
Bu Gendhis terjatuh dari tangga dan kepalanya mengeluarkan banyak darah, sedangkan Arletta ketakutan dan berlari menjauhi Bu Gendhis yang sudah tidak sadarkan diri.
"Hei nona mau kemana kamu! Dasar wanita tidak bertanggungjawab, sudah mendorongnya malah pergi!" gerutu salah satu pelayan disana.
"Hei cepat hubungi ambulans dan pihak kepolisian juga!" teriaknya lagi.
Sedangkan teman-teman sosialita Arletta hanya tergaga tak percaya, melihat keadaan Bu Gendhis yang memprihatinkan.
Keadaan cafe menjadi ramai dan ngeri melihat kejadian naas yang menimpa Bu Gendhis.
Dan selang beberapa menit berlalu, ambulans dan pihak kepolisian telah datang dan membawa Bu Gendhis ke rumah sakit.
Pihak kepolisian langsung tahu jika itu adalah Bu Gendhis, target DPO mereka dan mereka pun menghubungi Pak Chandra sebagai pihak keluarga dari Bu Gendhis.
Bu Gendhis dibawa ke rumah sakit dimana Riana juga dirawat.
Kebetulan Beny dan keluarga Riana masih berada disana di rumah sakit itu, sedangkan papanya yang baru kembali dari rumah sakit harus kembali kesana lagi karena kabar dari pihak kepolisian.
Beny meminta ijin pada Riana untuk melihat keadaan mamanya setelah mendapatkan kabar dari sang papa, dan Riana pun mengijinkan, Erlangga juga ikut melihat keadaan sang bibi.
Saat Beny dan Erlangga berlari ke ruang operasi, Pak Chandra sudah berada di depan ruangan itu dengan hati gelisah.
"Papi, apa yang terjadi sama mami?" tanya Beny dengan raut wajah khawatir.
"Mamimu tadi bertengkar dengar Arletta di sebuah cafe, lalu gadis itu mendorong mamimu hingga mamimu jatuh dari atas tangga. Ini video rekaman CCTV yang polisi dapatkan dari cafe tadi,"
Pak Chandra menyerahkan ponselnya dan menunjukkan video itu pada Beny dan Erlangga.
"Kurang ajar! Jahat sekali gadis itu!"
"Lalu apa gadis itu sudah tertangkap om?" tanya Erlangga.
"Dia kabur dan saat ini polisi sedang memburunya," ucap Pak Chandra.
"Apa luka mami parah pi?" tanya Beny dengan cemas.
"Ada pendarahan di kepalanya Ben dan lagi sepertinya ada patah di salah satu tulang kakinya," ucap Pak Chandra dengan sedih.
"Astaghfirullah Hal'adzim.." Beny pun ikut bersedih.
"Papi tidak tahu pastinya, kita tunggu saja penjelasan dokter Ben,"
Beny pun mengangguk dan Erlangga hanya bisa menenangkan sepupunya itu.
Lama menunggu akhirnya, seorang dokter keluar dari ruangan Bu Gendhis. Dokter itu mengatakan jika pendarahan di kepalanya membuat Bu Gendhis mengalami koma dan belum sadarkan diri. Kaki Bu Gendhis juga patah, jadi sementara waktu Bu Gendhis akan memakai kursi roda sampai kakinya benar-benar sembuh, walaupun dokter sendiri juga tidak bisa memastikan mengingat usia Bu Gendhis yang hampir setengah abad.
Semua sangat bersedih mendengar keadaan Bu Gendhis, Pak Chandra sendiri mencoba tegar dan menenangkan kegelisahan putra kesayangannya.
"Kita berdoa saja Ben, semoga mamamu cepat sembuh! Aku juga akan fokus merawat mamimu sempai sembuh." ucap Pak Chandra menepuk bahu putranya.
"Amin Ya Robbala'laminn.. iya Pi,"
__ADS_1
Setelah itu, Pak Chandra menyuruh Beny kembali menemani istrinya, karena kesehatan menantu dan calon cucunya juga tak kalah penting. Erlangga juga pamit pada pamannya akan kembali ke ibukota besok paginya.
