensugesti pada hati dan pikirannya, jika cinta itu hanyalah semu dan wanita semua itu sama, suka menyakiti. Hingga dia mampu menguatkan hatinya dan bangkit kembali untuk membuka lembaran baru.


Beny yang sekarang menjadi lebih dingin dan cuek pada wanita. Dia tidak lagi mencari wanita untuk dipermainkan seperti biasanya.


Dia memutuskan kembali ke Yogyakarta, ke kota kelahirannya dan mulai menjalankan perusahaan papanya. Baginya tidak ada lagi yang harus dia perjuangkan lagi, Riana sudah menolaknya dan memilih orang lain, untuk memaksapun juga akan sia-sia. Jadi dia bertekad untuk bekerja keras dan menghabiskan waktunya untuk bekerja agar dia bisa melupakan rasa cintanya pada Riana.


Setelah melalui beberapa jam perjalanan darat dan mengendarai mobil sendiri, akhirnya Beny telah sampai di mansion keluarganya.


Tentu saja kedatangannya, disambut baik oleh mami dan adik perempuannya.


"Assalamualaikum.. Mi!"


Beny memeluk mamanya untuk meluapkan kerinduannya.


"Wa'alaikumsalam.. Putra kesayangan mami! Mami kangen banget sama kamu!" jawab Bu Gendhis dengan binar bahagia.

__ADS_1


"Bagaimana kabar mami?"


"Alhamdulillah baik sayang, kenapa dua bulan ini nggak pulang? Apa kamu udah lupa sama mami?" ucap Bu Gendhis merajuk.


"Ya Allah, lupa bagaimana? Kan tiap hari kita telponan mami, aku belum bisa pulang karena masih banyak urusan disana. Tolong mengerti donk mami! Tapi mami jangan khawatir, aku akan menemani mami terus sekarang, oke mamiku sayang!" rayu Beny.


"Janji jangan pergi-pergi lagi!"


"Iya mamiku!" Beny mencium pipi mamanya.


"KAKAK!!!"


Suara cempreng seorang wanita terdengar menusuk diteliganya, siapa lagi kalau bukan Bella sang adik bungsu.


Dia berlari turun dari lantai atas lalu memeluk kakak tercintanya dengan erat.


"Kakak jahat! Kakak nggak pernah pulang, aku kan kangen!" ucap Bella yang ikut merajuk dan melipat tangannya.


"Iya.. iya maaf! Sekarang kakak kan ada disini, jadi kakak akan menemanimu sepulang kakak kerja, oke adik manisku! Itu bibirnya dikondisiin dulu, jangan cemberut mulu nanti makin jelek!" goda Beny lalu terkekeh.


"Ahh kakak! Jangan pergi-pergi lagi ya, aku kesepian kak!"


"Iya princess! Yuklah kita makan, kakak udah laper ini." Beny menepuk-nepuk perutnya.


"Mami masak kesukaanmu sayang!" ucap Bu Gendhis.


"Makasih mi,"


***


Waktu terus bergulir, selama satu bulan ini Beny bekerja keras mengembangkan perusahaan papanya, dia menjabat sebagai CEO dikantornya. Waktunya dia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja agar dia bisa melupakan rasa sakitnya.


Sering kali Bu Gendhis menjodohkannya dengan putri teman-teman sosialitanya tapi Beny selalu menolak keras keinginan mamanya. Bu Gendhis juga ingin putranya memiliki pendamping hidup dan bahagia, tapi Beny sendiri enggan membicarakan soal pernikahan.


Pagi itu seperti biasa, mereka sarapan bersama sebelum Beny berangkat kerja, Bella pergi ke kampus dan Bu Gendhis pergi ke butik miliknya, sedangkan Pak Chandra berada di China untuk mengurus bisnisnya yang ada disana.


"Ben.. Tolong donk sekali-kali temui putri Bu Ajeng temen mami, dia pengen kenalan sama kamu. Mami tuh capek cari alasan terus," pinta Bu Gendhis.


"Ya mami kan bisa bilang kalo aku emang nggak mau ketemu, jadi mami nggak binggung lagi cari alasan." ucap Beny cuek.


"Kakak nih makin lama makin dingin ma cewek, kan aku jadi takut!" goda Bella.


"Hussst! Enak aja, kakakmu ini masih normal tau!" ucap Beny menoyor dahi adiknya.


"Ya nggak bisa gitu Ben! Mami tuh temenan baik sama Bu Ajeng, masa iya mami nolak permintaan putrinya yang ingin ketemu sama kamu,"


"Aku nggak bisa mami! Aku sibuk," kekeh Beny.


"Ben, ini tuh cuma kenalan aja! Mami nggak ada jodoh-jodohin kamu lagi, mami janji deh,"


"Lagian mami nih, jaman modern masih aja jodoh-jodohin anaknya. Dikira aku nggak bisa apa cari istri sendiri lagipula umurku masih 26 tahun aku masih pengen menikmati masa muda mi,"


"Iya deh iya, nggak jodoh-jodohin kamu lagi! Duhh cerewetnya mulai kumat lagi deh anak bujang mami!" protes Bu Gendhis.

