
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu?"
Beny menatap Riana intens lalu mencondongkan tubuhnya hingga posisi punggung Riana sampai terdesak di headboard ranjangnya. Lagi-lagi Riana malu dan menjadi salah tingkah.
"Maksud kakak apa?" ucap Riana dengan gugup.
"Kamu rela melepaskanku untuk wanita lain tapi kamu sendiri selalu menyebut namaku dalam tidurmu."
"Hah! Benarkah?" Riana tercengang tak percaya.
"Aku penasaran apa sepanjang hari kamu memikirkanku? Hingga dalam tidurmu saja, kamu memimpikanku," ucap Beny tanpa mengalihkan pandangan pada mata Riana.
"A.. aku memang memikirkan Kak Ben, aku merindukan kakak yang dulu." ucap Riana yang akhirnya berterus terang.
"Oh jadi cuma itu!" Beny menjauhkan tubuhnya lagi dari Riana, "Beny yang dulu udah nggak ada dan yang di depan kamu adalah Beny yang sesungguhnya, jadi jangan berharap kita bisa akrab seperti dulu lagi,"
Beny beranjak dari ranjangnya dan akan pergi meninggalkan Riana tapi dengan cepat Riana menarik tangan Beny.
"Kak Ben,"
"Apa!" Beny menoleh karena merasa tangannya disentuh sang istri.
"Biarkan aku melayani semua kebutuhan kakak dengan tanganku sendiri, tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi istri yang baik untuk Kak Ben," pinta Riana.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin melakukan semua itu? Apa alasanmu?" tanya Beny.
"Aku.."
Lidah Riana mendadak kelu saat akan mengatakan perasaannya, selama ini dia tidak pernah mengatakan cinta lebih dulu pada seorang pria. Dia takut cintanya bertepuk sebelah tangan, apalagi dia tahu jika suaminya mencintai wanita lain.
"Aku ingin meninggalkan kesan yang baik sebelum Kak Ben meninggalkanku suatu saat nanti," ucap Riana yang tegang.
Sedangkan Beny hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sumbang, ternyata susah sekali membuat istrinya mengatakan cinta padanya.
"Sudahlah jangan bicara hal-hal yang belum terjadi, beristirahatlah dulu! Aku akan turun untuk makan malam,"
"Hmm," Riana mengangguk, dia kecewa suaminya tidak menanggapi permintaannya.
Setelah Beny menyelesaikan makan malamnya bersama mama dan adiknya, dia kembali ke kamarnya lagi.
Malam itu dia tidak meninggalkan Riana di ruang kerja seperti sebelum-sebelumnya, dia lebih memilih menjaga istrinya di kamar mereka.
Di kamar Bu Gendhis, terlihat dia sedang menelpon seseorang.
📞"Kamu jangan khawatir Letta sayang, tante akan membantumu. Aku tahu sifat putra tante, dia tidak akan puas berhubungan dengan satu wanita saja, aku yakin lama-lama dia akan tergoda dan jatuh cinta padamu,"
"Aku juga yakin bisa menaklukkan hatinya tante, saat dinner waktu lalu aja dia bersedia lho aku ajak ke pantai tante. Tapi sayang, rencana itu gagal gara-gara Kak Ben menikah dengan gadis kampung itu." ucap Arletta yang kecewa.
"Bersabarlah , kita hanya nunggu waktu saja. Mengurusi gadis seperti itu sangat mudah buat tante," ucap Bu Gendhis dengan sombongnya.
"Baik tante, terimakasih. Tante memang yang terbaik," puji Arletta.
Dan setelah berbincang sejenak mereka pun mengakhiri sambungan telepon mereka.
***
Dua minggu telah berlalu, Riana terus mencari perhatian suaminya, kini hubungan Riana dan Beny sedikit mengalami kemajuan.
Beny sudah melihat kegigihan Riana untuk mendekatinya selama satu minggu sebelumnya, dan selama satu minggu ini Beny sudah bersedia memakai kemeja dan jas yang telah dipilihkan sang istri sebelum dia berangkat kerja.
Riana juga memasak untuk sang suami walau dia harus memakai masker saat memasak, kandungannya yang sudah memasuki empat bulan, membuat dia tidak terlalu mual lagi saat dia mencium bau bawang dan rempah-rempahan lainnya.
