CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 32. Panik


__ADS_3

"Iya sayang, nanti biar Shella dan yang lain mengemasi barang-barang kita."


"Terimakasih sayang," Beny memeluk istrinya penuh sayang dan Riana pun mengangguk.


Pak Chandra dan Alfi juga tak kalah senang. Alfi senang karena Riana akan menemaninya di mansion, dan Pak Chandra pun sangat senang keluarganya kembali berkumpul, walaupun dia dan istrinya belum bisa kembali ke mansionnya lagi.


"Baiklah kami berangkat ya papi!" Beny mencium tangan papanya dan diikuti Riana.


Kemudian mereka berpamitan pada Alfi juga.


Beny dan Riana kembali bekerja ke perusahaan mereka masing-masing, Hasan menyerahkan Ardy kembali ke mamanya lalu dia mengikuti Bossnya.


Di ruang Bu Gendhis, Pak Chandra mengenalkan Ardy pada Omanya dan Ardy pun begitu antusias. Ardy terus berceloteh di depan Bu Gendhis yang masih belum sadar, Alfi pun ikut berbicara di depan Bu Gendhis dan mengatakan telah memaafkan segala kesalahan Bu Gendhis dimasa lampau. Alfi dan Ardy mendoakan agar Bu Gendhis cepat sadar dan kembali berkumpul bersama mereka lagi.


Saat perjalanan menuju kantornya, Beny terlihat mengecek beberapa email di ponselnya dan Riana duduk di sampingnya dengan raut wajah tersenyum sembari menatap wajah Hasan dari kaca depan.


"Apaan sih sayang, aku liat dari senyum-senyum sendiri sambil liatin Hasan!" ucap Beny kesal sekaligus cemburu.


"Hah?"


Mendengar ucapan Beny, Hasan terkejut dan spontan menoleh ke belakang.


"Maaf apa saya berbuat salah Nona?"


Hasan merasa tidak enak karena melihat wajah Beny yang terlihat angker dan menatap tajam ke arahnya, sedangkan Riana masih tersenyum lucu.


"Kak Hasan menyukai Kak Alfi ya?" tembak Riana.


"Hah!"


Hasan terkejut tak bisa berkata-kata, dia tahu mungkin dia bisa menyembunyikan perasaannya di depan orang lain. Tapi Riana yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata akan mudah menebak semua tingkah lakunya.


Beny mengernyitkan heran, apakah benar yang dikatakan istrinya itu? Dia pikir selama ini Hasan telah memiliki kekasih, bagaimana mungkin dia menyukai wanita yang pernah ada dihidup kakaknya itu.


"Maaf Nona, saya hanya mengaguminya saja." Hasan tidak bisa mengelak, semakin dia mengelak Riana pasti akan semakin tahu.


"Sepertinya aku lihat kalian sama-sama memiliki ketertarikan, tapi kalian masih malu untuk mengungkapkannya." ucap Riana tersenyum simpul dan Hasan hanya bisa menahan perasaan malunya.


"Sayang, sejak kapan kamu jadi cenayang? Apa sejak hamil ini kamu bisa mengetahui isi hati seseorang?" tanya Beny menggoda istrinya.


"Apa kau tidak melihat sorot mata keduanya sayang? Sorot mata itu telah mewakilkan segala perasaan mereka, lagipula aku pernah belajar ilmu psikologi dari sahabat lamaku. Jadi nggak susah buatku menebak gelagat mereka," ucap Riana tersenyum bangga.


"Astaga, kenapa hari ini istriku banyak bicara sekali? Apa kamu mau ku hukum sayang?"


Beny mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya dan reflek Riana membekap mulut suaminya dan menjauhkan bibir suaminya darinya.


"Dasar mesum! Apa kau tidak lihat ada dua orang di depan kita sayang?" ucap Riana sebal sedangkan Beny hanya tersenyum lucu.


"Lagipula kalau Hasan dan Alfi sama-sama jatuh cinta itu kan urusan mereka sayang, kenapa kamu harus menanyakan hal pribadi itu?" protes Beny.


"Sebenarnya tujuanku bukan untuk mencampuri urusan mereka sayang, aku hanya ingin menunjukkan pada Kak Hasan jika kita mendukungnya untuk mendekati Kak Alfi. Dan aku rasa Kak Alfi harus mulai membuka hatinya karena aku yakin jika Ardy akan senang sekali memiliki papa baru," ucap Riana antusias.


Beny mengangguk-angguk tanda setuju sedangkan Hasan semakin merasa malu, ingin rasanya dia menghilang dan pergi dari pasangan itu.


"Bagaimana Hasan? Kapan kamu siap menikahi Alfi?" tanya Beny.


