
Risty membiarkan mamanya menangis puas dipelukannya, mungkin hanya dengan itu kesedihan mamanya sedikit berkurang.
"Ris, penyakit jantung papamu kambuh! Mama takut terjadi apa-apa dengan papamu, mama menyesal udah marah-marah dan membentaknya kemarin," ucap Bu Hana penuh penyesalan.
"Mama bertengkar sama papa?" ucap Risty memandang wajah mamanya yg pucat dan menyimpan sebuah kesedihan disana.
Bu Hana hanya mengangguk lemah, Risty memeluk mamanya kembali seolah memberikan kekuatan untuknya. Dia tidak ingin banyak bertanya karena yang terpenting saat ini dia ada untuk mama dan papa angkatnya, jika semua sudah tenang Bu Hana akan bercerita sendiri tanya Risty meminta.
"Mama, udah sarapan?" tanya Risty dan Bu Hana menggeleng dengan lemah lagi.
"Tadi aku sempet mampir ke kedai bubur ayam tak jauh dari sini karena aku udah menebak kalau mama belum sarapan. Mama sarapan dulu ya!" Risty menuntun mamanya untuk duduk dan mulai membukakan bubur ayam yang dia belinya tadi.
"Iya sayang, terimakasih!" Bu Hana mulai memakan bubur yang Risty berikan.
"Sejak kapan papa masuk rumah sakit mah?" tanya Risty saat Bu Hana telah selesai menghabiskan sarapannya.
"Tadi malam sayang, sekitar pukul sebelas,"
"Lalu mama istirahat dimana semalam? Kenapa mama tidak menghubungiku? Aku bisa bantu mama menjaga papa," ucap Risty dengan khawatir.
"Mama nggak ingin ganggu istirahatmu malam-malam sayang, kamu mengurus perusahaan papa sendirian dan pekerjaanmu pasti sangat banyak. Mama cuma ingin kamu beristirahat dengan cukup. Mama semalam tidur di kursi ini sebentar-sebentar tapi jangan khawatir mama nggak papa sayang!" Bu Hana menenangkan putrinya yang begitu khawatir.
"Tapi mah, nanti mama sakit kalo kurang istirahat! Sekarang mama pulang, biar aku disini menjaga papa. Jika ada perkembangan soal kondisi papa, aku akan segera hubungi mama,"
"Tidak masalah sayang! Mama baik-baik aja, mama akan terus disini menjaga papamu sampai dia sadar," kekeh Bu Hana.
Risty tidak bisa mencegah keinginan mamanya, dia tahu mamanya adalah seorang istri yang sangat baik dan sabar. Bu Hana sangat mencintai Pak Haris sepenuh hati begitu pula Pak Haris, walaupun mereka tidak dikaruniai buah hati tapi cinta mereka terlihat begitu kuat.
Seorang dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri Risty dan mamanya.
"Apa anda keluarga dari Pak Haris Adhytama?" ucap Sang Dokter.
"Iya dok, saya istrinya dan ini putri kami!" ujar Bu Hana dan segera berdiri dihadapan Sang Dokter diikuti dengan Risty disampingnya.
"Begini Bu, kondisi Pak Haris sudah stabil dan beliau sudah sadar, setelah ini kami akan memindahkan beliau ke ruang perawatan." ucap Sang Dokter tersenyum.
"Alhamdulillah.. Ya Allah.." ucap Bu Hana dan Risty bersamaan.
"Terimakasih banyak dok!" ucap Bu Hana dan dokter pun mengangguk.
"Bolehkan kami masuk menemui papa dok?" tanya Risty pada Sang Dokter.
"Boleh nona, tapi hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk karena beliau belum berada di ruang perawatan."
"Baik dok, Terimakasih banyak!" Risty tersenyum dan dokter pun mengangguk.
Setelah dokter pamit pergi, Bu Hana masuk ke ruang Pak Haris dirawat. Bu Hana begitu bahagia melihat suaminya telah sadar dan Pak Haris pun tak kalah bahagianya. Pak Haris tak berhenti meminta maaf pada istrinya atas pertengkaran yang terjadi diantara mereka dan Bu Hana telah memaafkan suaminya. Sebesar apapun kesalahan suaminya, perasaan cintanya tidak akan pernah berubah.
