CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bonus Chapter : Hasan-Alfi Part 5


__ADS_3

"Hmm, seharusnya kamu tahu." Alfi tak berani menatap mata Juna dia menundukkan kepalanya.


"Jadi benar kan gara-gara pria itu kamu menolakku! Sepertinya putramu sangat dekat dengannya," ucap Juna tersenyum getir.


Juna adalah pria asli Bali, dia sangat menyukai Alfi sejak dulu. Dulu orang tua Juna menentang keras jika dia menyukai Alfi yang seorang wanita yang memiliki anak dan tidak jelas statusnya. Tapi setelah mereka melihat sekarang Alfi menjadi wanita kaya dan memiliki usaha sendiri, orangtua Juna merestui jika dia ingin menjalin hubungan dengan Alfi, tapi sayangnya Alfi menolaknya.


Alfi pun mengatakan sejujurnya jika dia telah menyukai seseorang.


"Maaf Mas Juna, semoga kelak kamu menemukan wanita yang tepat untuk mendampingimu," ucap Alfi merasa tak enak.


"Yah semoga aja! Aku kira setelah mendapatkan restu dari kedua orangtuaku aku bisa dengan mudah mendapatkan kamu. Tapi nyatanya ekpektasiku terlalu tinggi, tetap saja aku nggak bisa mendapatkan kamu." ucap Juna dengan nada kecewa.


"Maaf mas,"


Setelah itu Juna pergi meninggalkan minimarket milik Alfi.


Alfi pun juga berjalan menghampiri Ardy dan Hasan yang sedang bercanda sembari merapikan semua mainan yang masih berantakan di rak mainan.


"Duhh serunya anak mama! Mama boleh ikut nggak sayang?" tanya Alfi memandang wajah ceria sang putra.


Lalu dia melirik ke arah Hasan yang seolah cuek dengannya dan sibuk merapikan mainan itu.


"Boleh ma, ayo ikut rapiin juga!" ucap Ardy semakin bersemangat.


"Tapi kayaknya udah jam makan siang deh, mama masak dulu ya buat kalian."


"Iya ma!"


"Mas.." panggil Alfi.


"Iya Al?" Hasan menoleh padanya dan menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Aku buatkan kopi ya mas?" tanya Alfi.


"Iya boleh,"


Hasan tersenyum manis padanya dan membuat jantung Alfi semakin bergemuruh.


Senyuman tulus itulah yang membuatnya semakin jatuh cinta, apalagi Hasan adalah pria yang perhatian dan penyayang.


Walau sebenarnya dia juga sedikit kecewa kenapa Hasan bersikap biasa saja saat ada pria bersamanya tidak ada raut cemburu disana, jadi dia menyimpulkan jika perasaannya yang dia miliki hanya bertepuk sebelah tangan.


Akhirnya Alfi memutuskan pulang ke rumahnya yang letaknya di depan minimarket dan memasak makan siang untuk Hasan dan putranya.


Sedangkan Hasan sendiri juga merasa kecewa, dia berharap kepulangannya kali ini, ingin hubungannya dengan Alfi bukan hanya sekedar hubungan persahabatan tapi nyatanya wanita itu telah memilih seorang laki-laki untuk mengisi hari-harinya. Dia merasa telah salah mengartikan segala perhatian dan kebaikan Alfi selama ini. Dan akhirnya dia memutuskan untuk memendam segala perasaannya dan mendoakan untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya itu.


Dan selama tiga hari di Bali, Hasan seolah menjaga jarak dengan Alfi. Dia lebih fokus membawa Ardy jalan-jalan dan membelikan apapun yang bocah laki-laki itu inginkan.


Alfi yang tahu tentang perubahan sikap Hasan padanya, hanya bisa diam tanpa berani bertanya. Dia mengira jika Hasan telah memiliki seseorang wanita lain dihidup pria itu, dan Alfi pun memilih mencintai pria itu dalam diam.


Setelah kembalinya Hasan ke kotanya, hidup Alfi maupun Hasan menjadi hampa kembali. Keduanya menjauh karena pemikiran mereka masing-masing.


