CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 29. Terbongkar


__ADS_3

Kini Beny dan keluarga Riana telah sampai di depan ruangan Riana dirawat, Shella dan Dimas orang kepercayaan Reifan menunduk hormat pada Risty.


"Selamat datang Bu Presdir," sambut Dimas pada Risty.


"Terimakasih Dim,"


"Bu Presdir bagaimana kabar anda? Saya ucapkan selamat atas kehamilan anda, semoga anda dan calon buah hati anda sehat selalu," Shella tersenyum manis.


"Amiiinnn," semua mengamini doa Shella.


"Terimakasih atas doa tulusmu Shella," ucap Risty menepuk bahu Shella sekilas.


Semua masuk ke ruangan Riana dirawat dan Reifan menyambut keluarganya dengan hati bahagia, tapi saat Beny ikut masuk, Dimas mencegahnya.


"Maaf Tuan Beny, Boss Rey tidak mengijinkan anda masuk ke ruangan Nona Riana," ucap Dimas menghadang Beny.


"Sudah tidak apa-apa Dimas, saya yang mengijinkannya," ucap Risty pada Dimas.


Beny pun masuk ke dalam ruangan Riana, tapi dia tidak melihat Riana di bangkarnya.


"Kenapa kakak mengijinkan dia masuk? Aku tidak percaya padanya kak!" ucap Reifan dengan kesal.


"Rey, jaga ucapanmu! Walau bagaimanapun Beny adalah suami Riana, dia yang paling berhak mengetahui kondisi istrinya. Aku sangat yakin jika Beny tidak terlibat dengan masalah ini," bela Risty.


Reifan memilih diam, dia tidak ingin suasana yang hangat ini menjadi dingin karena perdebatan tak berujung antara dia dan kakaknya.


"Ceklek!"


Riana keluar dari kamar mandi, dan melihat semua keluarganya ada di dalam ruangan itu. Hatinya benar-benar bahagia melihat semua orang yang disayanginya sedang memandangnya, tapi pandangan matanya berhenti pada pria yang selalu dia rindukan, suami tercintanya. Riana memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca, dia ingin sekali memeluk pria itu dan meluapkan segala kesedihannya.


Beny pun begitu gugup bertemu istrinya, dia juga ingin sekali berlari dan memeluk wanita yang dicintainya itu, tapi terlalu banyak orang. Dia hanya bisa memandang istrinya dengan tatapan kerinduan dan tersenyum manis.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" Beny mendekat ke arah Riana dengan perlahan.


Riana mengangguk dan tak bisa membendung lagi airmatanya, dia merangsek maju dan memeluk suaminya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku janji akan berada disisimu seterusnya, aku sangat mencintaimu," ucap Beny pada Riana yang sedang menangis di pelukannya.


Riana hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawab, sedangkan keluarganya melihat keduanya dengan tersenyum lega.


Setelah selesai meluapkan kesedihan dan kerinduannya, Beny melonggarkan pelukannya dan menghapus airmatanya istrinya.


Riana mendekati keluarganya, memeluk satu-persatu orang-orang yang dicintainya.


Semua keluarga Riana bahagia melihatnya baik-baik saja, mereka mengobrol akrab kembali. Tapi ketegangan antara Reifan dan Beny masih kentara, Reifan dengan terang-terangan membicarakan soal ibu Beny.


"Kemarin polisi datang ke mansionmu untuk menangkap mamamu, tapi dia tidak ada disana! Jangan bilang kamu atau ayahmu yang menyembunyikannya!" ucap Reifan dengan ketus.


"Rey, Jangan bicara seperti itu! Aku yakin Nak Beny tidak seperti yang kamu katakan!" bela Bu Aminah.

__ADS_1


Riana hanya bisa terdiam, dia tidak tahu siapa yang harus dibelanya, suami tercintanya atau saudara tercintanya.


"Maaf Rey, kamu salah jika mengira aku menyembunyikan mamiku, bahkan papi dan aku telah sepakat membiarkanmu menjebloskan mami ke penjara. Walau kami sendiri tidak tega tapi kami tahu dia sudah berbuat diluar batas, jadi tolong berhentilah berfikir jika aku terlibat apapun mengenai mamiku. Kau pasti tahu aku sangat mencintai istriku jadi mana mungkin aku bisa menyakitinya walau segores aja," ucap Beny dengan yakin.