***
"Ceklek!"
Erlangga dan Beny kembali ke ruangan Riana dirawat dengan wajah sayu mereka. Erlangga menghampiri istrinya dan Beny duduk kembali di samping ranjang istrinya.
"Bagaimana sayang? Apa yang terjadi pada Bu Gendhis?" tanya Risty pada Erlangga suaminya.
"Tante Gendhis belum sadar sayang, dia mengalami koma, kakinya juga patah dan untuk sementara waktu dia belum bisa berjalan normal lagi,"
"Astaghfirullah Hal'adzim.." ucap mereka bersamaan.
Mereka ikut sedih mendengar keadaan Bu Gendhis, terutama Riana. Selama ini ibu mertuanya memang tidak pernah menganggapnya, tapi dia tidak tega melihat wajah sedih suaminya. Riana mengenggam tangan suaminya dengan erat seolah memberikan kekuatan padanya.
"Kita doakan semoga Bu Gendhis segera sadar dan lekas sembuh kembali," doa Bu Aminah dengsn tulus.
"Amin Ya Robbala'laminn.." ucap mereka bersamaan.
"Terimakasih banyak sudah mendoakan kesembuhan mami saya, saya minta maaf atas nama mami. Maafkan jika kelakuan mami pada istrinya saya sudah sangat diluar batas, saya mohon maaf sebesar-besarnya telah menyakiti wanita yang kalian sayangi," ucap Beny dengan tulus.
"Jangan berkata itu Nak Ben, walau bagaimanapun perlakuan Bu Gendhis ke putri kami, kita semua tetaplah keluarga. Dan kewajiban kita adalah saling mendoakan dan memaafkan," ucap Bu Aminah dengan lembut.
"Kami berdoa dengan tulus semoga Bu Gendhis lekas sembuh dan setelah ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi," timpal Mama Hana.
"Amin, Terimakasih banyak." ucap Beny menatap Bu Aminah dan Mama Hana dengan tatapan haru.
Tak disangka Rey mendekatinya, ada rasa iba dihati Rey. Dia menepuk bahu Beny seolah menenangkan.
"Terimakasih banyak Rey!" Beny memeluk Rey dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dia sangat beruntung berada ditengah-tengah orang baik seperti keluarga istrinya, dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga istri sekaligus putri yang mereka cintai dengan baik.
Setelah agak lama berbincang, kini semua telah pamit pulang ke rumah mereka masing-masing meninggalkan Beny dan Riana.
"Sayang, apa kamu baik-baik aja?" Riana memandang mata lelah suaminya yang menerawang jauh sembari duduk disamping bangkarnya.
Tiba-tiba pria tampan yang terbiasa bersikap ceria dan konyol itu memeluk perut buncitnya dari samping dan terdengar suara isak tangisan disana.
Riana terkejut tak bisa bergerak, dan berikutnya dia menghela nafasnya panjang lalu mengusap lembut kepala suaminya. Dia ingin suaminya meluapkan segala kesedihannya, suaminya tampak sangat rapuh dan berkali-kali mengatakan kata maaf disela isakannya.
"Maaf sayang, apa aku keliatan sangat menyedihkan?" ucap Beny yang kini sudah lebih baik.
"Enggak ada yang menyedihkan sayang, kita manusia bukan robot, adakalanya kita benar-benar merasa sangat sedih dan kita harus mengeluarkan semuanya agar perasaan kita lebih lega. Kamu yang sabar ya sayang, aku yakin mami akan segera sadar," jawab Riana sembari mengelus pipi suaminya dengan lembut.
Beny pun mengangguk menatap istrinya penuh cinta.
"Maaf atas semuanya sayang, walaupun kamu bosan aku akan terus meminta maaf. Maaf jika aku tidak bisa menjagamu, maaf jika gara-gara mami kamu seperti ini,"
"Ssssttt! Udah sayang, aku udah maafin mami dan kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri terus. Apapun yang terjadi aku akan tetap disisimu sayang,"
__ADS_1
Beny berdiri dari tempat duduknya dan tidak bisa menahan untuk tidak memeluk istrinya. Dia memeluk istrinya dan menciuminya bertubi-tubi.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu Rianaku istruku!" ucap Beny disela ciumannya.