__ADS_1


"Ya udah, mami bilang sama dia, jam 7 malem di Cafe Brick. Jangan sampe telat," ucap Beny yang akan beranjak dari tempat duduknya.


"Baiklah sayang! Mami akan kabari putri Bu Ajeng. Terimakasih putra kesayangan mami," Bu Gendhis berbinar bahagia sembari memeluk putranya dari samping dan Beny pun pamit untuk berangkat kerja.


Bu Gendhis memang tidak akan menjodohkan putranya kali ini, tapi dia akan mendukung putri temannya untuk mendekati sang putra kesayangan.


***


Di kantor PT Adhytama group, Riana bekerja seperti biasa tapi hari ini dia sangat sibuk sampai dia tak sempat sarapan, dan siangnya dia mendampingi kakaknya meeting dengan klien di luar kantor.


Hubungan Riana dengan Faisal pun baik-baik saja, dia selalu berkomunikasi dengan Faisal lewat ponselnya, dan sering mencuri-curi waktu untuk bertemu Faisal tanpa sepengetahuan anak buah kakak iparnya. Tapi mereka hanya sekedar janjian makan malam di restoran atau belanja di Mall bareng.


Faisal berencana akan melamar Riana dalam kurung waktu tiga bulan kedepan, dia ingin Riana berterus-terang dulu tentang hubungan mereka pada keluarga Riana. Dan Riana pun menyambut baik niat Faisal, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada keluarganya terutama sang kakak.


Sebenarnya dia sedikit ragu, apakah keputusannya sudah tepat untuk menikah dengan Faisal, karena Faisal sendiri pernah membohonginya.


Setelah pertemuannya dengan Beny terakhir, Riana merasa bimbang, dia juga sering memikirkan pria itu. Ada rasa bersalah dan mengganjal dihatinya saat dia memutuskan untuk menolak lamaran Beny. Tapi untuk sekarang dia coba jalani hidupnya seperti air, mengalir begitu saja, karena dia percaya siapapun jodohnya nanti pasti itu yang terbaik yang dipilihkan Allah untuknya.


Siang itu, Riana dan Risty masih meeting bersama klien mereka di sebuah Hotel bintang lima. Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya, Riana mempresentasikan kelebihan perusahaan mereka dan prosentase keuntungan yang akan diterima kedua belah pihak.


Terlihat klien sangat menyukai presentasi Riana, mereka menyetujui proyek kerjasama itu. Dan akan membuat perjanjian sesuai kesepakatan mereka di kantor Risty dua hari lagi.


Berkali-kali, Riana melihat jam tangannya. Tiba-tiba dia merasa gelisah, kepalanya mulai pening, keringat dingin keluar dari tubuhnya, badannya pun terasa lemas dan rasa mual bergejolak didalam perutnya.


"Kenapa sih aku ini? Apa karena nggak makan daritadi ya? Duh semoga meetingnya cepet selesai, udah nggak tahan pengen cepet rebahan," ucap Riana dalam hati.


Sedangkan Risty melihat adiknya yang terlihat gelisah, pandangan matanya sayu dan wajah Riana terlihat pucat dimatanya.


"Baik Pak, saya akhiri meeting kali ini. Terimakasih atas waktu anda, saya berharap semua akan berjalan lancar sesuai rencana," ucap Risty menjabat tangan ketiga kliennya.


"Amin, sama-sama Bu Presdir. Kalau begitu kami pamit permisi dulu," ucap mereka lalu meninggalkan Risty dan Riana yang masih duduk ditempat meeting.


"Ria, kamu kenapa pucat kayak gitu? Kalo kamu ngerasa sakit, tau gitu aku ajak sekretarisku aja tadi," tanya Risty terlihat khawatir.


"Aku nggak papa kak, mungkin karena belum sarapan dari pagi," jawab Riana yang terdengar lemah.


"Astaghfirullah! Bagaimana bisa kamu nggak sarapan? Biasanya Mama Hana, nggak akan ngebiarin anaknya berangkat sebelum sarapan lho!"


"Ya sarapan, cuma tadi habis sarapan tiba-tiba aku muntah dan aku nggak sempet sarapan lagi! Nggak enak banget perutku kak, masuk angin kali ya!" jawab Riana asal.


"Ya udah kalo gitu kita cari restoran diluar, kita cari makanan yang bikin enak diperut kamu."


"Iya kak,"


"Masih kuat jalan kan?" tanya Risty memastikan, dan Riana balas dengan anggukan.


Beberapa detik kemudian, mereka berjalan ke lantai bawah dan menunggu supir Risty di lobby hotel.


Saat mereka akan masuk ke mobil Risty, tiba-tiba tubuh Riana limbung dan dia jatuh pingsan.


"RIANA!!!" teriak Risty panik.


Supir Risty segera mengangkat Riana ke dalam mobil dan membawa Riana ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2