Hasan terkejut mendengar ucapan Bossnya, kenapa jadi secepat itu mereka membicarakan soal pernikahan? Bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Alfi padanya, dia masih berada ditahap mengagumi belum sampai ke tahap seserius itu.


"A.. aku belum bisa menjawab apapun Boss, aku sendiri belum tahu bagaimana perasaan Nona Alfi padaku. Kenapa anda jadi bicara seserius itu?" ucap Hasan tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Ya makanya, kalau kamu tertarik padanya, kamu dekati dia kalau dia merespon kamu berarti dia juga tertarik padamu, dan kamu tahu kan selanjutnya harus apa?" ucap Beny dan Hasan mengangguk.


"Aku dan istriku akan selalu mendukung kalian, karena aku rasa kamu adalah orang yang tepat menjadi pengganti papa buat Ardy, apalagi aku lihat Ardy sangat nyaman dan manja padamu."


Hasan mengangguk lagi, "Terimakasih Boss,"


Beny dan Riana pun membalasnya dengan anggukan.


***


Pada menjelang petang, Beny dan Riana telah selesai dengan pekerjaannya dan memutuskan pulang ke Mansion utama mereka.


Alfi dan Ardy menyambut kedatangan pasangan itu dengan penuh bahagia.


"Ayah Beny dan Bunda Ria datang! Hore!" Ardy berseru bahagia dan berlari ke arah mereka lalu Beny menggendong keponakan kesayangannya itu.


"Terimakasih sudah menyambut kami jagoan! Apa kamu betah tinggal disini?" tanya Beny.


"Aku kesepian berada disini ayah, aku ingin bermain bersama teman-temanku." ucap Ardy sedih.


"Kasian sekali jagoan ayah ini! Apa kamu mau temanmu aku pindahkan kesini semua sayang?" tanya Beny dan membuat Ardy berbinar bahagia.


"Sayang!" Riana menatap tajam ke arah suaminya.


Bagaimana mungkin suaminya berfikir memindahkan semua teman-teman Ardy kesini, apa dia kira bocah-bocah itu tidak memiliki keluarga? Memindahkan bocah-bocah disamakan memindahkan barang-barang saja. Riana begitu kesal dengan ucapan ngelantur suaminya.


"Ardy sayang, apa tidak sebaiknya Ardy sekolah paud saja? Pasti nanti Ardy punya banyak teman baru lagi, nanti biar mama dan bunda yang mendaftarkan Ardy sekolah." bujuk Riana.


"Tapi kalau teman baru Ardy nakal gimana bunda?" Mata bulat Ardy memandang Riana sehingga membuat Riana semakin gemas.


"Tidak akan sayang! Tidak ada yang berani nakal dengan putra Papa Bisma dan Ayah Beny yang hebat dan tampan ini," Riana mencium pipi keponakannya itu dengan gemas hingga membuat Ardy tertawa kesenangan.


Sedangkan Alfi merasa sangat bahagia sekali, putra kesayangan sangat disayangi keluarga papanya.


**


Setelah Beny dan Riana membersihkan diri dan memakai pakaian santai mereka, keduanya pun akhirnya bergabung untuk makan malam bersama Alfi dan Ardy. Riana juga mengundang Hasan untuk datang makan malam bersama mereka.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, mereka duduk bersama di ruang tengah, untuk membicarakan hal-hal di luar pekerjaan mereka.


Bercanda dan bercengkerama bersama. Terlihat Ardy begitu manja pada Beny dan Hasan, bahkan dia meminta agar Hasan membawanya di pangkuannya dan mengajaknya bermain bersama mamanya.


Riana dan Beny beralasan ingin pergi ke taman untuk cari angin untuk memberikan waktu keduanya untuk bicara, dan kebetulan sekali Ardy meminta ikut bersama mereka berdua.


Dan kini tinggal Hasan dan Alfi di ruang tengah, keduanya terlihat salah tingkah.


"Ah kenapa kita malah berdua ya disini? Seharusnya kita tadi ikut mereka ke taman," ucap Alfi memecah kecanggungan.


"Tunggu Alfi," cegah Hasan saat Alfi akan beranjak dari tempat duduknya.


"Iya Mas Hasan," Alfi menoleh dan memandang kearah Hasan dengan malu-malu.


Jika dalam keadaan berdua saja, Hasan hanya memanggil Alfi nama saja tanpa embel-embel 'nona' didepannya karena permintaan Alfi sendiri. Karena Alfi merasa dirinya bukan atasan Hasan jadi tidak seharusnya dia juga dipanggil 'nona' oleh Hasan. Bahkan Alfi sendiri sedikit insecure berada di hadapan Hasan yang tampan dan jarang bicara.


"Maaf, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Hasan.


"Boleh mas, silahkan. Jika aku tahu akan aku jawab,"


"Hm.. apa kamu sudah memiliki seorang kekasih Al?"