"Polisi akan terus mencari keberadaan mamamu! Dia menjadi target DPO sekarang," ucap Reifan dingin.


"Tok.. Tok!"


Anak buah Reifan masuk dan berkata jika Tuan Chandra ayah dari Beny ingin menjenguk menantunya, dan Reifan mengijinkan ayah Beny masuk.


"Assalamualaikum.." salam Pak Chandra dengan binar bahagia.


Dia lega melihat putra dan menantunya berkumpul bersama keluarga besannya dan disana juga ada Erlangga, sang keponakan.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab semuanya bersamaan.


"Papi," Beny memeluk papanya, dengan rasa rindu yang begitu besar, ingin sekali dia mencurahkan segala kesedihannya pada sang papa tapi tidak mungkin juga didepan banyak orang.


"Semua akan baik-baik saja! Tenanglah nak!" bisik Pak Chandra pada sang putra.


Dia tahu raut kesedihan dan kegelisahan sang putra, dia mencoba menenangkan putra kesayangangan dengan menepuk pundak putranya pelan.


Dia menyalami besan dan saudara-saudara dari menantunya. Erlangga juga menyalami pamannya dan berbasa-basi sekedar menanyakan kabar sang paman.


Setelah itu dia mendekati menantunya, dan menanyakan kabar sang menantu.


Pak Chandra memandang teduh mata sang menantu dan Riana mencium tangan papa mertuanya dengan hormat.


"Alhamdulillah saya dan calon cucu papi baik-baik saja, papi jangan khawatir!" jawab Riana tersenyum manis.


"Alhamdulillah, terimakasih sudah berjuang untuk kami nak. Papi meminta maaf yang sebesar-besarnya atas tingkah buruk mamimu, papi sendiri tidak menyangka dia sejahat itu padamu. Semoga penjara bisa membuatnya sadar akan kesalahannya dan tidak akan pernah mengulanginya lagi," ucap Pak Chandra dengan perasaan sedih.


"Amiiin, sama-sama Pi, saya diberikan kesehatan seperti sekarang berkat doa semua yang ada disini. Soal mami saya sudah memaafkan beliau Pi, mungkin mami hanya khilaf melakukan semua ini. Saya berdoa yang terbaik untuk keluarga kita,"


"Terimakasih banyak nak atas kelapangan hatimu memaafkan mami, kamu memang menantu yang luar biasa. Tidak salah putra papi memilihmu, wanita yang baik dan kuat. Papi berdoa semua kedepannya keluarga kita selalu bahagia," ucap Pak Chandra dengan tulus dan semua pun mengamini.


Mereka pun kembali berbincang akrab bersama, Reifan sedikit melunak dengan kedatangan dan permintaan maaf langsung dari papa Beny.


***


Di sebuah kos-kosan biasa, keadaan Bu Gendhis terlihat memprihatinkan. Dia tidak memakai baju-baju branded seperti biasanya, tanpa riasan dan tanpa mobil mewah miliknya. Dia menyamar untuk mengelabuhi polisi yang sedang mencarinya, dia memakai pakaian biasa dan menutup kepalanya dengan hijab.


Dia tidak berani menghubungi suaminya karena ponselnya dia tinggal di mansion dan dia belum membeli ponsel baru lagi. Dia berfikir akan mencari Arletta untuk meminta perlindungan dan tempat tinggal yang layak padanya, sampai suaminya menjemputnya.


Dia berjalan tergesa-gesa keluar dari gang kecil di daerah kos-kosan yang dia sewa, dia mencari taksi dan ingin mencari keberadaan Arletta di tempat yang biasa Arletta datangi.


Selang 30 menit berlalu, akhirnya Bu Gendhis telah sampai di sebuah Cafe bernuansa mewah, Cafe yang biasa didatangi dan tempat berkumpulnya para sosialita muda.


Bu Gendhis tahu mobil Arletta ada di parkiran Cafe itu, dan dia mencari keberadaan gadis yang selama ini dia belanya itu.