Hasan tak ingin menganggu kehidupan Alfi lagi karena ada pria bernama Juna itu. Dia menyibukkan dirinya kembali, di perusahaan Beny untuk menyingkirkan sejenak bayangan Alfi yang terus menari-nari di otaknya.

__ADS_1


Alfi sendiri berfikir tak ingin terlalu banyak merepotkan Hasan lagi, baginya Hasan sudah terlalu banyak membantunya, dia mulai fokus dengan usaha barunya dengan mengembangkannya ke bisnis online shop juga, melengkapi semua barang-barang yang akan dijualnya melalui online maupun offline.


Selama satu minggu, dan hampir dua minggu keduanya hanya bisa menahan segala kerinduan mereka yang tak mampu mereka ungkapkan. Terkadang terbesit keinginan menjalin komunikasi intens lagi, tapi keduanya tak mampu melakukannya.


Hingga di suatu malam, Beny Harsa Atmaja sang Boss, tengah menelponnya.


📞"Assalamu'alaikum Boss.. apa ada masalah?" tanya Hasan dari seberang telpon.


"Wa'alaikumsalam.. Aku hanya ingin kamu melakukan beberapa hal." jawab Beny.


"Oke Boss, aku dengarkan!"


"Besok, carilah penerbangan paling pagi! Kamu jemput Ardy dan Alfi untuk dibawa kesini, karena papiku ingin bertemu dan mengenal mereka. Aku berharap dengan kedatangan Ardy dan Alfi, membuat mamaku tersadar dari komanya walaupun aku juga nggak tahu apa bisa berpengaruh atau tidak, yang penting diusahakan." pinta Beny.


"Baik Boss!"


"Oia jangan lupa tempatkan dua orang anak buah kita untuk menghandle usaha baru Alfi, aku lihat online shop miliknya sedang ramai-ramainya. Sayang kalau harus ditinggal begitu saja."


"Baik Boss, semua sesuai perintah anda!" ucap Hasan.


Setelah berbincang agak lama soal pekerjaan mereka, lalu Beny pun mengakhiri hubungan telepon mereka.


Malam itu, sebelum keberangkatannya ke Bali, Hasan susah memejamkan matanya. Entah kenapa dia sangat bahagia pada akhirnya bisa bertemu wanita yang dicintainya dalam diam itu. Walau hanya bisa memandang wajah wanita itu setidaknya semua rasa rindu dihatinya bisa sedikit berkurang.


***


Keesokan paginya, setelah beberapa jam berlalu, kini Hasan telah sampai di kediaman milik Alfi. Sejenak, dia terdiam sembari memandang Alfi dari dalam mobilnya.


"MasyaAllah Al, makin hari makin bening aja sih kamu! Lama-lama jadi makin susah ngelupain kamu!" ucap Hasan dalam hatinya.


"Ndan! Jadi masuk nggak nih!" ucap salah satu anak buah Hasan bernama Rizal.


"Kayaknya komandan kita lagi kasmaran nih!" goda Keyla anak buah Hasan satunya, sembari terkekeh pelan.


Hasan memang datang bersama dua anak buahnya yang akan bertugas menghandle semua pekerjaan Alfi, selama Alfi tinggal di Ibukota.


Hasan sendiri dulunya adalah seorang anggota polisi. Dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena suatu hal, dan berakhir bekerja di perusahaan milik Beny sampai saat ini.


"Isshh apaan sih kalian ini! Mana ada aku kasmaran. Aku lagi ngeliatin si Ardy, bocah itu makin hari bikin kangen aja." ucap Hasan berkelit.


"Kangen mamanya apa anaknya ndan!" Rizal terkekeh geli.


Bagi Rizal, Hasan selalu tak pandai berpura-pura.


"Diam kau! Kita masuk sekarang!" ucap Hasan yang sudah membuka pintu mobilnya lalu berjalan ke dalam minimarket Alfi.


Kedua anak buah Hasan pun hanya bisa tersenyum simpul sembari mengikuti Bossnya dari belakang.


"Assalamualaikum.. Jagoanku!" sapa Hasan pada Ardy yang sedang sibuk bermain.