"Sayang, putri kita disini! Dia berada diluar," ucap Bu Hana sembari membelai lembut pipi suaminya.
"Benarkan sayang? Mana dia aku ingin melihat wajahnya!" Ucap Pak Haris dengan binar bahagia.
"Tapi aku keluar dulu sayang, kamu masih belum dipindahkan ke ruang perawatan jadi kami harus bergantian jika ingin melihatmu."
Bu Hana melepaskan genggaman tangannya pada suaminya, sontak Pak Haris malah memegangnya dengan kuat.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku sayang! Aku nggak ingin jauh dari kamu sedetikpun!"
"Ya Ampun, baru sehari sakit aja kamu udah semakin manja! Aku kan cuma ke depan sebentar sayang, katanya mau ketemu sama putrimu!"
Bu Hana tersenyum dan menggeleng tak percaya.
"Baiklah kalau begitu hubungi perawat, biar aku segera dipindahkan ke ruang perawatan,"
Setelah menghubungi perawat, akhirnya Pak Haris sudah dipindahkan ke ruang perawatan V-VIP dengan fasilitas lengkap didalamnya. Saat perawat mulai mendorong bangkar Pak Haris ke ruangannya dia tidak melepaskan tangan istrinya barang sedetikpun dan Risty hanya senyum-senyum melihat papanya yang semakin bucin akut.
"Kenapa kamu terus senyum-senyum sayang? Apa kau menertawakan papamu ini!" ucap Pak Haris memicingkan mata.
Dia melepaskan genggaman tangannya pada istrinya dan melambaikan tangannya pada Risty, "Sini mendekatlah!"
"Ahhh nggak papaku sayang! Aku hanya bahagia papa udah sehat kembali. Bagaimana keadaanmu my superhero?" Risty tersenyum sembari menggenggam erat tangan papanya.
Melihat kedua orang yang disayanginya sedang fokus berbicara, Bu Hana memutuskan mandi dan berganti pakaian di ruangan itu.
"Alhamdulillah aku udah lebih baik berkat doa kalian berdua, kesayangan papa!" Pak Haris menatap putrinya dengan sayang.
"Bagaimana kabar suamimu sayang? Ajaklah dia kesini, udah lama papa nggak bicara dengannya. Apa dia benar-benar sangat sibuk sampai harus aku dulu yang memintanya kesini?" sindir Pak Haris.
Mendengar ucapan papanya sontak membuat Risty menjadi tegang, dia binggung harus berbuat apa, sedangkan saat ini dia dan Bima sedang dalam proses perceraian.
"Ahh itu beberapa bulan ini dia bolak-balik ke kota Bandung untuk mengurus cabangnya disana juga Pa, jadi dia benar-benar tidak ada waktu untuk bersantai. Maafkan suamiku ya Pah, setelah ini aku akan mengajaknya untuk menjenguk papa," Risty tersenyum masam.
Dia terpaksa berbohong lagi demi kesehatan papanya.
"Baiklah sayang, papa bisa ngerti! Papa nggak akan maksa suamimu untuk ketemu sama papa, papa hanya memastikan kalian baik-baik aja." ucap Pak Haris sembari mengelus rambut putrinya dan Risty pun mengangguk patuh.
"Nggak masalah sayang, lagipula papa kan sudah membaik. Mama barusan juga udah mandi dan ganti baju, mama akan istirahat kalo papa juga istirahat. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan mama, pergilah sayang!"
"Baik Mah.. Pah.. aku pergi sebentar!" pamit Risty kemudian mengecup pipi kedua orangtua angkatnya.
Risty sudah berada di jalan saat ini, dia ingin menemui Bima di kantornya. Jalanan sedikit macet dan dia memutuskan menghubungi asistennya terlebih dulu.
📞 "Halo Nana!"
"Iya Boss! Bagaimana keadaan Pak Presdir?" tanya Yona penuh penasaran.
"Papaku udah sadar dan sekarang udah mulai membaik,"
"Alhamdulillah Boss.. aku ikut senang mendengar Pak Presdir udah membaik."
"Bagaimana meeting hari ini dengan tim marketing?"
"Lancar Boss, jangan khawatir semua aku handle dengan baik!"
"Bagus, terimakasih! Hari ini aku belum bisa ke kantor dulu, aku masih ingin menemani papaku di rumah sakit."