__ADS_1


Saat dia berkeliling mencari di bagian lantai bawah cafe, dia tidak menemukan keberadaan Arletta. Lalu dia naik ke atas tangga dan melihat Arletta sedang duduk bersama teman-teman sosialitanya.


Terdengar dari pembicaraan Arletta, ternyata dia sedang membicarakan Bu Gendhis dan keluarganya.


Bu Gendhis penasaran dengan isi pembicaraan itu memilih duduk tepat di belakang Arletta tanpa dia menyadarinya.


"Jadi wanita tua itu sampai mencelakai menantunya gara-gara dia ingin menjadikanmu menantu? Bodoh sekali dia mempercayai wanita sepertimu!" ucap teman Arletta dengan nada meremehkan.


"Ya begitulah! Dia terlalu naif menganggap semua wanita yang berdarah biru itu sempurna, memiliki derajat tinggi dan kekayaan yang berlimpah. Padahal tujuanku menggoda putranya hanya untuk mengeruk semua hartanya. Aku hanya beruntung saja dilahirkan dari keturunan darah biru, padahal keluargaku hanya memiliki perusahaan kecil, jika dibandingkan dengan perusahaan besar keluarga Adhytama sangat berbeda jauh. Kemampuanku dan si Cerdas Riana tidak sebanding, tapi aku sangat beruntung mertuanya lebih menyukaiku. Bodoh sekali kan wanita tua itu, membuang berlian demi diriku yang seperti ini." ucap Arletta mengakuinya.


"Lalu sekarang bagaimana langkahmu?"


"Aku nggak akan berbuat apa-apa dulu, aku hanya tinggal menunggu kabar, jika istrinya mati dan ibunya dipenjara akan mudah bagiku mendekati dan menguasai harta Beny! Hahaha!" ucap Arletta tersenyum senang.


"Byuuuuurrr!"


Bu Gendhis menyiramkan minumannya ke kepala Arletta.


"BRE***SEK!!" teriak Arletta yang terkejut.


"Dasar wanita ja***ng! Ternyata ini ya kamu yang sebenarnya! Kamu lebih rendah dari seorang pela***! Dasar wanita tak tahu diri!" umpat Bu Gendhis yang tak terima.


Dia sangat marah dan kecewa, gadis yang dia bela selama ini ternyata berhati jahat, dan berencana buruk pada putranya dan keluarganya.


"Tutup mulutmu nenek tua! Kau sendiri kan yang memaksaku untuk menggoda putramu sendiri! Kamu sendiri yang memberiku jalan untuk masuk kedalam keluarga kalian! Sekarang aku hanya tinggal menunggu kamu masuk penjara saja! Dan aku akan menguasai segalanya, Hahaha!" ucap Arletta dengan sombongnya.


"Kau pikir semudah itu ja***ng! Kamu harus sama-sama dipenjara denganku! Karena semua ini juga rencanamu!" Bu Gendhis menarik rambut Arletta penuh dengan kilatan amarah.


"Aaarrrgghh! Bre***sek!" Arletta mengadu kesakitan tapi genggaman tangan Bu Gendhis tidak juga mengendur.


"Rasakan kau gadis s14lan! Kau harus ikut bersamaku!" Bu Gendhis menarik tangan dan rambut Arletta secara bersamaan, hingga membuat Arletta tak bisa berbuat apa-apa.


"Lepaskan wanita gila! Aku nggak mau dipenjara denganmu!" Arletta mencoba melepaskan diri dari cengkraman Bu Gendhis.


"Hei kalian bantu aku! Teman macam apa kalian! Ngeliat aku kesakitan hanya diam aja!" teriak Arletta pada teman-teman sosialitanya.


"Maaf Letta! Ini urusanmu! Kami nggak mau ikut campur!" jawab salah satu temannya.


"Dasar teman bre***sek kalian!" umpat Arletta dalam hati.


"Arrggghhh! Lepaskan!"


Arletta mengadu kesakitan lagi karena Bu Gendhis menarik rambutnya semakin kencang dan memaksanya untuk mengikutinya.


Saat mereka telah mencapai depan tangga untuk turun ke lantai bawah, Arletta sudah tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya lalu reflek mendorong Bu Gendhis dengan kuat dari atas tangga.


"Braaakkkk!!"


"Arrggghhhhhh!"

__ADS_1


__ADS_2