Ardy yang melihat Hasan tiba-tiba muncul begitu terkejut sekaligus bahagia, sama halnya dengan Alfi.


"Wa'alaikumsalam.. Papa! Ardy kangen!" ucap Ardy yang mendesak untuk memeluk pria yang dia rindukan itu.

__ADS_1


Kedua anak buah Hasan saling pandang saat mendengar Ardy memanggil Bossnya dengan sebutan 'papa'.


"Papa?" ucap Keyla tanpa suara sembari memandang rekannya.


Mereka tidak menyangka hubungan mereka sedekat itu, layaknya ayah dan anak sungguhan.


Sedangkan Rizal hanya mengedikkan bahunya.


Alfi yang melihat Hasan datang pun segera menghampirinya, hatinya tak kalah bahagia. Tidak bertemu hampir dua minggu membuat kerinduannya pada pria itu begitu sangat besar.


"Mas Hasan," sapa Alfi dengan lembut dan tersenyum manis.


"Hai Al, bagaimana kabarmu?" tanya Hasan.


"Alhamdulillah baik mas. Mas sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah aku juga sangat baik Al, ada yang hal penting dari Beny yang mau aku katakan padamu."


"Baik mas, mari kita bicara di rumah aja!" ajak Alfi.


"Hm," Hasan pun mengangguk.


Hasan menggendong Ardy dan menciumi bocah itu selama berjalan ke arah rumahnya, Alfi pun berjalan di samping Hasan sembari mendengarkan putranya berceloteh dengan pria kesayangannya.


Dua anak buah Hasan pun hanya bisa tersenyum bahagia melihat sang Boss akhirnya menemukan kebahagiaannya. Mereka mengikuti keduanya dari belakang.


"Key, tawaranku masih berlaku lho! Kamu tinggalin aja pacarmu, mumpung kita lagi berdua aja di pulau indah ini. Lebih baik kita pacaran aja," bisik Rizal pada Keyla.


"Idiihh ogah! Playboy cap kadal macam kamu cocoknya di tenggelemin di pantai aja!" ucap Keyla sembari menjulurkan lidahnya.


"Awas kalau kamu jatuh cinta sama aku!" bisiknya lagi.


"Amit-amit deh!" Keyla bergidik ngeri.


Kini mereka telah sampai di ruang tamu milik Alfi. Hasan menyuruh Rizal dan Keyla menemani Ardy bermain di ruang tengah, sementara dia akan berbicara dengan Alfi.


Awalnya Hasan menceritakan semua kejadian yang menimpa Riana karena ulah Bu Gendhis.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Kenapa sih Bu Gendhis belum sadar juga? Kurang apa coba Riana, udah cantik, baik, kaya dan seorang CEO lagi. Kalau Bu Gendhis dulu begitu sama aku sih aku nggak heran, karena aku cuma gadis miskin tapi Riana itu hampir sempurna, bagaimana bisa ibu mertuanya sejahat itu padanya? Aku nggak habis pikir," ucap Alfi merasa miris.


"Yah namanya juga manusia, selamanya nggak akan pernah puas dengan apapun yang udah didapatnya. Tapi sayangnya Bu Gendhis telah mendapatkan karma instan dari perbuatannya," ucap Hasan dengan pandangan menerawang.


"Hah? Apa maksudnya mas?" tanya Alfi tak mengerti.


"Bu Gendhis terlibat pertengkaran dengan gadis yang selalu dibelanya, gadis itu mendorong Bu Gendhis dari tangga Cafe dan menyebabkan Bu Gendhis koma dan patah tulang pada kakinya sampai saat ini."


"Astaghfirullah Hal'adzim.." Alfi mengaga tak percaya.


"Itu sebabnya Beny menyuruhku untuk membawa kalian kesana menemui Pak Chandra dan memberi sedikit motivasi untuk Bu Gendhis, kali aja kedatangan kalian berdua berpengaruh besar pada kondisinya saat ini." jelas Hasan.


Mendengar ucapan Hasan, sontak membuat raut wajah Alfi sedikit takut.


"A.. Apa mereka akan merebut putraku?" tanya Alfi dengan suara bergetar.

__ADS_1


__ADS_2