"Aku juga mencintaimu sayang!"
***
Satu Minggu telah berlalu, Riana sudah sehat dan diperbolehkan pulang oleh dokter kandungannya. Beny menjaga baik mama dan istrinya, dia tak beranjak dari ruangan istrinya sembari memantau kondisi maminya.
Ruang rawat Bu Gendhis dan Riana sengaja bersisian agar memudahkan Beny memantau kondisi maminya, dua orang penjaga juga ditugaskan untuk menjaga ruangan mamanya dan istrinya. Tapi Beny tidak mengatakan pada istrinya jika ruangannya bersebelahan dengan sang mama karena takut istrinya trauma dengan keberadaan mamanya.
Pak Chandra pun juga menjaga istrinya dengan baik dan terus mengajak istrinya berbicara didalam ruangan istrinya dirawat. Berharap sang pujaan hatinya tersadar dari komanya.
Semua barang-barang milik Riana pun telah dibereskan oleh Shella Asistennya, hari dia akan pulang ke apartemen pribadi suaminya.
Beny hanya ingin Riana merasa aman dan nyaman tanpa dibayang-bayangi hal-hal yang mengingatkan perlakuan buruk mamanya pada sang istri.
Saat mereka keluar ruangan, tak disangka ekor mata Riana melihat sang papa mertua masuk kedalam ruangan disebelah kamarnya.
"Sayang, bukannya itu papi?" tanya Riana pada suaminya.
"I.. iya itu papi," ucap Beny gugup.
Dia takut istrinya tahu jika mamanya berada diruangan yang papanya masuki.
"Apa mami dirawat di dalam sayang?"
"I.. iya sayang,"
"Kenapa Kakak nggak bilang? Tahu gitu aku jenguk mami dari kemarin-kemarin!" ucap Riana dengan sebal dan mencubit lengan suaminya.
"Apa kamu nggak trauma ketemu sama mamiku sayang?" tanya Beny penasaran.
"Astaga sayang! Aku bukan wanita selemah itu sayang! Bukan berarti mami pernah menyakitiku lalu aku trauma bertemu dengan beliau! Kamu salah sayang. Ayo antarkan aku ke dalam, aku ingin menjenguk mami!" ucap Riana antusias.
Beny bernafas lega, akhirnya kekhawatirannya sungguh tidak terbukti, nyatanya wanita yang sangat dicintainya itu telah benar-benar memaafkan sang ibu dan terbukti dari sikap antusiasnya.
Kini Beny dan Riana telah masuk ke dalam ruangan Bu Gendhis dirawat dan Pak Chandra sungguh bahagia menyambut kedatangan putra dan menantunya itu.
Riana menyapa dan mengajak ngobrol ibu mertuanya yang tengah berbaring koma di bangkarnya dengan segala alat menempel ditubuhnya. Sungguh Riana merasa kasihan melihat wajah pucat itu, dia berdoa dalam hati kecilnya yang terdalam. Berharap agar sang ibu mertua lekas sembuh.
Setelah puas berbicara sendiri dan bercerita didepan ibu mertuanya, Riana pamit pulang kepada sang papa mertua dan berjanji akan kembali kesana lagi.
Beny dan Pak Chandra yang dari tadi mendengar ucapan Riana, menjadi semakin takjub dengan wanita cantik itu. Bagaimana bisa hatinya sebaik itu? Sangat tulus tanpa dendam, setelah banyak perlakuan tak menyenangkan dari Bu Gendhis.
Pak Chandra dan Beny sendiri baru tahu saat semua ART menceritakan sikap tidak menyenangkan Bu Gendhis pada Riana.
Beny pun pulang ke apartemen mereka dengan diantarkan supir pribadinya dan asisten sang istri.
"Sayang, aku ada usul!" ucap Riana disaat mereka tengah berbaring diranjang mereka.
__ADS_1
"Usul apa sayang?" tanya Beny penasaran.
Lalu terlihat Riana sedang membisikkan sesuatu di telinga sang suami dan Beny pun mengangguk dengan raut wajah bahagia.