"Baik Boss, jangan memikirkan tentang pekerjaan dulu, kamu fokuslah untuk keluargamu Boss! Tapi jangan mengabaikan kesehatanmu ya Boss, jangan telat makan!"
📞"Iya.. iya! Terimakasih ya udah perhatian, aku berasa diperhatiin pacarku deh!"
Risty dan Yona terkekeh lalu Risty mengakhiri percakapan telepon mereka.
__ADS_1
45 menit berlalu akhirnya Risty telah sampai di perusahaan milik Bima. Semua karyawan telah mengenalnya sebagai istri atasan mereka, mereka mengangguk saat berpapasan dengan Risty. Risty membalas anggukan mereka dengan senyum manisnya, karyawan Bima begitu menyukai kepribadian Risty yang ramah dan murah senyum. Berbeda dengan wanita-wanita sosialita rekan bisnis atasannya yang kebanyakan terlihat angkuh dan memandang rendah orang lain.
"Pak Bima ada?" tanya Risty ada salah satu Resepsionis.
"Selamat siang Nyonya!" sapa si Resepsionis sembari mengangguk dan Risty membalas anggukannya, "Tuan Bima ada di ruangannya, mari saya antarkan,"
"Tidak usah, biar saya menemuinya sendiri! Terimakasih ya!" Risty tersenyum manis.
"Baik Nyonya, sama-sama!"
"Duh liat itu istri si Boss, udah cantik, fashionable, murah senyum terus nggak sombong lagi, padahal nih profilnya udah berkali-kali wira-wiri di majalah bisnis. Duhhh mereka emang pasangan serasi, seneng banget tau nggak liat mereka berdua," ucap si Resepsionis pada salah satu temannya.
Mereka tidak sadar jika Bima mendengar ocehan mereka dari belakang, Bima memang mengakui jika yang dikatakan karyawannya memang benar. Dia sendiri sampai saat ini masih sangat menyesal menyia-nyiakan istrinya.
"Ehemmm!" Bima berdehem.
"Se.. selamat siang Pak!" ucap si Resepsionis dengan gelagapan.
Dia begitu terkejut melihat orang yang dia bicarakan tiba-tiba muncul begitu saja.
"Siapa yang kalian bicarakan tadi? Apa istri saya?"
"I.. iya Pak Bima! Maafkan mulut kami yang lancang ini!" ucap si Resepsionis dengan gugup dan menunduk.
"Memangnya dia ada disini?"
Bukannya marah Bima malah bertanya lagi. Bima tahu mereka hanya membicarakan kelebihan Risty.
"Barusan Nyonya Risty naik di lift karyawan sebelum anda datang, saya rasa beliau sedang mencari anda saat ini!"
"Baik terimakasih! Aku akan menyusulnya ke atas!"
"Baik Pak Bima,"
Ketiga resepsionis pun bisa bernafas lega karena Bossnya tidak marah karena ulah salah satu dari mereka.
Bima bertanya-tanya dalam hati, untuk apa Risty menemuinya. Dia berharap Risty mencabut gugatan cerainya dan mereka kembali bersama lagi, walaupun itu sangat tidak mungkin. Tapi Bima sangat mengharapkan itu.
Saat melihat Bima yang berjalan tergesa-gesa, sang sekretaris pun menghampirinya.
"Pak Bima, Nyonya Risty menunggu anda di dalam ruangan anda," ucap sang sekretaris.
"Baik, terimakasih!"
Bima begitu terburu-buru ingin segera bertemu Risty, dia sangat rindu wanita itu. Walaupun tidak bisa lagi menyentuh wanita itu, setidaknya memandang wajahnya saja sudah cukup mengobati kerinduannya.
"Ceklekk!!"
"Ris!"
Hatinya begitu bergemuruh saat melihat wanita yang selalu ada dipikirannya. Ingin sekali dia memeluk dan menciumi Risty, tapi dia sadar dia tidak bisa melakukannya.
"Kak Bim! Gimana kabarmu?"
Risty melihat Bima yang sedikit kurus dengan penampilan yang tidak begitu rapi, karena banyak jambang halus dipipinya. Rambutnya yang terbiasa pendek, rapi dan selalu memakai Pomade, sekarang malah sedikit panjang dan dibiarkan berantakan seadanya.
__ADS_1