__ADS_1


Alfi hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum masam.


"Lalu apa ada seorang pria yang kamu sukai saat ini?" tanya Hasan lagi.


Dan Alfi menjawab dengan anggukan pelan.


"Ah ternyata aku udah telat ya!" ucap Hasan dengan nada kecewa.


"Ma.. maksud Mas Hasan apa?" tanya Alfi penasaran.


"Padahal aku berharap bisa melamarmu dan menjadi ayah untuk Ardy, tapi sayangnya hati kamu memilih orang lain," ucap Hasan tanpa basa-basi lagi.


Dia sudah menaruh harapan besar pada Alfi, tapi nyatanya wanita itu telah menyukai orang lain.


"Apa melamar?" Alfi sedikit terkejut dan tidak percaya.


"Iya, aku ingin melamar kamu. Usiaku sudah menginjak angka 32, lalu buat apa harus lama-lama berpacaran tapi pada akhirnya nggak jodoh. Selama ini aku lebih mementingkan pekerjaanku daripada kebahagiaanku, tapi beberapa kali aku merasa hatiku benar-benar hampa. Aku hanya berharap ada seorang wanita yang mau kunikahi dan setiap hari menyambutku saat aku pulang kerja." ucap Hasan sedikit menceritakan kisah hidupnya.


"Apa Mas Hasan serius melamarku?" tanya Alfi dengan hati berbunga-bunga.


"Iya Al, seribu rius malahan!" ucap Hasan meyakinkan Alfi.


"Kenapa Mas Hasan ingin melamarku? Mas Hasan tampan dan karir juga cemerlang, lalu kenapa ingin melamarku yang hanya seorang wanita biasa dan ibu tunggal? Aku rasa jika Mas Hasan ingin menikah, tinggal menunjuk satu orang wanita pasti mereka tidak akan menolakmu mas," ucap Alfi tak percaya diri.


Hasan hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Alfi, dia sendiri tidak tahu kenapa tatapan mata wanita itu begitu mengusik hati terdalamnya, rasanya ingin terus melindungi dan memberikan kebahagiaan padanya.


"Baiklah kalau kamu menolak lamaranku dan memilih pria yang kamu sukai, aku akan selalu mendukungmu asal kamu bahagia," ucap Hasan tersenyum lembut.


"Bukan mas, bukan itu maksudku. Aku tidak berkata jika menolak lamaran Mas Hasan," ucap Alfi sedikit panik.


"Lalu maksud kamu mengatakan menyukai laki-laki lain itu apa?" Hasan penasaran.


"Hm.. laki-laki yang aku maksud adalah kamu mas!" ucap Alfi malu-malu dan membuat Hasan akhirnya tersenyum bahagia dan bernafas dengan lega.


Dia bahagia ternyata perasaanya telah berbalas.


"Tolong beri aku waktu untuk mengatakannya pada Ardy, jika dia setuju dengan hubungan kita, aku bersedia menikah denganmu mas." ucap Alfi dan Hasan mengangguk tersenyum.


***


Selama satu bulan lebih ini, semua bergantian menjenguk Bu Gendhis, terus mengajak bicara dan berinteraksi dengan Bu Gendhis.


Pagi itu, Riana bersama Ardy berada di rumah sakit untuk menjenguk Bu Gendhis.


Sedangkan Alfi mulai kerja di perusahaan Riana, dia menjadi staff marketing di perusahaan Riana, sesuai dengan kemampuannya. Hubungannya dengan Hasan pun mulai mengalami kemajuan, Ardy terus menempel pada Hasan saat mereka bertemu dan itu membuat Alfi semakin mencintai calon suaminya itu.


Pak Chandra sedang pulang sejenak ke Mansionnya dan Beny pun juga berangkat ke kantornya.


Usia kandungan Riana yang telah memasuki 9 bulan membuat Beny melarangnya untuk bekerja dulu, jadi dia datang ke rumah sakit untuk menghibur mama mertuanya.


Lama Ardy berbincang dan bercanda dengan Riana di samping bangkar Bu Gendhis, tiba-tiba kontraksi hebat menyerang perut Riana dan dia pun mengeluh kesakitan.


"Sshhhhh.. sakit!" rintihnya pelan.


Terlihat Riana sedikit berjongkok menahan sakit sembari menumpukan tangannya di pinggir ranjang mama mertuanya.


"Bunda! Bunda kenapa?" tanya Ardy yang panik.


Reflek Ardy menggoyang-goyangkan tangan neneknya untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Oma! Tolong bunda Oma! Oma bangun, kasihan bunda!" ucap Ardy pada sang nenek yang masih dalam keadaan koma.


Dan tak disangka, Bu Gendhis tiba-tiba menggerakkan tangannya perlahan.


__ADS_2