Setiap pagi dia mengantarkan sang suami ke depan pintu, dia mengambil dan mencium tangan suaminya saat suaminya akan berangkat bekerja.
__ADS_1
"Kak Ben!"
"Apa!"
Beny menoleh saat akan masuk ke dalam mobilnya.
"Apa aku boleh datang ke kantor kakak untuk mengantarkan makan siang? Aku bosan di rumah," tanya Riana ragu-ragu.
"Kalau kamu bosan jalan-jalan saja keluar minta antar Pak Gino, ke mall atau ke supermarket saja. Tapi jangan ke kantorku," ucap Beny dengan mode datarnya.
Pak Gino adalah salah satu supir di mansion Bu Gendhis.
"Memangnya kenapa aku nggak boleh ke kantor kakak?" tanya Riana penasaran.
"Jangan bertanya kenapa nggak boleh! Udah aku berangkat dulu!" ucap Beny dan dia pun melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Sedangkan Riana hanya menghela nafasnya tanda dia sangat kecewa.
"Kenapa sih nggak boleh? Kan aku juga pengen tahu perusahaan Kak Ben dimana," gumam Riana yang berjalan gontai menuju kamarnya.
Hari ini dia memutuskan untuk jalan-jalan ke mall untuk melepas rasa bosannya.
Tak sengaja dia berpapasan dengan ibu mertuanya yang terlihat akan keluar rumahnya.
"Mami,"
"Ada apa!" tanya Bu Gendhis sewot.
"Saya mau ijin jalan ke mall agak siang nanti ditemani Mbak Tina, apa boleh?"
Mbak Tina adalah salah satu ART di mansion Bu Gendhis yang akrab dengan Riana.
"Terserah deh kamu mau kemana sama siapa! Waktuku lebih berharga daripada ngurusin kamu!" ucap Bu Gendhis dengan ketus dan berlalu pergi.
**
Saat perjalanan ke arah kantornya seseorang menghubungi ponsel Beny.
📞"Hallo, ada apa?" jawab Beny.
"Kak, mobilku mogok aku nebeng boleh ya? Aku share lokasiku sekarang!"
"Tut!"
Belum Beny menjawab orang dari seberang telepon itu mematikan sambungan teleponnya.
"Ck! Merepotkan sekali sih!" gerutu Beny dan mau tidak mau dia menuju lokasi yang dikirimkan orang itu.
Hanya butuh 10 menit Beny telah sampai di lokasi.
"Terimakasih banyak Kak Ben," Arletta berbinar bahagia dan masuk kedalam mobil Beny.
"Kak Ben udah sarapan?" tanya Arletta.
"Udah," jawab Beny dingin.
"Aku udah bawakan bekal makan siang buat kakak, nanti kita makan siang sama-sama ya!" ucap Arletta tersenyum semanis mungkin.
"Kamu nggak perlu buatin bekal makan siangku, makan siangku sudah disiapkan asistenku,"
"Tapi.."
"Oia tolong jaga sikapmu di kantor, jangan membuat semua karyawan salah paham. Walau bagaimanapun aku adalah atasanmu," sela Beny.
__ADS_1
"Baik Kak Ben, maaf!"
"Jika bukan karena permintaan mami, harusnya kamu melewati seleksi ketat untuk menjadi sekretarisku, jadi bekerjalah yang serius karena aku tidak suka ada kesalahan sekecil apapun!"
"Baik Kak,"
"Br***sek! Sombong banget pria ini, coba kamu nggak ganteng, nggak kaya udah aku depak kamu dari hidupku! Menyebalkan! Liat aja, aku bakal bikin kamu jatuh cinta sama aku!" gerutu Arletta dalam hati.
Hari ini adalah hari ketiga Arletta menjadi sekretaris Beny, setelah sekretaris lamanya tiba-tiba mengundurkan diri.
**
Siang itu Riana jalan ke mall bersama Mbak Tina dan Pak Gino, dia mengajak mereka berdua makan di gerai fast food terkenal.
"Non, saya dan Tina duduk di sana saja ya," ucap Pak Gino merasa tidak enak.
"Lho kenapa Pak? Apa Pak Gino nggak nyaman satu meja dengan saya?" tanya Riana mengernyit heran.
"Bukan begitu non, saya hanya supir dan Tina cuma pembantu, rasanya kok tidak pantas makan semeja dengan nona muda," jawab Pak Gino.
"Iya benar non," sahut Tina.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Kenapa jadi mikir seperti itu sih pak! Apapun jabatan dan kekayaan kita, kita semua sama dimata Allah, yang membedakan hanyalah keimanan kita. Udah yuk kita makan siang dulu, biar ada tenaga buat shopping nanti," Riana tersenyum berbinar.
Pak Gino dan Mbak Tina pun akhirnya duduk didepan Riana dengan malu-malu setelah mereka mendapatkan makanan pesanan mereka.
Riana memesan burger dan satu paket nasi, salad sayur dan es krim kesukaannya tapi setelah makan nasi, es krim dan salad sayur, perutnya sudah terasa penuh dan dia bermaksud meninggalkan burger itu di mejanya.
"Lho non, itu burgernya tidak dimakan?" tanya Pak Gino.
"Perut saya udah kenyang banget pak, nggak mampu lagi diisi," ucap Riana tersenyum nyengir.
"Waduh sayang banget non, daripada mubadzir, apa boleh saya bawa pulang untuk putri saya, non?" tanya Pak Gino dengan malu-malu.
"Eh iya, boleh pak! Bawa aja!" Riana sedikit terkejut dengan ucapan Pak Gino.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak non, semoga nona muda dan dedek bayi sehat selalu."
"Amin Ya Robbala'laminn, sama-sama pak. Oia kalau boleh tahu, anak Pak Gino ada berapa memangnya?" tanya Riana.
"Ada 3 non, yang pertama laki-laki kelas 3 SMP, yang kedua dan ketiga perempuan kelas 6 SD dan yang bungsu kelas satu SD."
"Wahh rame ya pak, bahagia banget pasti,"
"Alhamdulillah non,"
Riana kembali ke kasir dan memesankan 15 paket makanan untuk keluarga Pak Gino dan semua pelayan di mansion Bu Gendhis.
"Nona apa ini nggak terlalu banyak?" tanya Tina sembari menenteng kotak makanan ditangannya.
"Nggak apa-apa mbak Tina, kasi ke Pak Gino 5 untuk dibawa pulang dan bagi juga buat kamu dan semua pekerja mansion,"
"Wah, sekali lagi terimakasih banyak nona muda! Alhamdulillah.. pasti anak-anak senang sekali nona," Pak Gino berbinar bahagia.
"Alhamdulillah Pak saya ikut senang,"
Setelah mereka menyelesaikan makanan mereka, Riana mengajak Mbak Tina dan Pak Gino ke sebuah departemen store. Riana membelikan 5 stel baju untuk Pak Gino dan keluarganya dan 1 stel baju untuk Mbak Tina. Awalnya keduanya menolak tapi Riana memaksa keduanya dan keduanya pun terlihat sangat bahagia menerima pemberian Riana.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Riana mengakhiri belanjanya dan mengajak kedua orang yang menemaninya mampir ke mushola untuk menunaikan ibadah mereka.
Saat keluar dari mushola, tak sengaja ekor matanya memandang sebuah restoran ternama, dan lebih mengejutkan lagi suaminya berada disana dengan seorang wanita yang pernah dilihatnya, mereka terlihat sangat akrab dan saling melempar senyuman dan binar mata bahagia.
Saat kedua mata Riana dan Beny bertemu, Beny seolah tak melihat keberadaannya dan terlihat dia menyelipkan anak rambut wanita yang berada disampingnya dengan tatapan memujanya. Si wanita yang mendapatkan perhatian manis dari Beny, tersenyum bahagia dan semakin menempel pada sang pria.
__ADS_1
"S14l! Kenapa hatiku sakit begini sih? Kenapa juga aku harus ngeliat langsung kemesraan mereka berdua! Oh jadi gara-gara dia Kak Ben melarangku ikut ke kantornya, dasar menyebalkan!" gerutunya dalam hati.